Wawancara dengan Kak Ruwi Meita

Wawancara dengan Kak Ruwi Meita |

  • Halo Mbak Ruwi Meita, pertama-tama kami mau ngucapin selamat atas terpilihnya sebagai juara pertama lomba #fikfanDIVA. Gimana nih rasanya sudah melampaui ratusan peserta, Mbak?

Tentu saja senang sekali. Agak heboh dikit sih. Ah oke-oke heboh banget deh. Ini adalah semacam pembuktian terhadap diri saya sendiri kalau saya masih mempunyai amunisi dan keyakinan bahwa saya masih bisa menulis. Maklum saya sempat vakum lama karena mengurusi anak yang masih kecil. Sekarang sudah agak besar jadi ingin nyemplung lagi ke dunia kepenulisan. Memulainya susah banget, rasanya seperti baru saja terjun ke dunia kepenulisan. Ditolak berkali-kali. Tidak pernah menang lomba. Pokoknya sempet patah semangat. Dan ketika Novel saya menang rasanya seperti telur pecah. Kelahiran baru. Harapan baru. Padahal saya tidak pernah menjagokan novel ini menang sebab lihat daftar rekapan peserta dan judul-judulnya yang menggigit itu saja sudah membuat saya minder. Penulis-penulis muda sekarang sangat fresh sekali, apalah dibanding emak-emak kaya saya yang masih memiliki refensi sedikit soal novel fantasi. Hahahaha.

 

Wawancara dengan Kak Ruwi Meita

  • Karya-karya Mbak sebelumnya lebih ke genre roman, sekarang memang ingin beralih ke genre fantasi?

Sebenarnya karya-karya terdahulu saya tidak murni roman. Novel saya lebih pada genre novel detektif. Rumah Lebah: Rahasia Di Balik Sebuah Kepolosan tentang pembunuhan dan tokoh utamanya seorang wanita berkepribadian ganda. Sex in Chatting tentang pembunuhan dan semua seluk beluk transaksi seksual lewat chatting. Bahkan dari 10 novel adaptasi yang saya buat, enam diantaranya bergenre horor. Fantasi adalah genre yang sangat menantang buat saya. Untungnya karena sudah pernah menulis novel horor dan detektif jadinya memudahkan saya untuk menulis novel genre fantasi. Maksud saya ada modal untuk membangun thriller dalam novel fantasi saya. Kalau ditanya ingin beralih ke genre fantasi, saya tidak tahu. Namun saya masih ingin menulis lagi novel fantasi saya yang lainnya.

 

  • Cerita dong Mbak mengenai Pengendali Kabut ini tentang apa?

Sebenarnya tema novel saya ini bukan tema baru. Malaikat jatuh dari langit dan menjadi serupa dengan manusia sudah banyak diangkat. Namun saya ingin memoles tema yang tidak baru ini dengan sejarah dan sisi kelokalan Indonesia. Maka terbersit ide untuk membuat manusia dengan roh campuran dan bisa mengendalikan kabut dengan setting dua waktu, pada masa Krakatau meletus dan meletusnya Merapi pada tahun 2010. Kabut bisa menjadi senjata dan kekuatan. Dia bukan semata selubung udara yang kelam dan dingin. Saya pribadi terpesona sekaligus gentar dengan kabut. Dalam novel fantasi lainnya ada juga tema-tema pengendali semacam pengendali naga, pengendali air, api, tanah, udara, dsb. Nah dalam karya ini saya memilih kabut sebagai bahan ramuan utama dalam novelet ini. Saya tidak menyangka dalam proses penulisannya muncul ide-ide baru yang sering mengejutkan saya.

 

  • Menulis novel fantasi kan nggak semudah menulis novel percintaan. Apa aja persiapannya sebelum mengerjakan proyek ini?

