Linda Christanty: Menuliskan Peristiwa adalah Mengawetkan Peradaban

Linda Christanty: Menuliskan Peristiwa adalah Mengawetkan Peradaban
Menuliskan Peristiwa. Dok. Dion Yulianto

Setiap hari, ada banyak sekali peristiwa keseharian yang beraneka ragam. Banyak peristiwa itu yang memiliki dampak yang lumayan besar, bahkan menimbulkan korban. Peristiwa-peristiwa ini seharusnya bisa menjadi bahan pembelajaran dan pemerenungan dalam hidup jika “diawetkan’ melalui tulisan. Untungnya, ada kerja jurnalistik yang berperan mengawetkan peristiwa-peristiwa keseharian itu ke dalam bentuk tulisan. Sayangnya, semata menuliskan peristiwa-peristiwa itu saja belum tentu bisa menghasilkan efek yang mengguggah, contohnya tulisan berita. Banyak peristiwa besar yang dituliskan dalam bentuk tulisan berita akhirnya hanya berakhir menjadi sekadar berita. Padahal, orang cenderung lebih cepat melupakan berita ketimbang melupakan cerita.

Jika tidak dituliskan, peristiwa-peristiwa keseharian hanya akan berlalu begitu saja. Paling banter, hanya muncul sebagai sebuah berita biasa di surat kabar. Hal ini karena peristiwa-peristiwa tersebut sekadar tersajikan dalam bentuk berita, bukan cerita yang bisa menimbulkan empati pada diri pembacanya. Inilah yang mendorong seorang Linda Christanty (Para Raja dan Revolusi) menuliskan berita dalam bentuk naratif alias bercerita. Linda adalah salah satu wartawan yang turut mempelopori jurnalisme sastra, yakni jurnalisme yang tidak sekadar menyajikan berita, namun juga cerita. “Saya mencoba menuliskan hal-hal jurnalistik dalam frame sastra sehingga tulisan itu tidak menjadi sekadar berita, tetapi juga cerita yang mampu menyentuh kita,” kata Linda Christanty.

Mengapa menuliskan peristiwa-peristiwa itu penting maknanya? Menurut Linda Christanty, menuliskan peristiwa adalah mengawetkan peradaban. “Dengan kita menulis, kita mencatat peradaban. Ketika kita tidak menulis, maka hilanglah peradaban,” terang beliau. Kemudian, beliau menambahkan sebuah rahasia memilukan tentang perang. Konon, saat pecah perang antar negara, salah satu target yang pertama kali dihancurkan adalah perpustakaan. Hal ini karena buku-buku di perpustakaan menyimpan memori kolektif dari peradaban suatu bangsa. Jika hendak menghancurkan suatu bangsa, hancurkan dulu warisan dan catatan kebudayaan mereka. Begitulah mengapa menulis itu sangat penting. “Perang kebudayaan itu sejatinya juga merupakan perang cerita, perang sastra,” seru beliau.

Lebih jauh tentang sastra, Linda mengatakan bahwa lewat novel kita bisa belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan dari kisah-kisah imajinatif karya para penulis. Dalam hal ini, menurut Linda, tulisan sastra yang bercerita itu berbeda dengan tulisan jurnalistik yang hanya mengabarkan peristiwa. “Sastra memberi kita ruang-ruang untuk berdialog, membuat kita mendalami sisi-sisi kemanusiaan kita.” Dari sinilah, Linda kemudian terdorong untuk memadukan keduanya: unsur empati dari tulisan sastra dengan elemen jurnalistik tulisan berita. Apalagi, definisi sastra di masa kini semakin meluas. Banyak karya jurnalistik yang bisa masuk sebagai karya sastra. Bahkan, lirik lagu pun bisa disebut karya sastra.

Ketika ditanya kenapa memilih jurnalisme sastra, Linda menyinggung keunggulan sastra yang bisa memunculkan kesan dan pesan yang mendalam. Tidak seperti berita yang gampang basi, sastra bisa melintasi berbagai tempat dan waktu. Ia mampu mengembalikan kemanusiaan kita, juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Linda menyebut novel Arus Balik karya Pram dan novel Burung-Burung Manyar karya Y.B Mangunwijaya sebagai dua karya favoritnya. Karya-karya hebat seperti dua buku tersebut, menurut Linda, mampu membuat kita merenung, tergugah, bahkan menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang lebih penting. Inilah salah satu peran sastra kata beliau.

Terkait jurnalisme yang dipromosikannya itu, Linda menyebutnya sebagai jurnalisme naratif. “Untuk menghayati apa yang saya tulis, saya harus ikut merasakan, melihat, dan mendengarkan secara langsung. Saya mendatangi TKP untuk mencari data sebisa mungkin dari sumber pertama,” jelas Linda. Riset dan mencari data tetaplah hal penting buat beliau. Tetapi, kemudian, Linda tidak menuliskannya dalam bentuk berita semata. Lewat pertemuan langsung dengan narasumber, Linda merasa turut berempati sehingga hasil tulisannya pun tidak sekadar berkabar tetapi juga bercerita.

Menjawab ketakutan para calon penulis yang masih ragu untuk menulis bidang yang tidak dikuasainya, Linda menyarankan agar kita lanjut menulis saja. Kita semua bisa menjadi penulis, jadi tak perlu takut menulis mengenai hal yang bukan bidang kita selama kita telah melakukan cukup riset.

Menutup penyampaian materi dalam acara #KFE2017, Linda Christanty menyebut bahwa dirinya merasa senang ketika ada pembaca yang memperoleh sesuatu yang positif setelah mereka membaca karya sastra. Jikapun karya itu adalah bukunya, beliau merasa semakin senang. “Siapa tahu, melalui tangan pembaca itu, buku saya akan mengubah dunia menjadi lebih baik.”

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.