Selesaikan Naskahmu Sebagai Awal Perjalanan Seorang Penulis

Selesaikan Naskahmu Sebagai Awal Perjalanan Seorang Penulis
Selesaikan Naskahmu. Sumber gambar: pixabay

Selesaikan Naskahmu with  Karen Miller’s Article “Tyranny of the First Draft”

Pagi ini, kita bahas kembali tema yang sempat disinggung dalam #JumatWawancara kemarin, yakni #SelesaikanNaskahmu.

Kebiasaan buruk penulis pemula adalah suka mem-PHP naskah. Baru separo ditulis, sudah pindah ke lain hati eh lain naskah.

Naskah pertama belum juga selesai, ia sudah menulis naskah kedua. Ada ide lagi, ia tinggalkan naskah kedua dan menulis naskah ketiga.

 Tanpa disadari, ia punya banyak naskah dan ide cerita yang tak terselesaikan #SelesaikanNaskahmu.

Seorang penulis yang baik selalu bertanggung jawab untuk menyelesaikan apapun cerita yang telah ia mulai. Catat itu ya!

Gimana cara untuk memerangi kebiasaan buruk mem-PHP naskah ini? Kita bakal bahas ini bareng-bareng dalam #SeninMenulis hari ini. Yeay!

Karen Miller dlm artikel kerennya “The Tyranny of the First Draft” menyinggung tentang betapa berbahayanya kebiasaan mem-PHP naskah ini.

“Penulis yg malas menyelesaikan menulis naskahnya tidak akan pernah jadi penulis.” Begitu ancaman Tante Miller #gaswatBro

 Kebiasaan mem-PHP naskah menurut Miller hanya membuang-buang waktu dan energi, karena kita menggarap sesuatu yg tidak pernah jadi. #jlebbb

“Kemampuan untuk merampungkan menulis sebuah naskah novel adalah salah satu pengalaman paling hebat yg bisa dialami penulis.” (Karen Miller)

Ada beberapa penyebab mengapa kita sering kali malas merampungkan menulis naskah: TAKUT GAGAL, TAKUT CERITANYA JELEK, KEBURU BOSAN, dll

Pada awal menulis naskah, pikiran begitu optimis. Jiwa dipenuhi keyakinan bahwa kita akan menghasilkan sebuah karya nan sensasional.

Sampai separuh, pesimisme dan keraguan mulai menyergap. Kita mulai mempertanyakan apa yg kita tulis. Apakah karya ini layak?

Di sinilah ujian terberat bagi penulis. Bahwa mengawali itu gampang, tapi merampungkannya sering kali begitu berat.

Lalu, bagaimana cara mengatasi dan mengalahkan godaan mem-PHP naskah di pertengahan ini? Kita simak tuk petuah Tante Miller”

(a) Naskah pertama tidak dimaksudkan untuk harus sempurna. Naskah pertama dimaksudkan untuk “ditulis saja”. (Karen Miller)

Teruslah tulis dan rampungkan naskah novelmu. Abaikan pesimisme atau bisikan jahat yang menggodamu untuk berhenti. TETAPLAH MENULIS!

Setelah naskah novel selesai, barulah dimulai proses “revisi, perbaikan, penambahan, perubahan, dll” agar novel itu sesuai dgn keinginanmu.

Proses “revisi” naskah pertama ini disebut sebagai proses kreatif kedua, sementara menyelesaikan menulis naskah adl proses kreatif pertama.

Yup, karena novel yang bagus tidak ditulis sekali jadi. Butuh proses kreatif berulang-ulang sebelum sebuah karya terbentuk sempurna.

Jadi, selesaikan dulu menulis keseluruhan novelmu. Percayalah, nanti akan ada saatnya untuk bisa mengganti atau memperbaiki. Lha, kalau novelnya saja belum selesai ditulis, apa yang mau diganti atau diperbaiki? Ya tho? #SelesaikanNaskahmu

(b) Beri batas waktu kepada dirimu sendiri untuk merampungkan menulis naskah pertama. Semacam “deadline” begitu 🙂 Misal: Kamu harus menyelesaikan menulis naskah pertama ini dalam waktu satu tahun. Lalu, disiplinlah dan penuhilah janji sucimu ini. Lebih baik sih menulis secara rutin setiap hari ketimbang menulis dengan tenggat waktu. Tetapi, kadang yang rutin itu susah dan banyak kendala. Dalam hal ini, menentukan “deadline” dapat menjadi pemacu semangat u/ menulis.

(c) Pakai satu topi dalam satu waktu. Kalau menulis, ya menulislah. Kalau merevisi, ya merevisilah. Jangan dicampur. Saat sedang menulis, tulislah apa adanya. Abaikan dulu salah ketik, kalimat yg terlalu panjang, atau kata yg kurang tepat. Ini murni kreatif. Setelah naskah selesai ditulis, barulah kita perbaiki dan baca kembali tulisan kita. Pada saat ini, kita memakai topi “editor” #kreatif2

“Satu-satunya cara untuk menjadi penulis adalah menyelesaikan menulis ceritamu, mulai dari halaman 1 sampai ke halaman terakhir.” (K.Miller)

Menulis novel membutuhkan stamina dan ketetapan hati yang kuat, terutama membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan naskahmu. Penulis harus memiliki cerita yg bagus, plot seru, & karakter2 yg mengagumkan. Tapi, sebelum itu semua, ia harus bisa menyelesaikan karyanya.

 Apa gunanya karakter menawan dan plot yg menakjubkan kalau ceritanya saja tidak selesai? Penerbit butuh sebuah naskah yang utuh. Itu! Hidup adalah tentang mengambil risiko. Mereka yg berani mengambil risiko biasanya mendapatkan bagian yg lebih banyak yg diberikan kehidupan. Jadi, tulislah. Selesaikan naskahmu. Rampungkan draft novel pertamamu. Tulislah seakan-akan itu karya terbesarmu.

“Selesaikan naskah pertamamu. Dan baru setelah itu engkau bisa berpindah menulis ke naskah keduamu, lalu naskah ketigamu.” (K. Miller)

“Menyelesaikan naskah pertama adalah awal dari perjalanan, awal dimulainya cerita-mu sebagai seorang penulis. Teruslah menulis dan menulis.”

“Dan nikmatilah, karena menulis itu seharusnya menyenangkan.” (Karen Miller)

Demikian, #SeninMenulis bersama Tante Karen Miller. Walau sedikit, semoga bisa menyemangati DIVAmate sekalian dalam menulis.

December 16, 2013 at 10:06am

4 thoughts on “Selesaikan Naskahmu Sebagai Awal Perjalanan Seorang Penulis

  1. Salam kak. Begini, aku menulis novel. Aku menulis tidak sabaran, belum selesai bab 1, aku loncat menulis bab 2, sampai akhir begitu. Naskahku banyak bolongnya. Saat aku mau menambahi bagian yang bolong itu, aku malah bosan ketika membaca naskahku. Lalu aku berhenti satu dua hari, baca lagi dan bosan lagi. Harus bagaimanakah aku kak? Apakah dirombak bab awalnya yang membosankan itu? Terima kasih.

  2. Jadi tertantang nih, buat nulis. Tapi, sekarang DIVA lagi gak nerima naskah fiksi, itu bener gak ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *