Royalti, Jual Putus, atau Kontrak Oplah?

0

Ada yang masih penasaran dengan apa itu #royalti, #jualputus, dan #kontrak_oplah? Ayo kita bahas rame-rame pagi ini di #RabuEditing. Sebagai sebuah karya intelektual, naskah adalah hasil jerih payah dan kerja keras sehingga memang seharusnya kalau penulis itu “dibayar”. Kamu sudah begadang menulis semalaman, cari ide sampai panas-panasan, beli dan cari referensi sepenuh hati. Masak nggak dapat apa-apa? Yah, terlepas dari salah satu tujuan mulia menulis untuk memberikan sumbangsih dan meninggalkan jejak sehingga seharusnya menulis itu ikhlas saja, penulis tetap saja manusia biasa yang butuh paket data bulanan dan harus membayar tagihan.


Tanya :”Min, kalau menerbitkan buku di @divapress01 bayar enggak sih?”
Jawab :“Menerbitkan buku di @divapress01 itu nggak bayar sama sekali.Justru, penulislah yang seharusnya ‘dibayar’ oleh penerbit atas kerja kerasnya menulis dan menyusun naskah buku.
Oh iya, sebelum menyimak #RabuEditing pagi ini, sebaiknya disimak dulu artikel yang satu ini
http://blogdivapress.com/dvp/menerb… …
Lalu, bagaimana bentuk “penghargaan” dari penerbit untuk penulis? Bentuknya adalah lewat pembayaran komisi sebagaimana tertera di dokumen MOU. Untuk diketahui, Komisi dari penerbit ke penulis ini bermacam-macam, ada yang dengan sistem royalti, ada kontrak oplah, ada pula beli putus. Tinggal dipilih.
Tadi, sudah MinCob sebutkan tiga opsi untuk ‘membayar’ penulis, yakni sistem royalti, kontrak oplah, dan beli putus. Bagaimana detailnya ketiga sistem itu? Ayo kita bahas bareng di #RabuEditing hari ini.

(1) Royalti
Sistem ini adalah ‘pembayaran’ yang paling disukai penulis karena metode pencairannya yang rutin (biasanya setiap 6 bulan). Bagaimana sistem #royalti ini bekerja? Yakni, sepenuhnya didasarkan dari JUMLAH penjualan buku dari si penulis yang bersangkutan. Dengan kata lain, semakin banyak jumlah eksemplar bukunya yang terjual, maka akan semakin besar juga royalti yang diterima si penulis. Royalti dihitung dari sekian persen dari harga jual sebuah buku. Besaran royalti ini berbeda-beda untuk tiap penerbit dan juga penulis. Rata-rata royalti yang ditawarkan penerbit kepada penulis adalah antara 5 – 10%, tergantung pada jenis naskah, penulis, tema, dan lain-lain.
Ketika sebuah naskah diterima, penerbit akan menawarkan kepada penulis besaran royalti yang kemudian tercantum dalam surat MOU penerbitan. Setiap penerbit tentunya memiliki kebijakan sendiri untuk menentukan besaran royalti bagi setiap penulis dan untuk setiap naskah. Royalti biasanya dibayarkan kepada penulis setiap satu semester atau enam bulan sekali, biasanya pada awal dan pertengahan tahun. Besaran royalti didasarkan pada jumlah eksempar buku terjual pada kurun waktu tersebut untuk kemudian dikalikan sekian persen dari harga. Lalu, gimana cara menghitung besaran royalti? Ayo kita coba hitung-hitung di sini.
Misal:
Royalti: 10%
Harga buku per eksemplar: Rp50.000
Misal selama Januari – Juni 2015 jumlah buku terjual adalah 1.000 eksemplar.
Maka: 1.000 x (10% x Rp50.000)
——> 1.000 x Rp5.000
Maka, pada bulan Juli 2015, penulis akan mendapatkan uang royalti sebesar
1.000 x Rp5.000 = Rp5.000.000
Demikian juga untuk semester berikutnya, royalti Januari 2016 akan dihitung berdasarkan jumlah buku terjual per Juli – Desember 2015. Eh, iya, ini belum dipotong pajak loh.
Jadi, semakin banyak bukumu yang terjual, maka akan semakin besar pula uang royalti yang kamu terima. Seneng kan ya jadi penulis itu 🙂 Hitung-hitungan ini hanya contoh sederhana saja DIVAmate. Dalam prakteknya kadang lebih rumit dari itu, terkait distributor juga. Nah, baru-baru ini, Mimin denger istilah ‘konsinyasi’ dalam dunia perbukuan Indonesia. Apa itu maksudnya? Mimin juga belum paham #gagalmarketing. Intinya, dengan sistem ‘konsinyasi’ ini, penulis hanya akan mendapatkan 10% dari harga netto penerbit ke distributor, yang hanya 45 – 50%.
Tanya: Maksudnya gimana itu, MinCob? Kok mbulet sih kayak perutmu?
Jawab: (¬ -? ¬) Sabar, orang sabar perutnya jembar :))
Misalnya gini:
Harga buku: Rp50.000
Konsinyasi: 50%
Harga distributor: 50% dari Rp50.000 = Rp25.000
Royalti dihitung dari harga Rp25.000
Dengan demikian, jika semester pertama jumlah buku terjual 1.000 eks, maka dengan sistem #konsinyasi hitungan royaltinya menjadi:
1.000 x (10% x (50% x Rp50.000))
1.000 x (10% x Rp25.000)
1.000 x Rp2.500
Total royalti: Rp2.500.000
((( Ini kultwit apa pelajaran aljabar ya? Mumet pisan penuh hitungan kayak hidup berumah tangga. ))) Tentang distribusi buku dengan sistem #konsinyasi ini bakal kita bahas kapan-kapan, saat ini Mimin belum dapat sumber anonimnya #eh.
Tanya: Min, gimana cara menghitung royalti buku yang diobral?
MinCob: Pertanyaan bagus, btw ada obral buku murah di mana? Mimin juga mau dong borong. #salahfokus
Untuk buku obral, maka kembali pada prinsip royalti yang ‘dihitung berdasarkan BANYAKNYA eksemplar buku yang terjual.’ Maka, besaran royalti tetap sama, yakni 10%. Namun, penghitungannya berdasarkan harga buku yang sudah masuk obralan.
Misal:
Royalti: 10%
Harga asli: Rp50.000
Harga obral: Rp20.000
Terjual: 200 eks.
Royalti: 200 x ( 10% x Rp20.000) = Rp 400.000
Hosh … hosh capek juga ya ngitung royalti. Coba kalau ada penulis yang bagi-bagi royaltinya ke MinCob, pasti MinCob semangat #kode. Nah, jelas kan apa itu royalti dan bagaimana cara menghitungnya? Oke, setelah panjang-lebar tentang #royalti, yok lanjut ke sistem pembayaran yang kedua, yakni #JualPutus. Ih, siapa yang putus? #baper
Min, tega deh kamu? | Eh, MinCob kenapa? | Itu, nyindir aku ya yang kemarin habis diputusin mantan! | WOYYY Ini jual putus naskah (“-__-)

(2) Jual putus
Yang makna sederhananya: abis dijual trus diputus ngoahahahaha nyesek ngak tuh #eh #salahfokus #maaf. Tahukah kamu, Selain memakai sistem royalti, penerbit juga menerapkan sistem jual putus alias dibayar sekali, habis itu enggak lagi. Dengan sistem #jualputus ini, pihak penerbit ‘membeli’ kepemilikan naskah dari penulis sehingga penulis tidak punya hak lagi atas naskah itu. Dengan sistem #jualputus, penulis tidak akan mendapatkan royalti dari hasil penjualan buku karena dia telah ‘menjual’ naskahnya ke penerbit. Sederhananya begini, Penulis A punya naskah A dan dijual kepada Penerbit B seharga Rp10.000.000. Transaksi selesai, dan setelah itu bhayyyy. Setelah penulis menandatangani kontrak naskah dengan sistem #jualputus dan uang Rp10.000.000 diterima, ya udah habis itu bhaayyyyyyyy ((( 2 ))).
Dengan sistem #jualputus, penulis tidak akan mendapat royalti atau uang apa pun lagi ketika naskahnya mengalami cetak ulang kelak. Seberapa pun banyaknya sebuah naskah dicetak ulang, kalau pakai sistem #jualputus ya putus aja. Penulisnya nggak kebagian apa-apa. Ish, kok tega sih sistem #jualputus ini? | Ya, tapi sistem ini juga punya kelebihan loh. Misalnya harga naskah biasanya jadi lebih mahal. Selain itu, dengan sistem #jualputus, maka penulis akan mendapatkan uang begitu surat kontrak ditanda tangani. Nggak kudu nunggu 6 bulan.Seperti halnya ketika kita menjual barang. Ketika barang sudah sampai ke tangan pembeli, maka kita tidak punya hak lagi atas barang tersebut.
Tanya: Biasanya, berapa harga yang ditawarkan untuk naskah #jualputus?
Jawab: Bervariasi, Kak. Yang jelas nggak semonoton hidup kamu. #eh
Harga naskah #jualputus
Novel: Rp2.000.000 – Rp10.000.000; bisa juga lebih (tergantung penulis)
Nonfiksi: Rp1.500.000 – Rp5.000.000;
Ini hanya harga rata-rata penerbit di Indonesia loh. Untuk beberapa kasus, harga naskah #jualputus bisa lebih tinggi lagi. Biasanya, naskah dari penulis yang sudah punya nama akan dihargai lebih tinggi ketimbang naskah karya penulis pemula. Yah, gimana lagi!
JKT58: Jadi, aku kudu pilih mana, Min? Royalti atau jual putus?
MinCob: Pilih akyu aja, Kak!
JKT58: (“-__-) *Minum limbah
Antara sistem royalti dan jual putus, masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangannya sendiri. Sama kayak Mimin, ada kurang (duitnya) dan lebih (cakepnya).
Keuntungan #Royalti:
(a) Naskah tetap milik penulis
(b) Dapat duit setiap 6 bulan sekali (duduk ongkang2)
(c) … tapi kalau bukunya laku
Kerugian #Royalti:
(a) Kalau penjualannya sepi, royalti ikut sepi
(b) Kudu nunggu 6 bulan agar dapat duit
(c) … itu pun kalau bukunya laku
Tapi, kalau kamunya rajin dan produktif menulis buku (dan bestseller semua), maka sistem #royalti ini bisa buatmu kaya raya \(´?`)/. Yah, Min. Gimana mau kaya dari royalti buku? Nulis satu naskah aja udah dua tahun nggak kelar-kelar! | Curhat, Kak? Semangat ya (^?^)/
Keuntungan #jualputus:
(a) Harga naskah biasanya lebih mahal
(b) Langsung terima uangnya
(c) Tidak ribet ngecek/tanya2 royalti ke penerbit
Kerugian #JualPutus:
(a) Nggak dapat royalti
(b) Naskah menjadi milik penerbit
(c) Nggak dapat apa-apa kalau naskahnya bestseller dan cetak ulang
Jadi, antara #Royalti dan #JualPutus punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kamu sendiri yang lebih tahu, hendak pilih yang mana.

Tips dari MinCob:
Pilih #royalti kalau kamu yakin naskahmu bagus.
Pilih #jualputus kalau naskahnya biasa-biasa (atau kamu lagi butuh duit).

Sistem #jualputus ini menguntungkan bagi penulis yang mungkin sedang membutuhkan dana segera karena terdesak kebutuhan. Kelemahan #jualputus, jika buku itu meledak di pasaran, penulis buku itu tidak dapat bagian apa-apa. Penerbitnya yg meraup untung besar. Nah itu tadi, sudah MinCob bahas antara #royalti dan #jualputus. Silakan pilih sendiri. Eh tapi, ngomong-ngomong naskahnya sudah jadi?
(3) Kontrak Oplah
Nah, sistem pembayaran naskah yang ketiga adalah #KontakOplah. Apa itu kontrak oplah? [KBBI]: Oplah –> 1. jumlah barang cetakan yang diedarkan; 2 jumlah barang cetakan yang dicetak dari perangkat acuan pelat; Jadi, kontrak oplah secara sederhana bisa dimaknai sebagai besaran pembayaran yang didapatkan penulis untuk setiap jumlah cetakan tertentu.
Misal begini:
Penulis menggunakan sistem #kontrakoplah Rp2.000.000 untuk 4.000 cetakan buku. Maka sistem penghitungannya begini. Penulis akan mendapat komisi Rp2.000.000 ketika penerbit selesai mencetak naskahnya sebanyak 4.000 eksemplar. Perkara naskah yang sudah dicetak itu laku atau nggak, bukan urusan penulis. Dalam #kontrakOplah, penulis istilahnya sudah dibayar di muka. Jika kebetulan naskah itu bestseller dan cetak ulang, maka penulis akan mendapat lagi komisi tergantung jumlah cetakan kedua. #KontrakOplah.
Misal, jika cetakan kedua
sebanyak 4000 maka penulis dapat dua juta rupiah
sebanyak 2000 maka penulis dapat satu juta rupiah
begitu dst.
Pertanyaan:
Untuk #KontrakOplah 2 juta/4000 eks; berapa duit yang akan diterima penulis ketika naskahnya dicetak lagi sebanyak 1.000 eks?

Nah, kini selain #royalti dan #jualputus, DIVAmate sudah tahu juga tentang #KontrakOplah. Sebenarnya #KontrakOplah ini mirip dengan #Royalti, hanya saja penentunya adalah jumlah cetakan dan bukan jumlah buku terjual.
Keuntungan #KontrakOplah:
(1) Mendapat uang di muka
(2) Tidak terpengaruh oleh laris/tidaknya penjualan buku
(3) Lebih stabil

Kerugian #KontrakOplah
(1) Jumlah total uang yang diterima biasanya lebih kecil ketimbang #royalti
(2) Kudu nunggu penerbit nyetak lagi sebelum dapat duit. (Ya, kalau cetak lagi)
Dari segi keuntungan, #KontrakOplah ini mirip dengan #JualPutus yang cocok dipilih oleh penulis yang mungkin sedang membutuhkan uang. Tapi, dapat duitnya #KontrakOplah juga segitu-segitu melulu, beda dari #royalti yang kadang naik kadang turun tergantung pada penjualan. Untuk segi tantangan, #royalti lebih cocok bagi penulis yang suka tantangan dan dinamika hidup. Sementara penulis yang sedang butuh uang segera, sebaiknya mempertimbangkan #JualPutus atau #KontrakOplah ini.
Antara #royalti, #jualputus, atau #kontrakoplah; semua kembali kepada masing-masing penulis. MinCob sekadar memperincinya. Semoga jelas ya. Nah, tidak semua penerbit menawarkan tiga jenis pembayaran naskah ini. Ada yg hanya menawarkan royalti dan jual putus saja. Ada juga penerbit yang mungkin hanya menerima naskah #jualputus. Apa pun itu, keputusan terakhir tetap ada di tangan kamu sebagai penulis. Sebagai penulis, kamu yang paling berhak memutuskan bagaimana nasib naskahmu. Pertanyaannya, naskahnya udah selesai ditulis belum, Kak?

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.