Riset sebanyak-banyaknya, nonton film genre fantasi sebanyak-banyaknya, dan baca referensi novel fantasi. Kalau dalam novel ini saya riset tentang gunung Krakatau. Gunung yang satu ini sudah memukau saya sejak dulu.

 

  • Berapa lama proses pengerjaan novel Pengendali Kabut ini? Dan apakah ada riset khusus?

Sebenarnya embrio novel ini sudah ada lama, mungkin setahun yang lalu. Ada dua embrio cerita yang saya gabungkan jadi satu. Yang pertama tentang Krakatau dan yang kedua tentang Rumah Jahit Rubi. Embrio cerita tentang Krakatau saya buat setelah saya selesai membaca bukunya Simon Winchester yang berjudul Krakatau: Ketika Dunia Meledak. Buku ini sangat memukau saya hingga saya kepengen banget menulis Krakatau dalam fiksi.

Saya mengetahui even lomba menulis Fikfan ini sudah sejak pengumuman lombanya beredar di internet. Saya tertarik lalu membuka embrio cerita Krakatau yang saat itu sudah terketik beberapa lembar. Entah kenapa saya ingin menggabungkannya dengan embrio cerita Rumah Jahit Rubi. Dari perkawinan embrio inilah maka lahir Pengendali Kabut : Musuh Dalam Bayangan.

 

  • Ada kendala apa aja selama proses pengerjaan novel ini?

Sebenarnya tidak ada kendala yang berarti. Yah, paling-paling menyangkut urusan emak-emak dan juga harus merayu anak agar bisa memakai komputer yang hanya satu-satunya itu. Maklumlah komputer ini kerap dibajak sama anak saya.

 

  • Siapa aja pihak yang banyak membantu Mbak dalam penulisan novel ini?

Suami saya. Dia yang terus berkata bahwa menang atau kalah itu bukan yang terpenting. Bertahan lebih penting. Dia selalu percaya bahwa saya bisa dan saya seorang penulis bahkan saat saya mulai mempertanyakan keyakinan saya.

 

  • Sekarang kita flashback, Mbak. Kapan pertama kali Mbak mulai menulis karya (cerpen/novel)?

Sejak SMP saya ingin sekali jadi penulis. Saat itu saya menganggap penulis itu profesi yang seksi dan eksotis. Saya membayangkan suatu hari nanti saya membawa buku tulis dan menulis di taman atau di tempat-tempat yang tak terduga. Saya membayangkan buku tulis yang saya bawa karena waktu itu saya nggak berpikir kalau suatu hari nanti buku tulis bisa diganti dengan laptop atau tablet (Untunglah lomba ini hadiahnya tablet, lho?). Seseorang dengan tumpukan buku di taman adalah pemandangan eksotis buat saya.

Kakak perempuan saya senang menulis dan dia pernah menjuarai lomba cerpen tingkat SMP se-DIY. Waktu itu yang heboh malah saya. Kakak saya dapat medali dan saya pinjam medalinya (tidak bilang sih) dan menyimpannya di kamar saya. Tiap malam saya pandangi terus. Nah saya pernah menulis cerpen waktu SMP dan ingin saya kirimkan ke media kalau tak salah majalah Gadis. Saya tulis tangan dulu lalu saya masukkan ke rental pengetikan manual (dulu komputer masih menjadi barang yang sangat mewah dan tidak umum). Saya sudah keluar uang untuk rental tapi cerpennya tidak jadi saya kirim. Minder.

