Cara Seorang Calon Penulis untuk Belajar Ilmu Menulis

0
Cara Seorang Calon Penulis Belajar Ilmu Menulis Menulis
Calon Penulis. Sumber gambar: pixabay

Selamat pagi, DIVAmate. Kita mengenal ada guru musik dan guru bahasa Inggris, nah gimana dengan guru penulis? Sayangnya, penulis adalah sedikit di antara golongan yang tidak memiliki guru resminya sendiri. Lalu gimana penulis belajar? Begini, guru terbaik seorang penulis adalah penulis-penulis lainnya. Dengan kata lain, para penulis belajar ilmu menulis paling banyak adalah dari para penulis-penulis sebelumnya. Sebagai calon penulis keren, kamu juga wajib tahu gimana sih cara para penulis belajar dari para guru menulis (baca: para penulis lainnya). Yok, hari ini kita bahas bersama bagaimana para calon penulis belajar ilmu menulis dari para penulis sebelumnya.

 

1. Membaca Karya-Karyanya

Membaca buku karya penulis lain adalah pelajaran menulis paling dasar. paling sederhana, sekaligus paling manjur. Sastrawan Hamsad Rangkuti pernah berujar bahwa beliau terdorong untuk menulis cerpen setelah membaca cerpen-cerpen karya pengarang dunia. Lebih jauh dia menyebut bahwa membaca karya penulis dunia dapat menyebabkan semacam gangguan kreatif pada calon penulis. Gangguan kreatif inilah yang mendorong seorang penulis untuk juga ikutan menulis setelah dia membaca tulisan penulis lainnya. Dari sini, kita bisa ambil kesimpulanbahwa membaca karya penulis lain adalah hal yang wajib dilakukan seorang calon menulis untuk belajar menulis.

Faktanya, membaca buku merupakan guru terbaik bagi seorang penulis. Hampir semua penulis besar dunia belajar menulis dengan membaca buku. Membaca tulisan penulis lain dapat mengisi tabung pikiran kita dengan materi tulisan, sekaligus kita bisa belajar menulis itu sendiri. Bisa dibilang, membaca karya penulis lain adalah latihan menulis yang pertama kalinya untuk seorang penulis. Seorang penulis harus mau baca banyak tulisan karya penulis lain. Ingat, karena seorang penulis tidak punya guru kecuali penulis lainnya. Maka, seorang penulis belajar dari siapa saja. Semua buku yang telah terbit adalah guru yang harus kita pelajari ilmunya.

Dari buku-buku yang baik, kita belajar cara menulis sebaik buku itu. Dari buku-buku yang jelek, kita belajar menghindari menulis seperti itu. Dan jangan pernah meremehkan sebuah buku, meskipun kamu tidak suka isinya. Setidaknya, karyanya sudah terbit sementara karyamu belum #jlebb. Perlu diketahui, terbit atau tidaknya sebuah tulisan tidak hanya bergantung pada kualitas tulisan, tetapi juga karena pertimbangan penerbit. Naskah bagus tentang korona Matahari bisa saja tidak jadi terbit karena editornya pusing duluan dan pembacanya mungkin hanya sedikit. Sementara, buku cara beternak bebek malah bisa terbit, dan laris pula. Inilah salah satu yang dimaksud dengan pertimbangan penerbit.

Mari, kita hargai setiap buku dan tulisan, karena dari mereka lah kita pertama kali belajar menuliskan tulisan. Lebih baik, ambil pelajaran dari setiap tulisan. Kalau jelek, coba bikin yang lebih bagus. Para penulis besar dunia juga rajin membaca tulisan penulis sebelumnya. Banyak karya besar tercipta berkat karya besar yang ada sebelumnya. Agatha Christie tergerak menulis seri Hercule Poirot krn di masa kecil dia banyak membaca seri Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Karl May menuliskan seri Winnetou legendaris itu hanya dari membaca buku. Saat itu, dia belum pernah pergi ke Wild West di Amerika Serikat. JK Rowling juga belajar menulis seri Harry Potter setelah dia banyak membaca karya-karya Shakespeare dan Jane Austen. Demikianlah, setiap penulis memiliki karya penulis lain favoritnya, karya-karya yang turut mendorong mereka untuk menulis. Anggap saja semua buku dan tulisan karya penulis lain itu guru kita. Tugas kita, belajar menulis sebanyak-banyaknya dari mereka.

Nah, pertanyaannya, gimana sih langkah-langkah konkret belajar dari tulisan karya penulis lain? Ini Mimin kasih contekan, dicatat ya. Pertama, pilihlah satu penulis favoritmu. Siapa saja boleh, yang penting kamu suka atau kagum pada tulisan-tulisannya. Udah milih belum? Pilih satu saja dulu, satu aja kamu belum tentu bisa jagain hatinya kok #eaa. Nih Mmin kasih tips: pilihlah satu penulis yang kamu sangat menantikan membaca karya-karyanya, yang tulisannya kamu rindukan, yang kamu ingin jadi kayak dia. Cari penulis yang membuat hatimu mantap mengikuti jejaknya, membuatmu ingin meniru tulisannya, atau meniru karya-karyanya. Bukannya meniru itu plagiat Min? Eit sebentar, konteks meniru di sini adalah untuk belajar menulis seperti dia, bukan menjiplak karyanya. Nah, udah dapat belum satu penulis favorit? Boleh penulis lokal, boleh juga penulis dari luar negeri. Pilih @rezanufa juga boleh loh (“-__-).

Udah dapet? Nah setelah ketemu namanya, kita lanjut ke tahap kedua yakni kepoin atau stalkingin dia. Yakin deh di sini pada jago stalking. Kepoin di sini maknanya positif loh ya, bukan kepo kebablasan kayak fandom-fandom grup sebelah yang pengsan begitu idolnya kibas poni *bye. Coba kalian amati jejak kepengarangannya. Apa itu ‘jejak kepengarangan’? Bedanya dengan ‘jejak kenangan’ apa ya? #malahbaper. Jejak kepengarangan atau jejak kepenulisan di antaranya karya-karyanya apa saja, kapan dia mulai menulis, gimana caranya menulis. Termasuk dalam jejak kepengarangan ini adalah gaya bahasa atau gaya tulisannya, teknik menulis yang biasa digunakan, dan lain-lain. Pokoknya cari tahu semua tentang doi, tetapi batasi hanya pada hal-hal yang terkait karya atau tulisannya saja. Ngak perlu juga kali cari tahu dia belanja di mana kok bisa dapat sirup murah. Eh tapi boleh juga tuh. Lumayan tuh bisa tanya-tanya buat persiapan lebaran *skip. Gimana Min cara kepoin penuis favorit kita? Paling mudah dan elegan adalah dengan membeli atau membaca karya-karyanya.

Cara lain yang lebih merakyat adalah dengan follow akun media sosialnya, lalu sering2 simak tulisan atau karya terbarunya. Setelah kepo, saatnya kita kulik-kulik kehidupan pribadi sang penulis …eh maksudnya kita kulik-kulik karya tulisannya. Sudah siap? Cari tahu:

  • Corak tulisannya
  • Caranya memulai dan mengakhiri tulisan
  • Gaya bahasa/gaya tulisannya– tema-tema yang dituliskan
  • Buku-buku yang dibacanya
  • Proses kreatifnya dlm menulis
  • Caranya menjaring ide
  • Risetnya gimana
  • Kapan dia menulis
  • Tempat dan waktu yg enak buat nulis
  • Tips nulis cepat
  • Tips nulis produktif
  • Dapat jodohnya dulu gimana #eh

Banyak penulis baik yang suka sekali bagi tips menulis lewat akun media sosialnya. Salah satunya mungkin penulis favorit kamu loh. Kalo kamu ngefansnya sama William Shakepspeare gimana? Kamu mau nggak mau kamu baca tulisan rangorang tentang blio. Pokoknya cari cara! Selalu ada cara jika kita mau berusaha.

Setelah kepo dan kulik-kulik, tahap berikutnya adalah MENIRU. Eitss … jangan berpikiran negatif dulu. Meniru itu nggak selalu jelek loh. Contohnya meniru caramu mencintaiku uhuy. Hampir semua penulis besar pernah melewati tahap meniru ini. Siapa yang mereka tiru? Tentunya mereka meniru para penulis favoritnya. Proses meniru adalah proses wajar yang juga dialami oleh banyak penulis sebelum akhirnya dia menemukan corak dan gaya menulisnya sendiri. Jangan takut untuk meniru, banyak penulis hebat yang juga melakukannya. Biar leih elehan, kamu bisa gunakan diksi “terinspirasi oleh” he he. Seiring dengan berjalannya waktu, banyaknya latihan, dan beragamnya bahan bacaan, kamu akan menemukan gaya dan teknik menulismu sendiri.

2. Belajar dari Penulisnya Langsung

Tidak ada yang mampu menandingi efektivitas belajar langsung dari ahlinya, termasuk dalam hal menulis. Selain membaca, guru terbaik para penulis adalah para penulis lainnya. Setiap penulis yang baik terinspirasi dan menginspirasi penulis lain. Pastinya, akan sangat menyenangkan kalau kita bisa bertemu langsung dengan penulis favorit. Inilah impian banyak calon penulis. Kamu kepengen banget ketemu penulis siapa hayo? Kalau Mimin sih kepingin banget ketemu sama Nicole Kidman. Eh penulis kan dia? *digebuk. Gimana caranya biar bisa belajar langsung dari penulisnya Min? Cara paling mudah ya tadi: follow dan kepo medsosnya. Beruntunglah kalian yang hidup di era internet. Sekarang, kalian bisa dengan mudah berinteraksi dengan para penulis favoritmu via medsos. Apalagi kalau penulisnya masih muda dan sering online, pastinya kamu bisa tanya-tanya langsung ke blio-blio seputar teknik menulis.

Akan lebih baik bertanya ke penulis lewat email atau inbox media sosial. Hindari menelepon penulis agar tidak mengganggu mereka. Mimin yakin, para penulis kita baik-baik kok dan mau berbagi ilmu menulis. Asal, kalian mintanya yang baik, sopan, dan tidak memaksa. Beberapa penerbit ada yang bersedia memberikan alamat email para penulis yang bukunya mereka terbitkan. Nah, kamu bisa menghubungi penerbit bersangkutan untuk meminta alamat email penulis favoritmu. Tapi jangan sekali-kali minta no telepon ya. Penulis juga manusia, mereka juga butuh privasi. Hindari menelepon atau SMS/WA mereka, lebih baik bertanya lewat email atau medsos saja. Jika lapang dan selow, Mimin yakin para penulis yang baik akan bersedia menjawab semua pertanyaan kalian.

Cara lain yang lebih elegan untuk ketemu penulis idolak adalah dengan menghadiri bedah buku atau workshop menulis yang mereka adakan. Ikuti juga berbagai pelatihan atau acara menulis yang sering diadakan penerbit atau komunitas literasi. Mereka sering mengundang penulis loh. Acara-acara kepenulisan gini adalah kesempatan emas untuk bertemu dan bertanya langsung sama penulis favorit seputar dunia menulis. Jangan takut bertanya langsung karena di acara kepenulisan seperti Kampus Fiksi itu para penulis memang dibayar untuk menjawab pertanyaan. Nah, kalau pas di acara beginian, tolong fokusnya jangan hanya untuk selfie bareng penulis idola, tetapi bagaimana menimba ilmu menulis sebanyak-banyaknya dari mereka.

Seringnya kita sih, ikut workshop atau pelatihan menulis agar bisa dapat tanda tangan atau foto bareng mbak/mas penulis. Iya kan hayo ngaku? Jika kalian memang ingin jadi penulis hebat seperti dirinya, mulailah menulis dan membaca seperti dirinya, bukan malah dandan kayak dia #eh. Apalagi kalau acaranya gratis, duh jadi pada makin males itu nyimak workshopnya. Buktinya pas #KFemas2017 kemarin hayooo (?_??). Mulai sekarang, tetapkan dalam hati bahwa saya ikut workshop menulis untuk belajar menulis, bukan buat bikin caption di instagram. Kalau perlu, catat semua yang diucapkan mbak/mas penulis di depan.

Ilmu menulis itu penting dan jarang diajarkan di sekolah, jd catatlah. Atau, kalau malas catat, kalian bisa bikin live tweet seputar materi kepenulisan yang disampaikan si penulis di depan. Selain kamu jadi punya catatan online, kamu sekaligus sambil berbagi kepada teman-teman lain yang nggak bisa ikutan workshopnya. Kamu keren!Catat setiap ilmu menulis yang kamu dapat. Kenangan dengan si dia mungkin tak terlupa, tapi jurus menulis bisa hilang kalau tidak dicatat. Nah, sekian tadi yang sedikit buat pekan ini, semoga bermanfaat DIVAmate.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.