From Nothing to be Something

oleh Ayun Qee*

Ide serupa benih yang kita semai di sebuah lahan bernama pikiran. Ketika ide kita tuangkan dalam tulisan, berarti benih itu telah tumbuh menjadi sebatang pohon. Saat karya kita diapresiasi oleh banyak orang, mendapat sambutan luar biasa dari pembaca, atau mampu menginspirasi orang lain, berarti sebatang pohon itu telah berbuah lebat. Dan, buah itu bisa dinikmati oleh banyak orang.

Semua berawal dari ide. Pun ketika aku menulis novel Hamdim Pistim Yandim yang alhamdulillah mendapat sambutan baik dari pembaca. Adalah Maulana Rumi, sosok inspiratif yang memunculkan ide menulis novel ini. Sebenarnya, sudah lama aku mengagumi Rumi dan menikmati puisi-puisinya. Namun, sebuah ide untuk menyampaikan pemikirannya dalam sebuah novel baru muncul setelah aku membaca buku Finding Rumi karya Najmar. Sebuah buku traveling yang sarat muatan spiritual.

Ide itu cukup lama mengendap di otakku, bahkan mungkin sekitar satu tahun. Tahun 2012, ide itu mulai kutuangkan dalam sebuah tulisan, tepatnya cerpen, yang kemudian kuikutkan dalam sebuah kompetisi menulis cerpen.

Namun, apa yang terjadi? Cerpenku masuk folder sampah alias kalah. Kecewa? Sedikit. Tapi itu dulu. Sekarang, aku justru sangat bersyukur karena cerpen itu kalah. Jika saat itu aku menang, pasti aku tidak akan menulis novel berjudul Hamdim Pistim Yandim ini.

Setahun kemudian, kubaca kembali cerpen itu. Kubuat sinopsisnya, lalu aku share ke Pak Edi Akhiles. Begitu Pak Edi meng-acc sinopsisku, mulailah aku menulis. Namun, sebelum menulis, tentu aku sudah menyiapkan data dan referensi tentang Turki yang menjadi setting utama novel ini.

Butuh waktu dua bulan untuk menyelesaikannya. Dua bulan yang rasanya menguras energi, tapi juga menyenangkan. Aku dituntut untuk menjiwai tulisanku agar benar-benar “hidup”. Hingga pada akhir Agustus 2013, novel ini selesai ditulis. Desember 2013, Hamdim Pistim Yandim sudah menjelma buku dengan cover cantik dan siap diedarkan ke seluruh Indonesia.

Dan, semua berjalan sebagaimana novel-novel pada umumnya. Bahkan, sebenarnya Hamdim Pistim Yandim bukanlah novel yang bisa dibilang best seller. Penjualannya biasa saja. Tapi, yang membuatku bersemangat untuk terus menulis, salah satunya adalah sambutan para pembaca yang sudah mengapresiasi karya ini, baik lewat review di blog, Goodreads, atau sekadar mention di Twitter.

ayun

Hingga suatu ketika, Mbak Rina—redpel fiksi—memberi tahu bahwa novel Hamdim Pistim Yandim akan disusulkan dalam kompetisi yang diadakan oleh Balai Bahasa DIY untuk meraih Penghargaan Bahasa dan Sastra 2014. Saat itu, kami memang baru tahu bahwa tahun ini Balai Bahasa menambahkan kategori novel remaja untuk Penghargaan Bahasa dan Sastra.

Aku tak tahu pasti berapa lama proses penjurian kompetisi itu, namun tepat tanggal 13 Oktober, Mbak Rina mengejutkanku saat baru masuk kantor.

“Ada kabar buruk!!!” katanya pagi itu.

“Ada apa???” tanyaku spontan, sedikit cepat.

“Jangan kaget, ya…,” Mbak Rina menggantung kata-katanya, “novelmu masuk nominasi Balai Bahasa.”

“Hah?! Serius?!!” pekikku tak percaya.

Sejak dulu aku memang punya mimpi untuk jadi penulis hebat. Tapi untuk novel pertama ini, aku belum berani berharap lebih bahwa novelku akan meraih penghargaan. Ketika novelku bisa terbit dan mendapat sambutan baik dari pembaca, itu sudah cukup membuatku bahagia. Namun ternyata, Tuhan memberiku lebih dari itu.

Rabu, 22 Oktober 2014, adalah salah satu unforgettable moment dalam hidupku. Rasanya seolah aku bisa mendengar detak jantungku sendiri saat detik-detik pengumuman pemenang. Bukan hanya aku yang deg-degan, tapi juga teman-teman di meja belakangku. Bahkan, Mbak Rina sempat BBM dan Mbak Ita update PM bahwa deg-degannya melebihi yang ia rasakan waktu akan main teater.

Akhirnya, perasaan yang campur aduk tak keruan itu berakhir dengan kelegaan luar biasa saat kulihat cover novelku terpampang di layar sebagai juara, mengungguli dua nominator lainnya, yaitu Sheva (Penerbit Leutika Prio) karya Zizousari dan Seribu Kerinduan (Penerbit Stiletto) karya Mbak Herlina P. Dewi, chief editor Penerbit Stiletto. Alhamdulillah….

Rasanya seperti mimpi. Ah, bukan! Bahkan aku tak pernah memimpikan kemenangan ini sebelumnya. Ini benar-benar nyata. Masih dengan perasaan antara percaya dan tidak, aku melangkah, menaiki panggung untuk menerima hadiah.

“Selamat, ya, tetap berkarya dan lebih baik lagi,” kata Kepala Balai Bahasa saat menyerahkan trofi kepadaku.

Aku tersenyum dengan perasaan yang entah. Tuhan, terima kasih, gumamku dalam hati, berkali-kali.

Tuhan selalu punya rencana indah di balik sesuatu yang kadang menurut kita tidak indah. Dulu cerpenku kalah, kini Tuhan menggantinya dengan kemenangan yang jauh lebih besar. Tuhan tak pernah terlambat. Dia paling tahu saat yang tepat. Dulu, waktu masih kuliah, naskahku juga pernah ditolak oleh penerbit. Bahkan, seorang dosen sempat melarangku menulis. Menurutnya, menulis itu hanya buang-buang waktu.

“Menulis itu memang penting, tapi kamu harus prioritaskan yang lebih penting, misalnya belajar bahasa Arab atau Inggris,” kata dosenku beberapa tahun lalu.

Waktu itu memang belum ada satu pun tulisanku yang dimuat di media, kecuali buletin kampus. Sampai saat ini, aku masih sangat ingat kata-kata dosenku, yang membandingkan aku dengan Gus Mus (KH. Musthofa Bisri).

“Kalau Gus Mus, mau nulis apa pun pasti ada yang mau baca. Kalau kamu? Sebagus apa pun tulisanmu, siapa yang mau baca?”

Rasanya seperti patah hati waktu kudengar dosenku berkata seperti itu. Apalagi aku masih berstatus mahasiswa (agak) baru. Untung aku tidak menyerah atau putus asa. Justru semakin bertekad untuk membuktikan kepada beliau bahwa tulisanku layak dibaca banyak orang, meski aku tak sehebat Gus Mus.

Kini, enam tahun berlalu setelah dosenku berkata seperti itu. Tentu enam tahun ini bukanlah tahun-tahun yang berlalu tanpa jatuh bangun dalam berkarya. Ada penolakan, kritikan, kekalahan, bahkan cibiran. Namun, aku berusaha mengalahkan kekalahan-kekalahan itu. Karyaku boleh saja kalah dalam suatu kompetisi. Tapi jiwaku tak boleh dikalahkan oleh kekalahan itu, karena jiwaku adalah jiwa pemenang. Dan, hanya jiwa pemenanglah yang layak meraih kemenangan.

Yogyakarta, 26 Oktober 2014

NB: *penulis novel Hamdim Pistim Yandim, sekaligus editor Penerbit DIVA Press dan mentor #KampusFiksi

** Tulisan ini dicuplik tanpa perubahan apapun dari http://kampusfiksi.com/from-nothing-to-be-something.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *