Penting Nggak Sih Punya Nama Pena?

Siang DIVAmate. Gimana kabarnya? Gimana kabar naskahnya?

Nggak ada pertanyaan lain, Min?*

Yaudah, gimana kabar jodohnya?

HIH

*mimin dibuang ke Wakandil.

Ngomong-ngomong, adakah DIVAmate yang juga penulis dan punya nama pena? Nama pena atau pesudoname adalah nama alias atau nama samaran yang digunakan penulis dalam karyanya. Misalnya saja,  Eduard Douwes Dekker menggunakan nama pena Multatuli untuk menulis nove legendarisnya Max Havelaar.Seorang penulis memang diperbolehkan menggunakan nama pena atau nama samaran dalam karya ciptaannya. Ada beberapa alasan mengapa penulis melakukannya.

1. Menyamarkan identitas asli demi keamanan

Beberapa penulis sengaja menggunakan nama pena untuk menjaga keselamatan dirinya. Biasanya, mereka menggunakan nama anonim untuk menghindari pencidukan atau ancaman dari pihak-pihak tertentu yangg mungkin tersentil oleh tulisannya. Misalnya adalah Eduard Douwes Dekker yang menggunakan nama pena Multatuli karena novelnya mengkritik kebijakan pemerintah Kolonial Belanda. Ada yang tahu siapa penulis lain yang juga menggunakan nama pena demi melindungi diri dari pihak-pihak yang kurang suka dengan tulisan-tulisannya?

2. Mencari Sebutan yang Unik

Beberapa pengarang lain memilih membuat nama pena untuk menciptakan sebutan yang unik. Dengan nama yang unik ini diharapkan pembaca akan lebih “hafal” dengan karya-karya si penulis. Nama unik ini bisa didapatkan dengan banyak cara, tergantung pada kreativitas si pengarang. Tasaro GK, misalnya. Namanya yang unik itu ternyata adalah singkatan dari nama asli beliau Taufik Saptoto Rohadi. GK sendiri singkatan dari Gunung Kidul, tempat kelahiran penulis. Unik kan? Kamu juga bisa bikin nama pena sendiri loh, misalnya JORATEGO (Jogja Barat Tepatnya Godean)

3. Untuk Menyamarkan Jender

Penulis Harry Potter,  konon memilih menyingkat nama depannya untuk menyamarkan jenis kelaminnya. Pihak penerbit khawatir nama perempuan dianggap kurang cocok untuk penulis novel fantasi yang didominasi pria. Inisial J.K di depan nama Rowling awalnya ditujukan untuk menyamarkan gender penulisnya. Tetapi, dasarnya memang tulisan bagus ya bagus saja sih, penjualan novel Harry Potter tetap melejit di seluruh dunia meskipun pembacanya tahu kalau penulisnya perempuan. Rowling bahkan melangkah lebih jauh dengan menulis seri novel thriller detektif dengan nama samaran yang pria banget, yakni Robert Galbraith. Novel The Cuckoo’s Calling juga langsung melejit penjualannya begitu ketahuan kalau Rowling adalah Galbraith.

4. Nama Asli terlalu Panjang

Ada juga pengarang yang menggunakan nama samaran karena nama asli terlampau panjang. Untuk menyiasatinya, beberapa pengarang memilih menggunakan nama pena yang unik berupa singkatan namanya. HAMKA sang pengarang Tenggelamnya Kapal Van der Wijck misalnya. HAMKA sendiri adalah akronim dari nama panjang beliau. Penulis novel Di Bawah Lindungan Kabah ini memiliki nama panjang Haji Abdul Malik Karim Amrullah. HAMKA adalah akronim dari huruf-huruf pertama yang menyusul nama beliau.

Ada juga Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin. Coba tebak, siapa nama pena beliau. Judul-judul novelnya di antaranya Pada Sebuah Kapal, Padang Ilalang di Belakang Rumah, Namaku Hiroko, dan Pada Sebuah Kapal.Hayo siapa? Betul sekali, Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin adalah nama asli dari sastrawan masyhur N.H, Dini. Ternyata, nama aslinya memang panjang ya, DIVAmate. Nggak kebayang kalau kudu nulis segitu banyak di sampul depan.  Nah, terbukti nama yang terlampau  panjang tidak hanya menyusahkan saat ujian, tetapi juga dalam penulisan hehehe.

5. Nama samaran sebagai merek diri

Sebuah nama sejatinya adalah merek diri yang dapat digunakan sebagai personal branding. Ini sebabnya beberapa penulis sengaja membuat nama pena yang khas untuk memasarkan karya-karyanya. Nama pena sebagai merek ini sekaligus digunakan sebagai jaminan kalau buku-buku karyanya dijamin begini dan begitu. Contoh penulis yang menggunakan nama pena sebagai merek diri untuk pasar adalah Darwis dengan nama pena Tereliye.

Dari sisi pasar, nama Tereliye memang terdengar lebih “eksotis” ketimbang nama Darwis yang agak bernuansa religi. Sementara, karya-karya Tereliye sendiri beragam, mulai dari novel fantasi hingga religi. Tereliye dengan demikian terasa lebih unik sekaligus netral. Sekarang, begitu mendengar atau membaca tulisan Tereliye, perhatian orang akan langsung tertuju pada buku-buku bestseller karyanya, misalnya Bumi, Bidadari-Bidadari Surga, Hujan, dan Rindu. Bisa dibilang, penulis Darwis berhasil melejitkan nama pena Tereliye sebagai merek sekaligus jaminan atas kualitas karya-karyanya yang di atas rata-rata.

6. Nama pena sebagai nama yang unik, khas, dan tidak pasaran

Agak mirip dengan yang dilakukan Tereliye, ada juga penyanyi sekaligus pengarang berbakat bernama asli  Dewi Lestari. Member grup vokal RSD ini telah menggunakan nama unik “Dee” sejak tahun 2000-an awal. Seri Supernova karyanya juga meledak di pasaran sehingga semakin melambungkan nama Dee itu sendiri. Sejak itu, tidak terhitung banyaknya remaja dan penulis pemula yang latah ikut-ikutan menggunakan nama Dee. Bukan hal yang keliru sih, tetapi Dewi Lestari adalah yang pertama mempopulerkan nama unik ini lewat karya-karya bestsellernya.

Nama pena Dee memang terdengar lebih manis, lebih urban, lebih unik sekaligus asyik ketimbang nama Dewi Lestari yang sudah begitu banyak digunakan orang. Dewi mungkin mengambilnya dari inisial pertama namanya yang dibaca panjang. Atau, mungkin ada sumber lain? Let mimin know. Kamu coba bikin nama pena dengan mengutak-atik namamu deh. Tolong jangan “Dee lagi, Dee lagi.” Seorisinal apa pun Dee versimu, nama Dee udah dianggap nama merek Dewi Lestari–walau nama Dee sendiri nggak dipatenkan oleh Dee. Coba cari yang lain deh, masih banyak kok. Wee atau Dew misalnya, atau Wedew sekalian.

7. Nama pena untuk menyesuaikan dengan corak karya

Ada beberapa penulis yang kebangetan banget produktifnya (juga bakatnya) sehingga beliau mampu menulis buku dari beragam genre, mulai dari novel, cerpen, buku bahasa, sejarah, hingga buku motivasi selfhelp. Penulis seperti ini biasanya memilih menggunakan nama pena ketika dia hendak menulis di luar dari genre yang biasa ditulisnya. Dalam artian, dia ingin nama aslinya tetap “khas” sebagai penulis suatu genre dan tidak untuk genre yang lain. Atau, ia sengaja tidak ingin dikenal.

Salah satunya adalah penulis Yapi Panda Abdiel Tambayong. Kebanyakan pembaca mungkin akan bertanya-tanya siapa beliau. Padahal Yapi tambayong adalah penulis yang luar biasa  produktif. Beliau menulis novel, naskah drama, buku bahasa, artikel dengan berbagai tema, hingga humor. Beberapa karya legendaris Yapi Tambayong adalah  Namaku Matahari, Hotel Prodeo, Cau Bau Kan, dan Kerudung Merah Kirmizi. Nah sekarang DIVAmate sudah tahu deh nama asli dari Remy Silado.

Selain Remy Silado, Yopi Tambayong juga masih memiliki beberapa nama pena lain. Untuk buku-buku kebahasaan seperti 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing dan Bahasa Menunjukkan Bangsa beliau menggunakan nama pena Alif Danya Munsyi. Selain dua nama pena itu, Yopi Tambayong juga masih memiliki sederet nama pena lain, yakni Dova Zila, Juliana C. Panda, dan Jubal Anak Perang Imanuel. Tentunya, banyaknya nama pena ini sebanding dengan banyaknya karya beliau.

Kalau kita kan nama pena doang yang banyak, karyanya sih itu-itu saja, Belum kelar ditulis pula. *nusuk banget kamu Min.

Nah, jika DIVAmate merasa nama aslinya terlalu pasaran atau bahkan malah kurang pasaran, boleh-boleh saja menggunakan nama pena dalam tulisan. Tetapi, selalu ingat bahwa nama adalah doa jadi nama asli pemberian orang tua tetaplah yang utama. Lalu. gimana cara membuat atau memilih nama pena yang cocok dengan diri dan karya kamu? Nih Minceu kasih tipsnya

Tips memilih nama pena

  1. Gampang diucapkan, ditulis, dan diingat –>misal @akhirbulan
  2. Terdengar mengalir saat diucapkan –> @sayaaaangggg
  3. Sedikit banyak mewakili corak dari karya yang kamu tulis –> @revolusirindu
  4. Pilih nama pena yang belum pernah digunakan oleh penulis lainnya –>@daunkering
  5. Unik –> @mamam

Jadi, kembali ke pertanyaan awal, penting nggak sih penulis punya nama pena? Kalau kata Minceu sih punya nama pena boleh, nggak bikin nama pena juga tidak mengapa. Yang jadi masalah itu kalau kamu punya banyak nama pena tetapi nggak punya karya. Setuju?

 

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.