Joko Pinurbo: Membaca Dulu, Barulah Mulai Menulis

Joko Pinurbo; Membaca Dulu, Barulah Mulai Menulis
Joko Pinurbo. Sumber gambar: idntimes

Halo, DIVAmate. Sebagai buntut kehebohan Gebyar Festival Basabasi tanggal 6 – 7 Oktober 2017 kemarin, mulai hari ini MinCob bakal memposting materi dari para pembicara. Dimulai dari Joko Pinurbo, lalu berlanjut ke Usman Arrumy, Sapardi Djoko Damono, Faisal Oddang, dan diakhiri oleh Gunawan Tri Atmodjo. Semoga, DIVAmate yang belum bisa hadir bisa ikut belajar dari para sastrawan kebanggaan pembaca zaman now ini.

Joko Pinurbo membuka #FestivalBasabasi dengan menjawab alasan mengapa beliau menulis “Saya menulis pertama-tama karena saya suka menulis. Yang kedua, saya menulis karena saya membaca,” Menurut beliau, kegiatan membaca dan menulis itu seperti pisau bermata ganda. “Seorang penulis tidak bisa menulis kalau tidak membaca,” lanjut Jokpin. Selain pentingnya membaca, Jokpin juga menyoroti tentang pentingnya pembaca. “Penulis tanpa pembaca akan kesepian,” ujar beliau. Menurut Jokpin, selain penulis yang cerdas, kita juga membutuhkan pembaca-pembaca yang cerdas. Dengan membaca cerdas, jadilah penulis kece.

“Saya membaca dulu baru kemudian saya jadi bisa menulis.” (Joko Pinurbo)

Sebagai pembaca, Jokpin tidak main-main. Beliau membuktikan kecintaannya kepada sastra dibuktikan tidak cukup hanya dengan membacanya saja. “Kecintaan saya kepada sastra dibuktikan dengan tidak hanya membacanya, tetapi juga membeli dan memiliki bukunya,” ungkapnya Sebagai pembaca, kita harus mendukung para penulis kesayangan dengan membeli buku-buku mereka. Sehingga, penyulis bisa terus berkarya. “Penghargaan tertinggi pembaca kepada pengarang adalah dengan membeli bukunya,” begitu tambahnya. Menurut Jokpin lagi, seorang pecinta sastra bukan hanya tahan membaca buku selama berjam-jam, tetapi juga mau membeli buku.

“Pecinta sastra sejati tidak hanya tahan baca berjam-jam tetapi juga bisa mengatur keuangan sehingga tetap bisa membeli buku secara rutin.” (Joko Pinurbo)

Gimana pendapat Jokpin tentang naskah yang ditolak? Seperti nembak yang ditolak, pokoknya jalan terus. Ditolak satu, tembak lagi dua kali. Jokpin mengirimkan kumpulan puisi ‘Celana’ sampai TIGA kali dan naskah itu ditolak tiga kali juga sebelum akhirnya diterbitkan. Lihatlah kawan, penyair hebat juga pernah mengalami naskahnya ditolak. Tetapi Jokpin tidak menyerah dan hasilnya adalah Joko Pinnurbo yang seperti sekarang. Bagaimana dengan fenomena sastra media sosial yang akhir-akhir ini sedang populer? Penulis dan sastrawan harus bisa memanfaatkan media sosial untuk mengajarkan dan mempromosikan sastra, kata beliau.

Mengapa sastra perlu disebarluaskan? Menurut Jokpin, sastra memiliki kekuatan besar untuk memperhalus karakter pembacanya. Dengan membaca sastra, hidup jadi tidak kaku, pikiran terbuka luas, pandangan makin terang, diri menjadi semakin manusiawi. Jokpin mencontohkan, betapa sastra bisa menembus sekat2 tebal semacam perbedaan keyakinan lewat sosok Chairil Anwar dan Sitor Situmorang. Chairil Anwar adalah seorang muslim yang menulis puisi tentang Isa, yang konon puisi ini kemudian digubah menjadi kidung di gereja. Kemudian, ada Sitor Situmorang yang puisi ‘Lebaran’-nya begitu mengena dan sangat membekas di hati para pembaca Muslim. Dari sosok Chairil Anwar dan Sitor Situmorang, kita mengetahui bahwa para sastrawan kita adalah orang-orang yang bacaannya luas.Para sastrawan besar kita juga adalah orang-orang yg toleran. Mereka tahu banyak ttg keyakinan orang lain dan tak memaksakan keyakinannya sendiri. Tidak ada radikalisme dalam karya-karya sastrawan besar kita. Mereka memiliki keterampilan untuk menulis tema2 sensitif secara cantik. Gimana caranya supaya bisa gini? Jawab Jokpin, perbanyaklah membaca maka akan terbukalah pikiran dan meluaslah pandangan.

“Saya tidak bisa menulis puisi dengan baik ketika marah.” (Joko Pinurbo)

Terkait dengan standarisasi sastrawan, Jokpin sepakat dengan para pembicara lain bahwa tidak ada namanya standarisasi yang begituan. Pokoknya nulis ya nulis saja. Kata Jokpin, kalian menulis sajalah dengan sebaik-baiknya lalu terbitkan naskah kalian. Nanti lama-lama ada kok yang nyebut kalian sastrawan. Sedikit flashback, Jokpin bercerita beliau pertama kali menulis puisi saat berusia 15 tahun. Teman-temannya kemudian menyebutnya penyair. “Karena sudah telanjur disebut penyair, ya sudah saya teruskan saja (menulis puisi).” sambung Jokpin. Menutup materinya, Jokpin, “Belajar itu tidak mengenal usia. Dulu, saya belajar dari para penyair senior. Sekarang saya belajar dr para penyair muda.” Nah, DIVAmate. Bahkan penyair yang ‘jadi’ macam Jokpin saja terus belajar dan membaca; masak kita yg masih kecambah mi ayam Bangka ini santai-santai aja?

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.