Kata-Kata dan Kekuatan yang Terkandung di Dalamnya

Kata-Kata dan Kekuatan yang Terkandung di Dalamnya

“Kata-kata sangat perkasa. Berhati-hatilah dalam menggunakannya.” (Vashti Quiroz-Vega)

Penulis adalah seniman kata-kata. Jika diibaratkan melukis, mereka melukis dengan tulisan, menggunakan warna-warni dalam kata-kata. Penulis merangkai kata-kata biasa dengan cara yang tidak biasa sehingga terciptalah rangkaian tulisan nan istimewa. Karena selalu bersinggungan dengan kata-kata (baik saat menulis atau membaca), seorang penulis harusnya tahu benar kata-kata yang dipilihnya. Ada penulis yang gemar sekali dengan kata-kata kelas tinggi, sementara yang lain memilih untuk tetap bersahaja dengan kata-kata. Sudah tepatkah demikian? Salahkah bila penulis selalu menggunakan kata yang wah dan berbunga-bunga? Selalu tepatkan jika penulis memilih bersederhana dalam memilih kata? Tidak setiap penulis mampu menempatkan diri secara tepat dalam memilih kata-kata dalam tulisannya.

“Tetapi kata-kata adalah yang paling perkasa di antara segalanya.” (Jennifer Donnelly)

Proses pemilihan kata ini biasanya dilakukan saat penulis sedang larut dalam proses kreatif yang kedua, yakni selfedit alias swasunting, sambil melakukan perbaikan-perbaikan lainnya. Pemilihan kata yang tepat akan menghasilkan efek yang maksimal kepada pembaca. Memilih kata yang tepat ibarat memilih jodoh yang cocok karena itu pilih dengan baik-baik. Kata-kata yang tinggi dan wah akan sia-sia jika sasaran pembacanya adalah kaum awam. Sebaliknya, kata-kata sederhana tidak selamanya cocok untuk semua golongan pembaca dan jenis naskah. Dalam #RabuEditing hari ini, kita akan sama-sama belajar tentang tips memaksimalkan kekuatan kata-kata dalam kalimat.
“Kau tak bisa memukul paku dengan kata-kata … .”
“Memang tidak, tapi kau bisa menyulut perang lewat kata-kata.” (Ben Galley)
Kata-kata memiliki kekuatan yang hebat, andai saja kita mampu dan mau menggunakannya dengan tepat dalam tulisan. Dalam sejarah dunia, tidak terhitung banyaknya peristiwa besar dan bersejarah terjadi akibat kata-kata yang dituliskan dalam buku-buku. Dan, ungkapan bahwa kata-kata lebih tajam daripada pedang mungkin memang ada benarnya. Lalu, bagaimana menggunakan kata-kata dengan tepat dan memaksimalkan kekuatannya, mari kita bahas bersama.

“Tidak mungkin kita bisa mengetahui banyak hal jika kita masih meremehkan kekuatan dari kata-kata.” (Confucius)

(1) Hindari Berboros-Boros Kata dalam Menulis
Setiap kata memiliki kekuatannya sendiri, maka temukan dan manfaatkan dengan optimal. Jika dengan satu kata bisa menyampaikan maksud kita, kenapa harus berpanjang-panjang? Ingat, berlebih-lebihan itu tidak baik, Qaqa. Dengan kalimat yang lebih pendek, kita bisa memunculkan efek yang serupa dari kalimat yang panjang-panjang. Pembaca (juga editor) juga akan cepat bosan membaca kalimat-kalimat panjang yang sebenarnya bisa disederhanakan.
Boros: Suzy punya uang banyak, cantik wajahnya, dan pandai di sekolah.
Hemat: Suzy itu kaya, cantik, dan pandai.
Boros: Bahwasanya saya datang ke kantor itu dengan maksud hendak menghadap kepada yang mulia Bapak Pimpinan yang uangnya banyak itu.
Hemat: Saya datang ke kantor itu untuk menemui bosnya yang kaya raya itu.
Boros: Telah terjadi lagi pencurian kayu di hutan. Saya sangat yakin sekali.
Hemat: Terjadi lagi pencurian kayu di hutan. Saya yakin sekali.
(2) Kurangi Menggunakan Kata-Kata yang Sudah ‘Usang’
Karena sekarang zamannya sudah kekinian, sebisa mungkin gunakan versi masa kini dalam menulis. Kata-kata yang usang dan kuno mungkin terdengar antik, namun penggunaannya secara tidak tepat dalam tulisan dapat mengganggu pembacaan. Kata-kata usang mungkin terdengar unik dalam tulisan-tulisan sastrawi, tapi tidak selalu yang antik itu cocok untuk semua jenis tulisan. Coba bayangkan jika kalimat ini muncul di buku anak-anak. Pak Guru berkata, “Gedung itu adalah hotel prodeo untuk memenjarakan orang-orang jahat.”
Usang: Ayo berteduh sebentar ke dangau itu.
Kekinian: Ayo berteduh sebentar ke gubuk itu.
Usang: Timun Emas berlari kencang karena dikejar gergasi jahat.
Kekinian: Timun Emas berlari kencang karena dikejar raksasa jahat.
Usang: Pemerintah melalui Dinas Sosial berupaya mendidik para WTS.
Normal: Pemerintah melalui Dinas Sosial berupaya mendidik para PSK.
Contoh kata usang yang lain: terompah, perigi, pinggan, gergasi, gada, biduk, pelanduk, hotel prodeo, penyamun, steno, ladam, belanga, penatu.
Tapi, bukan berarti kata-kata usang ini harus kita punahkan. Kata-kata usang adalah bukti kekayaan kosakata bahasa kita, yang seharusnya kita jaga untuk mmperkaya kosakata bahasa Indonesia. Penggunaannyalah yang harus kita perhatikan. Gunakan kata-kata usang jika memang konteks naskahnya menghendaki demikian. Kata-kata usang ini akan terdengar sangat indah lagi antik dalam tulisan-tulisan susastra atau tulisan dengan nada ‘tempo dulu.’

“Kata-kata adalah kehidupan itu sendiri. Kita adalah apa yang kita katakan. Maka, perhatikan benar kata-katamu.” (Lailah Gifty Akita)

(3) Gunakan Kata-Kata yang Denotatif
Lebih baik menggunakan kata-kata yang maknanya jelas (tidak mendua kayak hati kamu), dan tidak menimbulkan salah penafsiran. Menggunakan kata-kata atau kalimat yang definitif dalam tulisan akan membuat pembaca lebih bisa membayangkan apa-apa yang sedang dibacanya. Misal di kalimat, “Di Pulau Jawa dan Pulau Bali sendiri tercatat ada banyak sekali jenis kupu-kupu.” Banyak itu berapa? Lebih baik diganti dengan kata-kata yang lebih ‘menggambarkan’ semisal “Di Pulau Jawa dan Pulau Bali sendiri tercatat ada lebih dari 600 jenis kupu-kupu.”
Kurang nampol: Sepedanya antik. <– kata antik di sini kurang bisa dibayangkan.
Lebih asyik: Sepedanya memiliki rangka yang terbuat dari bambu.
Contoh lain, “Ani adalah cewek yang unik.” Uniknya kenapa? Coba tulis dengan lebih definitif, misalnya ‘Ani suka memakai baju terbalik’ atau ‘Ani hobi mengumpulkan plastik bening’.

“Ada musik dalam kata-kata, dan kita dapat mendengarkannya dengan pikiran kita.” (E.L. Doctorow)

 

(4) Utamakan Kata-Kata yang Santun, yang Tidak Menyinggung SARA

Perhatikan kata-kata yang kau gunakan dalam menulis. Membebaskan kreativitas adalah sebuah keniscayaan dalam menulis. Pengarang sejati harusnya bebas mencipta kata-kata sesuai maksudnya. Dalam menulis, memang tidak ada larangan untuk menggunakan kata-kata yang vulgar kalau memang konteksnya menuntut demikian. Namun, ada perbedaan antara vulgar dan porno, antara bebas dan rasis. Penulis yang baik akan selalu tahu perbedaan di antara keduanya. Lebih kerennya lagi, jika penulis mampu mengolah kata-kata yang awalnya terlalu vulgar menjadi lebih halus tanpa kehilangan makna awalnya. Tulisan Naning Pranoto dalam bukunya “Creative Writing, 72 Jurus Seni Mengarang” berikut mungkin bisa jadi contoh yang tepat.
(a) Perempuan cantik itu ternyata seorang pelacur”
dihaluskan menjadi
(b) Perempuan cantik itu ternyata milik semua lelaki.”
Perhatikan, tanpa kehilangan makna aslinya, penulis mampu memindahkan nada kasar dari kata “pelacur” ke “wanita milik semua lelaki.” Jika ‘pelacur’ memiliki nada yang kurang enak di telinga, maka frasa ‘wanita milik semua lelaki’ terdengar lebih ramah walau intinya sama. Selain lebih ramah, penghalusan kata ini juga membuat kalimatnya lebih enak di telinga. Ini jika kasusnya kita menulis untuk beragam pembaca. Karena, menulis untuk beragam pembaca tentunya mensyaratkan penggunaan kata dan kalimat yang relatif bisa diterima semua kalangan pembaca. Kasusnya akan berbeda untuk penulis sastra yang mungkin ‘sengaja’ menggunakan kata-kata vulgar dan kotor untuk menegaskan efek ceritanya. Maka, hal licencia poetika mengijinkannya berlaku demikian. Tapi, untuk penulis pemula atau naskah nonfiksi, lebih baik kita hindari dulu menulis dengan kata-kata serba vulgar demikian.

 

(5) Pilih Kata-Kata yang Biasa, Kemudian Tuliskan secara Istimewa

Kadang, kata-kata yang paling perkasa adalah kata-kata yg sederhana. Bagi penulis pemula, lebih baik menggunakan kata-kata biasa yang dirangkai secara istimewa ketimbang kata-kata tinggi tapi kosong makna. Tidak perlu menggunakan kata-kata tinggi untuk menunjukkan tingginya ilmu kita. Orang berilmu tinggi biasanya malah sederhana dalam berkata. Orang bijak tahu bahwa kadang yang sederhana adalah yang paling banyak diterima. Sederhana itu–dengan demikian–adalah perkasa. Kita bahkan bisa menggunakan kata-kata biasa dan sederhana untuk menggambarkan sesuatu yang indah luar biasa asal pandai merangkainya.
“Tapi hati mirip lemari es, mengawetkan banyak struktur. Penyimpan kenangan yang kadang menyedihkan.” (hlm. 155)
Perhatikan kutipan dari buku karya Eko Triyono tadi. Kata-kata penyusunnya mungkin biasa saja, tapi dirangkai dengan sangat istimewa.
“Ah, kompor adalah benda yang tenang, mengeluarkan api tapi tak membakar dirinya sendiri, melawan filosofi lilin, romantis sekali.”
Contoh kedua diambil dari kumcer karya Sungging Raga ‘Reruntuhan Musim Dingin.’ Perhatikan keindahan dalam kesederhanaan kata-kata penyusunnya. Demikian, kadang yang sederhana justru malah yang teristimewa. Cara merangkai kata-kata itu jauh lebih penting ketimbang ragam kata-katanya. Demikian #RabuEditing hari ini, tentang mengoptimalkan kekuatan kata-kata. Pilihan kata yang tepat akan memunculkan pengaruh yang dahsyat.
“Kata-kata (tulisan) berusia lebih panjang daripada manusia.” (Mary E. Pearson)
Karena itu, menulislah … .

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.