Frida Kurniawati; Saya Mendedikasikan Waktu untuk Membaca

Kali ini, Tim Redaksi berkesempatan mewawancarai Frida Kurniawati, salah satu dari anggota Resensor Teenlit yang selama ini telah membedah novel-novel baru terbit sebelum dilepas ke pasaran. Hasil resensinya dapat dilihat di sini.

Sekarang, yuk kenalan sama mahasiswa Teknik Fisika UGM yang satu ini. Tim Redaksi (TR), Frida Kurniawati (F)

Frida Kurniawati; Saya Mendedikasikan Waktu untuk Membaca
Sumber gambar: facebook

TR: Halo, Frida. Makasih udah bersedia buat diwawancarai. Langsung aja ke pertanyaan pertama. Bagaimana caramu meluangkan waktu membaca buku/novel?
F: Sama-sama, Mbak. Hm, jawabannya gini: saya punya kebiasaan sejak remaja, setiap jongkok di kamar mandi selalu bawa buku untuk dibaca, hehehe. Kalau sedang tidak ada kesibukan mendesak, saya mendedikasikan waktu beberapa jam untuk membaca sebuah buku sampai tuntas. Jika tidak sempat, maka saya akan membaca di sela-sela kesibukan, misalnya saat menunggu dosen pembimbing TA. Daripada melamun sambil harap-harap cemas di lobi gedung jurusan, mending baca buku, kan?

TR: Buku apa yang saat ini kamu baca?
F: Saat ini saya sedang membaca buku How to Win Friends and Influence People in The Digital Age karya Dale Carnegie.

TR: Bagaimana awal mula kamu tertarik meresensi novel?
Buku yang saya resensi pertama kali adalah Notasi karya Morra Quatro. Pertama kali tertarik membeli buku itu adalah karena di blurb-nya ada bocoran setting tempat Pogung. Lantas saya penasaran, ini Pogung yang dimaksud Pogung utara Fakultas Teknik UGM, tempat saya ngekos, bukan, sih? Lalu setelah saya baca, ternyata benar! Malah, kebanyakan setting-nya di Fakultas Teknik UGM, tempat di mana sehari-hari saya kuliah. Ada beberapa hal yang saya malah baru tahu tentang fakultas saya sendiri. Muncullah keinginan tak tertahankan untuk berbagi juga dengan orang lain, tentang pengetahuan baru yang saya dapat lewat membaca buku itu. Jadilah, saya menulis resensinya, dan kembali menghidupkan blog yang sempat mati suri.

TR: Dalam sehari, biasa membaca berapa halaman?
Wah, banyak tentunya. Kalau sedang niat, untuk satu novel ringan saya menyelesaikannya dalam waktu 3-4 jam.

TR: Dalam seminggu, berapa buku yang selesai kamu baca?
Dua.

TR: Poin penting atau kisi-kisi yang kamu perhatikan saat membedah novel?
Pertama, ini yang terpenting, logika cerita.

Kedua, unsur-unsur intrinsik, seperti tema, alur, penokohan, setting, sudut pandang, amanat cerita.

Ketiga, unsur-unsur ekstrinsiknya, seperti ketika saya meresensi novel Dorian Gray, yang sarat dipengaruhi oleh paham-paham yang dianut si penulis pada zaman itu. Ketika meresensi novel itu, saya juga belajar tentang hedonisme, romantisme, dan estetika di Inggris pada abad ke-19. Bahkan tentang orientasi seksual si penulis, Oscar Wilde, yang ternyata homo, dan dia pernah dihukum karena itu.
Keempat, gaya penulisan. Apakah ada penulisan yang tidak sesuai dengan EYD? Atau adakah bagian dari gaya penulisannya yang saya sukai? Adakah petikan-petikan kalimat yang menarik?

TR: Apa saran atau tipsmu kepada orang yang ingin mereview/membedah sebuah novel?
Ketika membaca sebuah buku, secara alamiah kita pasti akan memandang buku itu secara subjektif, selera pasti akan memengaruhi kesukaan akan genre-genre tertentu. Namun, ketika meresensi, kita harus menempatkan diri berbeda dengan ketika membaca. Kita harus sebisa mungkin objektif. Saya sering membaca buku penulis pemula, yang di dalamnya penuh kesalahan logika cerita, bahasa yang seperti mentahan tidak diedit dulu. Ketika membaca itu, saya pingin marah-marah rasanya. Tapi, setelah selesai membaca dan mulai menulis resensi, saya memandangnya secara objektif. Kesalahan logika seperti itu mungkin saja terjadi karena penulis atau editornya kurang teliti, maklum juga karena itu adalah buku pertamanya, dan sebagainya.

Saat membaca, kita pasti menemukan sesuatu yang menarik, baik itu quote, adegan menarik, hal-hal yang perlu dikritisi, dan lain-lain. Nah, biar tidak lupa di halaman mana saja bagian-bagian itu, saya biasanya melipat kecil ujung halamannya untuk menandai.

Apabila susah untuk memulai menulis resensi, mulailah dengan satu quote yang penting dalam cerita, atau yang menarik. Baru setelah itu mulai masuk ke sinopsis buku.
Jangan keasyikan membedah, lantas melupakan bahwa pembaca resensi juga perlu dibikin penasaran! Hentikan sinopsis ketika sudah sampai di kemunculan masalah-masalah. Sembunyikan antiklimaks cerita.

Selalu ingin tahu. Tambahkan pengetahuan-pengetahuan yang kamu dapat ketika membaca buku, maupun ketika mencari informasi lain seputar buku. Jadi, resensimu tidak sekadar resensi, tapi juga artikel yang membagikan pengetahuan pada para pembacanya. Buka mata dan pikiran lebar-lebar, terutama dalam mencermati logika cerita.
Tambahkan gambar-gambar yang mendukung, biar resensimu tidak membosankan. Bisa juga pakai photo quote seperti yang sering saya bikin.

TR: Sebutkan tokoh dalam buku yang paling kamu benci, sampai-sampai jika karakter itu hidup kamu ingin menghajarnya. Alasannya?
Tokoh Ken dalam novel Dari Kirara untuk Seekor Gagak karya Erni Aladjai. Saya kesal sekali dengan perlakuannya terhadap si gadis, Mae. Penuh kekerasan dan mesum. Lebih kesalnya lagi, si Mae juga seperti sukarela dibegitukan. Sebagai cewek, saya jadi kesal juga terhadap Mae. Rasanya pengin marahin, “Elu cewek, kok mau-maunya digituin?!”

TR: Karena baru-baru ini diperingati Hari Ayah, siapa tokoh ayah idaman/favoritmu dalam novel?
Ah, tentu saja si Bapak dalam Sabtu Bersama Bapak. Bapak yang sedemikian kreatif dan bijaksana, siapa yang nggak tahan untuk nggak ngefans?

TR: Jika ada mesin yang bisa menghidupkan satu tokoh dalam buku, siapa tokoh yang kamu pilih?
Sherlock Holmes.

TR: Tiga buku paling berkesan dan berpengaruh dalam hidupmu? Mengapa?
Becoming a Better You oleh Joel Osteen, buku ini sangat menginspirasi saya untuk mengubah diri jadi lebih baik lagi.
Harry Potter oleh J.K. Rowling, buku ini yang pertama kali menginspirasi saya untuk jadi penulis, karena saya ingin jadi penulis wanita yang terkenal, inspiratif, dan kaya seperti J.K. Rowling. Hahaha.
Pengakuan Eks Parasit Lajang oleh Ayu Utami, buku ini membuka pikiran saya akan hal-hal yang awalnya nggak pernah kepikiran oleh otak suci saya *halah* dan membukakan wawasan akan hal-hal yang umumnya dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia. Saya menjadi terpengaruh akan paham feminisme Mbak Ayu Utami, tapi tentunya nggak terpengaruh ikut-ikutan hal-hal porno seperti yang dilakukan beliau, hoho.

TR: Buku/novel pertama yang kamu baca?
Buku cerita Aurora yang saya baca waktu TK termasuk, nggak, ya? Hehehe.
Kalau nggak salah, buku Lima Sekawan karya Enyd Blyton, saya lupa judulnya yang apa.

TR: Kamu lebih memilih novel atau film?
Saya tidak pernah memilih, sebenarnya, karena yang sering terjadi adalah saya membaca buku yang ingin saya baca, tanpa tahu kalau ternyata buku itu akan dijadikan film, atau ada filmnya. Atau sebaliknya, saya menonton sebuah film lalu tertarik membaca bukunya. Inilah yang terjadi ketika saya menonton Harry Potter dan The Hunger Games. Tapi menurut saya, novel punya keunggulan daripada film, ia mampu menceritakan hal-hal yang tidak bisa diceritakan lewat film, seperti pikiran dan perasaan tokoh. Kalau lewat film kita cuma bisa menangkapnya lewat mimik wajah, gestur, ucapan. Kalau lewat buku, kita seakan bisa mengintip secara langsung isi kepala tokoh. Berikutnya adalah masalah budget. Banyak hal yang pada akhirnya tidak dimasukkan ke film karena terbatas biaya. Jadi, ya, novel lebih saya pilih.

TR: Sebutkan judul film yang menurutku lebih baik ketimbang versi bukunya?
Hmm, sampai sekarang saya belum pernah menjumpainya.

TR: Lima kata yang menggambarkan kamu
Creative, curious, self-starter, multitasking, analytical thinker.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *