Naskah Terbit Berapa Lamakah Harus Menunggu?

Naskah Terbit Berapa Lamakah Harus Menunggu
Sumber gambar: idntimes.com

Dunia buku dan penerbitan memang kadang penuh misteri, penuh beragam tanya yang memancing tanya juga rasa penasaran. Pemirssssahhhh, bagaimana sebenarnya fakta dan data di balik dunia penerbitan? Benarkah seepik kelihatannyahhh. Bersamah MinCob, mari kita kuak ragam dan varian pertanyaan seputar dunia penerbitan di INSER …eh #RabuEditing.
Kok naskahku belum diterbitin sih?
ISBN itu apa sih?
Royalti itu nama kapal pesiar ya Min? (-____-)

Mari kita temukan jawabannya di @RabuEditing
Tanya: Min, menerbitkan buku ini bayar nggak sih?
Jawab: Ada dua jenis penerbitan, indie dan mayor. Kamu tidak perlu bayar di mayor. Sebagai penerbit mayor, tidak perlu bayar jika ingin menerbitkan buku di @divapress01. Tapi, naskahmu harus lolos seleksi dan evaluasi dulu. Tentang alur penerbitan buku di @divapress01 sudah pernah Mimin bahas di #RabuEditing edisi entah kapan itu. Sementara untuk penerbit indie, ada banyak pilihan yang bisa kamu ambil untuk menerbitkan buku. Bisa googling, infonya banyak kok.

Tanya: Mengapa naskah saya lama sekali diterbitkan? Saya sudah tanda tangan MoU sejak setahun lalu, tapi bukunya kok belum terbit juga?
Jawab: Perlu diketahui bahwa setiap naskah yang diterima dan lolos evaluasi tidak otomatis akan langsung diterbitkan saat itu juga. Ada begitu banyak pertimbangan dari penerbit untuk menerbitkan atau tidak menerbitkan sebuah naskah, di antaranya kondisi pasar, tema, dll. Misalnya saja, naskah religi. Penerbit mungkin menunda menerbitkan naskah religi hingga mendekati bulan Puasa agar dapat momentumnya. Misalnya juga, naskah pendamping pelajaran, penerbit bisa menunda menerbitkan naskah itu sampai awal tahun pelajaran. Untuk naskah novel, kadang nunggu terbitnya bisa lebih lama lagi karena bermacam pertimbangan. Misalnya saja, pasar sedang jenuh dgn novel.
Setiap bulannya, penerbit sudah punya semacam ‘Jadwal Terbit’ buku untuk sebulan ke depan. Jadwal ini disusun dengan cermat dan saksama berdasarkan pertimbangan dari berbagai unsur dalam penerbit, mulai dari editor, bagian pemasaran, riset, dan lain-lain. Jadwal terbit ini harus disusun dengan hati-hati, jangan sampai penerbit ‘salah tembak’ dengan menerbitkan buku yg keliru di waktu yg salah. Misalnya saja, menerbitkan buku tentang latihan UN SMA atau panduan SMBPTN 2016 di bulan Juli 2016. Ini sih sudah telat bangetsss. Atau, menerbitkan buku bertema perempuan di bulan Mei, padahal momentum tepatnya harusnya di bulan April. Ada begitu banyak pertimbangan dalam menyusun jadwal terbit ini, tema dan momen hanyalah beberapa di antaranya.
Karena itu, banyak penerbit yang cari aman dengan menerbitkan buku-buku dengan tema-tema yang evergreen alias bisa terbit kapan saja. Buku-buku tema evergreen ini misalnya: buku anak, buku religi, buku motivasi, buku panduan selfhelp, buku pendamping pelajaran. Sayangnya, di @divapress01 novel termasuk salah satu yang paling lama antrenya untuk diterbitkan karena sifatnya yang khas dan khusus. Kecuali kamu adalah penulis yg sudah punya nama besar atau bisa menulis naskah fiksi yang ‘uwooowww apa deh gitu’, naskahmu bisa lama terbit. Karena itu, banyak naskah fiksi yang walaupun sudah MoU tapi belum juga kunjung diterbitkan di @divapress01. Alasannya ya itu tadi. Bukan berarti naskah-naskah fiksi itu jelek, hanya saja mungkin belum dapat momentum yang tepat untuk diterbitkan. Karena menerbitkan buku itu butuh biaya besar, jadi kudu dipertimbangkan baik-baik. Penerbit jg tidak mau bukunya tidak terserap di pasar.

