Kriteria 3T Agar Naskahmu Diterima Penerbit Incaranmu

Kriteria 3T Agar Naskahmu Diterima Penerbit Incaranmu
Kriteria 3T. Sumber gambar: mollyfletcher.com

 

Berkali-kali ngirimin naskah ke penerbit tapi naskahmu belum kunjung diterima? Ada yang gini nggak DIVAmate?

Tanya: @kopibukudanpena Apalagi ngirim naskah, min, ngirim hati berisi penuh cinta ke cewek aja gak kunjung diterima mulu.
Mimin: Mas, misi Mas. Salah lapak, Mas (?_??)

Seperti merayu calon pasangan, ahem kita juga kudu tahu jurus-jurus agar naskah kita diterima. Apa saja? Agar lamaran diterima, biasanya camer akan mengecek kualifikasi dari calon suami anaknya. Orang dulu sering menyebutnya dengan 3T, yakni Tampan, Tajir, dan Tahu Membawa Diri. Inilah 3T standar yang dicari calon mertua yang ideal. Duh berat nian ya, DIVAmate. Mimin cuma lolos T yang ketiga *ga ada yang nanya*

Nah, penerbit biasanya juga memiliki syarat 3T yang harus dipenuhi oleh setiap naskah yang masuk. Jika sudah lolos kriteria 3T ini, naskah terancam akan diterima dan diterbitkan. Kalau DIVAmate bisa memenuhi syarat 3T ini di naskahmu, ya tinggal tunggu waktu sebelum redaksi mengabarimu bahwa naskahmu diterima. Penasaran nggak apa saja sih syarat-syarat 3T dari naskah yang dicari penerbit? Yuk simak kultweet seadaanya dari Mimin di hari ini.

TEPAT WAKTU 3T

Syarat pertama 3T adalah naskah yang tepat waktu, yakni naakah yang tepat waktu penerbitannya sekaligus juga tepat waktu masukin naskahnya. Tepat waktu terbitnya, maksudnya gimana? Yakni naskah itu mengulas sesuatu yang memang lagi hits atau dibutuhkan pada suatu waktu.Misalnya nih ya, sebentar lagi kan bulan Ramadhan tuh, nah penerbit kemudian mencari naksah-naskah religi/keagamaan untuk diterbitkan. Misal lagi, pas ada pembukaan Ujian CPNS, maka saat itu penerbit akan mencari2 naskah tentang soal psikotes, latihan soal CPNS dan lain-lain. Nah, bulan April kan biasanya Kartinian tuh, bisa loh kalian coba kirim naskah2 bertema perempuan ke penerbit.

Tapi aku nggak tahu bulan ini yang ngehits apa, Min? | Gampang, coba jalan-jalan ke toko buku dan cek buku-buku yg sedang laris di sana. | Kalau yang lagi laku di pikiran kamu apa Min | Kamu, iya kamu. Tapi kamunya nggak nyadar-nyadar hih

Kemampuan untuk ‘menebak’ tema-tema seksi yang dicari penerbit ini sangat penting loh kalau kamu ingin naskahmu diterbitkan. Sama kayak pas kamu hendak deketin si doi, kamu kudu cari tahu apa kesukaannya (suka makan daun atau makan hati), jajanan kesukaannya apa (mentega kering atau remukan kenangan), dll. Yang tak kalah penting dari kemampuan untuk menulis dengan baik adalah kemampuan untuk menulis naskah yang memang dicari penerbit. Yah itu pun kalau kamu memang pengen naskahmu diterbitkan loh, karena ada naskah yang bagus tapi ditolak penerbit karena memang ga cocok. Kalau nggak cocok, ya jangan dipaksa daripada nanti jadi mantan yang tak berkenan #eaaak

Jadi, tidak selalu naskah yang ditolak penerbit itu karena naskahnya jelek. Ada begitu banyak pertimbangan dalam menolak naskah. Salah satunya ya unsur ‘tepat waktu’ ini, yakni naskahmu memang sesuai dengan waktunya alias sedang dibutuhkan pasar. Naskah yang tepat waktu juga bisa berarti naskah tersebut dikirimkan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan penerbit. Kemarin kan @divapress01 lagi cari naskah dari @Wattpad kan ya, nah ada tenggat waktunya tanggal 18 Maret 2017. Naskah yang baik akan dikirimkan sebelum tenggat waktu tiba. Tapi, kebanyakan kita memang suka jadi DLers sih ya. Garapnya mepet-mepet gitu. Yang mepet-mepet memang bikin deg-degan sih ya #eh

TEPAT ISI 3T

Syarat kedua 3T adalah naskah itu tepat isinya, alias kontennya benar-benar benar serta betul-betul betul. Secara ringkas,TEPAT ISI berarti naskah itu benar materinya, tidak menyesatkan pembaca, dan berisi informasi atau data yang benar. Seorang penulis yang baik akan menulis naskah yang isinya sesuai fakta dan data, tidak menyesatkan pembaca, serta terbukti kebenarannya. Beda loh kasusnya sama kamu yang tersesat karena dibutakan cinta *halah*. Naskah yang TEPAT ISI, ia ditulis dengan riset (baik riset pustaka atau observasi), isinya benar dan tidak hoek eh hoax.Naskah yang TEPAT ISI biasanya juga disertai dengan daftar pustaka atau rujukan, jadi pembaca bisa tahu atau mengecek sumbernya.

Naskah yang TEPAT ISI juga naskah yang TEPERCAYA, yang kebenaran dan validitas isinya bisa diandalkan pembaca. Kayak kamu yang selalu bisa aku andalkankan penerbit. nanya*T, yakni. Nah gimana agar naskah kamu bisa TEPAT ISI? Jawabannya STD alias standar aja sih: JANGAN MALAS RISET dan JANGAN MALAS BACA. Riset ini terbagi jadi dua, yakni riset pustaka (dengan membaca sumber-sumber tertulis atau internet) dan riset observasi (pengamatan). Menulis karya fiksi macam novel dan cerpen pun butuh riset loh. Kan nggak lucu kalau di naskahmu itu Gedung Sate ada di Bantul. Bahkan, menulis naskah buku anak pun juga wajib riset loh, Jangan dipikir nulis buku anak itu mudah dan bisa sembarangan. Orang tua bilang: Jangan sembarangan kamu! Buat anak kok coba-coba! Seperti buah yang terlihat segar kulitnya plus manis daging buahnya, begitulah naskah yang tepat isi. Ibarat Puan yg cantik lagi baik budi. Seperti Mimin yang baik lagi sedap dipunggungi.

TEPAT BAHASA 3T

Syarat 3T ketiga adalah naskah yang tepat bahasanya, dalam artian naskah itu ditulis sedemikian rupa sehingga bisa terbaca. Salah satunya, TEPAT BAHASA adalah naskah ditulis dengan gaya dan bahasa yang sesuai dengan segmen pembacanya. Misalnya, naskah anak yang tepat bahasa memiliki pilihan kata yang sederhana, kalimatnya pendek-pendek, paragrafnya tidak panjang. Misalnya lagi, naskah novel remaja yang ditulisnya dengan gaya bahasa populer, kekinian, dinamis, lincah, dan anak muda banget *kayak Mimin* *dilarang protes* Kan nggak lucu, masak naskah ‘Dongeng Kancil untuk PAUD’ tapi bahasanya abegeh gini:

“Tahu nggak gaeesss, si kancil abis ngutil timun di ladang, ketahuan dan menangys.”

Naskah nonfiksi gini juga bisa bikin editor gagal meniqa:

Celita pendek dan nopel itu beda. Nopel punya luang yg panjang, kalo celpen banyak bulunya #eh
Pengunaan bahasa yang tepat untuk segmen pembaca yang tepat adalah inti dari naskah yang TEPAT BAHASA. Ah cuma masalah pemilihan kata doang, Min. Heh, jangan pernah meremehkan kekuatan kata-kata. Kalau kamu salah omong di depan penghulu, kelar idup loe wkwk. Kenapa? Pilihan kata yang tepat akan memunculkan pengaruh yg dahsyat, seperti dibilang Vashti Quiroz-Vega: “Kata-kata sangat perkasa. Berhati-hatilah dalam menggunakannya.”

Sekali lagi, sesuaikan bahasa naskah dengan segmen pembaca atau jenis bukunya. Kalau naskahnya serius, gunakan bahasa baku dan formal. Sebaliknya, untuk naskah remaja, buku humor, atau buku anak, maka hindari kalimat-kalimat yang panjang dan kaku, serta terlalu resmi. TEPAT BAHASA juga bermakna naskahmu bebas dari 134h4s@ 4L@Y n4n m3mu5in9k4n ed1to12 s4@t M3m13@c4ny@. Tolong, hargailah editor dengan menulis naskah tanpa bahasa alay. Boleh lah sedikit gaul untuk naskah remaja, tetapi jangan alay.

Nah, kalau naskahmu sudah memenuhi tiga syarat 3T tadi, penerbit pasti akan berebutan menerbitkan naskah kamu *lebai* Tepat waktu, tepat isi, dan tepat bahasa maka tepat sekali, naskahmu akan lolos evaluasi dan segera diterbitkan. Yakin deh. Yang nggak yakin tuh, kapan deh itu naskah kamu rampungnya? Pliz deh udah dua kali gerhana jugak masak naskahnya belum juga selesai ditulis.

Ehh masih ada lagi sih, yakni TEPAT PENERBIT. Kirimkan naskah ke penerbit yang tepat. Jangan kirim naskah novel ke penerbit buku pertanian. Sekian tadi sedikit banget #SeninMenulis dari Mimin, semoga walau sedikit bisa bermanfaat untuk DIVAmate semua. *kecup klomoh satu-satu*

You might also like More from author

Comments are closed.