Sapardi Djoko Damono; Gunakan Internet untuk Menjadi Penulis

Sapardi Djoko Damono; Gunakan Internet untuk Menjadi Penulis
Sapardi Djoko Damono

Halo, DIVAmate. Setelah dua hari kemarin Mimin rangkumkan materi #festivalBasabasi dari Jokpin dan Usman Arrumy; hari ini jadwalnya materi sang Hujan Bulan Juni. Tidak bisa dipungkiri, beliau adalah sosok yang menjadi magnet dari begitu membludaknya pengunjung Basabasi Cafe pada Sabtu malam kemarin. Mari kita haturkan hormat kepada beliaunya, Bapak Sapardi Djoko Damono. Sudah pada baca puisi-puisi beliau belum hayo? Memulai materi malam Sabtu kemarin, Bapak Sapardi bercerita tentang awal mula menulis puisi. “Saya menulis puisi pertama kali tahun 1957.” Saat itu, beliau masih kelas dua SMA. Saat itu, beliau menulis tangan puisi-puisinya pada buku tulis garis-garis karena belum punya mesin tik. Hebatnya lagi, beliau masih menyimpan buku tulis berisi puisi-puisi pertamanya itu loh sampai sekarang. Ini bukti bahwa penulis sejati itu rajin mendokumentasi.

Menurut Sapardi, anak-anak muda zaman sekarang adalah generasi yang beruntung karena berbagai kemudahan teknologi yang disediakan. “Dulu saya kudu ke toko buku dulu untuk cari sajak, sementara sekarang kita tinggal buka internet,” ungkap Sapardi. “Berkat teknologi internet, penulis zaman sekarang sangat dimudahkan untuk menulis,” tambah beliau. Halo para calon penulis zaman now, denger tuh kata Pak Sapardi. Kalian itu beruntung dan dimudahkan, gitu kok naskahnya nggak ditulis-tulis. Sapardi mengatakan bahwa teknologi membuat semakin banyak orang yang membaca sastra karena mereka dimudahkan aksesmya. “Saya marah kalau ada yang bilang orang-orang sekarang tidak membaca, nyatanya orang segini banyak adalah para pembaca semua,” tunjuknya kepada ratusan anak muda yang hadir di Basabasi Cafe.

Foto: Basabasi_store

Belum pernah dalam sejarah Indonesia, buku bisa terbit sebanyak seperti saat ini. Inilah bukti bahwa jadi penulis itu masih keren. Menyoroti suramnya nasib penulis saat ini, beliau membantahnya dengan fakta bahwa banyak penulis yang bisa kaya berkat tulisan-tulisannya. “Kita bisa hidup dengan menjadi pengarang karena buktinya ada pengarang yang setahun royaltinya 2 miliar,” tambah beliau. Well, kita semua tahu siapa yang dimaksudkannya. Mengapa sastra masih punya masa depan cerah? Karena orang-orang akan tetap suka membaca cerita. Sejak dulu orang selalu suka mendengar dongeng/cerita. Karena semakin modern semakin sedikit orang yang mau membacakan dongeng, maka kini kita beralih dengan membaca dongeng/cerita di buku. Jadi, kata beliau lagi, kalau orang zaman dulu suka mendengarkan dongeng maka orang-orang zaman now sukanya baca dongeng.

Jadi, teknologi malah mendorong semakin berkembangnya sastra, demikian kata beliau. Bahkan, sastra sekarang bisa jadi bisnis menjanjikan. Dengan semakin mudah dan cepatnya cara mencetak buku, sekarang sastra telah menjadi lahan bisnis yang tak kalah menjanjikan. Gitu. “Berkat bantuan internet, kita saat ini memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menjadi penulis,’ ulang beliau sekali lagi. Sayangnya, anak-anak zaman now lebih sering ngepoin lapak jualan dan akun hosip Pak, ketimbang cari data/bahan buat nulis, ye kan ye kan!

“Saudara sekarang ini tidak hanya sekadar citizen (warga negara) tetapi juga netizen (warganet),” tambah beliau. Menurut beliau, penulis saat ini bisa belajar dimana pun dan kapan pun berkat bantuan internet. Tentunya jika bisa memanfaatkannya secara positif. “Jadikan komputer dan internet sebagai sahabat, gunakan secara positif.” demikian petuah bijak dari beliau. Teknologi juga menjadikan semua orang pandai, bahkan seorang murid tidak jarang lebih pandai dari gurunya berkat bantuan internet, kata belio. Pesan beliau lagi, “Penguasaan pada komputer dan internet akan sangat membantu Anda untuk meraih sukses di zaman now eh sekarang.”

“Membaca dulu, baru menulis. Jangan dibalik ya.” (Sapardi Djoko Damono)

Sebagaimana Jokpin, Bapak Sapardi juga kembali menegaskan pentingnya membaca bagi seorang penulis. “Seorang pengarang yang baik adalah pengarang yang selalu menambah pengetahuannya,” lanjut beliau. Sapardi berulang kali menyemangati para peserta untuk terus menulis. “Jangan percaya kalau ada yang bilang sastra telah mati,” katanya. “Kalau ada yg bilang sastra telah mati atau sastra tidak bisa menghidupi, itu semua omong kosong. Kalian terus saja menulis ya,” kata beliau.

Sudah pada tahu dong sama puisi “Hujan Bulan Juni” yang legendaris itu. Nah, sudah pasti pada banyak yang nanya ‘proses kreatifnya gimana?’ Mengapa puisi Hujan Bulan Juni jadi begitu terkenal? Karena puisi itu unik dan tidak biasa, simpul beliau. “Kalau hujan bulan desember sudah biasa.” Sesuatu yang unik dan tak biasanya maka akan mudah membikin orang penasaran untuk membacanya. Inilah formula Pak Sapardi. “Ini adalah jeli-jelinya si pengarang dalam berkreativitas.” ujar beliau menjawab pertanyaan tentang puisi Hujan Bulan Juni.

Foto: @Ayun_qee

Beliau juga menyarankan untuk jangan pernah menanyakan arti dari sebuah sajak kepada pengarangnya karena Anda hanya akan dibohongi. “Pengarang adalah pembohong, bilang begini maksudnya begitu, seperti judul buku saya,” lanjutnya yang disambut gelak tawa pengunjung. Sekali lagi, Sapardi mengatakan untuk jangan pernah menanyakan inspirasi seorang sastrawan ketika sedang menulis cerpen atau puisinya. “Jangan percaya saya kalau saya bilang inspirasi menulis puisi Hujan Bulan Juni karena saya pasti akan berbohong,” tambahnya. Inspirasi seorang penyair dalam menulis puisi adalah hal pribadi si pengarang, dan biarlah hal itu menjadi kenangan khusus miliknya.

Ternyata, Pak Sapardi itu humoris juga loh, DIVAmate. Di tengah suasana serius, beliau melemparkan candaan yang sukses membuat gelak senyum.”Kalau mau komplit, malam ini sudah ada Sapardi Djoko Pinurbo, belinya satu dapatnya dua,” canda beliau yang disambut meriah kawula muda. Ada seorang peserta #FestivalBasabasi bertanya terkait buku bajakan kepada beliau. Bagaimana pendapat Sapardi tentang buku2nya yg dibajak. “Buku yang dibajak itu buku yang laris. Buku tidak akan dibajak kalau tidak laris,” ujar beliau.

Gimana jika sebuah puisi menghasilkan berbagai penafsiran yang berbeda-beda? Bukan kah itu artinya penyair gagal menyampaikan pesannya? “Pengarang harus menghargai tafsir pembaca. Semakin banyak tafsir yg berbeda malah semakin bagus karena karya itu jadi abadi,” jawabnya. Sekian tadi rangkuman materi dari Sapardi Djoko Damono di acara #FestivalBasabasi pada Sabtu malam kemarin. Semoga bermanfaat.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.