Cara Mudah Pangkas Naskah

“Mohon maaf, kami tidak bisa mengevaluasi naskah Anda karena jumlah halamannya melebihi jumlah maksimal halaman yang kami tetapkan.” 

Halo, DIVAmate, adakah yang pernah mengalami naskahnya ditolak karena jumlah halaman naskahnya melebihi batas maksimal yang disyaratkan? Kalau pernah, berarti kamu tidak sendirian. Banyak teman-teman penulis yang naskahnya tertolak karena naskahnya terlalu tebal. Kenapa ini penting banget? Kok tega banget sih penerbit main potong naskah? Itu nulisnya susah tauk. Kalem dulu, guys.

Perlu dicatat bahwa dalam hal menulis sebuah naskah atau buku, tebal itu tidak selalu baik. Belum tentu naskah yang tebal itu WOW, dan begitu pula sebaliknya. Belum tentu naskah yang tipis itu receh. Nah, lalu kenapa penerbit sering membatasi jumlah halaman naskah? Ada beragam alasan yang membuat penerbit menetapkan batasan maksimal dan minimal jumlah halaman dalam sebuah naskah. Di Penerbit DIVA Press misalnya, batasan jumlah halaman untuk naskah novel dewasa adalah 250 – 400, sementara untuk naskah remaja adalah 180 – 220 halaman. Ada pun untuk naskah anak (untuk pembaca TK – SD), ketebalan naskah adalah 50 – 100 hlm, sedangkan cerita anak ketebalan maksimal 50 hlm. Sementara untuk naskah nonfiksi, batas jumlah halaman naskahnya pun sudah ditentukan.

Salah satu alasan yang dipertimbangkan penerbit adalah alasan biaya. Semakin tebal buku, semakin banyak kertas dan tinta yang dibutuhkan untuk mencetaknya. Akhirnya, buku makin tebal dan harga buku pun ikut mahal. Malas juga dong kalau kudu beli buku harganya mahal. Lha kamu beli buku obralan aja mikirnya lama, apalagi beli buku mahal. Ya nggak? Ngaku deh hehehe. Karena itulah, semakin mahal harga buku, ada kemungkinan semakin sedikit juga orang yang mau membelinya. Kecuali kalau memang penulisnya sudah terkenal sih. Apalagi sekarang, ketika beli paketan data lebih penting dari beli buku, maka harga buku itu semacam sariawan alias sangat sensitif bagi penerbit.

Selain harga yang mahal, pertimbangan lainnya adalah latar belakang pembaca, mulai dari usia hingga latar belakang. Umumnya, ini umumnya loh, pembaca ABG lebih suka novel-novel ringan yang tak terlalu tebal. Yah kira-kira antara 150 – 180 halaman agar dibacanya bisa santai. Kalau novelnya terlalu tebal, kebanyakan remaja akan cepat bosan dan malas membacanya. Padahal belum selfi di mal, belum nge-yutub, belum fesbukan, belum ngegalauin kuis #bukuDIVA yang nggak menang-menang. Beda kasusnya kalau novelnya memang bagus dan karya penulis terkenal. Buku tebal sebantal pun no problemo. Masalahnya, kamu sudah terkenal belum? #eh

Begitu juga kasusnya pada pembaca anak-anak, mereka lebih suka buku tipis tapi berwarna. Lagian, anak-anak itu cepat bosan, nggak betah duduk lama. Karena itu, naskah buku anak biasanya tipis-tipis (maksimal banget 100 halaman). Kalaupun tebal, yang tebal adalah kertasnya. Ini maafkan Minceu kok malah kebanyakan ngoceh.

 

Jadi gimana dong, Min? Naskahku 500 halaman nih, padahal di @divapress01  hanya memperbolehkan maksimal 400 halaman? Satu-satunya cara untuk mengurangi naskahmu yang terlalu tebal adalah dengan ‘memotong’ jumlah halamannya agar sesuai syarat dari penerbit. Ada sebuah ungkapan yang berbunyi: “Ringkas adalah jiwa dari kebijaksanaan.” Nah, tulisan yang padat dan ringkas akan lebih enak dibaca ketimbang tulisan yang berpanjang-panjang penuh pemborosan kata.

Tapi, aku bingung, Min. Apa saja sih yang bisa kita pangkas dalam naskah kita? Rasanya sayang aja gitu kalau asal pangkas sana sini.   Eits, memotong naskah itu tidak boleh sembarangan loh. Ada trik-trik khusus untuk memangkas naskah tanpa harus mengurangi intisari naskah dan juga kelebihannya. Biar nggak bingung, Mimin akan membagikan tips memangkas naskah yang baik yang Mimin olah dari berbagai sumber. Berikut ini bagian-bagian yang dapat kita pangkas dari tulisanmu agar naskahmu tidak terlalu tebal.

 

(1) Informasi atau Narasi yang Diulang

Saat ngomong atau bercerita, kita senang sekali (kadang lupa atau suka pura-pura lupa) mengulang menceritakan kembali apa yang dulu pernah kita ceritakan. Dalam menulis, kejadian yang sama juga sering terjadi. Tanpa sadar, kita sering sekali menulis informasi atau narasi yang sama berulang-ulang. Penulis pemula suka nggak sadar kalau mereka terus menuliskan satu informasi yang sama di berbagai halaman yang berbeda dalam naskah. Misal, di bab satu sudah menjelaskan tentang asal usul jeruk Bali, eh di bab 10 masih dijelaskan lagi. Dan, di bab terakhir pun informasi ini muncul. Hindarilah hal ini agar pembaca dan editor nggak bosan. Misalnya saja, jika kamu sudah menulisnya di depan, jangan menulis informasi/narasi yang sama di belakang. Ini contoh pengulangan dalam satu kalimat.

Andi itu seorang petani yang rajin. Sawahnya banyak dan luas, panennya pun melimpah ruah. Andi memang petani yang rajin.

Inilah yang bikin naskahmu jadi terlalu tebal. Naskah dengan informasi atau narasi yang diulang-ulang juga bakal membuat pembaca senewen, bosan, lalu pengen banting mantan. Jangan menulis ulang informasi atau narasi yang sama berulang kali hanya karena kamu tidak tahu harus menulis apa lagi. Ada perbedaan besar antara naskah yang memang tebal dengan naskah yang ditebal-tebalkan. Naskah yang tebal tetap tebal karena memang isinya ‘tebal’. Sementara, naskah yang ditebal-tebalkan itu tebal tapi isinya diulang-ulang. Ayo, cek lagi naskah kamu. Cermati apakah ada informasi yang sama muncul lebih dari sekali, adakah narasi yang serupa muncul berulang kali. Bisa juga, penulis lalai dan akhirnya mengulang informasi yang sama dalam satu adegan/peristiwa yang sedang berjalan. Mungkin juga, penulis menuliskan kembali perasaan atau kondisi perasaan si karakter padahal masih dalam satu adegan/peristiwa. Misal:

Anita sedih sekali. Baru sedikit dari buku dagangannya yang laku terjual. Rasa sedih nan mendalam menyelimuti dirinya.

Dua ungkapan sedih ini seolah berbeda padahal pada intinya serupa. Mungkin pendek dan nggak terlalu berpengaruh. Tapi bayangkan jika model kalimat yang serupa muncul ratusan kali dalam naskah, maka tebalnya bisa ngalahin tebalnya rasa bersalahmu karena belum nikah. Jadi, cukup gunakan satu kali pun pembaca juga sudah bisa menangkapnya.

 

(2) Kata dan Kalimat Tempelan

Kalau kita mau jujur, ada banyak sekali kalimat-kalimat dan kata-kata tempelan dalam naskah kita. Apa itu kata dan kalimat tempelan? Yakni kata dan kalimat dengan fungsi minimal–mirip deh kayak kenangan bersama mantan–yang kalau dihapus pun nggak akan mengurangi maksud tulisannya.

