Menerbitkan Buku itu Bayar Nggak Sih?

Tanya :”Min, kalau menerbitkan buku di @divapress01 bayar enggak sih?”

Jawab : “Menerbitkan buku di @divapress01 itu nggak bayar sama sekali. Malahan, penulisnya yang kami bayar. Yeay!!!”

Sebagai sebuah karya intelektual, sebuah naskah adalah hasil jerih payah dan kerja keras. Karena itulah penulis memang seharusnya “dibayar”. Kamu sudah begadang menulis semalaman, cari ide sampai panas-panasan, beli dan cari referensi sepenuh hati. Karena itu, kamu layak dihargai. Lalu, bagaimana bentuk “penghargaan” dari penerbit untuk penulis? Bentuknya adalah lewat pembayaran komisi sebagaimana tertera di MOU. Komisi dari penerbit ke penulis ini bermacam-macam, ada yang dengan sistem royalti, ada kontrak oplah, ada pula beli putus. Tinggal dipilih.

publish

Secara garis besar, prosedur penerbitan sebuah naskah adalah sebagai berikut: (1) Penulis mengirimkan/memasukkan naskah ke sebuah penerbit. Ada penerbit yang menerima naskah dalam bentuk cetak (hardcopy) maupun file/via email (softcopy). Penulis harus paham ini. Setelah naskah masuk, biasanya penerbit akan mengirimkan pemberitahuan kepada si penulis bahwa naskahnya telah sampai di redaksi.

Tahap berikutnya adalah (2) evaluasi atau pemeriksaan naskah. Naskah masuk akan dibaca, disortir, dibedah luar-dalam, dikuliti luar dalam. Begitulah. Dalam tahap evaluasi ini, tim redaksi akan memeriksa naskah kamu dengan mempergunakan kriteria2 yg telah ditetapkan oleh penerbit yang bersangkutan.

Di antaranya, penerbit akan melihat: tema tulisan, segmen pembaca, kondisi pasar perbukuan, tata bahasa, keluwesan membangun kalimat, keistimewaan naskah, dan lain-lain. Yang terpenting adalah kualitas isi naskah. Masalah apakah si penulis masih jomblo atau sudah move on, itu nomor dua #eh.

Naskah yang dicari adalah naskah yang FRESH, RAPI, TEMANYA UP DATE, PRAKTIS, KAYA REFERENSI, UNIK, ENAK DIBACA, SUSUNAN KALIMAT RUNTUT dan lain-lain. Penerbit kadang juga mencari naskah dengan tema-tema lama tetapi ditulis dari SUDUT PANDANG BARU atau DENGAN CARA BARU. #fresh

Setiap penerbit memiliki masa evaluasi naskah-nya masing-masing. Ada yang 3 bulan, 6 bulan, bahkan ada yang 1 tahun. *nunggunya sambil menanam padi dulu yuk* Masa evaluasi ini bisa diartikan sebagai “seberapa lama kamu harus menunggu sampai penerbit mengumumkan lolos/tidaknya naskahmu.” Selama masa evaluasi, sebaiknya penulis bersabar & tidak meneror penerbit. Kalau resminya 3 bulan ya tunggu 3 bulan, begitu juga yg 6 bulan.

Hindari menelepon/kirim sms ke penerbit untuk menanyakan “nasib naskah” selama masa evaluasi ini belum lewat. Sabar dulu ya cusss. Nungguin hatinya lumer aja kamu tahan, masak nunggu tiga bulan doang nggak kuat? Kalau di DIVA Press sih masa evaluasi paling lama 1 bulan (1.5 bulan deh kalau editornya lagi galau. Harap dimaklumi).

Setiap hari, ada puluhan hingga ratusan naskah yg masuk ke redaksi. Kalau semuanya minta cepet dievaluasi; yg ada editor bisa diare menahun. Bersabarlah, kalau penerbit bilang 3 bulan, tunggu 3 bulan. Kalau 6 bulan, ya tunggu enam bulan. Kalau 9 bulan? Lahiran deh yeay #gagalfokus. Setelah lewat masa 3 bulan/6 bulan dan belum ada konfirmasi diterima/tidaknya naskahmu, baru kamu boleh menghubungi penerbit. Itu hak kamu.

Tapi, selalu gunakan bahasa yang sopan ya. Lebih baik sih ditanyakan via email dulu. Kalau tidak ada tanggapan, barulah ditelepon. Tim redaksi juga manusia biasa lho DIVAmate, bukan dewa-dewi Mahabharata. Mungkin naskahmu keselip, atau editor kegeser sama kerjaan lain. Tanya baik-baik dan sopan, apakah naskahmu diterima atau ditolak. Dengan begini, penulis tidak di PHP dan bisa mengambil langkah selanjutnya.

Akhir dari masa evaluasi ini ada tiga, yakni: (1) diterima, (2) ditolak, dan (3) diterima tapi dengan catatan/revisi.Jika penerbit memutuskan untuk menerima naskahmu, maka selanjutnya naskah akan bergerak ke tahap (3) editing atau penyuntingan. Oh iya, mulai dari tahap (1) sampai tahap (3) ini penulis sama sekali tidak membayar uang sepeserpun ke penerbit. Seharusnya sih seperti itu. Paling penulis hanya bayar ongkos ngeprint naskah, ongkos kirim naskah via pos/kurir, dan ongkos kuota internet (buat kirim via email).

Setelah naskah diterima, penerbit akan menghubungi penulis untuk tanda tangan surat perjanjian atau MoU (memorandum of Understanding). Dalam tahap ini, ada penerbit yang sudah membayar si penulis, ada juga yang belum. Tergantung kebijakan perusahaan. MoU ini berisi poin-poin kerja sama antara penerbit dan penulis, mencakup jumlah dan sistem pembayaran, jumlah cetakan, jumlah sampel dan lain-lain. Dalam MoU juga tercantum kewajiban-kewajiban penulis maupun penerbit. Baca baik-baik seluruh poin yang ada sebelum kamu membubuhkan tanda tangan.

Jangan pernah ragu atau takut bertanya jika ada satu/lebih poin dalam MoU yang dirasa kurang adil atau kurang jelas dalam pandangan penulis. Hati saja masih sering ragu, apalagi MoU #eaaa. Selama kamu belum menandatangani lembaran MoU tersebut, proses tawar-menawar masih bisa dilakukan. Jadi, pertimbangkan baik-baik. Kalau perlu, minta salinan MoU untuk kamu bawa pulang dan dipelajari lebih lanjut di rumah. Penerbit yang baik pasti bersedia memberikannya.

Setelah kamu setuju dan yakin, silakan tanda tangan di atas materai pada lembaran MoU ini. Tanda tanganmu menjadi tanda sahnya kesepakatan. SAH. Lembaran MoU ini biasanya rangkap dua. Satu untuk dibawa penulis, dan satu lagi untuk disimpan penerbit. Setelah tanda tangan MoU, naskahmu kini resmi menjadi “milik” penerbit yang bersangkutan. Kamu tidak boleh mengirimkannya ke penerbit lain. Berapa lama naskah kamu menjadi milik penerbit? Lama waktunya sudah tercantum di MoU, rata-rata sih sekitar 5 – 10 tahun.Setelah 5 tahun, kamu bisa menarik naskahmu dan mengirimkannya ke penerbit lain. Itu kalau penerbit tidak menawarkan perpanjangan kontrak.

Setelah naskah sah untuk diterbitkan secara hukum, dimulailah proses editing atau penyuntingan naskah kamu oleh editor penerbit. Kita tinggal tunggu buku disunting, lalu dicetak. Selama proses penyuntingan ini, editor mungkin akan menghubungi kamu terkait naskahmu. Mungkin ada bagian yang kurang, kesalahan pengutipan, kurang referensi, dan lain-lain. Selama proses penyuntingan ini, editor biasanya hanya akan menghubungi penulis jika dia sudah tdk mampu menanganinya sendiri. Tapi, lebih seringnya sih editor yang kudu berkorban dengan menyelesaikan sendiri permasalahan yang ada, sepanjang masih bs ditoleransi.Misalnya typo yg beterbaran, keliru menulis tanggal atau nama tokoh, sistematika yg tidak rapi, atau kesalahan-kesalahan yg teknis sifatnya.

Fakta membuktikan, 3 dari 5 editor mengalami gejala darah tinggi, gampang mengeluh, kurang tidur, dan suka mengomel #eh. Jadi, bekerjasamalah dengan editor. Baik-baiklah kepada mereka. Tanpa mereka, penulis tidak akan sempurna. Ingatlah selalu bahwa editor adalah teman terbaik penulis setelah buku. Nomor tiganya pembaca.

Kok 3 dari 5 editor? Yang 2 lagi kemana? Yang 2 lagi telanjur resign karena tidak kuat dengan cobaan dunia
Nah, sampai tahap editing ini, penulis bayar kagak? Seharusnya sih kagak. Seharusnya malah penulis yang dibayar. Iyessss!!!

Setelah tahap editing selesai, selanjutnya naskah akan disetting dan diformat untuk kemudian dicetak. Inilah tahap (4) PERCETAKAN NASKAH. Naskah dicetak di percetakan sesuai tiras atau jumlah cetakan di MoU. Lalu dibikinkan cover dan siap dibending (disatukan dengan sampul). Oh iya, sampul juga biasanya sudah mulai dibuatkan oleh penerbit saat naskah sedang menjalani tahap editing. Bayar nggak? GRATIS harusnya. Membuat sampul buku adalah kewajiban penerbit. Tapi kalau penulis mau menyodorkan saran sampul buatannya, penerbit mempersilakan. Dalam sebagian besar kasus, yang menentukan wujud sampul sebuah buku adalah penerbit. Penulis boleh kasih usulan, tp penerbit yg memutuskan.

Setelah buku selesai dicetak dan dijilid, saatnya buku dipasarkan ke toko buku di seluruh Indonesia. Inilah tahap (5) distribusi.Bayar nggak di tahap distribusi buku ini? Seharusnya sih enggak karena sudah merupakan tanggung jawab penerbit untuk memasarkan buku. Tim pemasaran dan marketing kemudian akan memasarkan buku karyamu ke segala penjuru. Mereka inilah ujung tombak penerbit dan penulis.Tanpa mereka, bukumu tidak akan bisa tersebar ke seluruh Indonesia. Salam hormat untuk teman-teman marketing!

Jadi, bisa disimpulkan, penulis tidak perlu membayar apapun kepada penerbit saat hendak menerbitkan naskah. Dengan catatan: naskahmu diterima!

Wah enak ya, Min. Kita tinggal nulis doang dan dibayar. Bisa terkenal lagi, sampai ke seluruh Indonesia. | Iya dong, yuk nulis yuk.

Penerbit : “Biarkan kami yg mengurus penyuntingan, pencetakan, dan penjualan buku Anda. Penulis silakan fokus menulis dengan sebaik-baiknya”

Hubungan baik antara penulis, penerbit, dan pembaca adalah kunci majunya dunia perbukuan di Indonesia. Mari, saling bekerja sama.

15 thoughts on “Menerbitkan Buku itu Bayar Nggak Sih?

  1. Yang pasti jadi pertanyaan buat temen-temen penulis lainnya juga nih min,
    besaran royalty yang diterima dari DIVAPRESS berapa? Kisarannya deh ^^
    Atau kisaran royalty para penerbit pada umumnya juga boleh 😀

    Karna kami (para penulis) sering banget denger gosip, kalau royalty dan pengorbanan waktu untuk nulis, cari ide, dll gak sebanding sama royalty ^^ #curhatgalaupenulisfiktif

  2. selaamat sore
    saya mau tanya kalau mengajukan proposal ke Diva Press untuk acara Launching Buku itu bisa ?
    terima kasih

  3. nah kalo misal udah nulis dan siap kirim tapi ada masalah dengan genre-genre ‘berbahaya’ semisal ya… genosida atau tema lain yang terkesan explicit gitu gimana? semisal kita ngirim via e-mail, berarti kita menambahkan sebuah catatan tentang tulisan kita? ya kayak, “setelah ditelisik dan dibaca oleh teman dan saudara, tulisan saya teruntuk 18 keatas” seperti itu? terima kasih kalau dijawab hehe ^^

  4. Jika naskahnya sudah siap kirim, kealamat mana yang bisa saya kirim? Dan apakah bisa langsung direspon oleh pihak divapress? Soalnya sebelumnya saya tidak direspon oleh penerbit lain. Saya benar-benar belum mengerti apapun.

  5. kalau penandatanganan mou itu apa langsung face to face min? trus gimana kalau misalkan orang yg ngirimnya org bandung tapi kirimnya ke diva press yg kantornya ada di yogyakarta? apa penulis harus otw yogya buat tanda tangan kontrak?

  6. Saya dulu pernah mengirimkan naskah ke Diva… Sudah menerima konfirmasi baik penerimaan maupun hasil evaluasinya sekitar sebulan kemudian… Katanya lolos evaluasi, dan diminta untuk menunggu konfirmasi selanjutnya……
    Itu kapan ya… Hmmm… Kira-kira lebih dari 2 tahun lalu, dan masih tidak ada kabar sampai sekarang ^_^

  7. Ada kisaran umur buat penulis gak sih? Kan ada tuh, yang minimal berapa belas tahun baru kirim naskah :’D

  8. Min, DivaPress terima naskah teenlit yang tidak berhubungan dengan pengetahuan nggak? Maksudnya yang tidak fokus ke unsur akademik

  9. Min, 2020 ini masih nerima naskah novel anak gak? Kalau masih, apa saya boleh ngirim novel tahun ini? Mohon dijawab Min..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *