3 Alasan Berlama-lama Menunda Tulisan untuk Diselesaikan

3 Alasan Berlama-lama Menunda Tulisan untuk Diselesaikan
Berlama-lama Menunda Tulisan. Sumber gambar: pixabay

Suatu hari, aku akan menulis novel pertamaku. | Kapan? | Kalau waktunya tepat. | Dan, kapan itu waktu yang tepat? | Umm … kapan-kapan.

Kelak, aku akan menulis naskah novel pertamaku. | Asek, kapan tuh? | Kalau sudah ngak sibuk. | Kalau sudah pensiun gitu? Yakin masih hidup?

Aku akan menyelesaikan naskah novel yang sedang kutulis. | Yuk, kapan? | Pokoknya tahun ini. | Tahun kemarin kamu juga bilang gitu | #jlebb

Suatu hari nanti, kelak jika aku ada waktu, kapan-kapan kalau sempat aku pasti akan
menulis. Dan begitu seterusnya …

Selama bertahun-tahun, banyak dari kita yang ingin menjadi penulis. Tapi, kenyataannya, kita malah terus menunda-nunda untuk menulis. Padahal penulis itu ya menulis, bukan berandai-andai menulis. Betul? Tapi, kenyataannya, kita lebih senang menunda-nunda untuk mewujudkan impian ketimbang berlekas-lekas  menggapainya. Termasuk dalam menulis.Siapa yang di awal 2013 kemarin memiliki resolusi untuk menulis buku pertama? Gimana kabar resolusinya itu ya? #eh Oiii yang kesindir, tahu kan jalan menuju sumur atau jurang terdekat? (? ??)-? (? ??)-?(? ??)-? (? ??)-? (? ??)-?

Come on bro, tidak ada waktu yang sempurna untuk menulis. Yang ada adalah mau atau tidaknya kita menyisihkan waktu untuk menulis, sis. J.K. Rowling menulis draft Harry Potter sambil mengasuh anaknya yang masih bayi. Kuncinya adalah kemauan dan tekad untuk berkarya. Kalau JK Rowling aja bisa menulis sambil mengasuh bayinya, masak kalian yang cuma mengasuh hape/gadget nggak bisa? #jogedhulahula

RT @honeylizious Buat teman-teman yg impiannya jadi penulis, menulislah tanpa rasa khawatir. Jangan mikir ‘bagus nggak ya?’ Tulis aja sampe kelar

Ayo kita bahas mengapa kita sering menunda-nunda menulis dalam #SeninMenulis
Ali Hale dalam artikelnya “Why There’ll Never Be a Perfect Time to Write” menyebut ada 3 Alasan Berlama-lama Menunda Tulisan.

1. Menulis adalah aktivitas mental yang rumit dan banyak godaan

Duduk berjam-jam sambil menatap layar dan menghasilkan cerita adalah sesuatu yang tidak mudah, membosankan, kadang bikin frustrasi. Menulis adalah sebuah proses mental, proses emosional, sekaligus proses berpikir. Jadi, memang besar sekali godaan untuk stop menulis. Akibatnya, kita jadi tergoda untuk melakukan aktivitas lain yang lebih mudah dilakukan ketimbang menulis, misalnya Twitter-an. Bechul? Kadang, kita bahkan menggunakan alasan lain yang “lebih masuk akal” untuk tidak menulis, misalnya bersih2 rumah, cuci baju, jalan-jalan. Mencuci baju, bikin kopi, jalan2 sebentar adalah aktivitas pengalihan yang bisa dimaklumi jika setelah melakukan itu kita kembali menulis. Sayangnya, sering kali kita kebablasan dalam aktivitas-aktivitas selingan tersebut dan malah lupa untuk menulis. Keasyikan twitteran apalagi.

Godaan saat menulis bisa pula datang dalam bentuk yg baik-baik, misalnya bersih-bersih rumah, mencuci motor, bikin kopi, nelpon pacar dll. Ketika kamu benar-benar ingin menulis, menulislah. LUPAKAN SEJENAK yang lain: tumpukan baju kotor, pacar yang tereak-tereak ngajak nonton. Menyisihkan waktu untuk menulis adalah pengurbanan yang harus kita persembahkan jika memang benar-benar ingin menjadi penulis. Tundalah hal-hal yang bisa ditunda. Tapi jangan pernah menunda-nunda untuk segera menulis jika memang kamu ingin jadi penulis. Jadi, semuanya harus dikembalikan ke kamu. Kalau kamu memang benar-benar ingin jadi penulis, maka SISIHKANLAH WAKTU UNTUK MENULIS!
RT @Kaannisa Bikin outline » Pasang target » Write everyday » Biarkan jari menari diatas keyboard + PD » Edit » Finish what you Start! RUMUS

2 Menulis membutuhkan konsentrasi dan privasi

3 Alasan Menunda Tulisan
Sumber gambar: tinybuddha.com

Mencari waktu yg tepat untuk menulis hanya satu masalah klasik yg dihadapi penulis. Masih ada satu masalah lagi: menemukan tempat yg tepat! Tidak semua kita bisa menulis di sembarang tempat, dengan TV yang menyala, anak-anak yang berlarian kesana-kemari, ibu-ibu yg sibuk bergosip. Lingkungan yang tenang tentu akan menghasilkan suasana menulis yang berbeda bila dibandingkan lingkungan yang ramai.Sangat jarang dan sangat hebat jika ada penulis yang bisa tetap menulis di setiap situasi dan kondisi, di setiap tempat.

Itulah sebabnya banyak penulis zaman dulu yang memilih untuk menyepi ke luar kota atau ke hutan atau ke pantai. Cari inspirasi katanya.Sayangnya, sitkon zaman modern tidak memungkinkan kita untuk menyepi seperti penulis2 zaman dulu. Kita musti sekolah, kuliah, kerja kan? Belum lagi, sinyal ponsel yg kini sampai ke pelosok. Maunya menyepi, tapi sms, BBM, pemberitahuan, dan mention terus masuk hape (????_???).Jadi, gimana dong cara menemukan
tempat yang sempurna untuk bisa menulis di zaman modern ini? Tempat yang tepat untuk menulis adalah: DI MANA PUN KETIKA KITA DIBERI KESEMPATAN UNTUK BISA MENULIS!

Tempat sempurna untuk menulis tidak mesti harus pantai terpencil. Ruang tamu di pagi hari saat anak2 sekolah bisa jadi tempat yg sempurna. Kamar kostan saat kita tiba-tiba terbangun di malam buta juga bisa jadi tempat sempurna untuk menulis.Kantin pada saat istirahat makan siang menunggu jam kuliah berikutnya juga bisa jadi tempat yang sempurna untuk menulis. Rumah di jam-jam primetime saat anggota keluarga yang lain sibuk joged berjamaah
juga bisa jadi tempat sempurna untuk menulis. Saat BB/hape dimatiin untuk di-charge, atau saat modem kehabisan paket internet, itu juga bisa jadi tempat yang tepat untuk menulis.

Kuncinya adalah KITA SENDIRI YANG HARUS PINTAR-PINTAR MENCARI TEMPAT YANG TEPAT UNTUK MENULIS, BUKAN HANYA MENUNGGU TEMPAT YANG TEPAT.

Di zaman modern, kita tidak bisa begitu saja menyepi u/ menulis dan mengabaikan tanggung jawab yg lain. Jadi, pintar2lah mencari sela-sela. Kuncinya balik lagi ke awal. Jika kita memang benar2 ingin jadi penulis maka kita harus mau menyisihkan waktu (dan tempat) untuk menulis.

3 Menulis itu penting, tapi (biasanya) tidak begitu mendesak

Kamu tahu kalau menulis itu penting, tapi nyatanya kamu malah menempatkan menulis sebagai prioritas terakhir dalam jadwal rutinmu.

Daftar prioritas calon penulis: (1) Beli pulsa, (2) bersih-bersih rumah, (3) jalan-jalan, (4) Belanja, (5) jogging, (6) tidur, (7) menulis

Daftar prioritas penulis: (1) Kerja/belajar, (2) menulis, (3) belanja, (4) menulis, (5) jalan2 (sambil menulis), (6) tidur (tapi nulis dulu)

Menulis memang tidak mudah, akibatnya kita cenderung meletakkannya sbagai prioritas terakhir. Kayak garap ujian, kerjakan dulu soal yg mudah.Kalau kamu sudah berkomitmen ingin jadi penulis, kamu wajib menyediakan waktu (dan tempat dan niat) untuk menulis. Letakkan menulis sebagai salah satu prioritas utama dalam kehidupanmu. Menulis itu seperti mengejar jodoh, kalau tekun pasti kena #eh

Tapi menulis susah Min, kadang bikin bosen | Maka ingatlah tujuan awal mengapa kamu ingin
jadi penulis.Menulis memang berat dan butuh kerja keras, tapi hasilnya amat sangat manis.Menulis membutuhkan komitmen, ketekunan, dan pengorbanan. Tapi percayalah, hasilnya sepadan. Kamu bangga, orang tua bangga, teman2 bangga, tetangga bangga, pacar apalagi. Mereka pasti bangga melihat bukumu mejeng di toko buku.

Bagi seorang penulis, menulis adalah sebuah kebahagiaan sekaligus bentuk kemerdekaan. Menulis penting bagi mereka. Jadi, jika kamu belum merasakan pentingnya menulis, susah untuk jadi penulis yang sebenarnya. Cintailah menulis, nikmatilah.Ada yang punya blog di sini? Kerasa kan gimana “plong”-nya perasaan saat kita bisa rutin menulis di sana? Seperti itulah yg dialami penulis. Intinya, siapa yang paling berbahagia saat novelmu akhirnya terbit?
Kamu sendiri kan? Nah … selalu ingat itu saat rasa bosan melandamu.

Berhenti mencari tempat yg sempurna untuk menulis. Stop menunggu waktu yg tepat untuk menulis. Menulis sajalah, sekarang, sesegera mungkin. Dan bahkan ketika jadwalmu begitu padatnya, sisihkan waktu satu-dua jam setiap pekan hanya untuk menulis, bukan untuk yang lain. Walau belum sempurna, walau belum tepat, tetapi
menulis adalah tentang menulis itu sendiri. Penulis itu menulis. Ingat selalu itu :))

 

January 20, 2014 at 1:37pm

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

2 Comments

  1. Anonymous says

    Mantaaaaap …thanks atas motivasinya moga bisa

  2. Resep Enak says

    Terima kasih, sangat menginspirasi sekali.
    Semoga kita semua dapat terus berupaya dan menekuni dunia tulis menulis.