Kesalahan-Kesalahan dalam Berbahasa Indonesia yang Perlu Ditinjau Ulang

Kesalahan-Kesalahan dalam Berbahasa Indonesia yang Perlu Ditinjau Ulang

Pagi, DIVAmate.
Ayo kita #RabuEditing
\(´?`)/ \(´?`)/ \(´?`)/ \(´?`)/ \(´?`)/
Karena setiap penulis sejatinya adalah editor pertama bagi karyanya #RabuEditing
Pekan lalu, Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh yang telah berjasa besar dalam perkembangan dan kemajuan bahasa Indonesia. Yus Badudu, atau kita lebih mengenalnya sebagai J.S. Badudu, telah berpulang, dengan meninggalkan karya-karya besar dalam bidang kebahasaan. Lewat tangannya, telah lahir berbagai buku, makalah, kajian, artikel, dan tulisan yang telah memperkaya bahasa Indonesia. Salah satu karyanya yang akan terkenang senantiasa adalah buku ‘Inilah Bahasa Indonesia yang Benar,’ sebuah bunga rampai kebahasaan. J.S Badudu, lewat tulisan-tulisannya telah berjuang menjaga, memperkaya, dan mengembangkan bahasa Indonesia. Beliau adalah pahlawan pelindung bahasa Indonesia. Maka, sungguh miris, jika perjuangan dan bakti para ahli bahasa itu malah kita rusak dengan tulis4n al4y dan pelanggaran t3rHad4p eYd.

Dalam #RabuEditing hari ini, mari kita tinjau ulang kesalahan-kesalahan dalam berbahasa Indonesia yang sering kita lakukan. Sejak tahun 1983, J.S Badudu telah menemukan kesalahan-kesalahan dalam berbahasa Indonesia yang ternyata masih sering kita lakukan saat ini. Apa saja kesalahan-kesalahan dalam berbahasa Indonesia menurut J.S. Badudu yang masih sering kita lakukan itu?
(1) Kekeliruan menuliskan “di” sebagai kata depan dan “di-” sebagai awalan
Masih banyak dari kita yang keliru membedakan dan menuliskan “di” sebagai kata depan dan “di-” sebagai awalan. Di media sosial, masih sering kita jumpai penulisan awalan “di-” yg keliru, misalnya:
*Rotinya di makan Adik.
*Negara api di serang.
Begitu juga dalam iklan-iklan pinggir jalan, masih banyak penulisan awalan di- yang keliru:
*RUMAH DI JUAL
*TANAH DI SEWAKAN
Menurut J.S. Badudu, awalan di- hanya terdapat pada kata kerja (baik kata kerja yang berakhiran -kan atau -i, maupun yang tanpa akhiran). Dalam hal ini, awalan di- harus SELALU DITULIS SERANGKAI dengan kata kerja yang mengikutinya. Dipukul, ditulis, dibaca, digunakan, dimanfaatkan, digerakkan, dimajukan, diharapkan, dikenai, diserahi; Semuanya ditulis serangkai ya.
Kata kerja yang berawalan di- adalah semua kata kerja yang digunakan untuk menjawab pertanyaan “diapakan dia” atau “diapakan benda itu.” Jadi, kalau misal kamu bingung sebuah di- dipisah atau disambung, gunakan pertanyaan tadi –> “diapakan dia” atau “diapakan benda itu.”
Misal: Rumah dijual / rumah di jual?
Mau diapakan benda (rumah) itu? Rumah itu hendak dijual jadi harus disambung.
Bisa juga dengan rumus ini:
Kata kerja berawalan di- mempunyai bentuk lawan yang berawalan me-
dipukul >< memukul
dikenai >< mengenai
Dengan begitu:
“di situ” tidak disambung karena tidak ada “mesitu”
“di mana” tidak disambung karena tidak ada “mesana”
Jika awalan “di” DITULIS serangkai dengan kata kerja, maka kata depan “di-” DITULIS terpisah dari kata yang mengikutinya. Menurut J.S. Badudu, kata depan “di-” aturannya ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya karena “di” di sini berkedudukan sebagai sebuah kata. Dalam artian, “di” pada “di sini” memiliki kedudukan sebagai sebuah kata, sebagaimana “buku, kayu, benda, kamu, cinta, aku” yg juga kata. Lalu, bagaimana cara mengenali “di” sebagai kata depan sehingga harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya? Semua kata yg menjadi jawab pertanyaan “di mana” pastilah kata yg mengandung kata depan “di” karena itu jawabannya harus dua kata yg dipisah.
Contoh:
Di mana Ve? Di kantor.
Di mana Ve berkantor? Di hatimu.
Di mana alamatnya hatimu itu? Di situ, di dekatmu.

Rumusnya
(a) Jika lawan katanya berawalan “me” atau menjawab “diapakan?” maka disambung.
(b) Jika menjawab “di mana?” maka di situ dipisah.

DIJUAL disambung karena:
(c) Menjawab pertanyaan “diapakan rumahnya?”
(d) Memiliki lawan kata berawalan “me”, yakni “menjual”.
DI SANA ditulis terpisah karena:
(e) Menjawab pertanyaan “di mana?”
(f) Tidak memiliki lawan kata berawalan “me”.
Jadi, sekarang semoga sudah paham kenapa kalimat ini keliru.
DISINI DI JUAL, SELURUH KENANGAN BESERTA PEMILIKNYA.

*cieee yang jualannya kenangan*

(2) Kesalahan dalam penulisan partikel “pun” yang ditulis serangkai dan partikel “pun” yang ditulis terpisah.
Mengapa “apa pun” dan “apa pun” ditulis terpisah walaupun sama-sama ada “pun” seperti dalam “meskipun” dan “kalaupun”? Mumet nggak?
Menurut J.S. Badudu, ada 3 macam -pun, yakni klitika -pun, -pun yang berfungsi sebagai kata penuh, dan -pun yg menyatakan makna “perlawanan”
(a) “Pun” sebagai klitika, yakni unsur yang melekat pada unsur yang lain.
Dalam kasus ini, “pun” selalu melekat pada kata yang mendahuluinya. Dengan kata lain, “pun” sebagai klitika memang selalu ditulis serangkai dengan kata di depannya. Ada 13 kata dengan klitika -pun yang penulisannya harus selalu ditulis serangkai
Inilah 13 klitika -pun yang legendaris itu:
adapun
andaipun
ataupun
bagaimanapun
biarpun
kalaupun
kendatipun
maupun
meskipun
sekalipun
sungguhpun
walaupun
betapapun
Ketiga belas kata-kata tersebut termasuk jenis kata tugas, yakni kata-kata yang berfungsi sebagai penghubung atau pengantar kalimat. Contoh:
* Adapun maksudku datang kemari adalah untuk mencarimu.
* Walaupun datang sendiri di pesta resepsi, @qonrobovski tak risau.
(b) “Pun” sebagai kata penuh yang bersinonim dengan kata “juga”, dalam artian kita bisa mengganti “pun” jenis ini dengan kata “juga.”
Misal:
Selain aku, kamu pun diundangnya.
Selain aku, kamu juga diundangnya.
Jangankan kamu, aku pun suka.
Jangankan kamu, aku juga suka.
Partikel “pun” bermakna “juga” ini ditulis terpisah:
* Selain duku, aku pun membeli manggis.
* Sejak dulu pun aku sudah suka padanya.

(c) Partikel “pun” yang berfungsi sama dengan kata-kata yang menyatakan makna “perlawanan”. Bentuk “pun” ini juga ditulis terpisah.
Contoh #baper:
* Bertemu pun tak sudi aku, apalagi menerima cintanya.
* Punya calon pacar pun dia belum, apalagi istri.

