Tips Jitu Ini Dijamin Mampu Melawan Virus MalasNulisdotCom

0
Tips Jitu Ini Dijamin Mampu Melawan Virus MalasNulisdotCom
Melawan Virus MalasNulisdotCom. Sumber gambar: pixabay

Halo, DIVAmate. Sekarang lagi heboh banget tuh virus Wannacry ransomware yang konon bisa mengunci data itu. Yah walau virus itu blm bisa mengunci hati dan kenangan buruk, virus itu konon sangat berbahaya. Ini karena bikin data-data penting di komputer nggak bisa dibuka. Kayak hati kamu yang susah banget dibukanya. Bayangkan, jika kena virus ini, naskah yang sudah kamu garap selama berbulan-bulan tiba-tiba nggak bisa dibuka. Kan ya KZL banget tuh. Sebelum terlambat, segera back up semua data penting dan tulisan kalian, plus update antivirusnya biar nanti ngga wanna cry kalo udah ilang. Tapi selain virus wannacry, sejatinya ada satu virus lain yang sangat berbahaya bagi penulis dan naskahnya, namanya virus malasnulisdotcom. Jika Wannacry bisa mengunci file naskah kamu, maka virus malasnulisdotcom ini lebih kejam: dia bikin tulisan kamu nggak jadi-jadi!

Nah, kalo virus Wannacry bisa dicegah dengan antivirus, gimana dengan virus malasnulisdotcom ini? Adakah antivirus untuk membasminya? Pagi tadi, Mimin sudah beranjangsana ke markas Microsoft buat tanya-tanya seputar virus malasnulisdotcom ini. Ya berkunjungnya cuma dalam khayalan sih tapi kan yang penting pamernya, bukan? #eh. Dari hasil kunjungan tak beretika itu, Mimin berhasil menggondol sejumlah tips dan trik penting untuk melawan virus malasnulisdotcom ini.Apa saja antivirus untuk virus malasnulisdotcom yang sangat menyebalkan ini? Mari simak sama-sama di #SeninMenulis hari ini.

Antivirus 1.0: MENULIS

Antivirus paling ampuh melawan virus malasmenulisdotcom adalah dengan MENULIS itu sendiri. Ibaratnya positif dan negatif, maka yang negatif harus dilawan dengan yang positif, dengan kebalikannya. Dan inilah antivirus paling kuat. Sebagaimana disinggung Jeff Groin, cara terbaik mengatasi hambatan menulis adalah dengan menulis. Hal yang sama juga berlaku untuk virus malas menulis, lawan lah dengan terus menulis, tekun lah menulis, mulai lah menulis. Bukan dengan mencari-cari alasan. Bukan dengan mengasihani diri sendiri. Bukan dengan menunda-nunda sambil nunggu ide. Lawan dengan menulis. Tapi gimana kalau tulisanku jelek Min? Aku kalau dipaksa jadi jelek hasilnya | Tulisan yang jelek masih bisa diperbaiki, nanti. Hubungan kita adalah buktinya, bisa diperbaiki walau awalnya nggak muluz, Dek.
“You overcome writer’s block by writing.” (Jeff Groin)

Abaikan dulu bagus atau tidaknya tulisan, fokusnya adalah untuk merutinkan menuis, untuk membiasakan menulis. Biasanya, kita malas melakukan sesuatu itu karena kita belum terbiasa, jadi berat melakukannya. Agar terbiasa gimana? Ya dilakukan saja. Ada yang bilang, kita memiliki otot menulis yang hanya bisa dilatih dengan tekun menulis. Jika jarang digunakan, otot ini jadi tumpul. Sebenarnya jawaban untuk melawan rasa malas menulis itu sudah jelas, kitanya saja yang sering menghindarinya, yakni menulis itu sendiri. Tulis apa saja, di mana saja. Coba tulis beberapa baris. Ungkapkan isi pikiranmu, lalu rasakan perbedaannya. Antivirus itu sedang berkerja. Jgn pikirkan dulu bagus atau jeleknya tulisanmu. Tulis dulu saja, lanjutkan naskahmu yang baru 10 halaman itu. Tulis dengan penuh semangat.

Ketika pikiranmu seolah tertumpah dalam tulisan, ketika ketikanmu banyak typonya saking bersemangatnya kamu menulis, antivirus itu bekerja. Menulislah semata karena kamu ingin melakukannya, jangan perdulikan dulu bagus tidaknya. Ini tandanya antivirus itu sedang bekerja. Ingat kembali dulu ketika kita masih anak-anak, ketika pertama kali kita mengetahui kalau kita bisa menulis. Saat itu, semangat sekali kita. Kenang kembali masa itu, ingatkan kembali dirimu bahwa kita bisa menulis, kita bisa melakukannya. Pahami bahwa setiap penulis besar pernah mengalami masa-masa ketika mereka malas menulis atau susah menulis, dan mereka mampu melewatinya. Penulis profesional dan amatir sama-sama mengalami hambatan menulis. Tapi, yang pertama bisa menaklukkannya sementara yg kedua ditaklukkan. Kamu mau jadi yang mana?

Antivirus 2.0: Rutin Menulis

Setelah kamu merebut kembali kemampuan menulis itu, pertahankan terus dia. Dan cara terbaik mempertahankan kemampuan menulis adalah dengan rutin melakukannya. Rutinitas menulis akan menjadikannya sebagai kebiasaan. Delapan dari sepuluh penulis dunia mengaku mereka menulis secara rutin setiap harinya, atau memiliki waktu menulis yang rutin. Jangan berlindung pada ungkapan “Penulis juga butuh jalan-jalan”, “Penulis itu manusia yang butuh hiburan” atau “Penulis bukan robot” sehingga kamu jadi tidak nulis. Seringkali, kita kurang keras kepada diri kita sendiri, bahkan untuk hal-hal dan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Tidak bisa tidak, jika ingin jadi penulis, maka hal utama yang harus dilakukan adalah MENULIS, bukan jalan-jalan atau duduk-duduk santai.

“Hanya dengan menulis setiap hari, seseorang dapat menjadi penulis. Jika tidak, dia akan tetap akan menjadi seorang amatir.” (Gerald Brenan)

Ungkapan ini seharusnya jadi cambuk bagi para penulis. Bahwa menulis sejatinya adalah keterampilan yang juga sebuah proses. Betapa sering kita berlindung pada kata-kata “Penulis juga butuh piknik’ untuk menghindari aktivitas menulis itu sendiri. Padahal, yang namanya penulis itu ya menulis. Ingin naskahmu rampung, ya kudu ditulis. Ingin lekas punya novel sendiri, ya rutin nulis. Mungkin kedengarannya kejam, tetapi untuk kebaikan diri sendiri kita kadang kudu ‘kejam’ pada diri sendiri, termasuk dalam hal menulis ini. Pentingnya menulis secara rutin ini berulang kali diungkapkan oleh para penulis, baik penulis lokal maupun internasional.

Sering kali, menulis adalah bukan tentang kapan kita akan berhasil menuliskan sebuah karya besar dan lalu berhenti menulis. Tetapi yang lebih utama, adalah kemampuan untuk tetap bertahan dalam menulis demi menghasilkan sebuah karya, untuk rutin melakukannya. Menulis rutin itu sulit, memang benar! Tapi bukan berarti mustahil. Ingat bahwa dalam setiap kesulitan terkandung benih-benih kegemilangan.

Antivirus 3: Berkumpul dengan sesama penulis.

Tidak ada yang bisa mengalahkan serunya melakukan sesuatu hal yang disenangi bersama-sama. Berkumpul di sini tidak selalu secara fisik loh ya, bisa juga berkumpul secara konotatif dengan cara mengakrabi karya-karya mereka. Sebuah ungkapan bijak berbunyi bahwa setiap penulis terinspirasi dari karya-karya penulis sebelumnya. Inilah bentuk bergaul antar penulis. Karena jika pemusik punya guru musik dan atlet punya pelatih, maka penulis hanya punya buku-buku karya penulis lain sebagai guru-gurunya. Dengan membaca tulisan penulis-penulis lain, kita jadi bersemangat untuk ikut nulis juga. Yah walau kadang malah keder sih saking bagusnya. Tetapi paling tidak, dari karya para penulis itu kita bisa tahu banyak hal tentang cara menulis yang baik, yang beda, yang benar.

Selain kumpul dengan penulis imajinatif lewat karyanya, kita juga bisa kumpul-kumpul dengan sesama penulis lain untuk saling menyemangati. Di era virus Wannacry ini, ada bejibun jalan untuk bisa berkumpul dengan rekan sesama penulis. Lewat grup menulis misalnya. Bisa juga dengan rutin menghadiri event-event menulis seperti #KampusFiksi dan #FestivalSastraBasabasi untuk belajar dan berguru langsung. Yakinlah, bahwa walau aktivitas menulis bisa dilakukan sendirian tetapi setiap penulis pasti butuh teman. Dengan teman, semua jadi nyaman. Silakan bisa googling, ada banyak sekali grup kepenulisan di dunia maya atau di dunia nyata. Gabung dan aktiflah bersama mereka. Siapa tahu, dari grup-grup ini kamu akan menemukan jodoh untuk naskahmu sekaligus jodoh untuk penulisnya #eaaakkYakinlah bahwa setiap naskah memiliki jodoh penerbit dan jodoh pembacanya. Yang nggak yakin itu yang nulis udah punya jodoh atau belum #eh.

Dengan berkumpul bersama, aktivitas menulis pun jadi terasa lebih tertahankan. Menulis itu sendiri, tetapi penulis jangan sampai merasa sepi. Haruki Murakami pernah berkata bahwa kesunyian ibarat pisau bermata dua bagi penulis: mengalirkan ide tapi juga merusak jiwa manusiawinya. Makanya, biar kamu tetap bisa berkarya tapi tidak kehilangan sisi manusiawimu, carilah jodoh eh carilah teman sesama penulis gitu .. bye. Seorang penulis adalah pembicara yang fasih, pendengar yang setia, pengamat yang jitu. Karena itu, mereka adalah calon jodoh yang sangat potensial.

Punya teman satu profesi sangat baik di kala berhadapan dengan titik kebuntuan, titik jenuh, dan titik-titik lainnya. Tidak semua orang paham bagaimana tingkatan stres seorang penulis yang tengah melalui proses kreatif, rasa depresi. Inilah pentingnya punya teman. Dengan memiliki teman dalam menulis, rasa sepi dan sunyi yang menyertai proses menulis itu akan lebih tertahankan, bisa diperlembut. Karena setiap manusia niscaya membutuhkan manusia yang lainnya, begitu pula seorang penulis selalu membutuhkan para penulis yang lainnya.

Antivirus 4.0: Buat deadline untuk naskahmu
Sekali lagi, kejam pada diri sendiri demi kebaikan itu nggak apa-apa. Contohnya yang satu ini: bikin tenggat. Segala sesuatu di dunia ini memiliki tenggat alias batas waktunya. Tuhan merancangnya demikian agar kita tidak menyia-nyiakan anugrah waktu sempat dariNya. Nah, kamu juga harus tegas pada dirimu sendiri. buatlah tenggat alias batas waktu alias DL tentang kapan naskahmu harus selesai ditulis. Tuhan menciptakan DL agar kita tidak leha-leha dlm kemalasan, agar mereka sadar bahwa semua ada akhirnya, termasuk waktu buat garap naskahmu. Waktu kita terbatas di dunia ini, dan tiada kita yang tahu sampai kapan kita diberi anugrah kesehatan dan kesempatan untuk menulis. Dengan menetapkan batas waktu, kita akan terpacu untuk menyempatkan menulis dan bukannya menulis jika sempat. Dengan menetapkan batas waktu, kita tidak lagi malas-malasan menulis karena kita tahu bahwa kesempatan dan kesehatan itu tidak selamanya ada maka pergunakanlah dengan sebaik-baiknya. Karena itu, rutinlah menulis karena kamu tahu bahwa waktumu tidak selamanya. Kenapa menunggu dan menunda-nunda menulis karya indahmu?

Tapi kalau pakai batas waktu gitu malah sering bikin kita keburu-buru dan nggak santai, Min. Gimana ya enaknya? Stt, batas waktu ini bisa disambut dengan sukacita dengan cara mencicilnya. Dengan dicicil, DL tidak lagi jadi momok yang menakutkan. Sisakan, atau sempatkan setengah atau satu jam dalam sehari khusus untuk menulis dan merampungkan karya besarmu. Biar sedikit tapi rutin. Sedikit-sedikit tapi rutin setiap hari, itu jauh lebih bagus daripada banyak-banyak tapi hanya di bibir saja. Kayak janjimu itu, Mas *kibas. Mentang-mentang lomba cerpen 7 juta itu DL-nya 17 Agustus 2017, lalu kamu menunda-nunda menulisnya sampai abis lebaran. Jangan gitu dong. Cicil mulai dari sekarang, misal dengan mulai memikirkan tema, banyak2 baca buat referensi, atau sekadar bikin outline/kerangka tulisan. Beranilah untuk menetapkan tenggat waktu bagi selesainya naskah kamu. Ingat, walau terdengar kejam tapi ini buat kebaikanmu juga. Apa nggak risih sama timbunan file naskah yang belum juga kelar sejak dua ribu purnama itu? *nggak selama itu juga kali, Min*
Tetapkan tenggat untuk tulisanmu. Biar kamu nggak malas. Biar kamu ingat, semua ada batasnya, kecuali cinta yang katanya tiada batas waktu. Ingat selalu pesan agen lipstik Banguntapan ini:
Tidak ada waktu terbaik untuk menulis.
Waktu menulis yang terbaik adalah:
Menulislah. Sekarang … juga!
Yang punya tips lain untuk melawan virus malasnulisdotcom silakan bisa berbagi juga di komentar, semoga bermanfaat untuk kita semua.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.