Contoh:

(a) “Wajahnya putih sekali ibarat segelas susu murni, bak awan di siang hari yang cerah.”

(b) Desi memang cantik sekali, seperti bunga sakura di musim semi, atau mawar di musim panas.

(c) Kamu kok pucat sekali? Pasi banget?

Cukup pilih salah satu, susu atau awan saja, sakura atau mawar saja, aku atau dia yang kamu cinta. Begitu juga pada contoh ketiga, bagian ‘pasi banget’ ini bisa dihilangkan dan nggak begitu berpengaruh pada tulisan. Pedomannya adalah, jika menuliskannya satu kali saja sudah cukup, ngapain harus ditulis dua atau tiga kali? Kata-kata tempelan ini juga bisa berupa kata-kata benda (biasanya anggota tubuh) yang mengikuti sejumlah kata kerja tertentu.

Misal:

(d) “Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri” seharusnya cukup: “Aku melihatnya sendiri” atau “aku melihatnya dengan mataku sendiri (jika memang hendak menegaskan).”

(e) Edo menganggukkan kepalanya –> Edo mengangguk.

(f) Rita melangkah cepat dengan kakinya –> Rita melangkah cepat.

(g) Bayi itu bertepuk tangan dengan kedua tangannya dengan penuh semangat

–> Bayi itu bertepuk tangan penuh semangat.

(h) Dia mengapai dengan tangannya ke atas lemari untuk mengambil stoples.

–> Dia mengapai ke atas lemari untuk mengambil stoples.

(i) Dia mengepalkan tangan untuk meninju musuhnya.

–> Dia meninju musuhnya.

Kata “tinju” sudah bermakna “kepalan tangan (untuk memukul)”

(j) Pemuda itu mengedipkan matanya dengan genit untuk menggoda si kembang desa.

–> Pemuda itu berkedip genit menggoda si kembang desa.

Rajin-rajin ya buka kamus untuk mengetahui makna dari beragam kata kerja yang sering kita gunakan: melempar, mencolek, melihat, memukul, dll.

 

(3) Dialog yang Berputar-putar

Berhati-hatilah dalam menulis dialog. Dialog yang tak jelas bisa ngalahin kesalnya hati yang digantungin nggak jelas sama calon gebetan (halah masih calon aja!). Agar pembaca dan editor nggak bosan, bikinlah yang ringkas dan tak bertele-tele. Mari kita lihat contoh kasusnya. Khusus untuk naskah novel, bagian dialog atau percakapan adalah bagian yang sering sekali bikin naskah jadi puanjangggg.

 

“Kamu nggak cinta aku?”

“Ya, enggak”

“Cinta atau enggak?”

“Iya, enggak”

“”Enggak, atau iya?”

“Iya, enggak!”

*begitu terus sampe Minceu nikah sama Jimin

Saat hendak membuat dialog, tentukan dialog itu mau membahas apa dan intinya mau ngomong apa. Jangan memikirkan dialog itu maunya gimana saat kamu sedang live menulis dialog. Misalnya gini, jadi saat menulis sebuah dialog, kamu sudah tahu dialog itu mau membahas apa, siapa saja orangnya, dan hasil dialognya bagaimana. Saat menulis dialog, pastikan dialog tersebut punya peran dalam menggerakkan cerita, ada benang merahnya dgn cerita sehingga tidak sia-sia.

 

 

(4) Kebanyakan Kata-Kata “Penyambung”

Kurangi(lah)  kata-kata sambung, tunjuk, kata tugas, dan kata-kata (yang) sejenisnya: bahwa, yaitu, yang, yakni, adalah, setiap, sangat, sebabnya, mengenai, tentang, merupakan, sesungguhnya, dll. Walau pendek, kita sering lupa (betapa) banyak(nya) kata-kata sambung, preposisi, atau kata-kata penunjuk yang kita gunakan dalam tulisan. Sedikit-sedikit, kalau banyak ya jadinya banyak. Sayangnya, kita sering lupa padahal kadang kata-kata seperti ini dihilangkan juga boleh.

(a) Wanita (yang) cantik itu (adalah) seorang putri raja. Sayangnya, dia sering lupa  (bahwa) kalau dirinya (adalah) seorang bangsawan.

(b) Cowok (yang) berbaju merah itu (adalah) kakaknya Nadira. Dia suka (sekali) bermain sepak bola (pada) setiap sore (hari) di lapangan.

Biasanya, tentang kata sambung dan kata penunjuk yang terlalu berlimpah ini adalah bagiannya editor. Dengan senang hati, mereka akan memangkasnya. Tapi nggak apa-apa bukan kalau penulis juga boleh tahu?

 

5) Penjelasan yang Berlebihan

Akan lebih baik menulis secara padat dan ringkas namun jelas ketimbang menulis dengan panjang lebar tapi bikin lama. Sering kali, penulis takut pembaca nggak akan menangkap maksud yang hendak disampaikannya, maka jadilah dia menjelaskannya panjang lebar. Akibatnya, membaca ceritamu (kalau itu naskah novel) jadi terasa seperti membaca buku nonfiksi dengan penjelasan panjang lebar kali tinggi kalikan berat badan. Saat menulis novel, penulis pemula memang sering tergoda untuk menjelaskan lebih banyak dari yang dibutuhkan pembaca. Sayangnya, sering kali, penjelasan-penjelasan panjang lebar itu malah nggak ada kaitannya sama sekali dengan jalannya cerita. Maksudnya sih baik, agar pembaca semakin paham dengan hal yang hendak penulis sampaikan. Tapi, apa daya, karena caranya keliru jadi rasanya malah seperti membaca tulisan ‘copy-paste.’

Saat menulis novel, misalnya, penulis sering tergoda untuk menjelaskan lebih banyak dari yang dibutuhkan pembaca. Misalnya saja nih ya, di ceritamu ada dua orang sedang sibuk membahas kopi. Kamu lalu menuliskan juga sejarah kopi sepanjang dua halaman penuh, mulai dari awal muda ditemukannya kopi oleh seorang pengembala kambing di sebuah dusun terencil di Ethiopia, lalu tentang pelarangan kopi oleh gereja Eropa pada Abad Pertengahan, hingga proses menyebarnya perkebunan kopi di tanah-tanah koloni pada masa penjajahan. Padahal, inti ceritanya cuma mau bahas cara bikin kopi instan yang enak–dan ini naskah teenlit pula. Ingat, kamu sedang menulis cerpen dan bukan buku tentang sejarah kopi. Kecuali, jika memang kamu hendak menulis buku tentang kopi sih nggak apa-apa.

Kuncinya, berikan sesuatu yang memang akan dibutuhkan pembaca, jangan lebih dari itu. Misal dalam novelmu salah satu karakternya yang pingsan karena minum susu, boleh saja dikasih penjelasan tentang efek susu bagi lambung. Tapi, nggak perlu juga kali ditambahin tulisan tentang perjalanan sejarah susu sejak ditemukan pertama kali hingga sekarang sepanjang dua puluh halaman. Jangan pernah meremehkan/mengecilkan pengetahuan pembaca sehingga menulis dengan gaya menggurui. Pembaca itu nggak suka digurui lho. Berikan penjelasan seperlunya selama masih mendukung jalannya cerita atau tema besar dari naskah yang sedang kamu tulis. Siap?

Ingat selalu bahwa dalam menulis, tebal itu tidak selalu berarti bagus. Memangkas naskah mungkin adalah pekerjaan yang paling berat dalam menulis, tetapi percayalah bahwa banyak penulis besar juga melakukannya. Bahkan jika naskahmu memang sudah ringkas dan padat, langkah-langkah tadi akan menjadikan naskahmu semakin bernas, mengalir, dan enak dibaca. Semoga, dengan tips-tips tadi, kamu bisa menghasilkan naskah yang isinya memang benar-benar relevan plus memenuhi syarat jumlah halaman. Semoga bermanfaat.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.