Yetti Aka; Aku ingin perempuan mengenal dirinya perasaan dan pikirannya

Yetti Aka; Aku ingin perempuan mengenal dirinya
Sumber gambar: facebook.com

 

Kak Yetti aka lahir dan besar di Bengkulu, sebelum kemudian menetap dan berativitas di Padang sejak tahun 1999. Telah banyak karya sastra yang dihasilkannya, mulai dari cerita pendek, puisi, dan artikel. Semuanya dimuat di media-media massa nasional, di antaranya di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Jawa Pos, Femina, dan masih banyak lagi. Sejumlah cerita pendeknya juga telah dimuat di sejumlah buku antologi: Pipa Air Mata (2008), Rahasia Bulan (2006), dan Yang Dibalut Lumut (2003).

Beberapa buku cerita pendek Kak Yetti aka yang telah terbit, di antaranya: Musim yang Mengugurkan Daun (2010), dan Satu Hari Bukan di Hari Minggu (2011). Kumcer terbarunya “Penjual Bunga Bersyal Merah’ telah diterbitkan Mei ini oleh lini #SastraPerjuangan @divapress01. Tahun 2005, cerpennya ‘Musim yg Mengugurkan Daun’ menerima Anugerah Kebudayaan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Kumpulan cerpennya “Kinoli” (2012) juga masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award tahun 2013 untuk kategori prosa. Wah, keren ya. Kalau karya Mimin sih paling banter dimuat di majalah dinding deh. Penasaran sama bagaimana Kak Yetti A. KA berproses kreatif, monggo disimak wawancara Mimin hari Jumat kemarin.

(1) Sebagian besar tokoh dalam cerpen-cerpen Kak Yetti aka adalah perempuan, atau makhluk yg terkolerasi dengan perempuan seperti bunga dan kupu. Apakah ada tujuan khusus untuk menyoroti atau mengangkat nasib para perempuan di cerpen-cerpen Kak Yetti? Mengapa?

Yup, jelas. Tak ada yang sebaik perempuan dalam menyuarakan apa yang sesungguhnya terjadi atas dirinya, dunianya. Dunia perempuan dibangun atas pelabelan2, misal, prempuan itu biasa mnyembunyikan perasaan & pikiran, itu yang aku “lawan.”

(2) Terkait proses kreatif, bagaimana kak Yetti aka mengembangkan sebuah ide hingga menjadi sebuah cerita utuh? Bisa dijelaskan secara singkat.

Biasanya, ide yang muncul “diolah” secara utuh dulu dalam kepala, setelah itu baru ditulis. Namun, ada kalanya, saya menulis begitu saja. Ketika proses menulis, aku cenderung membebaskan ide mengalir bebas,meski sudah dirancang utuh sekalipun. Menulis itu harus tanpa beban.
Penulis itu menulis, bukan bermimpi menulis. Kak @yettiaka menulis setelah idenya digodok di kepala, atau beliau langsung menulis begitu saja setiap ide yang terlintas di kepala. Karena itu, jangan pernah malas mencatat ide-ide bagus yang muncul di kepala.

(3) Jika ada suatu misi khusus bagi Kak Yetti aka dalam menulis cerita pendek, apakah itu?

Aku ingin perempuan mengenal dirinya; perasaan dan pikirannya. Lewat cerpen (baca: sastra) aku memulai impian itu.

(4) Adakah tips untuk mengubah ide yang biasa menjadi sebuah kisah yang istimewa, seperti yang Kak Yetti lakukan dalam cerpen-cerpennya?

a. Ketika menemukan ide menarik, lekas tulis saat itu juga, sebab jika kau menundanya energinya tak akan pernah sama lagi.
b. Hindari menulis cerita sesuai kisah yang sebenarnya, kecuali jika itu sangat istimewa.
c. Ketika menemukan ide, bukan berarti kita harus menulisnya seperti yang terlihat atau diketahui, melainkan cukup mengambil “roh”-nya.
d. Biasakan diri melihat sesuatu secara berbeda, dengan cara itu kita bisa menyuguhkan cerita yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain. Dengan kata lain, penulis kudu punya sudut pandang yang unik dan berbeda dibanding orang kebanyakan. Kak Yetti liat kupu-kupu yang sayapnya lepas saja sudah bisa jadi satu cerita. Kita lihat kupu-kupu cantik di taman malah langsung sibuk difoto buat ngisi instagram dengan tagar #HatikuSerapuhSayapmu wkwkwk.

(5) Biasanya, kapan Kak Yetti aka menulis? Apakah ada waktu khusus yang disediakan untuk menulis? Mengapa memilih waktu tersebut?

Aku biasa menulis pagi hari, sehabis membaca buku. Lebih segar dan tenang. Malam biasanya aku lebih banyak menyunting. Jadi waktu pagi itu, aku meneruskan atau mematangkan tulisan-tulisan mentah yang kutulis saat menemukan ide berbagai tempat dan waktu. Sebab, biasanya, ide yang didapat tak terduga itu, hanya ditulis begitu saja dan bahkan plotnya belum begitu terbangun.

(6) Banyak calon penulis yang mencoba menulis cerpen, tapi selalu gagal karena setelah selesai dan dibaca ulang, ceritanya biasa-biasa saja. Adakah tips sederhana atau latihan tertentu agar bisa menghasilkan cerita yang tidak hanya berisi namun juga indah dibacanya?

Banyak membaca dan sering latihan. Latihan itu maksudnya menulis tiap hari. Itu saja
MENULIS SETIAP HARI! Dicatat baik-baik ya, DIVAmate.

(7) Sejak kapan mulai menulis Kak? Siapa penulis yang menginspirasi dalam menulis? Adakah buku kesukaan?

Mulai menulis cerpen sekitar umur 13 tahun. Banyak penulis yang menginspirasi sampai tak bisa menyebutnya. Tapi kalau mesti menyebut nama, saat ini aku sangat terinspirasi dengan gaya bercerita Susanna Tamaro dan juga Virginia Woolf. Kalau penulis Indonesia tentu aku menaruh kagum kepada SGA, Triyanto Triwikromo, Nh. Dini, Gus tf Sakai, dan banyak lagi lainnya.

(8) Sejauh mana peran membaca dalam membentuk kak @yettiaka menjadi seorang penulis?

Kemampuan mnulisku dibentuk oleh tradisi dongeng masa kecil oleh nenek, orangtua, dan pamanku, dan selanjutnya bacaan. Dari dongeng aku belajar tentang imajinasi, dari bacaan aku belajar teknik menulis, selain juga “mencuri” energi dari tulisan orang lain.

(9) Jika ada satu karya cerpen Kak Yatti aka yang paling berkesan, maka cerpen berjudul apakah itu, dan mengapa cerpen itu sangat berkesan?

Kalau hitungannya kurun waktu beberapa tahun terakhir, maka aku pilih “Penjual Bunga Bersyal Merah”. Alasannya, ide awal cerpen “Penjual Bunga Bersyal Merah” berangkat dari hasil “bacaan” temanku yg bilang kalau di masa lalu aku ini seorang penjual bunga. Kupikir itu cerpen pertama yang kutulis tentang diriku sendiri tanpa terjebak sebagai cerita curhat, sebab itu sepenuhnya keliaran imajinasi. Aku merasa cerpen itu membawa “keberuntungan” tanpa aku rencanakan dan duga sama sekali. Soal ini, barangkali ada yg paham ceritanya 🙂

10) Terakhir, bagi tips dong Kak, gimana biar bisa produktif menulis kayak Kak Yetti aka?

Mmmm, disiplin baca, disiplin nulis–itu kalau pilihannya memang ingin jadi seorang penulis (produktif).
Demikian tadi wawancara kita yang sangat penuh ilmu bersama seorang cerpenis kenamaan negeri ini. Penasaran dengan bagaimana indahnya jalinan kisah yang dirangkai Kak Yetti. Aka, silakan baca dalam kumpulan cerpen terbarunya, Penjual Bunga Bersyal merah dan Cerita Lainnya yang sudah bisa dibeli di toko buku kesayangan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *