Menulis itu (Kadang) Bikin Bosan? Emberrrr!!!

“Seorang penulis itu menulis, bukan bermimpi menulis. Seorang penulis itu menulis, bukannya terus menunda-nunda menulis.” (Anonim)

Hayo, siapa di sini yang mengaku pengen jadi penulis tetapi kalau disuruh menulis susahnya kayak mau move on dari sang mantan? (? ??)-? Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh penulis, baik pemula maupun profesional, adalah serangan rasa malas untuk menulis. Loh, kok bisa? Menulis, sebagaimana aktivitas keseharian lain, juga bisa menimbulkan kebosanan. Sama pacar aja kadang bisa bosan kok #eh. Rasa bosan inilah yang kemudian beranak pinak dan menurunkan semangat untuk menulis. Jadinya, malas banget kalau disuruh menulis.

Ada kecenderungan, bagi kebanyakan penulis, mereka “menunda sampai besok” atau “membiarkan dulu” naskahnya yang belum selesai. Kamu iya ngga? Ada juga penulis yang bersikap “Ah, nantilah saya kerjakan lagi kalau perasaan saya sudah lebih enak. Biar lebih dapet feel nulisnya.”  Malah ada juga yang menunda menulis karena belum dapat waktu dan tempat yang sempurna. Eaa itu nulis atau mau ngelamar pacar, Qaqa?

Kamu bilang: “Sabtu-Minggu besok aku mau nulis seharian mumpung libur!” Faktanya: Sabtu-Minggu, kamu gelundungan nggak jelas di kasur.Kamu bilang: “Bulan depan, saya akan fokus rampungin naskah ini. Semangat!” Faktanya: Marathon nonton drama Korea *peluk MinGuk* gelendotan di bahunya Do Min Joon*

boring

Kadang, malah ada yang sengaja menunda-nunda sampai tenggat waktu tiba. Alasannya, deadline adalah sumber inspirasi yang paling kuat. Akibat kecenderungan “biar telat asal jadi” inilah sehingga banyak bermunculan kaum DL-ers yang sukanya kebut kalau sudah mau habis waktunya. Tapi, ingatlah selalu. Waktu tidak pernah mau menunggu. Ia terus melaju dan tiba-tiba saja sudah berlalu. Rugilah dia yang hanya diam melulu. Karena sibuk menunggu, waktu pun menyalipmu. Tiba-tiba, usia bertambah, waktu tidak lagi luang, menulis tak lagi semudah dulu.

Resolusi tahun 2014 (yang sebenarnya resolusi tahun 2013, hasil dari perpanjangan waktu resolusi 2012) –> Pengen menulis sebuah novel. Siapa ya ini? Cung!

Kalau naskah bisa ngomong, mungkin dia ngomong: Tolonglah, hentikan! Aku sudah tidak tahan lagi dibeginiin terus Mas. Pulangkan aku, Mas. *zoom in ZOOM OUT* *zoom in ZOOM OUT* *pakai adegan taplak robek dan pintu kamar mandi digebrak* *drama* *penulis itu kudu drama*

Sebuah naskah tercipta ketika kamu menulisnya, bukan hanya memimpikannya. Begitu juga jodoh. Dia muncul saat kau mengupayakannya #eaabaikan. Seorang penulis yang baik adalah penulis yang disiplin. Dia pandai menyetir dirinya sendiri agar tetap fokus dan tidak teralihkan. Tekun dan disiplin, itu adalah dua kata kunci yang harus selalu kamu pegang jika ingin sukses dalam bidang apapun, termasuk menulis. Ingat selalu kalimat emas ini –> “Dalam menulis, bakat memang berguna. Tapi, ketekunan adalah yang utama.” (Jessamyn West)

Rahasia penulis profesional –> Mereka memecah-mecahkan tugasnya menjadi bagian-bagian kecil, lalu mengerjakannya satu demi satu. Ketimbang lembur menulis naskah 1000 halaman selama 7 hari 7 malam ngak tidur, bukankah lebih baik menulis sehari 10 halaman setiap hari? Daripada menulis sekali langsung banyak di akhir bulan, lebik baik menulis satu-dua halaman setiap hari, dan ITU DILAKUKAN SETIAP HARI.

Tips menulis “sedikit demi sedikit yang penting setiap hari” ini pernah diterapkan oleh penulis kenamaan Blake Clark. Masih ingat kan sama peribahasa cantik yang bunyinya: “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit? Nah, dalam menulis berlaku hal yg sama. Sehalaman demi sehalaman, lama-lama jadi deh satu naskah. Emuuuahhhhh.  Peribahasa yang sama juga berlaku dalam hal mencari jodoh: sedikit demi sedikit, lama-lama bakal luluh juga hatinya #eaaabaikan.

Ini tadi katanya mau cerita soal Blake Clark. Mana? Mana? Mana? Siapa Blake Clark ini? Kamu siapa? Kita di mana? Nikah yuk? #ehplak. Tapi, bener nggak sih kalau lama-lama hati si dia bakal luluh juga? Keju parmesan kali ye luluh. #terSamsons. Nganu, kita ke Blake Clark dulu. Jadi ceritanya si Blake ini (*sungguh tak sopan sekali mimin satu ini*) diminta bikin buku, nulis gitu dueh. Dia dikasih jatah waktu 1 bulan buat nulis buku yang tebal, menginspirasi, menyadarkan publik, dan membuka wawasan keilmuan *luar biasah sodara-sodari* SATU BULAN BUAT NULIS LHO! Kalau kamu? Satu bulan dapat apa? Dapat euhh 5 followers tambahan kali ye. Itupun akun spam *dikeplak follower

Lanjut bos! Karena waktunya mepet, dia pun menyusun siasat dan strategi. Pokoknya satu bulan tulisan hebat itu kudu sudah jadi! #Semangat. Alih-alih menunda dan menunggu waktu yang tepat untuk menulis, si Blake langsung tancap gas. Dia mencicil menulis sejak hari pertama. Karena baginya, tidak ada waktu yang paling sempurna untuk menulis selain saat ini juga. Maka, dia pun menulis karena penulis kan menulis. Biar tidak bosan, dia menulis dua-sampai lima halaman setiap hari, dan ITU DILAKUKANNYA SETIAP HARI. Itu capslock bukan jebol ya, sengaja.

Saat sudah selesai lima halaman, dia ganti aktivitas. Dikumpulkannya referensi bacaan yang berkaitan, lalu didata dan ditata. Hari berikutnya, dia menulis lagi lima halaman, sambil dibaca-baca tulisan hari sebelumnya. Yang kurang ditambah, yang kurang cocok ditandai. Begitulah setiap hari selama sebulan, dia menulis lima halaman, lalu dibaca lagi, diperbaiki. Sambil membaca bahan-bahan referensi. Aktivitas ini tidak butuh waktu lama. Hanya sekitar setengah sampai dua jam per hari. Tapi rutin begitu terus selama sebulan. Ketika waktu sebulan telah berlalu, dia mendapati ternyata naskahnya sudah “selesai” tanpa banyak kesulitan, yah tinggal permak sedikit lah.

Prinsipnya begitu: Masalah besar akan lebih mudah untuk diselesaikan bila masalah itu dipecah-pecah menjadi masalah-masalah kecil. Apa yang sebelumnya adalah tugas yang sulit, ternyata gampang diselesaikan dengan dipecah-pecah menjadi tugas-tugas yang lebih mudah. Inilah intisari dari #kultweet Mimin siang ini? Cara menghindari bosan menulis adalah dengan menulis sedikit-sedikit tapi rutin tiap hari.

Nulis satu-dua lembar setiap hari? Masak nggak bisa sih? Nulis status saja sehari bisa berkali-kali tuh. Ayo, kamu bisa kok! Yakin deh! Sedikit demi sedikit, Blake Clark telah menghasilkan sebuah tulisan yang otentik, unik, dan menarik. Kamu jangan mau kalah dong ya. Yok, kita coba bareng-bareng. Mulai hari ini, berdisiplinlah untuk menulis paling tidak satu lembar setiap hari. Bisa?

Tanya: Pengennya gitu Min. Tapi susah. Kadang udah ngadep laptop berjam-jam sementara layar masih kosong. Gimana ya? Mimin: Hmm… gini deh. Betul bahwa kebiasaan menulis setiap hari adalah hal yang sangat sulit. Bahkan, para penulis besar pun sering tidak disiplin melakukannya. Ide-ide itu sering kali susah banget keluar, atau waktunya entah kenapa terasa tidak tepat. Ini yang membuat susah untuk menulis setiap hari. Tapi, seorang penulis yg baik tidak akan membiarkan dirinya dikalahkan oleh keadaan. Ia akan menciptakan sendiri kondisi yang tepat untuknya.

Alih-alih menunggu waktu/inspirasi yang tepat, dia akan menciptakan sendiri waktu yang tepat ini agar bisa menulis setiap hari. Hal ini misalnya bisa dilakukan dengan pergi ke kafe, menyepi di tepi hutan, gegoleran sambil nulis di kamar, apapun yang kau sukai. Setiap penulis yang baik mengetahui cara bagaimana agar mood menulis dan inspirasi itu bisa muncul. Dia menciptakannya, bukan menunggunya. Kamu mengeluh nggak bisa menulis karena ruang kelas yang ramai. Nah, mengapa nggak ngungsi sejenak ke perpus atau emperan mushola? Kamu mengeluh nggak bisa konsen karena situasi rumah yang ramai, nah mengapa nggak mencoba menulis di teras tetangga? Sambil silaturahim gt.

Lewat pengalamannya, setiap penulis yang baik tahu bagaimana menciptakan sendiri kondisi/mood yang tepat untuk menulis. Konon, Ernest Hemingway menajamkan pensilnya sebanyak 20 kali sebelum dia mulai menulis. Boros amat yak! #eh Thomas Wolfe bahkan harus berkeliaran di jalanan semalam suntuk sebelum dia dapat menulis esok harinya. Wow, nggak masuk angin, Bung?  Kamu nggak harus seekstrem mereka untuk bisa menulis setiap hari. Cobalah dengan hal2 sederhana seperti segelas teh hangat di meja mungkin?

Yok, kita coba bareng-bareng. Mulai hari ini, berdisiplinlah untuk menulis paling tidak satu lembar setiap hari. Bisa? Bisa dong, DIVAmate gitu!

Comments

  1. maifalipang Reply

    Min mau tanya kalo mau kirim naskah ke penerbit, yang dikirim naskah tercetak, flasdisk, atau keduanya

Leave a Reply

Your email address will not be published.