Gunawan Tri Atmodjo: Menulislah tanpa Tekanan

“Orang yang menulis tanpa pernah membaca adalah omong kosong.” (Gunawan Tri Atmodjo)

Gunawan Tri Atmodjo: Menulislah tanpa TekananSetelah kemarin Faisal Oddang, hari ini Mimin mau lanjutin kultweet materi #FestivalBasabasi. Kali ini, materi dari Mas Gunawan Tri Atmodjo. Mas Gunawan mengisi hari kedua #FestivalBasabasi (Minggu, 8/10/2017) untuk mengisi workshop cerpen kontemporer bersama Faisal Oddang. Mas Gunawan membuka materi dengan membantah kredo @rezanufa tentang ciri khas sastrawan. “Sastrawan tidak harus bangun siang.” bantahnya. Faktanya, banyak penulis besar dunia yang hidup teratur serta normal, dan mereka tetap bisa menghasilkan karya-karya sastra yang luar biasa. Jika ada kredo bahwa orang kreatif itu hidupnya berbeda dengan orang normal, jadi isi pikirannya juga berbeda; tidak semuanya seperti itu. “Saya juga rutin bangun pagi, saya juga berolahraga, kok,” demikian tambah Mas Gunawan. Lalu, kapan ya beliau nulis? Simak terus ya.

“Menulis adalah proses yang membahagiakan, dan saya membiarkannya berjalan secara alami,” kata beliau tentang proses menulisnya. Mas Gunawan lebih suka menulis dengan tanpa tekanan, tanpa paksaan. Menulis baginya ya menulis aja, tidak aja keharusan tulisannya kudu bagus. “Ketika menulis bukan sebuah keharusan, saya justru bisa merasakan kebahagiaan saat menulis,” lanjutnya.Walau cerpennya sering dimuat di media massa, Mas Gunawan mengaku tidak menulis untuk dimuat, “Saya nulis ya nulis aja,” kekehnya. Bagi beliau, menulis haruslah menjadi aktivitas yang membahagiakan. Menulis seharusnya tidak menjadi sebuah tekanan. Menulis baginya adalah sebentuk reflek dari tubuhnya. Reflek itu muncul ketika beliau melapangkan jiwanya saat menulis. Jadi, ketika ditanya apa yang harus dilakukan saat menulis agar bisa menghasilkan tulisan yang bagus: “Berbahagialah saat menulis.”

“Menulis adalah dunia saya. Saya akan terus meningkatkan dunia saya ini, yakni dengan membaca,” (Gunawan Tri Atmodjo)

Bagaimana jika ada orang yang ingin jadi penulis tapi dia sendiri tidak suka membaca? Itu omong kosong, jawab beliau. “Ibarat makan, membaca adalah aktivitas makan itu sendiri sementara menulis adalah (maaf) beraknya,” terang beliau. Menulis juga bisa menjadi biografi kita sendiri loh, katanya, karena tulisan-tulisan kita melambangkan kondisi diri kita saat menulisnya. Dengan menulis, kata beliau, kita bisa mengetahui seberapa jauh perkembangan yang telah kita alami. Tulisan kita adalah biografi diri kita. Darimana penulis belajar menulis? Ya dari para penulis lainnya dan juga dari karya penulis lainnya. Demikian juga menurut Mas Gunawan.

“Saya membaca dan lalu belajar dari tulisan atau buku-buku yang saya baca.” (Gunawan Tri Atmodjo)

Membaca baginya adalah bentuk pencarian hiburan. Ketika beliau tidak bisa menemukan hiburan dari bacaan itu, beliau akan menulisnya sendiri. “Saya lalu akan menulis untuk membahagiakan diri sendiri,” lanjutnya. “Di antaranya, saya menulis status di facebook.” Rajin menulis status juga berfungsi sebagai tabungan ide tulisan yang sangat berguna baginya jika kelak ingin menulis sesuatu. Bagi Mas Gunawan, sebuah cerpen itu jelek ketika beliau tidak mendapatkan kepuasan setelah membacanya melebihi kepuasan membaca status FB. Kriteria cerpen bagus menurut beliau adalah cerpen yang terus menempel di benak setelah dibaca. Cerpen itu tidak hilang jauh setelah dibaca. “Cerpen yang bagus selalu menempel di benak saya, untuk kemudian saya ceritakan dan dongengkan kepada teman-teman saya,” lanjut beliau.

Lalu, apa rahasianya sehingga Mas Gunawan bisa memiliki imajinasi yang luar biasa unik seperti tergambar dalam kumcer Tuhan Tidak Makan Ikan. Terkait imajinasi, beliau menyarankan agar para calon penulis untuk melepaskan dan meliarkan imajinasinya. “Lepaskan saja, biarkan liar.” Saat menulis, menulis sajalah. Jangan membatasi diri, termasuk imajinasi. Nanti akan ada saatnya merevisi/mengedit tulisan, demikian. “Bagi saya, cerita ya cerita saja,” jawabnya menanggapi pertanyaan apa itu cerita kontemporer. Kontemporer atau tidak itu tergantung persepsi pembaca. “Testimoni paling sederhana dari pembaca adalah ketika dia merasa terhibur dengan karya saya,” tambahnya.

“Menulislah sebebas-bebasnya. Mengedit dengan seketat-ketatnya.” (Gunawan Tri Atmodjo)

Bagaimana dengan teknis menulis itu sendiri? Mas Gunawan membagi proses menulis menjadi 2 tahap, yakni (1) Tulis sampai selesai dan (2) Edit. Beliau menyarankan kita untuk menulis naskah cerpen atau novel dulu sampai selesai, baru setelah itu diedit. Jangan dicampur. Ketika kita mengedit sebuah tulisan sebelum tulisan itu rampung ditulis, maka tulisan itu akan meneror kita, demikian jelasnya. “Tulis dulu sampai selesai, baru setelah itu diedit dengan bantuan KBBI dan dibenahi struktur kalimatnya,” tambah beliau. Jangan lupa pula untuk mengendapkan tulisan kita setelah selesai. Jangan langsung diedit atau dikirimkan. Ini penting loh. “Saya mengendapkan cerpen saya paling tidak seminggu,” ujar Mas Gunawan. Mengendapkan tulisan sebelum diedit dan dikirimkan akan memungkinkan pikiran beristirahat dulu sebelum lanjut ke tahap berikut. Setelah diendapkan, pikiran akan lebih fresh dan jernih sehingga bisa diajak untuk mengedit tulisan sendiri secara lebih obyektif dan jujur. Masa pengendapan ini berbeda-beda untuk tiap penulis, tapi rata-rata lima hari – seminggu. Kalau lebih 5 bulan sih udah jadi endapan beneran itu.
Jadi, ini langkah menulis yang baik ala Mas Gunawan Tri Atmodjo

1. Tulis sampai selesai
2. Edit
3. Endapkan
4. Edit lagi
5. Kirimkan

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.