Berakhir Pekan Bersama Tiga Penyair di Festival Sastra Basabasi 2017

Berakhir Pekan Bersama Tiga Penyair di Festival Sastra Basabasi 2017
Berakhir Pekan Bersama Tiga Penyair

Dipandu apik oleh penulis Gunawan Triatmodjo (Tuhan Tidak Makan Ikan), sesi kedua Festival Sastra Basabasi menghadirkan Toni Lesmana (Tamasya Cikaracak), Kim Alghozali (Api Kata), dan Dadang Ari Murtono (Ludruk Kedua).

Penyair pertama yang mengisi materi adalah Toni Lesmana yang buku kumpulan puisinya diterbitkan di Penerbit Basabasi. “Saya suka berjalan-jalan ke makam karena puisi-puisi saya banyak terkait dengan kematian,” begitu Toni Lesmana memulai materi. Ketika ditanya mengapa menulis puisi, Toni menjawab awalnya dia menulis puisi dalam bahasa Sunda, tetapi lalu ke dalam bahasa Indonesia juga. “Banyak hal yang belum bisa tersampaikan dengan baik dalam bahasa ibu,” tambahnya.

“Mengapa saya menulis puisi?” tanyanya kepada diri sendiri, “Ada semacam keasyikan saat saya sedang menulis puisi.”

Bagi Toni Lesmana, menulis puisi menjadi semacam pelarian ketika dia menemukan banyak pertanyaan tak terjawab dalam kehidupan. Lewat puisi inilah, ia menemukan untuk siapa pertanyaan-pertanyaan tersebut ditujukan. Toni Lesmana juga mengaku dirinya bisa produktif menulis puisi karena ada lingkungan yang mendukungnya menulis puisi. Bagi Toni, menulis itu harus bersungguh-sungguh, termasuk saat sedang menulis puisi karena apa yang kita tulis sejatinya kembali pada kita. “Ketika kita menulis sesuatu (termasuk puisi), maka tulisan itu juga akan memberikan sesuatu kepada kita.” (Toni Lesmana)

Puisi itu hasil perenungan, tetapi kadang puisi juga bisa lahir ketika kita bertengkar dengan diri sendiri sebagaimana diakui Toni Lesmana. Baginya, lingkungan sang penyair memiliki dampak yang sangat besar terhadap puisi-puisi yg dihasilkan, terutama lingkungan tempat tinggal. “Saya menjuluki puisi-puisi saya sebagai puisi yang berbisik. Puisi saya adl tentang hal-hal sederhana dan tentang hal-hal keseharian,” jelasnya.

Lewat puisi, Toni menemukan jalan untuk mengubah pengalaman biasa keseharian menjadi bentuk baru yang lebih istimewa, yakni puisi. “Bagi saya, menulis puisi ibarat sebuah upaya pencarian yang terus menerus,” tambah Toni Lesmana. Setiap puisi memiliki nasibnya sendiri, begitu kata Toni Lesmana. Ini pula yang membuatnya sangat menyayangi puisi-puisi karyanya. “Saya menyayangi puisi-puisi saya seperti saya menyayangi puisi-puisi saya sendiri,” ujar Toni Lesmana menutup materinya.

Pemateri kedua adalah penyair muda Kim Al Ghozali yang buku kumpulan puisinya Api Kata juga telah terbit di Basabasi. Memulai materi, penyair muda ini membuka dengan celetukan kocak yang sukses bikin para peserta terbahak-bahak. “Saya tidak terbiasa berada di depan perempuan, saya lebih suka berada di sampingnya,” celetuk Kim. Tentang mengapa menulis puisi? Kim dengan jujur menjawab bahwa dia menulis puisi karena tidak bisa berbicara dalam bahasa¬†Indonesia.

“Saya (awalnya) menulis puisi untuk mengobati ketidakbisaan saya berbahasa Indonesia secara verbal,” ungkap Kim Al Ghozali. Menulis puisi terbukti sangat membantu Kim untuk berbicara dalam bahasa Indonesia secara fasih. Pas ngisi materi fasih banget loh tweeps. Nah, yang susah belajar bahasa Indonesia bisa coba cara Kak Kim ini deh: menulis puisi. Dijamin bakal makin jatuh cinta sama bahasa tercinta. “Puisi adalah seni pertama dalam bahasa,” ujar Kim. Mungkin inilah mengapa belajar bahasa lewat puisi itu sangat menyenangkan.

Bagaimana awalnya Kim bisa produktif menulis puisi? Ternyata semua bermula saat dia masih menimba ilmu di pesantren. Saat di pesantren, Kim pernah menulis surat cinta untuk calon gebetannya. Siapa sangka, kepiawaian menulis ini menjadi lahan rezeki untuknya. Entah cintanya diterima atau bertepuk sebelah surat, yang jelas Kim mulai mendapat permintaan untuk menuliskan surat cinta dari teman-temannya. Di situlah Kim remaja mulai menyadari bahwa dirinya memiliki potensi untuk menulis. Padahal, saat itu Kim mengaku belum kenal apa itu sastra.

Kim mengaku memang sering membaca majalah sastra Horison. Dalam salah satu edisi, dia terpukau dengan terjemahan puisi-puisi Jalaludin Rumi. Kecintaannya pada puisi-puisi Rumi inilah yang lalu turut mendorongnya untuk mulai menulis. Setiap penulis memang punya karya favoritmya. Awalnya dia menulis cerpen sebelum memutuskan untuk terjun total di puisi. Kini, sebagian puisi-puisinya telah terdokumentasikan di buku ini.

Pemateri terakhir adalah penyair Dadang Ari Murtono, yang buku kumpulan sajaknya, Ludruk Kedua, juga telah terbit di Penerbit Basabasi. Sebagaimana judul buku kumpulan sajaknya, Dadang banyak berbicara tentang ludruk di #FestivalSastraBasabasi kemarin. Mengapa menulis puisi? Dadang mengaku dirinya terbebani oleh identitasnya sebagai orang Mojokerto, pewaris kebesaran Majapahit. Sebagaimana kita tahu, para pujangga dari kerajaan Majapahit dulu mengarang kitab-kitab epos besar yang termashyur hingga sekarang. Alasan inilah salah satu yang mendorongnya berpuisi.

Alasan lain yang tak kalah kuatnya adalah ludruk. Ludruk memiliki tempat yang sangat spesial bagi Dadang AM. Ludruk mewakili sebuah panggung dimana pentas dimainkan. “Panggung adalah dunia yang sebenarnya, sementara dunia adalah realitas yang tidak kita kehendaki,” serunya. Beliau memilih untuk menulis sesuatu yg tidak ada di sekitarnya. Dan ludruk menjadi salah satu sarana melihat apa yg tidak ada dalam hidupnya.

Alasan lain yang membuatnya bersemangat menulis puisi adalah untuk mengembalikan kekuatan bahasa, kekuatan kata-kata. Bagi Dadang, bahasa tak lagi mampu menyentuh nurani kita karena telah usang saking seringnya digunakan dalam kehidupan keseharian. Melalui puisi, Dadang berupaya mengembalikan makna sejati dari kata-kata. Kata-kata memang kadang jadi lebih istimewa ketika dipuisikan.

Sebagaimana Kim yang tergugah oleh Rumi, Dadang AM juga tergerak menulis puisi setelah dia membaca karya-karya penyair lain. “Saya awali dengan membaca puisi-puisi Chairil Anwar yang mudah kita jumpai. Di puisi itulah saya melihat semacam pelabuhan,” jelasnya. Lewat puisi-puisi Chairil Anwar, Dadang serasa melihat apa yg belum pernah dilihatnya, mendengar apa yang belum pernah didengarnya. Jadi memang benar sebuah ungkapan yang berbunyi: “Setiap penulis terinspirasi oleh para penulis-penulis sebelumnya.”

“Saya menyadari, lewat puisi saya bisa mengoptimalkan penggunaan kata-kata yang biasa kita gunakan dalam keseharian,” jelasnya. Seperti Jokpin, Dadang AM menemukan bahwa sermua kata bisa digunakan dalam puisi. Mengapa memilih ludruk? Sama seperti puisi, lewat ludruk Dadang menemukan suatu dunia yang benar-benar berbeda. “Dalam ludruk, saya merasa diturunkan di dunia yang masih perawan, tempat banyak hal masih muda dan masih bisa saya bentuk,” ujarnya. Selain itu, masih sedikit sekali puisi yang mengangkat ludruk sebagai tema besarnya. Dalam hal inilah Dadang ini mengangkat keduanya. Lewat puisi, ludruk pun terakngkat pamornya. begitu juga, lewat puisi, kata-kata mendapatkan kembali kekuatannya. Inilah hebatnya puisi. Sekian tadi rangkuman materi #FestivalSastraBasabasi sesi kedua, semoga bermanfaat untuk DIVAmate

“Warisan dari masa lampau itu cuma ada dua: puisi dan candi. Dua-duanya dibuat lewat proses yang tidak sebentar.” (Gunawan Triatmodjo)