Usman Arrumy; Menulis Puisi Terutama karena Cinta

Usman Arrumy; Menulis Puisi Terutama karena Cinta
Usman Arrumy

“Kerinduanku adalah denyut dari jantung yang mendoakanmu.” (Aporisma Rindu)

Setelah Joko Pinurbo dan Faisal Oddang, pemateri selanjutnya adalah Usman Arrumy. Luar biasa loh beliau ini, Kak Usman bahkan rela menunda keberangkatannya ke Mesir hanya agar bisa hadir di #FestivalBasabasi. Kebetulan juga, buku puisinya ‘Kasmaran’ baru diterbitkan bulan September 2017 kemarin. Sudah punya bukunya belum nih DIVAmate? Puisi-puisi di dalamnya manis-manis loh. Salah satu puisinya dibacakannya sendiri pada malam Minggu itu di depan para peserta #FestivalBasabasi
Malam minggu terbuat dari rindu | yang menuntut untuk bertemu, | juga terbuat dari kenangan | yang tak menghendaki ‘selamat jalan’ (Ode untuk Jomblo)
Bercerita terkait proses terbitnya “Kasmaran”, Usman Arrumy menyebut buku itu lahir secara sederhana, diawali ajakan dari penerbit. Waktu itu, Usman belum menulis apa pun, tapi karena ada tawaran langsung dari penerbit: “Saya terlalu gembira sampai tidak bisa menolaknya,”ujarnya. Proses penggarapan “Kasmaran” berlangsung selama dua bulan, dan setelah itu dia baru tahu kalau buku itu akan terbit di Penerbit DIVA Press. Begitulah, kalau dasarnya memang sudah penulis hebat maka penerbit yang akan mencarinya.

“Jalan satu-satunya untuk meredam maraknya ujaran kebencian seperti saat ini adalah dengan jatuh cinta.” (Usman Arrumy)

Awalnya, Usman merasa ragu menulis puisi karena menurutnya puisi sebagus apa pun yang dimuat di koran ujung-ujungnya hanya untuk bungkus. Tetapi, melihat antusiasme anak-anak muda di #FestivalBasabasi Sabtu malam, Usman dan pemateri lain sepakat kalau masa depan sastra akan indah. Mengapa menulis puisi? Jawabannya terutama karena cinta #eaaakkk. Mengapa jatuh cinta? Karena menurut Usman, saat kita sedang jatuh cinta hati akan terasa penuh sehingga tidak ada ruang lagi untuk mendendam. Kasmaran, dengan demikian, ditulis untuk mengakomodir perasaan jomblo yang belum dapat jodoh–err atu seperti itulah intinya.
Mengapa sastra itu penting? Karena sastra sudah lama ada dan turut mewarnai sejarah peradaban manusia. Contohnya, kitab-kitab suci seperti al-Qur’an yang mengandung nilai sastrawi yang tinggi. Ketika ditanya pendapatnya tentang buku bajakan, Usman mengaku dirinya ikhlas jika sampai ada yang membajak buku puisinya. “Saya menulis puisi hanya untuk satu orang. Jadi ketika puisi-puisi itu diterbitkan dan lalu dibajak, saya ikhlas,” kata Usman Arrumy. Sebagai penyair muda, Usman tentu juga mengidolakan Pak Sapardi Djoko Damono. “Saya memiliki puluhan buku puisi karya Pak Sapardi,” katanya.
Ditanya soal terjemahan ‘Surat dari Bawah Air’ yang sedikit keliru, Usman mengakui siap bertanggung jawab jika memang harus menarik bukunya. Sebagai sastrawan, beliau memiliki kelapangan untuk mengakui ketidaksempurnaan diri dan juga karyanya. Begini yang bikin adem. Karena, sebagaimana yang dikatakan Tia Setiadi saat menutup acara malam itu: “Tidak ada orang yang terlalu sempurna untuk tidak dikritik.”

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.