Setelah Naskah Selesai Ditulis, Lalu Apa?

“Karena setiap penulis adalah editor pertama dari karyanya sendiri.” (MinCob)

Hore … akhirnya karya kamu sudah selesai ditulis. Senang sekali rasanya. Plong. Tinggal dikirim ke penerbit kan? Tunggu dulu, bersabar dulu. Jangan buru-buru dikirim ke penerbit. Kalau kata orang Barat, ada ungkapan haste makes waste yang artinya takkan lari jodoh dikejar *haiah*. Setelah naskah selesai ditulis, masih ada satu proses lagi yang sebaiknya dilakukan penulis sebelum mengirimkan naskah itu ke penerbit. Tahap itu disebut #swasunting atau #selfediting atau mengedit sendiri tulisanmu. Inilah tahapan terakhir yang harus dilalui penulis sebelum naskahnya masuk ke penerbit.

Tanya: “Kenapa harus diedit sendiri, Min? Kan ada editor”

Jawab : “Karena setiap penulis yang baik (dan sukses) juga melakukannya.”

word-is-a-word

Bambang Trim, seorang pakar penerbitan dan perbukuan nasional,mengatakan bahwa banyak penulis yang luput melakukan proses #swasunting ini. Padahal, jika kamu mau menyisihkan dan menyempatkan waktu untuk melakukan #swasunting, naskahmu akan semakin bagus dan minim typo.

Kaum editor juga akan menyayangi kamu karena telah melakukan #swasunting, secara langsung, pekerjaan mereka menjadi terbantu. Editor tidak perlu lagi dipusingkan dengan hal-hal remeh macam typo atau masalah tanda baca. Mereka bisa lebih fokus menggarap naskahmu. Bahwa sebuah tulisan yang layak baca adalah tulisan yang disajikan secara menarik sekaligus taat dengan aturan berbahasa.

Naskah yang sudah mengalami proses #swasunting juga akan lebih besar kemungkinan lolos evaluasi oleh pihak penerbit.  Sebuah naskah bagus, tapi penuh dengan salah ketik, salah tanda baca, nggak rapi. Membacanya bikin malas. Naskah seperti ini ada kemungkinan bakal langsung disisihkan dulu sama editor. Diliatnya kapan-kapan gitu.

Coba saja kamu bayangkan, bagaimana rasanya menyeleksi naskah (yang belum tentu bagus) mentah plus penuh typo dan nggak rapi. Editor pun frustrasi! Karena itu, editlah naskahmu sebelum engkau mengirimkannya. Percayalah, it works!

Lalu, bagaimana sebenarnya proses #swasunting yang baik itu? Hayuk kita bahas bareng di siang hari ini (*.*)9

Apa yang pertama harus kita lakukan saat akhirnya berhasil merampungkan menulis sebuah naskah? Endapkanlah. Tinggalkan sejenak. Simpanlah dulu naskahmu. Endapkan sejenak. Sementara itu, kamu bisa merayakan keberhasilanmu dengan mentraktir dirimu sendiri.  Rayakan keberhasilanmu menyelesaikan naskah. Pergi ke bioskop. Jalan-jalan ke toko buku. Belilah es krim atau cokelat atau baju baru. Kamu layak mendapatkannya.

Berapa lama naskah ini harus diendapkan? Jangan lama-lama, ya kira-kira 3 – 7 hari. Setelah “pisah ranjang” sejenak dengan naskahmu, kamu akan mendapat perspektif baru. Pandangan segar. Dan pikiran yang lebih fresh.  Masa pengendapan ini bermanfaat untuk menyegarkan kembali pikiranmu. Dan, pikiran yang segar adalah salah satu kunci dari kreativitas. Begitu pentingnya #swasunting, proses ini bisa disebut sebagai proses kreatif yang kedua. Banyak ide dan perbaikan yang mungkin muncul selama proses ini.

Setelah 3 – 7 hari diendapkan, coba buka kembali naskahmu. Inilah saatnya kamu melakukan proses #swasunting alias mengedit sendiri naskahmu. Dalam proses #swasunting ini, tempatkan dirimu sebagai pembaca, bukan penulisnya. Bertindaklah seolah-olah kamu sedang membaca naskah orang. Dengan begini, kamu akan memiliki pandangan baru pada naskahmu. Kamu juga bisa lebih objektif menilai kekurangan/kelebihannya. #swasunting

Dengan memosisikan diri sebagai pembaca, kamu bisa lebih objektif menilai naskahmu. Yg dulunya “wow” mungkin berubah jadi”how” (kok gini?).
Dalam swasunting ini, akan timbul obyektivitas dalam menilai.  Kita tidak lagi terlalu fanatik pada naskah sendiri dan mau memperbaikinya. Dalam proses swasunting ini sering kali kita menyadari betapa masih tak sempurnanya naskah kita.  Lalu, apa saja yang harus kita periksa ulang dalam proses swasunting ini? Yuk kita kulik-kulik sedikit.

Periksalah hal-hal berikut : salah ketik (typo), kesalahan ejaan, penyusunan kalimat, kata baku dan tidak baku, ketidakkonsistenan nama/tanggal/lokasi, dan bolong logika. Misalnya saja tentang bentuk kata-kata yang baku: antre bukan antri, avokad bukan alpukat, Prancis bukan Perancis, miliar bukan milyar, kaus bukan kaos, dll. Bolong logika itu misalnya “salju yang turun di Jakarta?” Sejak kapan? Panas dan tropis woy!

Cek juga penggunaan tanda baca yg masih belepotan, misal titik, koma, tanda tanya dll. Tentang tanda baca ini bisa dibaca di buku EYD. Ayo,mumpung tanggal muda, jangan lupa ke toko buku dan beli buku EYD. Harganya murah, lebih mahal komik malah. Manfaatnya? Jangan ditanya!

Tanya : Beli buku EYD di mana, Min?
Jawab : Di toko buku banyak. Harganya sangat murah tapi manfaatnyaluar biasa melimpah. #swasunting

Dalam sebuah artikelnya yang sangat bagus di Kompasiana, Bambang Trim menyebut pentingnya #swasunting >>>http://media.kompasiana.com/new-media/2012/12/21/swasunting-itu-penting-518622.html….

Menurut beliau, menyisihkan waktu dan tenaga untuk melakukan #swasunting akan memberikan “mata baru” kepada penulis terhadap tulisannya.

Menurut Bambang Trim, hal-hal yang sepele seperti typo dan bolong logika ternyata sangatlah penting untuk membentuk standardisasi berbahasa dibenak Anda sebagai penulis. Dalam proses ini, Anda akan menemukan bagian ini perlu ditambahi, yang itu butuh dibenahi, dan yang sana itu harus diperbaiki. Itulah pentingnya proses #swasunting

“Tulisan yang sudah tertata dengan baik akan membuat editor senang dan nyaman bekerja sama dengan penulis seperti Anda.” (BambangTrim)

Lebih lengkap tentang artikel beliau tentang pentingnya swasunting bisa dilihat pada tautan berikut –> http://media.kompasiana.com/new-media/2012/12/21/swasunting-itu-penting-518622.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *