Ken Hanggara: Seorang Penulis Dituntut selalu Kreatif dalam Membuka Cerita

Ken Hanggara; Seorang Penulis Dituntut selalu Kreatif dalam Membuka Cerita
Ken Hanggara. Sumber gambar: Facebook Ken Hanggara

Kemarin, Mimin sudah bagikan sedikit materi yang disampaikan Kak Asef Saiful Anwar di #FestivalSastraBasabasi (22/4). Sesi pertama #FestivalSastraBasabasi (22/4) juga dimeriahkan oleh cerpenis muda Ken Hanggara. Sudah pada kenal kan pastinya. Nah, Ken Hanggara ini juga baru saja meluncurkan karya kumcer terbarunya di Penerbit Basabasi: Babi-Babi Tak Bisa Memanjat. Walau masih muda, produktivitasnya dalam menulis tidak perlu dipertanyakan.

Apa yang hebat dari anak muda ini? Jawabannya adalah produktivitasnya. Produktivitas Ken dalam menulis sungguh luar biasa. Hampir setiap pekan kita bisa membaca cerpennya yang dimuat di salah satu surat kabar. Cerpen-cerpen seperti bertumbuhan dari dalam kepalanya. Nah, di #FestivalSastraBasabasi kemarin, Ken banyak berbagi banyak hal terkait pengalamannya sebelum menulis dan bagaimana dia menulis. Ken juga berbagi sedikit rahasianya supaya bisa produktif dalam menulis cerpen. Penasaran pastinya?

Ken mengenal cerpen untuk kali pertama saat masih TK. Waktu itu, tanpa sengaja dia melihat kliping cerpen milik kakak sepupunya. Cerpen pertama yang paling berkesan adalah sebuah cerpen berjudul ‘SKETSA’ karya seorang penulis Malang. Kesukaannya pada cerpen juga muncul karena orang tuanya sering membelikannya majalah BOBO. Saat masih SD, Ken paling suka membaca rubrik cerpen di majalah tersebut. Dari situ, mulai timbul keinginan dalam diri Ken kecil untuk juga bisa menulis cerpen dan menerbitkannya. Memasuki SMP dan SMA, desakan untuk menulis itu sempat menghilang karena Ken remaja disibukkan dengan game dan main band.

Selulus SMA,, perhatian Ken tersita ke dunia kerja. Dunia hiburan Ibukota menjadi pilihannya untuk mengais rezeki. Saat bekerja inilah Ken mulai merasakan adanya semacam kekosongan dalam hatinya. Riuh ramai di luar, tetapi sepi di dalam. Sampai akhirnya, sehabis shalat Subuh, Ken mengaku mendengar ada suara: “Cobalah menulis.” Siapa sangka, menulis adalah jawaban atas kegelisahan Ken selama ini. Dengan menulis, Ken merasa telah menemukan obat atas kekosongan itu.

Lewat menulis juga, Ken mengaku menemukan penyaluran dari segala keluh kesah dan masalah yang menerpanya saat di ibukota. Keinginan untuk menulis ini begitu kuat, hingga mendorong Ken rajin menyambangi warnet untuk mencari segala info tentang menulis. Dari hasil rajin googling tentang dunia menulis dan penerbitan inilah, Ken mulai memantapkan karier menulisnya. Karena belum punya komputer atau laptop, Ken mengetik naskah cerpennya di warnet atau di rental komputer. Seorang penulis itu akan selalu cari cara buat menulis, nggak kayak kamu… eh kita yang malas menulis hanya karena ngga punya laptop.

“Target saya, minimal menulis satu cerpen setiap harinya,” kata Ken Hanggara. Rata-rata, satu cerpennya diselesaikan dalam satu kali duduk. “Rata-rata saya membutuhkan waktu 3 jam untuk menulis satu cerpen,” jelasnya. Pernah loh Ken ini sampai lupa makan dan mandi saking asyiknya. “Esoknya, saya lanjutkan menulis lagi satu cerpen dalam sekali duduk. Saya ingin menyelesaikan kumpulan cerpen saya sebelum hari ultah saya. Waktu itu, jadilah total 19 cerpen dalam 14 hari. Ternyata, saya bisa melakukannya. Dari sini saya semakin termotivasi menulis.”

Jadi, inilah rahasia produktivitas seorang Ken Hanggara dalam menulis cerpen: menulis cerpen setiap hari. “Kalau sudah biasa menulis, lalu nggak menulis lama, maka pas mau nulis lagi itu rasanya nggak enak. Saya nggak ingin seperti itu,” kata Ken. “Saya takut kehilangan rasa ingin menulis itu sehingga saya bertekad untuk harus menyelesaikan satu cerpen dalam sehari,” lanjut Ken. “Saat mau menulis cerpen, ya saya langsung menulis saja dan jangan banyak pertimbangan,” jawab Ken. Saking bersemangatnya menulis, Ken ini merasa nggak enak badan kalau dalam sehari saja dia nggak menulis cerpen. Luar biasa!

Bagaimana pendapat Ken tentang pentingnya eksplorasi gaya dalam menulis? Ken menjawab bahwa eksplorasi gaya menulis itu sangat penting. “Prosa itu ibarat masakan. Ketika disajikan serupa terus-menerus maka orang akan bosan. Jadi eksplorasi dalam menulis itu sangat penting,” Ken sendiri mengaku telah berganti gaya menulis sampai tiga kali. Tahun 2013 cerpennya puitis, tahun 2014 setengah puitis setengah gamblang. Tahun 2015, Ken mulai membaca banyak buku terjemahan. Dari sini, dia mendapatkan referensi tentang berbagai gaya menulis yang makin luas. “Seiring dengan semakin banyaknya bacaan yang saya baca dan orang yang saya temui, maka bertambah pula pengetahuan menulis saya,” akunya. “Dari banyak membaca cerpen-cerpen terjemahan, saya juga belajar misalnya cara membuka cerita dengan cara yang baru,” lanjut Ken.

Eksplorasi gaya menulis ini penting bagi Ken agar pembaca tidak bosan membaca karyanya.Menurut Ken, seorang penulis untuk dituntut selalu kreatif dalam membuka cerita serta untuk menulis dengan gaya yang berbeda. Ada semacam dorongan dari dalam untuk selalu menulis sesuatu yang baru dan menarik. Ini yang mendorong Ken untuk selalu kreatif. Saran Ken untuk penulis yang ingin eksplorasi gaya: perbanyak referensi bacaan. Selain itu, olah ide-ide dari hal-hal yg biasa kita lihat.

Bagaimana seorang Ken Hanggara mengatasi kejenuhan dalam menulis? “Kalau jenuh, saya main game atau naik motor muter-muter ke luar kota.” Herannya lagi, Ken ini tidak pernah merasa bosan untuk menulis. Ken mengakui, sebelum kenal menulis, hidupnya terasa datar. Menulis telah mempertemukannya dengan orang-orang luar biasa dan rezeki tak terduga.”Saya diselamatkan oleh menulis. Kenapa harus berhenti menulis?” kata Ken. Begitulah seorang penulis, dia sibuk menulis, bukannya sibuk cari alasan untuk menulis.

Sebagaimana para penulis keren lain, Ken juga pernah mengalami yang namanya penolakan. Ehem … penolakan naskah loh maksudnya. Ken sudah mengalami penolakan sebanyak 100 kali sebelum akhirnya cerpennya dimuat di Harian Kompas. Tuh, DIVAmate, 100 kali penolakan loh! Ken juga sudah kirim sampai 80 kali sebelum akhirnya cerpennya dimuat di Basabasidotco berjudul “Dakir“. LUAR BIASA perjuangannya! Sementara untuk koran lokal, rata-rata Ken mengalami 20 kali penolakan sebelum cerpennya dimuat. Penulis sejati nggak takut dengan penolakan.

Selanjutnya, Ken berbagi tips agar naskah cerpennya diterima redaksi. Apa saja tipsnya ya?
(1) Mengikuti kriteria yang ditentukan panitia atau redaksi. Jika diminta 20 halaman, ya tulis 20 halaman. Jika genre horor ya tulis horor.
(2) Tetap menunjukkan keunikan diri dalam karya. Pertahankan ciri khas dan gaya menulis asli si penulis. Ini yg bikin karya kita beda.
Tentunya, banyak-banyak membaca dan terus tekun menulis, tidak takut pada penolakan; inilah kunci produktivitas dalam menulis cerpen.

Semoga bermanfaat.