Tanya: Min, naskah novelku kok belum diterbitin sih? Padahal sudah setahun MoU-nya?
Jawab: Ada loh yang MoU-nya tahun 2012 dan belum terbit. Tentunya, lama terbit ini berbeda di tiap penerbit, tidak bisa digeneralisasikan seperti kita generalisasikan setiap jomblo itu pasti nyesek. Normalnya, naskah akan terbit dalam rentang waktu 2 bulan sampai dua tahun setelah MoU. Tapi, sekali lagi, kasusnya beda2 di tiap penerbit. Selain jadwal terbit, lamanya naskah diterbitkan ini juga tergantung pada proses editingnya. Jika lancar, ya cepat terbit. Karena itu, dalam #RabuEditing, Mimin cute ini selalu menekankan pentingnya penulis untuk mengedit sendiri dulu naskahnya sblm dikirim. Jika naskahnya sudah bagus dan tidak perlu banyak disunting, maka akan semakin cepat terbitnya. Begitu pula sebaliknya. Ada banyak naskah yang isinya bagus, tapi ditulis dengan kurang bagus. Banyak deh yang seperti ini di meja editor. Banyak salah ketik, kalimat tidak rapi, pengulangan di mana-mana, kurang valid datanya, penyajian berantakan; gini bikin lama terbitnya.
Ada banyak tahapan yang harus dilalui sebuah naskah sebelum terbit menjadi sebuah buku, dari proses editing hingga percetakan. Dalam proses editing saja, editor bisa mengembalikan naskah ke penulis jika naskahnya masih amburadul dan butuh dilengkapi. Setelah itu, masih ada proses edit ulang, pembacaan kedua, kroscek ketiga, hingga diskusi antar editor dan redpel. Panjang deh ceritanya. Karena itu, jika kamu ingin naskahmu cepat terbit, bantulah editor dengan melakukan swasunting atau selfediting sebelum dikirim naskahnya. Cara lain biar naskahmu cepat terbit: tulislah naskah dengan tema-tema evergreen (selalu dicari), atau buat naskah yang “UWOWW banget gitu.”

Tanya: Perlukan penulis menyediakan ilustrasi untuk naskahnya? Misalnya saja untuk naskah anak-anak yang biasanya ada banyak ilustrasinya.
Jawab: Tidak wajib menyediakan ilustrasi, kecuali untuk naskah komik & cergam. Setiap penerbit biasanya sudah memiliki ilustratornya sendiri. Tapi, jika penulis menyediakan ilustrasi untuk naskahnya, maka akan lebih bagus. Namun, ilustrasi dari penulis ini harus lewat evaluasi dulu. Artinya, penulis boleh menyediakan ilustrasi untuk naskahnya sendiri, tapi belum tentu ilustrasinya itu akan digunakan oleh penerbit.
Sama halnya dengan sampul buku, yg disediakan oleh penerbitnya. Kasusnya mungkin berbeda di penerbit indie yg menyediakan jasa bikin sampul. Di penerbit mayor, penulis boleh mengusulkan sampul untuk naskah bukunya, tapi diterima atau tidaknya sampul itu ada di tangan penerbit. Jadi, terjawab sudah pertanyaan besar kita tentang sampul dan ilustrasi untuk naskah buku. tak perlu ragu, ayo kirim karyamu segera.

Tanya: ISBN itu apa sih dan bagaimana cara mendapatkannya?
Jawab: Sebentar, ini agak rumit. Mimin butuh semadi dulu di rumahnya Al *ngarep*. ISBN adalah singkatan dari International Standard Book Number atau terjemahan bebasnya ‘Nomor Buku Standar Internasional.’ ISBN ini bisa diibaratkan sebagai nomor KTP-nya buku, yakni nomor identitas untuk satu judul buku yang diterbitkan penerbit. Setiap negara di dunia memiliki nomor ISBN-nya masing-masing. Untuk Indonesia, awalan ISBN-nya adalah 979 dan 602. Sistem ISBN diciptakan di Britania Raya pada tahun 1966 oleh seorang pedagang buku dan alat-alat tulis W H Smith (Wikipedia). ISBN awalnya disebut Standard Book Numbering atau SBN. Sistem ini diadopsi sebagai standar internasional ISO 2108 tahun 1970. ISBN diperuntukkan khusus untuk penerbitan buku, tidak bisa dipergunakan secara sembarangan, dan diatur oleh sebuah lembaga internasional. Untuk Indonesia, ISBN bisa diajukan kepada wakil yang telah ditunjuk oleh lembaga internasional di Berlin, yakni Perpustakaan Nasional RI. Jadi, yang mengeluarkan ISBN di Indonesia itu Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ya, bukan penerbitnya. Penerbit hanya mengajukan. Syarat-syarat penerbit yang bisa mengajukan permohonan pengajuan ISBN bisa dibaca lebih lengkap di sini https://id.wikipedia.org/wiki/ISBN
Permohonan disampaikan melalui jasa pos, faksimili, email, online, atau datang langsung ke Perpustakaan Nasional dan tidak dikenakan biaya. Awalnya ISBN ini terdiri atas 10 digit nomor, tapi kemudian berubah menjadi 13 digit nomor. Ayo ya punya buku, silakan dicek ISBN-nya. Ayo cari buku terdekat di sampingmu, kemudian cek ISBN-nya bener nggak ada 13 digit. Oh ya, letaknya di sampul belakang. Urutan penulisan ISBN 13 digit adalah
978 – kode negara – kode penerbit – kode buku – no identifikasi.

Tanya: Min, ini ISBN bukuku 978 – 602 – 391-181-7. Keluar nggak ya nomornya ntar malam?
Jawab: Itu judi woy *banting
ISBN ini adalah kombinasi angka yang unik dari sebuah buku yang diterbitkan secara resmi di suatu negara, dan digunakan sbg nomor identitas. Dengan nomor yang berbeda, setiap judul buku jadi memiliki nomor identitasnya sendiri sehingga lebih mudah dicari dan juga didata. ISBN memudahkan penjual, pembeli, akademisi, peneliti, dan juga masyarakat umum dalam mencari sebuah judul buku dari milyaran buku di dunia.

Tanya: Hak cipta itu apa sih? Apa bedanya dengan hak untuk mencinta dan dicintai? #baperdetected
Jawab: Tolong dong itu hatinya dikondisikan dulu.
Hak cipta adalah sewujud pengakuan resmi atas penciptaan sebuah karya oleh seseorang yang lalu didaftarkan di lembaga berwenang. Hak cipta adalah bentuk pengakuan bahwa sebuah ciptaan adalah milik seseorang tertentu sehingga penggunaannya harus seijin si pencipta. Misalnya, Alfred Nobel menciptakan dinamit, nah pemanfaatan atau produksi dinamit harus dengan seizinnya dengan kesepakatan tertentu. Di dunia buku, hak cipta ini terkait ide, gagasan, cerita atau karakter dll dari sebuah buku yang murni milik si penulis asli. Dengan demikian, pengutipan gagasan, ide, cerita, karakter dari sebuah buku dgn tanpa izin atau pencantuman sumber maka melanggar hak cipta. Penulis bisa menuntut orang lain yang mengutip atau menggunakan sebagian karyanya tanpa pemberitahuan atau tanpa mencantuman sumber. Hak cipta ini menuntut kita untuk berlaku jujur, jika memang mengutip karya orang lain maka cantumkanlah. Jangan akui yang bukan milikmu. Setidaknya ada tiga syarat sehingga sebuah karya dapat didaftarkan hak ciptanya. Apa saja itu?
(a) Karya harus orisinal, asli, belum ada yg seperti itu sebelumnya. Jadi, tolong jangan berpikir untuk mendaftarkan cinta palsumu itu ke Dirjen HAKI
(b) Karya itu memiliki wujud yg tetap, permanen & tidak berubah-ubah. Cintamu yang berubah-ubah itu tak perlu kau daftarkan ke Dirjen HAKI
(c) Baik karya cipta maupun penciptanya harus memenuhi syarat2 yg telah ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Cintamu tak bersyarat kan? Jadi, jangan didaftarkan!
Informasi lebih jelas tentang hak cipta dan cara mendaftarkannya silakan bisa divaca di buku ini *promo dikit ya*
Catatan: Memiliki ISBN belum menjamin bahwa kita sudah mendapatkan hak cipta atas karya intelektual kita dalam bentuk buku. Dalam kasus pengutipan dan penjiplakan, sering kali file asli di komputerlah yang menjadi bukti paling kuat tentang pemilik ide yg asli. Jadi, selalu simpan dan rawat file-file tulisan kalian dengan baik, kalau perlu disalin dan dibikin file ‘back up’-nya. File penting itu kayak kenangan, harus selalu disimpan dengan baik dan kadang butuh back-up-nya agar tidak hilang serta bisa dikenang eaakkk.

Tanya: Siapa yang memutuskan harga sebuah buku? Penerbit atau toko buku?
Jawab: Penerbit, dengan pertimbangan dari banyak pihak. Dalam menentukan harga sebuah buku, penerbit akan mempertimbangkan banyak hal, mulai dari ongkos produksi hingga kualitas isi buku. Kondisi pasar, nama besar penulis, dan harga bahan baku juga menjadi pertimbangan dalam menetapkan harga sebuah buku di pasaran. Mahal atau tidaknya harga sebuah buku adalah relatif untuk tiap orang. Biasanya sih murah di awal bulan tapi jadi mahal di akhir bulan wkwk. Seperti masa lalu, harga sebuah buku tersusun atas banyak hal. Tapi, lebih penting adalah isinya, harga nomor dua. Harusnya sih gitu.

Tanya: Min, saya tinggal di pelosok Indonesia. Bisakah saya menerbitkan buku saya di penerbit nasional?
Jawab: Tentu saja bisa, semua bisa. Dalam menerbitkan buku, penerbit yang baik melihat karya kamu dan bukan siapa kamu, juga bukan di mana kamu. Faktanya, banyak penulis hebat yang tinggal di pelosok nusantara, dan karyanya bisa terbit di penerbit-penerbit nasional. Karya kamu bisa dikirimkan lewat jasa pos atau jasa pengiriman lainnya. Beberapa penerbit juga sudah membuka penerimaan naskah lewat email. Di zaman internet ini, kita begitu dimudahkan untuk menulis, mengirimkan, dan menerbitkan buku. Sayang, banyak yang tidak memanfaatkannya.

Tanya: Bagaimana dengan penandatanganan surat MoU-nya? Apakah penulis harus datang langsung ke kantor penerbit untuk menandatanganinya?
Jawab: Datang ke kantor penerbit boleh, tapi jika posisi jauh dan tidak memungkinkan, maka penerbit yang akan kirim surat MoU ke penulis. Setelah menandatangani surat MoU-nya, penulis bisa mengirimkan kembali surat MoU tersebut ke alamat penerbit untuk segera diproses. Jadi, tidak masalah penulis tinggal di mana. Yang jadi masalah adalah ngakunya pengen jadi penulis tapi nggak nulis-nulis #jleb
Karena penulis itu menulis sementara pemimpi bermimpi menulis. Kamu mau jadi yang mana? #RabuEditing kesambet #SeninMenulis

One thought on “Naskah Terbit Berapa Lamakah Harus Menunggu?

  1. Waduh, lama juga ya ternyata proses terbitnya, dan ternyata lebih ribet dari yang kupikirkan. Makasih artikelnya sangat membantu, tapi miminnya keknya udah baper tinggat dewa. Kira2 habis diapain ya sama si doi kok jadi gini artikelnya? Wkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *