5 Tahap Efektif Membuat Outline untuk Naskahmu

5 tahap Efektif Membuat Outline untuk Naskahmu
Membuat Outline.

“Aduh, habis bab 3 kelar, trus nulis apa lagi ya?”
“Nggak ada ide nih. Mentok. Bingung mau nulis apa!”

Pernah mengalami yang beginian? Banyak naskah yang tidak pernah selesai ditulis. Ide-ide tulisan yang tanggung dituliskan. Juga, cerita yang hanya ditulis setengah jalan. Salah satu hambatan dalam menulis yang sering ditemui penulis pemula adalah bingung mau menulis apa lagi setelah naskah setengah jadi. Penerbit mensyaratkan jumlah minimal 150 halaman, tetapi baru nulis sampai halaman 60, kita udah ngos ngosan, macet nggak tahu nulis apa lagi. Untuk mengakali penerbit, penulis kemudian menambal-sulam naskahnya dengan kopas sana-sini, kadang dengan materi yang tidak berkaitan.

Editor sering kena darah tinggi kalau nemu naskah yang ditulis dengan ‘asal memenuhi syarat jumlah halaman’ tanpa memperhatikan isinya. Jadi tema besarnya ‘tips menanam jeruk bali’ tapi di naskahnya masak ada pembahasan tentang mengaet gadis ayu di Bali, kan nggak nyambung. Kenapa yang seperti ini bisa terjadi? Kenapa ada naskah yang isinya campur aduk kayak gado-gado tapi bumbunya soto? Nggak enak kan rasanya? Bingung menyelesaikan menulis naskah dan isi naskah yang gado-gado gini bisa dihindari jika kita punya outline alias kerangka tulisan. Dalam #RabuEditing, MinCob selalu menekankan pentingnya 2 hal ini kepada para penulis pemula:

a. swasunting / selfediting
b. bikin outline

Kenapa outline itu sangat penting? Karena outline bisa memandumu saat memulai, menyelesaikan, dan menyempurnakan tulisan. Apa itu outline? Outline adalah sebuah kerangka tulisan untuk menampilkan ide-ide utama dan pendukung atas sebuah subjek/tema tertentu. Diibaratkan, outline ini seperti kerangka dari tulisan kita. Jika naskah adalah tubuh manusia, maka outline adalah kerangka tulangnya. Kerangka ini menjelaskan secara singkat bagian apa berisi tentang apa saja, juga urutan penempatannya sehingga seluruh bagian koheren. *duh berat kali ya bahasanya* Atau, lebih mudahnya begini, anggap saja outline itu ‘daftar isi’ dari naskah yang sedang kamu tulis. Dengan outline, proses menulis bisa terarah, tidak melebar dan meluas kemana-mana, dan hanya berisi hal-hal yang relevan.

“Jika kau ingin menulis naskah yang bagus, terlebih dulu kau harus membuat outline atau kerangka tulisan yang bagus.” (Brad Zomick)

Sebuah outline yang bagus akan membantu penulis mengeneralisaikan ide-ide, mengatur gagasan-gagasan, menghemat waktu, dan menjadikan tulisan cepat selesai. Misalnya, kamu hendak menulis tentang ‘menanam jeruk bali’ maka dengan outline, tulisanmu fokusnya bisa tetap setia ke jeruk bali, bukan kemudian meluber ke gadis Bali. Coba kalian bandingkan dua outline berikut. Yang pertama adalah outline yang fokus, yang kedua adalah outline yang salfok.

Outline Kece:

1. Jeruk Bali dan Variannya
2. Pemeliharaan Jeruk Bali
3. Manfaat Jeruk Bali
4. Segarnya Berbisnis Jeruk Bali
5. Penutup

Outline Rese:

1. Jeruk Bali dan Variannya
2. Pemeliharaan Jeruk Bali
3. Makan Jeruk Bali bareng Gadis Bali
4. Kamu Semanis Jeruk Bali
5. Badanku Jeruk Baliku

Dengan outline, kita jadi tahu habis A trus nulis B, trus udah itu nulis C, dan sesudahnya nulis D. Tulisan pun urut dan runtut. Dengan outline, otak kita tidak terbebani dengan harus mengingat-ingat mau nulis apa lagi, apa yang belum dicantumkan, setelah ini nulis apa. Dengan outline, kamu bisa berfokus untuk menulis pada satu bab hingga selesai, kemudian setelah itu berlanjut fokus menyelesaikan bab lain.

Outline membuat proses menulis menjadi lebih jelas, lebih terasa ringan karena kita memecah satu tugas besar dalam beberapa tugas kecil. Dengan outline, kita bisa menulis ‘melompat-lompat bab’ tanpa kehilangan arah karena ada outline yang merekam ‘kerangka besar tulisanmu.’ Misalnya saja, selesai menulis bab 1 kamu ingin melompat menulis ke bab 4, tidak apa-apa. Ada outline yang menjagamu agar tidak hilang arah. Dengan outline, kita jadi tahu bab 1 kurang banyak, bab 3 belum dicari datanya, bab 7 kurang dipoles, bab 9 terlalu tipis halamannya, dll.

Setelah tahu pentingnya membuat outline dalam proses menulis, pertanyaan selanjutnya adalah: “Bagaimana cara membuat outline yg bagus?” Dalam artikelnya, “How To Write an Outline”, Brad Zomick menganjurkan 5 langkah berikut u/ membuat outline tulisan yang bagus. Langsung saja kita bahas 5 Tahap Efektif Membuat Outline untuk Naskahmu.

(1) Tentukan tema/topik besar yang hendak kamu angkat dalam tulisanmu

Pertama-tama, kamu harus tahu kamu hendak menulis apa. Mengetahui dengan pasti apa yang hendak kita tulis adalah langkah pertama dalam membuat outline yang baik. Kita harus tahu kita mau nulis tentang APA, sehingga isi outlinenya bia fokus pada APA-APA yang memang hendak dituliskan. Misalnya saja, kamu hendak menulis tentang tips menanam jeruk bali, maka kamu tahu yang akan kamu tulis adalah jeruk bali bukan gadis Bali! Mengetahui apa yang hendak ditulis akan memandu tulisan agar tetap berada di rel yg seharusnya, tetap pada rel jeruk bali, bukan gadis Bali.

Yang mau nulis novel, sebelum bikin outline, kamu juga harus pastikan mau nulis novel tentang apa. Apakah cinta, pembunuhan, misteri.Jangan sampai, yang awalnya mau nulis novel misteri pembunuhan eh di tengah-tengah kok belok jadi novel anak, duh. Dengan mengetahui secara pasti apa yang hendak ditulis, outlinemu jadi lebih jelas, tegas, terarah. Kamu tahu tulisanmu mau dibawa kemana. Seperti kamu tahu, eneng mau dibawa ke KUA cabang baper mana huhuhuh.

(2) Mengembangkan daftar isi untuk outline kamu

Tentukan dulu poin-poin besar apa saja yang hendak kamu angkat lewat tulisanmu. Proses kedua ini semacam membuat daftar isi untuk kerangka tulisan kamu. Apa saja poin-poin utama dan pendukung yang menurutmu akan menyusun tulisanmu. Tuliskan semuanya. Jangan pikirkan dulu poin-poin itu bakal dipakai atau tidak, pokoknya kumpulkan dan catat dulu semua ide atau gagasan yang mungkin terkait dengan tema besar yang ehndak kamu angkat. Nah, proses mengisi angka (1) hingga angka (5) dalam outline inilah yang dimaksud sebagai proses kedua membuat outline.Poin-poin yang kamu isikan dalam outline ini sifatnya sementara, nanti bisa kamu sortir dan tata lagi di tahap selanjutnya.

Dalam tahap kedua ini, jangan pikirkan dulu urut atau tidaknya. Pokoknya, bikin daftar tentang semua materi yang mungkin akan kamu masukkan dalam naskahmu nanti. Cari dan bikin poin-poin yang sebanyak-banyaknya, sebanyak yang bisa kaupikirkan tentang apa yang hendak kau tulis di outlinemu. Istilahnya, kamu tulis dan data semua, kira-kira apa saja yang berkaitan dan bisa kamu masukkan dalam calon outline kamu. Isinya bisa saja bagaimana melakukan sesuatu, daftar rujukan/data, daftar argumen atau jawaban pertanyaan, atau beragam plot cerita yang bisa jadi bakal kau tulis (untuk fiksi).
Misalnya berikut ini:

JUDUL: KAYA DENGAN MENANAM JERUK BALI

1. Mengenal jeruk bali
2. Pemeliharaan jeruk
3. khasiat jeruk bali
4. peluang pasar
5. tips jualan jeruk
6. harga jual jeruk bali
7. saingan jeruk bali di pasaran
8. hama yang menyerang jeruk bali
9. asesoris dari kulit jeruk bali
10. sentra penanaman jeruk bali
11. jeruk bali jeruk kayak vitamin
12. artis2 yg gemar makan jeruk bali
13. jeruk baliku jeruknya kamu
14. aku suka jeruk bali
15. jeruk makan jeruk
16. aku jeruk bali, bukan jeruk mandarin

Setelah menulis dan mendata semua poin-poin yang berkaitan dengan tema besar tulisan, saatnya kita beralih ke tahap ketiga, yakni:

(3) Proses seleksi dan pengorganisasian dari isi outline kamu

Saatnya kamu menyeleksi dan memilih poin-poin mana saja yang cocok. Di tahap 3 ini, kamu juga harus menyusun poin-poin yang telah kamu dapatkan di bab 2 supaya urut dan tertata, serta bisa dipahami. Setelah bikin daftar isian, saatnya kamu mengurutkan posisi dari poin-poin tadi agar urut dan mudah dipahami sebagai panduanmu menulis. Di Bab 1, kamu letakkan info tentang jeruk bali, lalu Bab 2 kamu letakkan tips-tips pemeliharaan jeruk bali. Bab 3 isinya cara jualan jeruk bali, dsb. Intinya, tata ulang poin-poin yang telah kamu kumpulkan tadi dalam urutan yang bisa dan mudah dipahami oleh pembaca (juga olehmu). Caranya bisa dengan mengurutkan sesuai kronologi, dibikin langkah-langkah, sebab dan akibat, atau boleh juga pengelompokan. Dari outline tahap kedua tadi, misalnya, bisa kita saring dan tata jadi seperti ini:

JUDUL: KAYA DENGAN MENANAM JERUK BALI

1. Mengenal jeruk bali
2. Pemeliharaan jeruk bali
3. Membasmi hama jeruk bali
4. peluang pasar jeruk bali
5. keuntungan dari bisnis jeruk bali

Di tahap 3 ini, Kamu harus memberikan sebuah struktur atau tatanan yang rapi pada ide-ide yang hendak kamu tuliskan sehingga mereka tertata. Karena yang tertata itu menarik mata. Bab 1 mau bahas apa saja, bab 2 mau ngomong apa saja, bab mau nulis apa saja. Urutkan, kelompokkan, rapikan supaya mudah dipahami. Setelah dapat poin-poin yang hendak dituliskan dan lalu menatanya dalam struktur yang rapi, langkah selanjutnya adalah:

(4) Berikan ‘daging’ pada kerangka tulisanmu

Semata kerangka saja belum cukup kuat jika tidak ada otot yang menopangnya. Berikanlah otot dan daging pada kerangka tulisanmu. Buat mereka gemuk dengan gagasan pendamping atau suporting ideas. Misal, kita liat sistematika bab 1 naskah ‘Kaya dengan Jeruk Bali’ tadi.
Bab 1. Mengenal Jeruk Bali
a. Klasifikasi Jeruk Bali
b. Ciri-ciri Jeruk Bali
c. Persebaran Jeruk Bali
d. Bagian-bagian tumbuhan Jeruk Bali
e. Sejarah dan riwayat jeruk bali

Poin-poin pendukung inilah yang nanti akan memandumu dalam proses menulis. Jadi, kamu tahu di Bab 1 harus nulis ini setelah nulis itu, dst. Poin-poin pendukung ini biasanya berupa contoh, fakta dan data, gambar, teori, kutipan, bisa juga anekdot atau cerita flashback. Setelah (1) Tahu yg hendak ditulis, (2) mengumpulkan yg hendak ditulis, (3) menata yg hendak ditulis, dan (4) merinci yang hendak ditulis, selanjutnya adalah

(5) merevisinya.

Yup, sebagaimana tulisan, outline juga harus dikoreksi dan direvisi.
Seperti tahap terakhir menulis yang adalah menyuntingnya kembali, langkah terkahir menulis outline adalah mengoreksinya ulang. Sepanjang berjalannya proses kepenulisan, penulis sesekali akan merevisi outlinenya karena berbagai hal, munculnya ide baru misalnya. Dengan demikian, outline ini sifatnya nggak saklek alias bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan. Fungsinya hanya sebagai pemandu tulisan. Jadi, apa yang ada dalam outline awal kamu bisa saja berubah saat kamu menuliskannya. Ini wajar saja dan dialami banyak penulis. Peran outline lebih pada pemandu dalam proses menulis, menjaga agar kita tidak melenceng dan luber kemana-mana saat menulis.

“Sebuah outline yang bagus bukanlah sebuah kerangka yang kaku, tapi lebih menyerupai pemandu jalan yang hidup dan dinamis.” (Brad Zomick)

Membuat outline dulu sebelum menulis mungkin akan terasa sedikit repot, tetapi yakinlah bahwa balasannya akan sangat setimpal. Bahkan, para penulis besar seperti JK Rowling dan Agatha Christie juga memilih menggunakan outline ini dalam menulis. Waktu yang kita habiskan untuk membuat outline yang jelas akan sepadan dengan waktu yang habis untuk meneliti dan menulis naskahmu. Jika penulis sudah punya outline yang jelas, bisa dibilang dia sudah menyelesaikan sepertiga dari proses menulisnya, kata Brad Zomick.

Sebenarnya, saat kita mulai membuat outline, kita sudah memulai proses menulis itu sendiri. Inilah cara terbaik memulai menulis tulisan. Jika kamu ingin tulisanmu cepat selesai dan dengan isi yang tidak mengecewakan, cobalah membuat outlinenya terlebih dulu. Sekian #RabuEditing untuk hari ini tentang membuat outline atau kerangka tulisan, semoga bermanfaat. Happy writing ^_^

2 thoughts on “5 Tahap Efektif Membuat Outline untuk Naskahmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *