Naskah-Naskah Nonfiksi yang Laku di Penerbit Mayor (Bag. 1)

Tanya: “Aku sudah berulang kali kirim naskah nonfiksi ke penerbit. Temanya macam-macam, nggak yang diterima?”

Jawab: “Tetap semangat Kak. Tulisannya tentang apa?”

Tanya: “Isinya curhatanku tentang gebetanku yang nggak peka, tentang calon gebetan yang gak liat adanya aku … hufh!”

(ilustrasi: bobbrooke.blogspot.com)

Ya, memang penerbit menerima macam-macam tema naskah sih. Tapi kalau yang kamu kirimkan temanya nggak penting-penting amat buat khayalak banyak, ya penerbit juga mikir-mikir dulu dong sebelum nerbitin naskah kamu. Takutnya nanti yang baca nggak ada #ehmaaf. Karena setiap kertas dan tinta, juga setiap tenaga yang bekerja untuk menjadikan sebuah buku ada itu dibayar pakai duit, bukan pakai curhatan. Jadi, wajar jika penerbit kesannya jadi selektif dan nggak mau asal nerbitin.

Kita mungkin kaget kalau tahu fakta sebenarnya di balik dunia penerbitan mayor. Buku-buku sastra dan fiksi mungkin punya nama dan mendominasi, tetapi faktanya jumlah buku terbitan nonfiksi ternyata jauh lebih banyak. Dalam sebuah penerbitan mayor, persentase terbitan buku fiksi dan nonfiksi bisa mencapai 25% : 75%. Ini artinya, ada kesempatan yang sedemikian luas bagi para penulis nonfiksi untuk menerbitkan tulisanmu di penerbit mayor.

Jika kamu kepingin banget jadi penulis tetapi novel atau cerpenmu tak kunjung selesai, mungkin kamu bisa pindah haluan ke menulis nonfiksi. Jadi penulis nonfiksi juga tidak kalah terhormat dibanding naskah fiksi loh. Coba liat buku-buku bestseller di toko. Tidak melulu selalu ada novel atau buku puisi di sana. Tidak jarang, buku tentang agama Islam atau motivasi malah mendominasi. Jadi, mulai sekarang, jangan merasa rendah diri karena baru hanya bisa menulis buku nonfiksi. Rezeki itu bisa datang dari mana saja. Kalau rezekimu di nonfiksi, ngapain ngejar nulis fiksi yang nggak jadi-jadi?

Persoalan selanjutnya, apa saja sih jenis-jenis tulisan nonfiksi yang layak diterbitkan atau yang memang dicari-cari penerbit? Ayo kita bahas satu-satu hari ini.

1. Artikel Populer

Artikel adalah tulisan ilmiah yang ditulis dengan referensi dan data yang valid. Bisakah tulisan yang “kaku” gini diterima penerbit mayor? Bisa dong. Pertama, artikelnya banyak  alias nggak hanya satu. Jadi, penerbit biasanya akan menerima naskah kumpulan artikel. Berapa jumlah minimal artikel yang harus disetor? Tergantung penerbitnya sih, tapi kira-kira kalau dibukukan bisa menjadi 150 sampai 300 halaman. Jika setiap artikel terdiri atas 5 – 10 halaman, maka dibutuhkan minimal 20 artikel untuk sebuah naskah kumpulan artikel.

Kedua, usahakan agar artikel-artikel tersebut memiliki kesamaan tema. Misalnya artikel yang membahas dunia literasi, artikel tentang motivasi, artikel keagamaan (kumpulan khotbah jumat bisa nih) dan lain-lain. Ketiga, kurangi unsur formal dalam sebuah artikel untuk memperluas segmen pembacanya. Gunakan kata-kata yang populer, tulis sedemikian rupa sehingga bisa dibaca pembaca kebanyakan. Agar lebih mantul , bisa dikaitkan dengan berbagai hal yang sifatnya kekinian sehingga pembaca bisa mengkaitkannya dengan hal-hal terbaru.

 

2. Feature

Feature ini hampir mirip kayak artikel, tetapi biasanya mengupas lebih mendalam seputar tema yang disajikan. Feature ini biasanya juga lebih panjang ketimbang artikel. Topik yang diangkat pun biasanya lebih kekinian alias  up to date. Fokus feature adalah pengungkapan nilai-nilai di balik suatu tema yang diperbincangkan. Biasanya, penulis mengambil satu sudut penceritaan tentang seorang tokoh, tempat, atau peristiwa.

Paling sering diungkap adalah sisi kemanusiaan yang terkait dengan topik human interest. Dari penelusuran terhadap satu tema biasanya pembaca akan mendapatkan berbagai nilai penting dari suatu peristiwa atau tokoh. Contoh buku kumpulan feature yang bagus adalah kumpulan tulisan karya almarhum Kuntowijoyo yang dirangkum dalam buku legendarisnya “Muslim Tanpa Masjid.” Buku ini bagus banget buat DIVAmate yang ingin menggali lebih dalam isu-isu Islam kekinian. Bisa dipesan juga loh di Kak Nita (WA 0818 0437 4879)

 

3. Laporan Perjalanan, atau bahasa Milenialnya Naskah Travelling

Zaman sekarang, siapa pun bisa bepergian ke mana saja dengan budget berapa pun. Travelling ini tampaknya juga menjadi hobi sejuta umat generasi milenial. Nah, kenanganmu itu juga bisa laku jadi buku loh. Tapi ya kudu ditulis dulu. Kalau zaman jadul dulu, tulisan ini disebutnya laporan perjalanan dan biasa dimuat di koran atau majalah. Sekarang, kumpulan tulisan perjalananmu juga bisa dibukukan lo.

Demam tulisan perjalanan ini dimulai oleh blogger Trinity dengan seri Naked Travellernya (yang juga bestseller saat dibukukan). Tapi ingat ya, tidak semua tulisan perjalanan layak untuk dibukukan. Kamu harus punya sudut pandang khusus tentang suatu tempat. Orang banyak sudah menulis pantai-pantai indah di Lombok, kamu ya jangan nulis hal yang sama. Coba ambil sudut pandang perilaku warga lokal di pantai-pantai Lombok.

Hindari menulis laporan perjalanan yang sudah umum, kayak Pulau Bali dan Borobudur. Coba pilih tempat-tempat yang jarang dikunjungi tetapi layak diangkat dalam tulisan. Akan lebih bagus lagi kalau tidak hanya sisi indahnya saja yang diungkap, tetapi juga sisi kemanusiaan atau sosialnya. Jadi, selain mupeng pengen jalan-jalan, pembaca juga bisa belajar banyak tentang kehidupan orang-orang setempat.

Terakhir, yang haram banget terlupa, adalah foto. Jika kamu hendak kirim naskah travelling, wajib hukumnya melampirkan foto-fotomu saat ada di sana. Akan lebih bagus lagi kalau disertai peta serta daftar harga tiket, makanan, dan penginapan

4. Buku Life Skill

Dunia buku tidak melulu harus serius dan jauh dari jangkauan. Penerbit nyatanya juga menerima nasakah-naskah tentang life skill atau ketrampilan yang merakyat. Naskah jenis ini biasanya berisi aneka kiat dan tips praktis untuk melakukan sesuatu atau mencapai sebuah tujuan. Isinya pun tidak melulu rumit, kadang bahkan sangat sepele tetapi bermanfaat, misalnya saja tips membereskan rumah, buku tentang teknik sulam, naskah pertolongan pertama, membuat apotek hidup, tips servis sepeda motor, atau bagaimana merawat laptop agar seawet hubunganmu dengannya.

Jika misalnya kamu pandai berkebun, atau pintar menata rumah, coba deh kamu tulis pengalamanmu itu. Untuk contoh, kamu bisa melihat-lihat buku-buku life skill yang sudah beredar di pasaran. Buku-buku jenis ini gampang terserap di pasaran ketika sedang ngetren. Tetapi, buku jenis ini juga cepat ketinggalan zaman jika ditemukan tips-tips baru yang lebih praktis. Kuncinya, agar naskahmu diliri, tulislah dengan gayamu sendiri, bikin seunik mungkin misalnya dikasih ilustrasi lucu atau mungkin bisa disebutkan riwayat sejarahnya biar semakin seru.

Apakah hanya empat ini jenis naskah nonfiksi yang laku di penerbit? Gimana dengan buku bahasa asing atau buku agama Islam populer? Nanti kita bahas lagi lanjutannya di Bagian 2, insya Allah.

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.