Tips Menemukan Gaya Menulis yang Khas

Tips Menemukan Gaya Menulis yang Khas
Tips Menemukan Gaya Menulis yang Khas. Sumber gambar: pixabay

Ada satu ciri khas yang mudah kita kenali dari sekian banyak penulis bestseller, baik penulis nasional maupun internasional: gaya menulis. Gaya menulis adalah sesuatu yang unik, yang menjadi milik satu penulis dan mungkin tidak oleh penulis lainnya. Gaya menulis ini merupakan salah satu wujud kreativitas seorang penulis, yang belum tentu dimiliki dalam bentuk yang sama oleh penulis lainnya. Memiliki gaya menulis yang tepat akan mengubah tulisan yang biasa-biasa saja menjadi istimewa, membuat tulisan ‘berbunyi’ secara khas.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan gaya menulis? Apakah gaya menulis itu bakat? Bagaimana cara mendapatkan gaya menulis yang kita banget? Gaya menulis ibarat ‘tanda tangan’, sesuatu dalam tulisan yang hanya milik kita, yang khas, yang berbeda dengan gaya tulisan orang lain. Siapakah dirimu saat menulis, itulah gaya menulismu: seorang pengkhotbah, tukang dongeng, guru, motivator, atau mungkin pencela dalam tulisan. Setiap penulis yang berhasil adalah penulis yg telah menemukan gaya menulisnya sendiri, kemudian dia konsisten dan konsekuen menggunakannya. Ketika seorang penulis telah menemukan gaya menulisnya yang khas milik dia, maka tulisannya pun juga akan jadi khas, otentik, unik.Bagaimana cara penulis pemula menemukan gaya menulis yang pas, yang khas, yang sesuai untuknya? Mari kita bahas di #SeninMenulis kali ini.

(1) Mencontek dari Penulis Lain

Ada ungkapan bahwa setiap penulis adalah ‘anak’ dari penulis-penulis sebelumnya. Banyak penulis yang terinspirasi atau terdorong untuk menulis setelah dia membaca karya-karya penulis lainnya. Begitulah, sebagaimana penulis yang bagus, tulisan yang bagus akan menginspirasi munculnya tulisan-tulisan bagus yang lain. Sebagai penulis pemula, banyak di antara kita yang belum menemukan gaya menulisnya. Maka, boleh-boleh saja kita mencontek dulu pada ahlinya. Tidak apa-apa berlatih menulis dengan meniru gaya penulis lain yg disukai. Meniru sering kali adalah proses belajar yg harus dialami penulis. Banyak penulis besar yang mengawali latihan penulisannya dengan meniru gaya menulis dari penulis lainnya. Ini fakta loh.

“Every great writer has imitated the great writers before him or her. To find your voice, you have to take on the voices of others.” (Joe Bunting)

Joe Bunting menyebut bahwa adalah sebuah fakta bahwa para penulis besar telah meniru penulis-penulis besar lain sebelum dirinya. Untuk menemukan gaya menulismu sendiri, kau harus mengambil gaya-gaya menulis dari para penulis lain. Dari meniru gaya-gaya para penulis besar itu, kau akhirnya akan bisa menemukan gaya menulis yang kamu banget, yang cocok buatmu, yang khas. Cormac McCarthy banyak mengambil gaya menulisnya dari penulis besar macam Herman Merville, Samuel Chamberlain, bahkan dari Alkitab. โ€œFaktanya adalah buku-buku tersusun atas buku-buku yang sudah ada sebelumnya,” lanjutnya. William Shakespeare konon juga meniru pujangga besar Yunani dan Romawi kuno, yakni Ovid dan Plautus, dalam sajak-sajaknya. Meniru gaya tulisan penulis lain itu tidak apa-apa, yg tidak boleh adalah mencuri karya tulis penulis lain lalu mengakuinya sebagai karyanya.

Fakta ini juga menunjukkan bahwa para penulis besar dunia awalnya belajar menulis dengan membaca buku-buku karya para penulis pujaannya. Ini membuktikan bahwa membaca adalah pelajaran menulis yang pertama, maka sungguh rugi calon penulis yang tidak mau membaca. Tetapi, meniru yang baik adalah meniru yang ATM, yakni Amati, Tiru, dan Modifikasi sehingga tidak sama persis, ada sedikit kita di dalamnya. “Banyak penulis yang meniru, meminjam, dan meniru gaya tulisan penulis lain; faktanya memang seperti itu,” kata Cormac McCarthy

“Hampir tidak ada karya agung yang sepenuhnya orisinal.” (Cormac McCarthy)

Meniru yang baik adalah meniru dan kemudian kita kembangkan, kita padukan, dan kita modifikasi sehingga hasilnya jadi “kita banget.” Bagaimana meniru yang baik? Ada beberapa tekniknya sebagaimana yang sering dilakukan para penulis hebat. Jika ingin meniru, jangan hanya meniru dari satu penulis. Tirulah beberapa penulis, kemudian padukan sehingga menjadi gayamu sendiri. Terilhami adalah bentuk elegan dari meniru penulis lain. Maka, menulislah dengan cara “terilhami oleh …” dan bukan “meniru dari ….”

โ€œMeniru dari satu penulis adalah tindakan plagiat; meniru dari dua penulis adalah bentuk riset,” (John Milton)

Diawali dengan meniru gaya menulis penulis lain, percayalah bahwa lama-kelamaan kau akan menemukan gaya menulismu sendiri. Awalnya meniru, kemudian dalam proses menulis itu akan kau temukan suaramu sendiri, gaya menulismu yang khas dan unik milikmu sendiri. Gaya menulismu yang khas itu seringkali merupakan perpaduan dari beragam gaya penulis yang kau tiru, kemudian menghasilkan sesuatu yang baru. Joe Bunting menyebut gaya menulis sebagai perpaduan gila dari semua bacaan yang pernah kita baca dengan sesuatu dari dalam dirimu sendiri. Karena sesuatu yang baru seringkali tidak muncul begitu saja, tetapi sebagai hasil perpaduan dan bercampurnya segala yang sudah ada sebelumnya.

(2) Tekun Menulis

Mereka yang tekun akan menerima balasan baiknya, cepat atau lambat, termasuk dalam menulis. Cara kedua untuk menemukan gaya menulis yang khas milikmu adalah dengan tekun menulis dan terus menulis. Aan Mansyur pernah berkata: “Teruslah menulis sampai gaya menulismu yang akan menemukanmu.” Ketekunan memang sesuatu yang sukar terkalahkan. Mereka yang tekun akan sampai pada cintanya eakk … juga pada gaya menulisnya. Menulis rutin, selain sebagai sebuah latihan yang sempurna, juga merupakan salah satu jalan paling pasti untuk menemukan gaya menulismu. Mereka yang rutin menulis akan menemukan dalam diri mereka sesuatu yang khas, yang muncul berkat konsistensi mereka dalam menulis. Latihan menulis adalah cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan dalam menulis, juga untuk menemukan gaya menulismu yang khas. Dengan rutin menulis, kau mendapat dua hal: tulisanmu semakin bagus dan gaya menulismu akan menemukanmu.

“Teruslah menulis sampai gaya menulismu yang akan menemukanmu.” (Aan Mansyur)

(3) Jadilah Dirimu Sendiri

Cara terbaik untuk mengenali diri kita sendiri adalah menjadi diri sendiri, begitu juga dalam menulis. Menulislah apa yang kau sukai, dengan gaya yang kau senangi; itulah gaya menulismu yang sejati. Kau hanya perlu menyempurnakannya saja. Kalau memang kau nyaman menulis dengan bahasa yang santai dan lucu, maka menulislah dengan cara itu. Itulah dirimu. Gaya menulismu adalah dirimu sendiri. Apa yang membuatmu nyaman melakukannya, senang menuliskannya. Jangan mudah ikut arus dengan gaya menulis yang bukan kamu hanya karena tulisan seperti itu sedang populer. Misal, kamu jago menulis esai serius tapi di pasaran sedang demam tulisan dengan gaya kocak, tak perlu kau ikut-ikut gaya yang bukan kamu. Belum tentu penulis bestseller yang bukunya kocak itu bisa menulis tulisan serius namun santai seperti yang kau tulis. Kamu adalah dirimu. Penulis kocak memang sudah menemukan gaya menulisnya yang kocak, tapi gaya menulismu yang sejati belum tentu kocak seperti dia. Temukanlah.

Setiap orang diciptakan berbeda-beda; begitu juga gaya menulis. Inilah yang membuat dunia (buku) menjadi lebih berwarna-warna. Bayangkan jika seisi toko buku adalah buku-buku humor semua; pasti malah nggak lucu. Atau, semua buku adalah novel semua, pasti bosan juga. Jadilah dirimu sendiri. Temukan gaya menulismu sendiri (lihat poin 1, kemudian sempurnakan dengan poin 2). Menulislah sebagai dirimu sendiri, jangan menulis sebagai orang lain. Menulis secara sewajarnya dirimu sendiri, tak perlu dilebih-lebihkan. Tak perlu menulis dengan gaya sok lebih pintar atau supaya lucu kalau memang itu bukan kamu. Menulis akan nyaman dan lebih mengalir ketika kita jadi diri sendiri. Lebih baik menulis dengan gaya yang mampu mencerminkan dan mengembangkan karakter kita ketimbang mengejar kemegahan tulisan yang bukan kita.

Tidak ada salah dan benar dalam memilih gaya menulis. Setiap penulis memiliki gaya menulis masing-masing yang mungkin berbeda dengan yang lain. Menulis dengan gaya yang bukan kita akan menjadikan tulisan terdengar tidak asli, sumbang, dan kurang maksimal dalam berbunyi. Dalam sebuah artikelnya, Jeff Groin menyebut beberapa latihan yang bisa kita coba untuk menemukan gaya menulis milik kita sendiri.

(a) Gambarkan dirimu secara jujur dalam tiga kata sifat, maka seperti itulah yg mendekati gaya menulismu. Misal: lucu, riang, santai.
(b) Bayangkan secara detail bagaimana sifat pembaca karya-karyamu, apa yang kita tulis biasanya terpengaruh oleh siapa yg akan membacanya.
(c) Pikirkan dengan baik 5 buku yang ingin kau baca saat ini juga. Apa yang kita baca seringkali mempengaruhi bagaimana kita menulis.
(d) Tanyalah kepada teman dekatmu: “Seperti apa gaya bicaraku? Bagaimana sifatku menurutnya?” Minta dia untuk jujur apa adanya. Seringkali, kita membutuhkan orang lain untuk bisa menilai diri kita sendiri secara lebih jujur. Dengan mengetahui dan mau jujur tentang bagaimana karakter asli kita, maka kita akan lebih mudah dalam menemukan gaya menulis kita.

Sekian #SeninMenulis hari ini, semoga bisa membantu kalian menemukan gaya menulis yang paling tepat. Karena kita adalah yang kita baca. Kita adalah bagaimana kita menulis.

“Menulis dengan gaya yang tepat akan membuat tulisan menjadi lebih bertenaga.” (David Wright)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.