Logika dalam Kalimat; Bagaimanakah Batasan Logis atau Tidak

Logika dalam Kalimat; Bagaimanakah Batasan Logis atau Tidak

Sudah hari Rabu lagi nih DIVAmate, siapin catatan kalian karena hari ini bakal ada #RabuEditing bersama MinCob \(´?`)/.
“Karena setiap penulis adalah editor pertama bagi karyanya.” #RabuEditing
Di #RabuEditing kali ini kita akan membahas topik yang lumayan rada-rada, yakni tentang logika dalam kalimat. Sebagai penulis, tentunya kita harus bisa menuliskan sesuatu secara logis, bahkan saat menulis kisah fiksi sekalipun. Mengapa logika dalam menulis ini penting? Yakni biar pembaca tidak salah paham, salah mengartikan, dan ujung-ujungnya minta putus #baper.
Tanya: Min, cinta kan kadang nggak pakai logika?
Miminnya: Jadi penulis kece itu nggak cukup hanya dengan cinta, Dek. *joged Agnesia*
Tanya: Contoh kalimat yang nggak logis itu gimana, Min?
Jawab: Sebentar, Mimin agak lama mikir contohnya.
Tanya: Mana?
Jawab: Lha kalimat barusan tadi contohnya!

Perhatikan, adakah yang janggal pada kalimat berikut?
“Keluarga korban yang dicopet dompetnya itu minta agar si pencopet segera ditangkap.”
Ada kekeliruan logika pada contoh kalimat tadi, kekeliruan yang bisa berujung pada bingungnya pembaca menangkap maksud kalimatnya. Kalimat ini bisa menimbulkan dua penafsiran:

(1) Keluarga dari si korban minta pencopetnya ditangkap.

(2) Keluarga korban juga ikut dicopet dan mereka minta pencopetnya ditangkap.

Jadi, kalimat itu memunculkan dua korban: (1) si korban yang kecopetan dan (2) keluarga si korban lah yang kecopetan. Ayo, silakan yang bingung segera angkat dompet kalian hahahaha *miminnya juga rada bingung* Sebenarnya, kalimatnya akan lebih logis dan juga mudah dipahami jika ditulis begini:

“Keluarga dari korban yang dicopet dompetnya itu minta agar si pencopet segera ditangkap.”
Dalam kasus ini, kita bisa menambahkan kata ‘dari’ setelah kata ‘keluarga’ agar kalimat itu hanya punya satu tafsiran, yakni korban. Contoh lain, coba kalian cek lagi makna gandanya dari kalimat berikut:

“Keluarga korban yang tewas mengenaskan itu minta agar pelaku dihukum seberat-beratnya.”

Ketidaklogisan kalimat juga sering kita jumpai pada kata pengantar atau halaman persembahan atau pidato penyambutan. Misalnya:
“Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, penulis bisa menyelesaikan naskah buku ini.”
Coba dicari, mana yang tak logis di kalimat tersebut? Kesalahan logikanya di hubungan sebab-akibat. Perhatikan: “Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, penulis bisa menyelesaikan naskah buku ini.”

Jika mengikuti logika kalimat tersebut, maka disimpulkan bahwa buku itu bisa rampung ditulis cukup dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan. Cukup dengan mengucap syukur, buku langsung jadi. Seolah-olah, penyelesaian buku itu tidak butuh waktu, tenaga, pemikiran; cukup hanya dngn berucap syukur kepada Tuhan dan buku langsung jadi. Tentunya itu mustahil. Sebuah buku tidak mungkin langsung selesai tanpa perlu ditulis, riset, baca-baca, kerja keras, dan begadang semalaman.
Kasusnya sama dengan kalimat ini:

“Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, kita dapat merampungkan proyek besar ini.”
Kalimat-kalimat di atas akan logis jika sedikit disunting:

(1) Penulis bersyukur kepada Tuhan karena dapat menyelesaikan penulisan buku ini.

(2) Kita bersyukur kepada Tuhan karena dapat merampungkan proyek besar ini.

Bingung? Bandingkan dengan kalimat ini:
“Dengan menata batu bata, jadilah sebuah tumpukan berbentuk persegi.”

Penghilangan salah satu subjek dalam kalimat majemuk juga sering menimbulkan salah logika. Begini contohnya:

“Karena berusaha kabur, polisi terpaksa menembak kaki si penjahat.”
Siapa yang kabur? Si Polisi.
Siapa yang menembak? Si Polisi.

Bandingkan:

“Karena berusaha kabur, Andi lupa membawa sandalnya.”
Siapa yang kabur? Andi.
Siapa yang lupa bawa sendal? Andi.
Logikanya: Andi berusaha kabur, sehingga dia terburu-buru dan lupa membawa ssandalnya. Kalimat ini logis.