Lalu saya tidak menulis lagi sampai saya duduk di bangku SMA. Ada tugas bahasa Indonesia membuat cerpen. Pak guru bilang untuk cerpen terbaik, penulisnya akan dikirim untuk ikut pelatihan menulis di Bengkel Sastra, Balai Bahasa Yogyakarta. Saya semangat banget dan seneng karena akhirnya saya yang terpilih. Di sanalah tempat pertama saya belajar menulis. Waktu itu pelatihnya adalah Agus Noor. Cerpen-cerpen peserta pelatihan dimasukkan dalam antologi buku Kali Code. Wah itu buku selalu saya peluk tiap malam saking senengnya. Sejak saat itu saya terus menulis terutama cerpen. Saya tak pernah mengirimkan cerpen saya ke media karena belum berani. Salah satu teman diam-diam mengirimkan cerpen saya ke Femina dan dimuat. Mereka juga mengumpulkan cerpen-cerpen saya dan membuat antologi cerpen saya yang pertama secara indie. Kumpulan cerpen itu berjudul Mari Mengutuk Laki-Laki dan pada waktu itu saya masih memakai nama samaran yaitu Ludriatin (maklum belum pede).

Tawaran untuk menulis novel pertama pada akhir tahun 2004. Saya langsung mengiyakan saat ditawari oleh FX Rudi Gunawan untuk menulis novel adaptasi yang saat itu sedang booming. Beliau saat itu memang sedang membangun penerbitan Gagas Media. Tawaran pertama adalah dari dari sinetron striping Dara Manisku. Dari puluhan skenario harus dipadatkan menjadi satu novel. Tantangan yang cukup berat. Saya ingat waktu itu saya dikirimi sekardus skenario yang harus saya baca dan alihbahasakan dalam bentuk novel. Apalagi saya hanya dikasih rentang waktu yang sedikit. Benar-benar tantangan yang dahsyat. Akhirnya novel itu lahir. Setelah Dara Manisku saya lebih banyak mendapat tawaran novel adaptasi dari film horor. Sepertinya editor Gagas Media sudah mengetahui ciri dan gaya saya. Dan sepertinya dia benar sebab penjualan novel adaptasi horor saya lebih laku. Novel adaptasi Terowongan Casablanca bahkan harus cetak ulang dalam waktu seminggu setelah cetakan pertama beredar di toko buku.

Keenakan menulis novel adaptasi membuat saya sering disindir teman. Kapan kamu bikin novelmu sendiri? Begitu kata mereka. Jujur, saya kepengen banget punya karya novel mandiri hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk menulis Rumah Lebah: Rahasia Di Balik Sebuah Kepolosan dan disusul dengan Sex in Chatting. Nah setelah kedua novel saya lahir, saya sempat vakum karena kelahiran anak kedua. Setelah anak saya agak besar (Playgroup) saya memberanikan diri untuk menulis lagi. Rasanya lebih berat dari sebelumnya namun berbuah manis saat tetap bertahan.

 

  • Apa yang biasanya menjadi inspirasi Mbak saat menulis karya?

Apa yang ada di dalam keseharian, anak-anak saya, dan keluarga. Film dan Buku bagus juga bisa menginspirasi saya.

 

  • Lalu apa yang mendorong Mbak untuk mengirimkan naskah ke penerbit?

Alasan pertama adalah saya mencari uang. Saya tetap butuh uang untuk keluarga saya. Mengirimkan naskah ke penerbit adalah jalan yang saya tahu agar novel itu bisa diterbitkan dan dijual. Pekerjaan ini adalah satu-satunya yang saya bisa dan saya yakini (Umur sudah lewat untuk daftar jadi PNS dan faktor males jadi pekerja kantoran). Yang kedua saya ingin belajar memercayai diri saya terutama karya-karya saya bahwa mereka memang layak untuk diterbitkan. Yang ketiga saya ingin terus menulis dan mencipta karya. Saat karya saya lahir dia sudah bukan milik saya lagi. Karya itu harus diadopsi agar jiwa yang ada dalam karya itu bisa tumbuh lebih baik. Pengadopsi terbaik tentunya penerbit yang baik.

 

  • Bagaimana rasanya ketika Mbak dikabari bahwa karya Mbak akan diterbitkan?

Tentunya senang banget. Melepas karya ke penerbit itu rasanya seperti melepas anak sendiri. Ketika saya sudah tahu kalau “anak” saya sudah mendapat tempat ada kelegaan luar biasa dalam diri saya. Paling tidak “anak” saya tidak terkatung-katung hidupnya.

 

  • Ketika menemui fenomena writer’s block, strategi apa yang Mbak gunakan?

Biasanya saya jalan-jalan, main sama anak-anak. Kalau tidak ya memborong film di rentalan dan menontonnya sampai pagi. Pokoknya tulisan saya endapkan dulu sampai saya siap untuk “menghajarnya” lagi.

 

  • Seberapa penting riset dalam penulisan sebuah novel?

Penting sekali. Riset akan membantu karya saya lebih hidup, tidak ngoyoworo atau seperti kolase yang tanpa jiwa. Penulis itu “tuhan” bagi karyanya. Dia harus tahu betul dengan apa yang ditulisnya.

 

  • Tema apa yang sampai sekarang tidak pernah Mbak sukai dan apa alasannya?

Bukannya tidak menyukai namun sampai sekarang saya belum bisa menulisnya yaitu novel dengan tema politik dan novel bergenre teenlit.

 

  • Selama ini, apakah selalu Mbak lebih banyak menentukan tema yang ditulis atau penerbit?

Untuk novel-novel adaptasi yang saya tulis tentu temanya ditentukan berdasarkan skenario filmnya. Untuk novel Sex in Chatting temanya memang ditentukan oleh penerbit. Sementara untuk novel Rumah Lebah semuanya murni dari diri saya sendiri.

 

  • Menurut Mbak, menulis itu bisa dijadikan profesi nggak?

Bisa. Sangat bisa. Saya contohnya.

 

  • Sekarang ini, banyak penulis baru yang membawa idealismenya. Bagaimana menurut Mbak tentang hal itu?

Sah-sah saja. Idealisme itu memang perlu apalagi untuk menentukan ciri khas karya. Hanya saja kadang idealisme tidak sejalan dengan permintaan pasar. Saya tidak menganjurkan mereka untuk menuruti pasar dan mengorbankan idealisme mereka. Saya ingin mereka terus berjuang dengan cara membentuk pasar dengan idealisme mereka. Tidak ada karya yang tidak bagus. Mereka hanya perlu menemukan tempat berlabuh dan itu membutuhkan jam kerja yang tinggi, semangat, dan tak henti-hentinya berkarya.

 

  • Apa saran-saran yang ingin Mbak sampaikan kepada para penulis muda?

Berkaryalah dan jangan gentar. Saya pernah membaca postingan seorang penulis muda yang membuat bukunya sendiri secara indie dan mempromosikannya ke grup-grup penulis. Membaca komentar-komentar dari teman-teman grup yang pedasnya melebihi sambal andaliman itu bikin saya trenyuh. Ada yang komentar karya penulis itu sudah dinilai belum sama sastrawan, sudah dilempar ke grup belum untuk dibedah, kok berani banget bikin buku. Menurut saya keberanian dia untuk membuat buku secara indie sudah layak diacungi jempol.

Penulis muda membawa intan yang tersembunyi. Intan itu akan cemerlang saat berhadapan dengan orang yang tepat dan waktu yang tepat. Jadi jangan dicerca dulu, jangan disumpahi dulu. Belum tentu tulisan yang ditertawakan hari ini akan terus ditertawakan esok hari. Bisa saja justru karya itu akan menjadi karya besar. Beri mereka kesempatan. Semua tulisan itu baik, dia hanya menunggu jatuh pada pembaca yang tepat.

 

  • Kalau boleh tahu, apa karya Mbak yang selanjutnya dan kapan akan dirilis?

Karya saya selanjutnya yang akan segera terbit adalah novel Opera San Margenia (Gagas Media). Novel ini menceritakan tentang kisah-kisah pencarian para kekasih di atas sebuah kapal pesiar yang mewah dengan menggunakan lima setting yaitu Santander (Spanyol), Marseille (Perancis), Genoa (Itali), Venesia, dan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *