Para Raja dan Revolusi (IRCiSoD, 2016); Kumpulan Esai Linda Christanty

Para Raja dan Revolusi (IRCiSoD, 2016); Kumpulan Esai Linda Christanty
Para Raja dan Revolusi (IRCiSoD, 2016). Sumber gambar: divapress-online.com

Hasil pertama dari Revolusi Indonesia adalah “Inlander” atau Bumiputra yang sederajat dengan anjing dalam sebuah negeri yang dijajah menjadi manusia bermartabat di sebuah negeri merdeka. Kemerdekaan itu membuat bangsa-bangsa Bumiputra yang kelak disebut bangsa Indonesia sederajat dengan bangsa lain sebagai salah satu bangsa pembangun peradaban.

Selain menuturkan bermacam fakta dan menganalisisnya, buku ini juga menunjukkan bahwa hegemoni yang mengeksploitasi manusia dan bangsa di dunia masih berlangsung sampai sekarang, dan belum memperlihatkan tanda-tanda akan berakhir.

Linda Christanty kembali menulis untuk kita dalam Para Raja dan Revolusi ini setelah ia menerbitkan karya-karya fiksi dan nonfiksinya yang memperoleh berbagai reaksi dan sambutan di Indonesia dan negara-negara lain.

“Linda Christanty tidak menilai perang secara hitam-putih. Ia juga tidak berkhotbah tentang perlunya menghindari konflik. Ia justru menggambarkan perang dari sudut pandang prajurit, yang tak jarang menjadi korban juga, mengajak pembacanya merenung mengapa perang-perang itu terjadi dan bagaimana hal itu berlangsung dari generasi ke generasi.” (The Nation)

“Pendek dan tajam. Sihir dan militer berhadap-hadapan dalam cerita-cerita Linda Christanty. Meskipun kuda bersayap yang terbang melintasi langit dalam ceritanya berasal dari imajinasi penulis Indonesia pemenang penghargaan ini, tetapi peluru-peluru tajam yang ditembakkan dan orang-orang yang meninggal itu berasal dari pengalamannya sebagai aktivis di masa rezim Suharto dan masa kanak-kanaknya serta kehidupan di Indonesia kontemporer.” (South China Morning Post)

“Linda memiliki kemampuan yang menakjubkan dalam menulis cerita, yang menggiring pembacanya untuk terhanyut. Kematian seekor anjing mungkin peristiwa biasa di mata awam, tetapi dalam persepsi Linda, hal itu dapat berubah menjadi peristiwa yang tidak biasa.” (The Jakarta Post)

“Linda Christanty menulis dengan humor, terkadang lugu, nakal, dan tajam mengenai berbagai pengalaman dalam keluarga dan perjalanan penelitiannya. Ia menjelaskan tentang daerah konflik mulai dari Israel hingga Malaysia, terutama Aceh, pulau di barat Indonesia yang mengalami kehancuran akibat tsunami dan perang dan dampak penerapan syariah. Jangan Tulis Kami Teroris adalah esai-esainya yang luar biasa di Jerman.” (NeueZürcherZeitung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *