Wawancara Imajiner bersama Penulis Serbabisa Putu Wijaya

Wawancara Imajiner bersama Penulis Serbabisa Putu Wijaya
Putu Wijaya. Sumber gambar: pixabay

Mengarang adalah berjuang.”

Putu Wijaya bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya, lahir di Tabanan, Bali, pada April 1944. Selain sastrawan, beliau juga tokoh teater. Pak Putu Wijaya ini telah menghasilkan 40 naskah dan novel, 1000 cerpen, 18 skenario teater, 3 skenario film, dan 250 episode serial TV. Buat kalian yang suka menonton drama jadul nasional, pasti sudah sering membaca nama beliau di bagian ‘penulis skenario’. Karya-karya beliau juga sudah diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Rusia, Jepang, Thailand, Jerman, dan Arab loh. Keren kan ya. Pak Putu Wijaya ini juga satu diantara sedikit tokoh sastra yang pernah mendapatkan anugrah Piala Citra FFI untuk skenario film. Novel ‘Stasiun’ yang diterbitkan @basabasi_store sendiri adalah pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1975.
Melihat betapa produktifnya beliau berkarya, tidak mengherankan kalau Putu Wijaya disebut mendedikasikan seluruh hidupnya pada seni dan sastra. Bahkan di usianya yang sudah sepuh, beliau masih tetap aktif menulis dan berkarya dari kediamannya di Jakarta. Putu Wijaya menjadi satu contoh terbaik dari ungkapan bawha seorang penulis itu menulis, bukan bermimpi menulis. Nah, tentunya pada penasaran kan gimana sih rahasianya kok Pak Putu WIjaya bisa produktif menulis gini? Mimin juga penasaran banget. Dari sekilas membaca ‘Stasiun’, Mimin akan mengadakan wawancara imajiner bersama Pak Putu Wijaya terkait proses menulis yang dijalaninya. Mari disimak:
Tanya: Mengapa Anda menulis?
“Saya menulis karena tampaknya saya tidak memiliki kemampuan lain. Bagi saya, menulis bukanlah hal yang mudah, meskipun menyenangkan. Dengan menulis, saya dpt menyampaikan pikiran, gagasan, dan imaji-imaji. Lewat menulis saya bisa menyampaikan pikiran, gagasan, dan imaji-imaji liar yang kadang tak terkendalikan dalam benak saya. Selain tentunya saya akan mendapat honorarium kalau tulisan saya dimuat di media massa. Mengarang menjadi teman, kekasih, guru, musuh, bahkan segala-galanya. Mengarang pun menjadi seperti ibadah bagi saya. Mengarang adalah bekerja, memeras keringat otak. Tetapi sekaligus juga beristirahat.”
Tanya: Bagaimana maksudnya bekerja sekaligus beristirahat?
“Saya tak hanya mengeluarkan energi, tapi mendapatkan energi dari mengarang. Ibaratnya seperti petani yang giat mencangkul di sawah, meskipun hasilnya tidak seberapa, tetapi kegiatan itu membuatnya merasa berguna. Begitulah, saya terhibur dalam mengarang karena merasa punya fungsi, merasa berguna. Dengan mengarang, saya merasa punya arti minimal di dalam kehidupan, tidak sekadar menjadi penumpang gelap.
Tanya: Mohon bisa diceritakan proses yang Anda lalui saat sedang mengarang?
“Saat mengarang, saya berpikir, mencari, berdoa, berdzikir dan melihat ketidakberdayaan saya di sampingNya yang tak terbayangkan bahkan juga Tak Tersentuh walau telah coba saya gapai. Mengarang bagi saya menjadi sebuah peristiwa pembelajaran untuk lebih mengenal diri saya sendiri, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sehingga saya jadi lebih tahu batas daerah jelajah saya. Mengarang memaksa saya mempelajari, memperhatikan, serta menyimak orang lain, lingkungan, dan pikiran-pikiran di sekitar saya. Dari sini, saya menemukan bahwa kebenaran tidak satu. Kebenaran itu bertumpuk-tumpuk dan bisa saling bertentangan.
Tanya: Orang bilang penulis itu orang yang hebat. Sebagai penulis, bagaimana seorang Putu Wijaya menanggapi hal ini?
“Dalam menulis, saya tak bicara tentang Kebenaran, atau tentang Keadilan yang Satu yangg merupakan kehendakNya. Saya hanya dalam posisi mencari, mencoba menemukan. ‘Karena itu saya menerima keberadaan saya sebagai orang yang bimbang. Buat saya, kebimbangan adalah suci. Dengan kebimbangan itu saya punya energi untuk terus mencari. Saya membiarkan pintu saya terbuka dan mendengar semua bunyi yang baru maupun yang lama. Saya hidup dan bersahabat dengan siapa saja termasuk dengan musuh dan segala yang saya benci. Karena saya percaya mungkin saja saya salah, sehingga tiap saat harus menilai ulang.”
Tanya: Apa manfaat nyata yang Anda dapatkan dengan bersikap terbuka kepada kehidupan seperti ini?
“Setiap hari menjadi baru. Dengan membuka diri, setiap hari menjadi baru. Setiap detik menjadi tumbuh, Tak ada yang sama. Yang sama pun berbeda ketika dilihat kembali. Sebagai pengarang, saya melihat dari balik yang terlihat. Lalu saya menemukan dunia lain yang begitu menakjubkan. Dari proses mengamati ini, saya merasa kaget, sekaligus juga kecil, karena alangkah banyaknya yang tidak saya ketahui. Menulis mengajarkan alangkah luar biasanya mekanisme kehidupan. Alangkah Sempurna, Tak Terbayangkan, Tak Terjangkaunya segala sesuatu. Mengarang buat saya adalah menciptakan teror mental. Saya mengajak pembaca menilai kembali. Menafsirulang segala yang sudah diputuskan bahkan menafsirkan ulang yang sudah diyakini. Bukan untuk membuat orang mengubah langkah, tetapi sekadar menyegarkan kembali pilihan. Meskipun kita adalah bagian dari masa lalu, tapi kita tumbuh dan hidup di masa kini yang sama sekali bukan masa lalu dan juga bukan masa depan.”
Tanya: Apakah Anda pernah mengalami hambatan atau kesulitan saat menyelesaikan menulis cerita?
“Tak jarang saya kaget dan ditimbun oleh pertanyaan ketika menyelesaikan sebuah cerita. Saya jadi bingung dan penasaran, bahkan tidak setuju. Tetapi bagi saya, setiap cerita memang tidak harus disetujui. Seperti anekdot, cerita itu terlempar dan merangsang saraf mengelitik rasa dan menyinggung logika. Kita ingin membantai bahkan menyerang, tetapi itu adalah cerita karya saya sendiri. Maka, saya sendiri yang harus menepis dan menjawab serangan-serangan itu. Karena teror mental itu ditujukan juga untuk penulisnya.”
Tanya: Bisa diceritakan awal mulanya kok Anda jadi tertarik jadi penulis?
“Waktu SMA, saya beruntung bertemu bu Gedong Bagoes Oka. Beliau inilah yang mengenalkan saya kepada Kirjomulyo, seorang penyair dan sutradara yang mengajari saya bahwa mengarang adalah berjuang. Sejak itu, saya selalu membayangkan diri saya sebagai seorang prajurit yang sedang bertempur di garis depan saat saya sedang mengarang. Setelah selesai mengarang pun saya masih harus mengantarkan karangan itu kepada pembaca dengan beragam cara. Ini juga perjuangan penulis. Lewat publikasi di media, lewat sayembara, menyelipkannya di mana-mana sehingga tersangkut si saku entah siapa. Karangan dalam banyak kesempatan seperti bom waktu. Hanya saja kita tidak tahu pasti kapan meledaknya. Karena (cara-cara ini) belum efektif, sejak 1978 saya menerbitkan sendiri naskah saya, lalu membacakannya di depan orang-orang yang mungkin tak sempat membaca. Mungkin, orang akan memandang tulisan saya sebagai karya yang tidak mampu memperjuangkan kehadirannya sendiri ke tengah para pembacanya. Bagi saya, sebuah karya tetap saja benda mati. Yang hidup adalah manusia pembacanya. Jika pembacanya mati, tidak ada peristiwa membaca.
Tanya: Sampai sejauh apa kedudukan menulis dalam kehidupan Bapak?
“Menulis sampai sekarang menjadi bagian dari kebutuhan pokok saya. Saya sudah ketagihan (menulis). Badan dan pikiran saya pegal kalau tidak mengarang. Karangan tidak selalu saya tuliskan, saya biarkan mengalir saja dalam kepala. Segala ide yg muncul langsung saya sambar jadi bahan cerita. Kadang kala, bukan cerita saya yang penting, tetapi apa yg terjadi di kepala pembaca saat membaca cerita itulah yg penting. Sampai sekarang, saya sudah menulis ratusan karya (cerpen, novel, artikel, skenario, dll). Tidak semuanya bagus. Ada yang jelek sekali. Tapi, semuanya saya anggap sebagai anak-anak saya yang juga bagian dari diri dan eksistensi saya.Dalam proses mengarang, saya tidak membatasi diri pada rasa susila, etika, moral, politik, kekuasaan, malu, atau agama. Bukan karena saya kuat, atau ingin kurang ajar. Justru karena saya lemah (bahwa beliau merasa belum sanggup menuliskan itu).
Tak seharusnya dunia mengarang hanya dikuasai oleh orang-orang yang tahu, bijaksana, pintar, alim, bermoral, dan pasti masuk surga. Dunia mengarang juga menerima orang yang setengah-setengah, gugup, gagu, kerdil, tak berdaya, dan tak punya pandangan pasti yang selalu bimbang dan mencari apa yang tidak diketahuinya sendiri. mengarang bagi saya adalah tumbuh dan menggapai-gapai. Saya menulis berdasarkan dari yang ada, tetapi tidak untuk membuat sesuatu yang seadanya (beliau selalu berusaha menulis secara optimal dan berkualitas). Dengan begini, saya bisa mengarang kapan saja, apa saja, bahkan ketika tidak ada lagi yang harus dikarang. Mengarang bukan hanya menciptakan karya luhur, karya abadi. bagi saya, merenung, berkhayal, bermimpi pun dapat menciptakan karangan. (Namun, tidak kemudian mengarang menjadi aktivitas satu-satunya beliau). Saya ingin menjadi orang biasa sambil terus mengarang. (Ini seperti Jokpin, yg bahkan tetangga kiri-kanan beliau pun tidak mengetahui kalau beliau adalah seorang penyair terkenal).”
Tanya: Boleh diceritakan cara atau teknik Anda saat mengarang?
“Saya menulis di mana saja, kapan saja. Saya bisa duduk berjam-jam, karena bagi saya (menulis) itu bermain. Tapi saya juga dengan gampang bisa meninggalkan meja kalau ada keperluan. Mengarang bagi saya bukan sebuah peristiwa sakral. Saya membatasinya sebagai pekerjaan biasa. (Menulis tdk menjadikan beliau “lupa diri”. Seperti manusia lainnya, Putu Wijaya juga mengantar belanja istrinya dan mengajak bermain anaknya. Beliau menulis setelah tugas lain selesai). Dari awal saya percaya bahwa mengarang adalah pekerjaan yg membuat orang dihantui oleh kesunyian, karena menulis itu semacam pertapaan. Tetapi terlalu mahal sekarang mencari gunung untuk bertapa, kenapa kita tidak bertapa di depan meja saja dengan mengarang? Pengarang besar adalah musuh-musuh yang harus saya kalahkan. Sementara pengarang-pengarang muda yang kini banyak bermunculan adalah guru bagi saya. Dengan begitu, saya belajar dari keduanya. Ini penting, karena kehidupan harus komplet: ada masa lalu, masa depan, dan masa kini.
Tanya: Tentang novel “Stasiun” karya Anda ini, adakah hal yang ingin Anda sampaikan tentang kandungan novel unik ini?
Novel ini bagian awal dan akhirnya saya garap di Amerika Serikat. Bagian awal saya tulis di sela-sela jam kerja ketika menjadi wartawan TEMPO. Sebagian lainnya diselesaikan semalam suntuk di rumah kawan. (Putu Wijaya membuat target kapan naskah ‘Stasiun’ sudah harus selesai untuk mengejar tenggat sayembara penulisan novel DKJ.)
“Kehidupan adalah perjalanan panjang melintasi stasiun-stasiun asing yang tak putus-putusnya.” (Stasiun, Putu Wijaya)
Wawancara Imajiner bersama Penulis Serbabisa Putu Wijaya
Putu Wijaya
Sekian tadi #WawancaraImajiner kita bersama Putu Wijaya, pengarang novel Stasiun. Lebih lengkap tentang artikel ini bisa kamu baca di novel Stasiun yang sudah diterbitkan kembali oleh Penerbit Basabasi. Dari banyak jawaban beliau, ada beberapa hal yang penting untuk kita garis bawahi. Pertama, menulis itu bisa kapan saja, di mana saja. Tidak harus menyepi dulu ke gunung atau menunggu hingga punya laptop sendiri. Kedua, siapa saja bisa menjadi penulis. Tidak selalu harus jadi orang besar dulu untuk bisa jadi penulis. Menulis itu lebih ke soal ketekunan dan banyaknya bacaan. Ketiga, buatlah target waktu untuk menyelesaikan tulisan. Novel Stasiun digarap Putu Wijaya untuk mengejar tenggat penyerahan naskah lomba roman DKJ. Keempat, penulis itu sibuk menulis dan bukannya mikirin kamu #eaa.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.