Tips Tetap Bisa Menulis Walau Harus Kerja atau Sekolah

Tips Tetap Bisa Menulis Walau Harus Kerja atau Sekolah
Tips Tetap Bisa Menulis Walau Harus Kerja atau Sekolah. Sumber gambar: quotes.lifehack.org

Salah satu masalah berat yang dihadapi calon penulis kekinian adalah kurangnya waktu untuk menjadi penulis karena terbatasi oleh pekerjaan atau sekolah. Ini banyak lho yang mengalami, bukan hanya kamu dan aku. Bekerja seharian memang sungguh menguras tenaga. Begitu juga, anak sekolah dan kuliahan zaman sekarang tugasnya juga seabrek-abrek. Ini masih belum termasuk cari pendamping masa depan juga loh, yang pastinya juga cukup menyita waktu dan ruang di hati. Dengan beratnya beban pekerjaan dan tugas yang harus ditanggung, banyak calon penulis yang ingin jadi penulis lalu mengurungkan niatnya. Lalu, Apakah kita kudu mengundurkan diri dari pekerjaan yang sekarang? Atau, nggak usah sekolah/kuliah saja agar bisa fokus nulis? JANGAN BANGET.

Ada ungkapan bijak berbunyi: Untuk mendapatkan satu hal, kita harus merelakan hal lainnya. Apakah ungkapan ini juga berlaku dalam menulis? Haruskah kita lepaskan impian jadi penulis agar bisa tetap bekerja memenuhi kebutuhan hidup? Atau, sebaliknya, kita berhenti kerja saja agar bisa fokus menulisnya? Duh pusing juga ya. Eh, sebentar. Gimana kalau kita ambil jalan tengahnya saja? Tetap bekerja sambil tetap menulis. Faktanya, banyak penulis besar dunia yang tetap bekerja sambil menulis, lho. Mereka tidak berhenti dari pekerjaan utamanya dan masih mampu meluangkan waktu untuk menulis.

Penulis novel Alice’s Adventures in Wonderland, Lewis Carroll, adalah seorang guru, ahli matematika, sekaligus fotografer. Lewis Carrol tetap bekerja sebagai guru hingga usia senja, meskipun dia telah menulis novel yang melambungkan namanya. Masih ada juga Bram Stoker, Philip Larkin, T.S. Eliot, dan Virginia Woolf yang tetap berkarya tanpa melepaskan pekerjaan mereka. Padahal, rata-rata penulis ini harus bekerja seharian penuh, dari pagi sampai sore, bahkan kadang mereka harus lembur sampai malam. Ini bukti bahwa menulis sambil tetap bekerja dan bersekolah seperti biasa memang bukan yang mustahil. Mungkin sulit, tapi tidak mustahil. Penulis bestseller dunia Anne Rice bahkan mengambil tiga pekerjaan: koki, pelayan, dan penunjuk jalan di teater. Dan, beliau juga menulis.

Jadi, tidak ada ceritanya kita nggak bisa jadi penulis hanya karena kita harus kerja atau sekolah. Kita selalu bisa kalau kita mau berusaha. KEMALASAN lah yang menghambat kita untuk jadi penulis, bukan pekerjaan, bukan sekolah/kuliah, bukan pula si mantan. Nah, kali ini Mimin akan bagi-bagi tips supaya kita tetap bisa menulis walau harus kerja atau sekolah seharian.

(1) Jadikan Sumber Inspirasi Tulisan

Ada yang bilang, pekerjaan atau tugas sekolah dapat memadamkan inspirasi dan semangat menulis. Aaahhh masak sih? Sekarang, gimana kalau kita balik? Kenapa nggak menjadikan pekerjaan/sekolah/kampus sebagai sumber inspirasi tulisan? Banyak lho novel bestseller yang diangkat berdasarkan pengalaman bekerja penulisnya. Ada yang sudah baca karya-karya John Grisham? Alih-alih bosen dengan kakunya dunia hukum, John Grisham mengolah dunia pekerjaannya menjadi novel bertema pengadilan dan hukum yang keren. Di @divapress01 juga ada loh, seorang dokter yang menulis novel tentang dunia dokter.

Bryan Hutchinson dalam artikelnya menyebut bahwa pekerjaan dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan tulisan yang mengguggah dunia. Dalam banyak kasus, pekerjaan juga yang membuat penulis terinspirasi untuk menuliskan karya-karya hebat yang mengubah dunia. John Green adalah seorang pendeta Episcopal, dan pengalamannya melayani anak-anak penderita penyakit parah di RS mendorongnya menulis novel. Karena apa yang menyentuh kita, yg kita ketahui dan kenal baik, serta kita lakukan sehari-hari adalah salah satu sumber ide tulisan terbaik.

Jadi, daripada senewen sama kondisi kantor dan sekolah, mengapa nggak dijadikan saja sumber tulisan? Ubah yg negatif jadi positif. Bisa! Banyak loh novel-novel atau buku-buku remaja yang ditulis oleh penulis remaja dan isi bukunya juga tentang sekolahan mereka. Inilah kreativitas penulis, ketika kita melihat apa yang tidak dilihat orang lain lalu menjadikannya sesuatu yang layak dituliskan. Mereka adalah contoh para penulis yang nggak takluk sama kerjaan dan menggunakan pekerjaan sebagai bahan tulisan. Kreatif ya

2. Menulis Rutin

“Menulislah di waktu dan tempat yang sama setiap hari. Inilah cara untuk membangun kebiasaan menulis.” (Bryan Hutchinson)

Jangan menunggu datangnya waktu longgar untuk menulis, tetapi temukan/bikin waktu longgar untuk menulis. Inilah tips para penulis dunia. Mereka menyempatkan waktu untuk menulis secara rutin, bukannya menunggu waktu yang longgar untuk menulis. Selama ini kita hanya terfokus untuk mencari waktu longgar buat menulis, dan tidak kepikiran untuk menciptakan waktu longgar buat menulis. Para ahli menulis dunia menyarankan untuk menyisihkan waktu setengah jam sampai satu jam setiap harinya khusus untuk menulis. Dan ini kudu rutin.

Kuncinya bukan pada berapa lama waktu untuk menulis tiap harinya, tetapi pada rutin atau tidaknya waktu menulis itu. Lebih baik menulis selama seperempat jam setiap hari tapi dilakukan secara rutin daripada menulis 5 jam tapi waktunya nggak janji. Rutinitas yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Dan menulis secara rutin akan membentuk kebiasaan menulis dalam diri kita. Kalau memang belum kuat menulis setiap hari, mulailah dengan 2 hari sekali, atau seminggu sekali. Pokoknya asal rutin dan ditepati jadwalnya. Meskipun sehari hanya bisa menulis selama seperempat jam, tidak apa-apa. Yang penting rutin dan tekun. Menulis itu kadang perkara rutinitas.

“Hanya dengan menulis tiap hari, seseorang dapat menjadi penulis. Jika tidak, ia akan tetap seorang amatir.” (Gerald Brenan)

Uhhh nusuk!

Jadikan menulis sebagai kebiasaan, yang rutin kau lakukan. Karena menulis yang baik adalah menulis secara rutin, kata Bryan Hutchinson. Untuk melatih rutinitas menulis ini, Hutchinson menyarankan kita untuk menuliskan daftar pekerjaan rutin harian kita (belanja, mandi, nyuci). Lalu, masukkan juga menulis dalam daftar tugas rutin harian ini. Dengan begini, lama-lama otak kita akan terpogram untuk rutin menulis juga. Agar tidak bosan, Hutchinson juga menyarankan untuk mencari waktu menulis yang paling kamu sukai. Boleh malam hari atau pagi sebelum Subuh. Silakan cari dan temukan sendiri waktu menulismu. Boleh siang, boleh sore, boleh malam. Pokoknya cari yang cocok dan sesuai bagi kamu.Waktu menulis setiap orang itu beda-beda, temukan waktumu sendiri. Setelah itu, patuhi jadwal menulismu itu, lakukan secara rutin.

3. Berkorban demi Kebaikan

Menulis buku adalah perkara besar. Kamu harus siap mengorbankan sebagian waktu tidurmu, juga waktu mainmu untuk menulis. Hal baik sering kali tidak diperoleh dengan mudah. Termasuk jika kamu ingin jadi penulis, kamu harus mau mengorbankan sedikit kesenanganmu. Agar bisa tetap menulis sambil tetap bekerja atau sekolah, maka jatah waktu main, waktu tidur, atau waktu nyosmedmu kudu dikurangi. Kalau biasanya sebelum tidur kamu nge game dulu selama satu jam, gunakan setengah jam untuk menulis dan setengah untuk nge game. Kalau biasanya habis bangun tidur kamu gelundungan sambil buka linimasa sosmed selama sejam, sekarang kurangi jadi setengah jam saja. Waktu setengah jam tersisa kamu gunakan untuk menulis, atau jika lagi males, baca buku-buku tentang menulis atau tentang apa yang sedang kamu tulis.

Coba sedikit demi sedikit kamu kurangi waktu buat bermesraan dengan hape kamu. Alihkan buat hal-hal lain. Bisa kok, yakin deh bisa. Kalau mau mencoba, akan kamu temukan betapa menjalani hari dengan sedikit mainan gadget itu ternyata juga bisa menyenangkan. Kurangi kegiatan kurang produktif di dunia maya (nyetalking linimasa mantan) dan alihkan ke situs-situs yang lebih positif, kayak ehem @divapress01. Serius deh, kalau kamu mau mengorbankan sedikit saja waktu main hapemu untuk menulis, kamu akan panen besar nantinya. Kelak, ketika foto profil Facebook temenmu masih pose monyong-monyong yang gitu-gitu aja, kamu bisa berbangga dengan memajang sampul buku karyamu. Dan seorang pemenang sejati tahu bahwa kadang dia harus mengorbankan sedikit kesenangan untuk mendapatkan hasil yang gilang-gemilang.

4. Temukan Suaka Menulismu

β€œSaya suka menulis dan saya yakinkan Anda saya rutin melakukannya. Tetapi, saya menulis karena saya menyukainya. Dan, saya ingin ada yang mengganggu saat saya sedang melakukannya.” (J.D. Salinger)

Menulis itu kadang berat, maka dibutuhkan suatu waktu atau tempat khusus sebagai suaka menulismu. Kadang, ada yang idenya langsung mengalir lancar saat menulis di kafe. Ada juga yang nulisnya lancar di teras depan rumah. Sah-sah saja kok. Setiap penulis memiliki waktu dan tempatnya sendiri untuk menulis. Dan inilah yang harus kamu temukan kalau ingin produktif menulis. Aku nggak tahu kapan waktu dan tempat yang pas buatku menulis, Min. Gimana? Kalau nggak bisa menemukan, maka buatlah sendiri. Seorang penulis bikin kopi di sela-sela waktu istirahat kerjanya, dan dia menggunakan waktu ini untuk menulis. Dia buat suakanya sendiri. Penulis lain, dia ambil kertas buat corat-coret sambil naik angkot Jakarta – Depok yg macet di jam pulang kerja. Dia bikin suakanya sendiri. Selalu ada cara, selalu ada jalan untuk menulis jika kamu teliti dan mau mencari. Jika tidak ketemu, kamu masih bisa bikin sendiri. Sip kan.

Kalau perlu, lakukan ritual khusus yang bikin kamu semangat menulis dan merasa seperti berada di suaka menulismu. Mark Twain, George Orwell, Edith Wharton, Woody Allen, dan Marcel Proust suka berbaring di sofa untuk mencari ide dan semangat menulis. Hemingway, Charles Dickens, dan Virginia Woolf malah konon lebih suka menulis sambil berdiri. Mungkin agar idenya ngalir lancar kali ya. Dan Brown malah suka berdiri terbalik sebelum menulis, katanya biar peredaran darah lancar. Dia juga sediain jam pasir di mejanya. Unik ya. Apa pun yang bisa kamu lakukan agar kamu semangat menulis, lakukan saja. Setiap penulis, sebagaimana dirimu, itu unik. Unik itu asyik kan?

Pada akhirnya, menjadi penulis adalah dengan menulis itu sendiri. Lakukan dengan rutin dan jadikan kebiasaan. Hasilnya adalah keajaiban. Sekian untuk pekan ini, semoga bermanfaat. Mimin tunggu naskah kalian mejeng di toko buku ya, bersemangatlah \(*O*)9

You might also like

Comments are closed.