Kita kembali pada kalimat ini: Karena berusaha kabur, polisi terpaksa menembak kaki si penjahat. Penafsirannya, polisi berusaha kabur, dia dikejar penjahat jadi menembak. Logika mumetnya begini, polisi berusaha kabur, dikejar si penjahat. Polisi lalu menembak kaki si penjahat agar dia tidak bisa mengejarnya. Padahal, mungkin yang dimaksud kalimat itu begini: Si penjahat berusaha kabur, jadi polisi terpaksa menembak kaki si penjahat. Ketidakjelasan kalimat tadi ada pada salah satu subjek yang menghilang. Dalam kalimat tersebut sebenarnya ada dua subjek. Sebuah kalimat minimal harus memiliki satu subjek dan satu predikat. Dalam gabungan dua kalimat tadi, hanya ada satu subjek.

Kalimat 1: Si penjahat berusaha kabur.

Kalimat 2: Polisi terpaksa menembak kaki si penjahat.

“Karena berusaha kabur, polisi terpaksa menembak kaki si penjahat.” Kalimat ini tersusun atas dua kalimat: (1) Karena berusaha kabur, dan (2) Polisi terpaksa menembak kaki si penjahat.
Perhatikan bahwa kalimat 1 (“Karena berusaha kabur”) tidak memiliki subjek, hanya sebuah predikat. Dengan kata lain? Siapa yang kabur? Kalimat yang tepat adalah sebagai berikut:

(1) [Karena] Si penjahat berusaha kabur.

(2) Polisi terpaksa menembak kaki si penjahat.

–> Karena si penjahat berusaha kabur, polisi terpaksa menembak kaki si penjahat.
Kenapa bukan: “Karena si penjahat berusaha kabur, polisi terpaksa menembak kakinya.” Karena maknanya ganda, yang ditembak penjahatnya atau kaki si polisi?

Ketidaklogisan kalimat juga bisa muncul dalam penggunaan sejumlah kata, misalnya bergeming, mengentaskan, dan acuh.

Tidak logis:

(1) Dia diam tak bergeming.
(KBBI) bergeming: “tidak bergerak sedikit juga; diam saja”

(2) Gerakan Pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.
(KBBI) Mengentaskan : (ki) memperbaiki (menjadikan, mengangkat) nasib

(3) Kamu selalu mengacuhkanku! Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat!
(KBBI) acuh : peduli

Mari kita cek satu-satu:
(1) Dia diam tak bergeming.
Kalimat ini tidak logis karena maknanya jadi: “Dia diam tak tidak bergerak sedikit pun.”

(2) Gerakan Pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.
Tidak logis karena si kemiskinan lah yang diangkat dan diperbaiki nasibnya.

(3) Kamu selalu mengacuhkanku! Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat!
Tidak logis, Rangga peduli sama Cinta, kok dibilang jahad?

Satu lagi istilah yang sebenarnya tidak logis tetapi sudah telanjur menyebar luas di masyarakat:

“kebohongan publik”
“Di persidangan, pejabat A dituduh telah melakukan kebohongan publik.”

Siapa yang berbohong? Publik atau Pejabat A? Hayooo? KBBI mengartikan ‘kebohongan’ sebagai “perihal bohong; sesuatu yang bohong”. Jadi, dalam istilah kebohongan publik, si publiklah yang berbohong. Kalau kalimatnya “Di persidangan, pejabat A dituduh telah melakukan kebohongan publik,” maka makna makna mumetnya: Pejabat A dituduh melakukan kebohongan yang dilakukan publik.

Bandingkan dengan ‘kejujuran publik’ atau ‘kejujuran masyarakat’, dalam hal ini yang berlaku jujur adalah publik atau masyarakat. Karena itu, agar logis, istilah ‘kebohongan publik’ seharusnya diganti dengan ‘pembohongan publik’ agar maknanya Pejabat A sebagai orang yang telah membohongi publik.

“Di persidangan, pejabat A dituduh telah melakukan pembohongan publik.”

Tanpa kita sadari, kita sering kali menghasilkan kalimat tidak logis. Dalam ucapan lisan, mungkin perbedaannya tidak terlalu kentara. Namun, kalimat-kalimat tidak logis ini akan terbaca ketika kita menuliskannya.

Karena itu, upayakan untuk menghindari dan menguranginya. Sekian kuliah linguistik eh #RabuEditing tentang ketidaklogisan dalam kalimat hari ini. Semoga bermanfaat bagi DIVAmate sekalian.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.