Writer’s Block Itu Fakta ataukah Mitos Belaka di Dunia Literasi?

1
Writer's Block Itu Fakta ataukah Mitos Belaka di Dunia Literasi?
Writer’s Block. Sumber gambar: pixabay

Apakah “writer’s block” itu? Ada yang tahu?

 “@widifitriana writer’s block = alasan yg dibuat-buat penulis ketika terlalu malas melanjutkan naskahnya.”

 “@L_ilham14 Writer block pemberhentian sejenak si penulis untuk melanjutkan cerita yg sedang digarap entah itu karena menemui ide buntu atau yg lainnya.”

 “@nasutionmiftah seorang penulis tiba2 gak tau mau nulis apa. Idenya yang selama ini mengalir, seakan hilang begitu saja.”

 “@larasati_astri Writer’s block (WB) itu keadaan stuck atau nggak ada inspirasi untuk nulis. Biasanya penulis jadi males nulis.”

 “@nasutionmiftah Kemacetan dlm menulis, fenomena Hilang nya sementara kemampuan seorang penulis dlm menulis / mlanjutkan tulisannya min.”

Terima kasih, jawaban kalian keren-keren. Terima kasih sudah ngebantuin Admin yang lagi “timeline block” alias bingung nge-tweet apa #eh. Intinya, writer’s block adalah keadaan ketika penulis didera galau berkepanjangan karena tidak ada ide, malas dan tidak mood menulis. Jadi, di tengah proses menulis, kamu bingung mau nulis apa, kepala sudah muter2 tapi tidak ada ide, jari terhenti 3 cm di atas keyboard. Ada yg mengaitkan Writer’s Block sebagai bentuk lain dari kemalasan. Ada pula yg menganggapnya sebagai sinyal dari tubuh untuk stop sejenak. Jadi, apakah writer’s block benar2 nyata (senyata sun block) ataukah hanya sekadar mitos sbg pembenar kemalasan? Mari kita selidiki bersama.

Berdasarkan pengembaraan Admin di dunia literasi, hasil mencuri dan menimba ilmu dari para penggerak pena dan pencipta cerita, didapatkan kesimpulan bahwa “writer’s block” itu seperti ada tapi tiada, semacam mitos tapi kok nyata. Nah, bingung kan? Sama hihihi

Begini lho, sementara, ada beberapa penulis menganggap writer’s block sebagai mitos, sesuatu yg menjadi pembenar atas kemalasan untuk melanjutkan nulis. Di sisi lain, ada penulis yang setuju bahwa kondisi “writer’s block” ini memang benar-benar ada dan mereka alami. Ada waktu2 ketika penulis seperti mengalami “mati ide”, tidak bisa melanjutkan cerita. Ketika dipaksa tetap menulis pun tetap tidak bisa.

Kelompok kedua ini biasanya menganggap #writerblock sebagai sinyal dari tubuh untuk berhenti sejenak dan melakukan hal lain di luar menulis. Kelompok ketiga mendefinisikan #writerblock sebagai akibat yg harus ditanggung ketika penulis tdk menguasai tema/karakter yg ia tulis.#writerblock juga sering muncul ketika penulis harus menulis sesuatu yg tidak ia sukai. Ia suka menulis, tapi tidak semua hal bisa ia tulis.

 Jadi, kesimpulannya, #writerblock itu mitos apa bukan?

(1) #WriterBlock adalah mitos ketika kamu berhenti menulis karena pengen ganti ke tulisan yang lain, mem-PHP naskah dan tdk menyelesaikannya.

(2) #WriterBlock adalah mitos ketika kamu macet ide karena tidak punya outline dan juga jarang membaca.

(3) #WriterBlock adalah mitos ketika kamu tergoda nonton sinetron atau malah on line di jam-jam di mana kamu seharusnya menulis.

Di antara penulis pemula, writer’s block ini lebih seringnya hanyalah mitos. Sesuatu pembenar atas kemalasan atau kurangnya membaca. Teliti dulu apa yg menjadikamu kena #WriterBlock. Apakah tergoda melakukan yg lain atau memang jarang membaca? Misal: Kamu mau menulis tentang Perang Troya, tapi kamu ngak mau baca buku2 sejarah. Trus macet di tengah jalan. Nah, ini malas riset. Ini sih bukan writer block, tapi kurang bahan. Intinya, jangan sedikit2 menyalahkan #writerblock sebagai kambing hitam. Sadar diri dulu, kamu sudah maksimal belum menulisnya, sudah riset?

 Pak @edi_akhiles mendefinisikan #writerblock sebagai “Situasi nggak bisa nulis karena blank, nggak mood, galau, juga malas kali ya.” Trus beliau bilang begini –> “Saya kok heran, bagaimana mungkin seseorang bisa nggak mood atau malas pada sesuatu yang memang dicintainya atau dibiasakannya ya?” Pernyataan #jlebb dari Pak Edi ada benarnya juga. Kalau kita menyukai sesuatu, kudunya harus kudu selalu mood kan ya?

 Tapi, ada kesempatan ketika #writerblock ini benar2 nyata. Misalnya, kamu sudah menulis 7 hari 7 malam nonstop. Atau, saat kamu sedang sakit. #inimahnyiksadiri. Dalam beberapa hal tertentu, #writerblock adalah sinyal yang diberikan tubuh agar kita berhenti sejenak, untuk mengistirahatkan otak. Misalnya, kamu menulis sepanjang malam nonstop, 12 jam, lalu otak kamu tiba2 mentok, ngak bisa mikir apapun. Ya rehat bentar atuh neng 🙂

 Berhati-hatilah dalam mendefinisikan #writerblock. Jujurlah pada diri sendiri, apakah sudah benar2 mentok atau kamu sendiri yg memang malas. Satu yang jelas, seorang penulis keren tidak pernah dikalahkan oleh yang namanya #writerblock. Ia “mengambil napas” sejenak, lalu lanjut lagi. Kalau mau jujur, apa yang kita sebut #writerblock itu lebih seringnya adalah sebuah pembenaran atas kemalasan kita.

 Keren: Kena #writerblock –> istirahat sejenak –> baca-baca lagi, konsultasi, cek sana-sini –> memperkaya referensi –> lanjut menulis.

 Nggak keren –> kena #writerblock –> istirahat –> jalan2–> online, chattingan ngak jelas –> kemudian lupa sama novelnya, di PHP 5 tahun

 Seorang penulis juga sesekali butuh istirahat, tapi istirahatnya jangan kelamaan ya Kakak! Keburu lupa! “Jangan membiasakan meninggalkan tulisan dalam waktu lama, kecuali naskah itu sudah selesai. Terlalu lama meninggalkan naskah dapat mengakibatkan pendangkalan karakter yang sudah dibangun sebelumnya.” (Zhaenal Fanani)

 Nah, jujurlah pada diri sendiri. Itu writer’s block atau hanya kemalasan? Kalau keren, kalian pasti jawab “malas” hihihi.

 Semoga bermanfaat.

February 11, 2014 at 1:47pm

You might also like More from author

1 Comment

  1. ulin says

    widiwww pendangkalan karakter ya? wah bener juga #lirik naskah yg nganggur 2 taun#

Leave A Reply

Your email address will not be published.