(3) Kesalahan Penulisan Kata Gabung
Mana yang benar: duta besar atau dutabesar? swa daya atau swadaya? antar kota atau antarkota?
Walaupun sederhana, masih banyak dari kita yang bingung menulis kata gabung ini: apakah maha siswa atau mahasiswa, swadaya atau swa daya. Menurut J.S Badudu; ada beberapa aturan dalam penulisan kata gabung sebagaimana yang tercantum dalam buku pedoman ejaan baru (EYD).
(a) Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk (termasuk istilah khusus), bagian-bagiannya ditulis terpisah.
kantor pos, gadis cantik, buku tulis, novel berat, buah naga, meja hijau, air asin, ikan mujaer, kereta api cepat, rumah sakit umum, dll.
(b) Gabungan kata yang mungkin menimbulkan salah pengertian, diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian antar unsur-unsurnya.
Toko buku-DIVA Press (maksudnya toko yang menjual buku2 DIVA Press)
Toko-buku DIVA Press (maksudnya ini toko buku, bukan toko buah, yang bernama DIVA Press)
(c) Gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai, seperti pada padahal, barangkali, daripada, bilamana, manakala, matahari, syahbandar, peribahasa, halalbihalal, alhamdulillah, silaturahmi, bumiputra, dll.
(d) Beberapa unsur bahasa tidak bisa berdiri sendiri, tetapi selalu muncul berkombinasi dengan unsur yang lain
–> a, non, swa, ultra, pra, maha, tri, catur, dwi, semi
Dengan demikian, unsur-unsur itu selalu ditulis serangkai dengan kata gabungannya –> amoral, nonfiksi, prasangka, swadaya, antarkota, caturwarga, semiprofesional, ultraman, poliglot, praduga, mahasiswa, swasembada, swakarsa, tritunggal, mahasiswi, dan dwiwarna.
(4) Kesalahan dalam Penggunaan Huruf Kapital
Aturan penulisan huruf kapital atau huruf besar sebenarnya sudah diatur lengkap dalam EYD. Sayangnya, masih banyak dari kita yanG aBai dAlam mEnuLiSkan Huruf kaPitaL iNi *miminnya ikutan alay*. Paling sering keliru adalah penulisan gelar (kehormatan, keturunan, dan keagamaan) seperti haji, imam, nabi, sultan, presiden, dll.
(a) Jika diikuti nama orang, maka gelar diawali huruf besar. Jika tidak, maka ditulis kecil.
– Sultan Hasanuddin
– Ayahnya seorang sultan.
(b) Jika tidak diikuti nama orang, atau tidak merujuk pada yang bersangkutan maka gelar diawali huruf kecil
– Tahun depan, saya naik haji.
– Ayahnya adalah seorang menteri.
c) Gelar diawali dengan huruf besar ketika merujuk pada sosok tertentu yang telah diketahui pembicara
– Saya ingin bertemu dengan Sultan.
– Hamba ingin menghadap kepada Yang Mulia.
(d) Gelar jabatan diawali dengan huruf besar ketika diikuti nama orang
Presiden Soekarno
Menteri Adam Malik
Gubernur Soekarso
Letjen. Andi Irawan
(e) meng-Indonesia-kan atau mengindonesiakan?
Bagaimana dengan penulisan “Indonesia” yang diberi imbuhan me-kan atau di-kan? Jawabnya dikecilkan
–> diindonesiakan, mengindonesiakan
Sama halnya:
Jangan jadi orang yang keinggris-inggrisan.
Mengindonesiakan istilah asing.
Sikapnya sangat kejawa-jawaan.
(f) Kata-kata penunjuk hubungan kekerabatan (bapak, ibu, saudara, paman, dsb) diawali dengan huruf kapital jika sebagai sapaan atau kata ganti.
“Besok Paman akan datang.”
“Ini punya siapa, Bu?”
“Surat Saudara sudah saya terima.”
“Ayo makan, Abang.”

Tetapi:
Kita harus menghormati ibu dan ayah kita.
Semua saudara saya sudah berkeluarga.
Saya punya dua bibi dan satu paman.
Untuk lebih jelasnya tentang penggunaan huruf kapital ini bisa kalian baca sendiri di buku EYD ya. Cari di toko buku banyak. Wajib punya. Sudah seharusnya seorang penulis memiliki satu buku EYD, atau setidaknya pernah membacanya. Harganya juga murah, kok, tapi bermanfaat sekali. Oh, iya, saat hendak membeli buku EYD, pastikan kamu membeli buku EYD yang disusun berdasarkan revisi tahun 2009. EYD revisi 2009 adalah revisi terakhir Ejaan yang Disempurnakan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no. 46 tahun 2009.
Melalui tulisan-tulisannya, J.S. Badudu berupaya mengembalikan kembali masyarakat

kepada bahasa Indonesia yang benar sesuai pedoman EYD. Apa yang ditulis beliau, sejatinya banyak yang sudah diulas di EYD. Beliau tak lelah mengingatkan kita agar tidak merusak bahasa tercinta. Sebagai penutup #RabuEditing hari ini, mari bersama-sama mendoakan J.S Badudu, mari kenang beliau sebagai sosok pahlawan penjaga bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang kita cintai ini, yang disusun dan diperjuangkan dengan jiwa dan raga oleh para pendiri bangsa, marilah kita jaga. Karena berbahasa Indonesia secara baik dan benar adalah bukti paling nyata dari rasa cinta kita kepada bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sekian #RabuEditing hari ini. Semoga bermanfaat. Jangan lupa, baca dan beli buku EYD ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *