Rahadi Widodo; Mengungkap Sisi Gelap Dokter Lewat Novel

Seminggu lalu, Tim Redaksi Fiksi berkesempatan mewawancarai salah seorang penulis #NOVELPROFESI, Kak Rahadi Widodo. Seolah nggak mau kalah aktif sama Tim Redaksi yang memberikan belasan pertanyaan, Pak Dokter menjawab dengan tidak kalah detail.

Nah daripada kelamaan berbasa-basi, ini dia nih hasil wawancara Tim Redaksi (TR) dengan penulis novel The Doctor, Kak Rahadi Widodo (RW)

TR: Halo Kak. Pertanyaan yang pertama nih. Apa sih latar belakang Kak Rahadi nulis novel The Doctor?

rahadi widodoRW:        Halo juga. Makasih untuk kesempatannya. Oke, latar belakang penulisan novel ini adalah kesempatan. Ya, kesempatan yang diberikan penerbit (DIVA Press) untuk ikut gabung dalam proyek #NOVELPROFESI. Ini kesempatan saya untuk mengungkap kayak apa profesi kedokteran. Sering lho disalahpahami oleh masyarakat awam. Yeah, ada “sisi terang” yang umum dikenal masyarakat, misalnya bahwa dokter itu pasti pintar, kaya, berpenghasilan besar, hidup enak, berjiwa pengabdian sampai dikira (atau dituntut) beda-beda tipis dengan malaikat. Tapi tidak dengan “sisi gelapnya”. Biasanya yang tahu cuma kalangan dokter dan keluarganya. Ini menarik untuk diungkap, menurut saya. Melalui novel, saya harap pesannya akan lebih mengena di hati, melalui karakter dr. Adib.

TR: bagaimana proses dan apa aja pengalaman menarik selama penulisan The Doctor?

RW: Ah ya, sempat bimbang untuk ikut. Di waktu yang bersamaan, saya baru mulai mengerjakan tesis yang harus selesai paling lambat bulan April 2014. Deadline penulisan novel hanya 4 bulan. Saya pikir, soal gimana proses penulisannya, bakal ganggu studi saya atau tidak, itu nanti saja dipikirkan. Yang penting kirim sinopsis dan bab 1 dulu aja ke pihak penyelenggara. Alhamdulillah, pihak redaksi memilih saya. Pusing pala barbie. Gimana nih ngerjainnya? Saya akhirnya wajib bagi waktu. Senin-Jum’at sepulang kerja, ngerjain tesis. Sabtu malam dan Minggu seharian buat nulis novel. Waktu main sama anak-anak jadi tersita. Pas bulan Februari, letusan Gunung Kelud bikin panik. Novel dan tesis sama-sama terbengkalai. Saya bertugas untuk menangani para korban letusan. Waktu itu saya masih dinas di Kota Malang. Selesai penanganan musibah, saya kembali ke tesis dan novel. Mungkin karena fokus ke novel, istri saya malah negur. Jawab saya, “Iya, iya… ntar kalau sudah kelar novelnya, saya belajar.” He he he…. Bulan April, alhamdulillah, tesis saya selesai dan acc. Seminggu kemudian, The Doctor menyusul rampung. Senang karena tesis dan novel berhasil diselesaikan, tapi kemudian dihantui kecemasan tingkat dewa karena sadar bahwa saya kurang belajar menjelang ujian akhir. The Doctor telah menyita banyak jatah belajar. Akhirnya saya pakai SKS alias sistem kebut semalam. Hiii… bagian yang ini jangan ditiru ya!

TR: Berkaitan dengan tokoh-tokoh dalam novel, yaitu Adib, Nirmala, dan Mitha, Dokter Alvin. Apa alasan/latar belakang Kakak menciptakan ketiga tokoh itu? Terinspirasi dari kejadian nyata?

Adib, seperti saya sebutkan sebelumnya, dibuat untuk mewakili nasib orang-orang yang mengalami hal-hal berat selama kuliah dan menjalani profesi kedokteran. Kesialan-kesialan Adib pernah terjadi di dunia nyata, walau tidak sedramatis itu. Beberapa teman sesama penulis di komunitas FLP Malang mengatakan bahwa mereka melihat karakter saya pada tokoh Adib. Mitha, saya teman yang… entah dia merasa atau tidak karakternya dijadikan tokoh dalam novel saya. Nirmala murni tokoh rekaan saya. Sementara Dokter Alvin… hmm kalau yang ini, teman-teman yang pernah menjadi dokter jaga UGD pasti tahu. Beberapa dokter yang beruntung menjadi spesialis karakternya bisa terbentuk menjadi semacam Dokter Alvin.

TR: Apa aspek yang paling menantang dalam menciptakan tokoh-tokoh tersebut?

Karena merupakan novel profesi, saya ingin tokoh-tokohnya benar-benar gambaran nyata profesi kedokteran di Indonesia. Tokoh-tokohnya harus menarik, mengalami kejadian-kejadian spektakuler, heboh, kemudian keluar dari masalah dengan cara yang spektakuler juga.

TR: Tiga kata yang mewakili novel ini, Kak?

Inspiratif, berkesan, mencerahkan.

TR: Menjadi seorang dokter, tentu bergelut tentang urusan hidup mati pasien. Apakah itu bisa melelahkan jiwa, sedih, dan sebagainya?

Bahwa dokter bergelut dengan hidup matinya pasien, memang iya. Tapi kalau melelahkan jiwa, sama sekali tidak. Dokter tidak akan terbawa perasaan. Dalam mendampingi pasien, dokter dididik untuk bersikap empati, bukan simpati. Ketenangan seorang dokter sangat diperlukan agar tetap bisa bersikap profesional dalam keadaan paling kritis sekalipun. Ketenangan itu harus bisa ditularkan pada pasien dan keluarganya. Dengan berjalannya waktu, setiap dokter akan semakin terbiasa.

TR: Bagaimana awal ketertarikan Kakak terhadap dunia tulis-menulis?

Saya membaca apa saja yang bisa dibaca, hingga sobekan koran bungkus kacang. Bapak saya seorang guru, dan saya sering “mencuri” buku-buku di lemari beliau untuk dibaca. Ketika masih SD, saya sudah membaca buku-buku pelajaran SMEA (karena bapak saya guru SMEA). Tapi paling senang kalau menemukan novel atau buku sejarah. Petualangan Huck Finn karya Mark Twain, Biografi Charles Dickens (lupa nama pengarangnya), dan Buku Sejarah Amerika di masa hidup Abraham Lincoln (yang juga memuat kisah hidup penulis-penulis besar pada masa itu) sangat berkesan bagi saya.

TR: Bagaimana mengatur waktu antara kesibukan sehari-hari, menjadi dokter, dan menyempatkan waktu menulis?

Saya heran, kenapa banyak sekali yang menanyai saya soal itu. Seolah-olah dokter itu makhluk aneh yang tidak mungkin punya waktu untuk menulis. Selalu ada waktu untuk menulis, bagi seorang dokter sekalipun. Semuanya ada di niat. Kamu niat jadi penulis atau tidak? Menulis tidak harus nongkrong di depan mesin tik. Kita bisa nulis pakai hape atau tablet, kapan saja di mana saja.

TR: Apa rencana Kakak ke depan berkaitan dengan dunia tulis-menulis?

Setelah The Doctor, selepas ujian nasional, saya sudah menyelesaikan satu novel bergenre komedi. Kelihatan aneh nggak, dokter nulis novel komedi? Sekarang pun masih terus menulis, berusaha untuk menyelesaikan dua novel lagi. Satu novel fantasi dan satu lagi novel sastra.

TR: Dunia kedokteran sangat menarik diselami. Apakah Kakak ingin kembali menulis novel lagi bertema kedokteran, seperti John Grisham dengan tema hukum?

Tentang John Grisham, saya membaca beberapa karyanya. Yang terbaik menurut saya adalah The Firm. Pada awalnya, saya sempat menyusun outline The Doctor dalam bentuk semacam The Firm di lingkup rumah sakit, tapi saya batalkan karena terasa kurang membumi. Btw, saya tidak tertarik menjadi John Grisham di bidang kedokteran. Saya suka bebas berkeliaran ke mana saja. Sebagai dokter, saya sudah menjadi spesialis, tapi sebagai penulis, saya akan tetap menjadi penulis umum.

TR: Apa buku yang saat ini sedang dibaca?

Saya baru menyelesaikan Grand Duchess Katarina karya R. Violentina, sebuah buku terbitan indie. Sedang menunggu kiriman novel Hadji Murat karya Leo Tolstoy.

TR: Siapa penulis/pengarang yang menjadi inspirasi Kakak?

Andrea Hirata, ya saya punya semua bukunya. Ernest Hemingway, saya paling suka gayanya, walau hanya baca buku-buku terjemahan. Agus Sunyoto, saya suka baca cerbungnya di koran, punya bukunya Dhaeng Sekara. Penceritaan sejarahnya sangat menarik, dan detail-detail yang disampaikan membuat bukunya semakin menarik. Dari novel-novel terjemahan Eiji Yoshikawa, saya belajar membangun suasana dalam cerita.

TR: Apa buku paling berpengaruh dalam hidup Kakak?

Kalau ditanya begitu, sudah tentu jawabnya adalah al-Qur’an, pedoman hidup saya. Kalaupun ada buku karangan manusia yang bisa memengaruhi hidup saya, mungkin The Magic of Thinking Big (D. J. Schwartz). Saya baca terjemahannya yang berjudul Berpikir dan Berjiwa Besar ketika masih SD, tapi masih ingat pokok-pokoknya sampai sekarang. Kisah hidup Nabi Muhammad SAW yang ditulis Suwarsih Djojopuspito. Ini juga saya baca ketika masih SD, tapi jauh lebih membekas di benak saya daripada buku-buku serupa yang saya baca belakangan.

TR: Sebutkan 5 hal tentang diri Kakak.

Mungkin saya ini… sederhana, sopan, sabar, tekun, dan pendiam. Itu saja. Membosankan sekali, ya?!  He he he… tapi gue mah gitu orangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *