Self Editing yang Wajib Dilakukan Penulis Setelah Menyelesaikan Karya

2
Self Editing yang Wajib Dilakukan Penulis Setelah Menyelesaikan Karya
Self Editing. Sumber gambar: pinterest

Oke, kita bahas self editing ya. Ini penting banget, terutama buat penulis yang masih puber. Hihi..

Kebiasaan penulis pemula: baru aja beres nulis novel, langsung merasa keren. Padahal itu naskah mentah. Dia baca ulang naskah novelnya keesokan hari, dan perasaannya masih sama: luar biasa! Dikirimlah naskah itu ke penerbit. Dua bulan kemudian terkejutlah dia mendapat kabar bahwa naskahnya ditolak. Kenapa, Tuhan? Kok bisa begini? pikirnya, lebay

Alasan penolakan penerbit adalah karena naskah itu masih berantakan. Jiwa pubernya jelas berontak. Tidak setuju. Penantian dua bulan terasa sia-sia. Dia lantas membaca lagi naskahnya, hendak membuktikan bahwa naskahnya tidak berantakan. Saat itulah dia serasa mendapat teguran dari Tuhan. Naskahnya mendadak kelihatan jelek. Banget!

Penulis macam begini, kalau tidak memperbaiki tabiatnya, pasti tidak akan menghasilkan karya yang bagus. Jika kalian baru beres nulis novel atau cerpen, tutup dulu tulisan itu. Endapkan. Lalu sibukkan diri kalian dengan membaca buku-buku lain, atau menulis karya yang lain. Jika karya yang sedang diendapkan itu akan meniru gaya menulis orang lain, maka isi waktu dengan membaca buku penulis itu. Rasa kecewanya ditepikan. Yang dia lakukan setelah mendapat saran dari temannya adalah memperbaiki kesalahan penulisan (typo).

Setelah selesai memperbaiki kesalahan penulisan, dia endapkan lagi naskah itu. Tidak tergesa-gesa seperti sebelumnya. Karena sangat mengidolakan Dee, dia membaca buku Dee di sela pengendapan naskahnya. Dia ingin naskahnya punya cita rasa sama. Naskah itu dibaca lagi untuk menelaah gaya tulisan (sudah miripkah dengan tulisan Dee?) sambil mengamati logika cerita. Karena typo sudah dibasmi di tahap perbaikan pertama, proses perbaikan tahap kedua berjalan lebih menyenangkan. Ah, kalimat ini bisa diubah strukturnya agar lebih mirip gaya bertutur Dee. Em, yang ini lebih baik dibuang saja, gumamnya.

Dia tidak ragu untuk membuang beberapa kalimat atau bahkan satu adegan agar tiap kata dalam karyanya punya kepentingan. Dia membedah karyanya menggunakan pisau bedah tertentu, yakni gaya menulis Dee. Editing seperti ini jelas arah tujuannya.

Ada banyak diksi dari buku Dee yang akhirnya ikut terpakai di naskahnya. Ini lumrah dan bukan plagiarisme. Bagian-bagian yang tidak logis akhirnya diperbaiki. Kata-kata dalam karyanya menjadi padu, saling terkait, tidak kontradiktif. Naskahnya mengalami peningkatan kualitas. Tapi dia tidak merasa bungah berlebihan. Pasti masih ada celah di karyanya. Diserahkanlah naskah itu ke beberapa teman yang senang membaca. Dia meminta saran dan kritik dari mereka. Ini tahap ketiga.

Dua minggu kemudian kritik berdatangan. Oh, iya, ini ternyata nggak logis. Ehm, ini harusnya diganti. Dia sibuk lagi. Setelah tahap ketiga selesai, dia baca ulang naskah itu dengan pelan-pelan sebagai pengecekan akhir. Naskah itu dikirim kembali ke penerbit, kali ini dengan kepercayaan diri yang tahu diri. Tidak terjebak euforia. Muncul tanya, “Berapa lama pengendapan tulisan sebaiknya dilakukan?” Sampai kamu lupa detail tulisanmu. Cobalah seminggu.

Kok proses nulis lama banget? Iya, lama dan melelahkan. Tapi proses macam itulah yang membuat tulisanmu berisi.

Setiap yang dibuat dengan instan tidak akan mengandung banyak kesan. Begitu pula tulisan. Kalau ada yang bilang menulis itu gampang, dia pasti tidak sedang bicara tentang tulisan yang berkualitas. Menulis butuh kerja keras, disiplin, dan mental yang tahan banting. Penulis manja lebih baik menulis buku diary saja. #eh

copyright by Mimin @KampusFiksi

 

April 21, 2014 at 1:27pm

You might also like

2 Comments

    1. admin says

      terima kasih sudah mampir dan membaca, semoga terus bersemangat 🙂

Leave A Reply

Your email address will not be published.