Belajar Menulis Rumit dengan Cara Sederhana dari Tokoh-Tokoh Dunia

0
Belajar Menulis Rumit dengan Cara Sederhana dari Tokoh-Tokoh Dunia
Belajar Menulis Rumit. Sumber gambar: quotefancy.com

Belajar menulis rumit dengan cara sederhana merupakan teknik yang akan memperkaya cakrawala berpikir seorang penulis pemula.

Ada ungkapan bijak yang berbunyi: ‘Jangan merumitkan yang sederhana, pun jangan menyederhanakan yang rumit.’ Dalam menulis pun berlaku ungkapan serupa. Sesuatu yang sederhana jangan ditulis dengan rumit karena dalam kesederhanaan itulah terletak keunggulan dari naskahmu. Beberapa tokoh besar dunia selalu bisa menuliskan atau mengungkapkan sesuatu yang rumit (demokrasi, nasionalisme, cinta) lewat kata-kata yang sederhana sehingga ide-ide besar mereka dapat diterima dunia.
Memang, tidak semua tokoh dunia yang MinCob sebut di sini adalah penulis, tetapi satu hal yang jelas: mereka mampu menulis dengan baik. Ayo kita mulai:

“Bakat paling bermanfaat adalah kemampuan untuk menghindari menuliskan dua kata jika dengan satu kata pun sudah cukup.” (Thomas Jefferson)

Presiden terbesar Amerika Serikat ini begitu menjunjung tinggi salah satu prinsip dalam editing, yakni menghindari pemborosan penulisan kata-kata. Jika bisa ditulis dalam sedikit kata, mengapa harus berpanjang-panjang? Jika satu kata saja sudah memadai, tak perlu ditulis jadi dua/lebih.
Boros: Dia orang yang mempunyai banyak harta.
Hemat: Dia orang kaya. simpel, hemat, mengena!

Penulis pemula biasanya bersemangat sekali dalam menulis. Akibatnya mereka menulis berpanjang-panjang padahal intinya ya itu-itu saja. Tidak heran jika naskah pertama bisa mencapai 250 halaman lebih, tetapi setelah disunting ternyata hanya tersisa 100 halaman. Kenapa? Kenapa? Karena sering kali tulisannya hanya dipanjang-panjangin, bukan karena tulisannya memang harus panjang. Akibatnya, editor harus bekerja keras dan jadi ‘raja tega’ dengan memangkas dan memotong kalimat-kalimat panjang. Dalam menulis, panjang tidak selalu baik. Sebaliknya, tulisan yang ditulis sederhana tapi mengena malah akan lebih dihargai oleh para pembaca naskahmu, dan juga oleh editor. Ayo, cek kembali tulisanmu. Tirulah Thomas Jefferson yang hemat dalam menulis kata-kata. Karena menulis bukan bermakna mengobral kata-kata sebanyak-banyaknya.

“Biarlah pidatomu pendek saja, yang penting sudah cukup mengena walau hanya dalam beberapa kata.” (Apocrypha)

Adalah lebih baik tulisanmu pendek dan sederhana asalkan maknanya besar dan mengena. Seorang penulis tak dikenal dari zaman kuno pernah menyinggung bahwa pidato yang baik adalah pidato yang pendek tapi isinya mengena. Tips ini bisa juga kita terapkan dalam menulis. Tulisan yang panjang belum tentu bagus, sebaliknya tulisan yang pendek belum tentu jelek. Kekuatan sebuah tulisan di antaranya terletak pada pemilihan kata-kata yang digunakan penulis, bukan panjang atau pendeknya. Satu kata yang dipilih dengan tepat jauh lebih berharga ketimbang seribu kata yang ditulis serampangan begitu saja. Mark Twain pernah berkata bahwa perbedaan antara kata yg tepat dengan kata yg hampir tepat ibarat perbedaan antara petir dan kunang-kunang. Tentang memaksimalkan kekuatan kata, langsung cek di sini ya.

“Jika hendak memberikan perintah, persingkatlah. Setiap kata tambahan yang tidak perlu hanya akan membebani pikiran.” (Cicero)

Sebagaimana kata Cicero, buatlah kalimat-kalimat yang ringkas agar pembaca lebih mudah mencerna tulisanmu. Pembaca itu kerjaannya nggak hanya baca doang loh. Beberapa mereka membaca untuk mencari penghiburan lewat tulisanmu. Karena itu, jangan bebani pikiran mereka yang mungkin sudah lelah dengan kalimat-kalimat yang panjang melelahkan. Persingkat saja. Coba amati tulisan ini:
“Aku selalu terbayang wajahmu, teringat selalu senyum manismu, merindukanmu di setiap helaan napasku.”

pfff … kelamaan, ganti aja

“Aku kangen, Mas.”

“Orang dungu menjadikan segala sesuatu terlihat jadi lebih berat, lebih kompleks, lebih susah. Seorang genius, sebaliknya.” (Albert Einstein)

Seorang genius adalah mereka yang mampu menjelaskan hal-hal berat (semacam gaya gravitasi dan rasa rindu, misalnya) dengan cara yang mudah. Penulis yang genius mampu memaparkan hal-hal yang sulit ke dalam kalimat-kalimat yang mudah dipahami sehingga awam pun bisa mencerna apa yang mereka tuliskan. Robert T. Kiyosaki misalnya, mampu menjadikan seorang biasa sekalipun paham tentang konsep investasi dan saham yang rumit itu. Dan Brown juga, lewat novel-novelnya, dia mampu mengajak pembaca umum menikmati kapel dan istana bersejarah Eropa yang selama ini sepi pengunjung. Masih ada lagi? Ada, Stephen Hawking yang genius itu mampu memaparkan asal muasal terbentuknya alam semesta lewat bahasa yang ringan.

“Kesederhanaan adalah kecanggihan yang tertinggi.” (Leonardo da Vinci)

Dalam menulis, tidak selalu tulisan yang rumit dan tinggi itu selalu lebih baik daripada tulisan yang sederhana dan biasa saja. Justru, tulisan yang sederhana akan mampu menarik lebih banyak pembaca sehingga manfaatnya sampai pada semakin banyak pembaca. Semakin sederhana tulisanmu, semakin mudah dipahami pembaca, semakin banyak yang suka. Apalagi jika kamu piawai menulis yang rumit-rumit dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami, inilah salah satu puncak tertinggi dari keahlian menulis.

“Jika memang masih memungkinkan untuk menghapus sebuah kata dari tulisanmu, maka hapus saja.” (George Orwell)

Salah satu ketakutan penulis pemula adalah saat dia harus menghapus sebagian kecil atau sebagian besar tulisannya di tahap editing. Sedih juga sih, sudah susah-susah menulis siang-malam sampai 200 halaman, eh kok disuruh memangkas jadi 100 halaman. Rasanya, ada sebagian dari kita yang hilang saat sebagian tulisan itu harus dihapus atas nama efektivitas tulisan. Masak iya sih, sudah susah-susah nulis, begadang berhari-hari demi menulis, hanya untuk kemudian dihapus? Tega bener!
Sebentar, sebentar. Ada yang kenal Barbara Kingsolver nggak? Mimin juga nggak kenal sih. Tapi, penulis ini keren loh kalau soal potong-memotong tulisan. Konon, Barbara Kingsolver tidak ragu memotong sampai 75% tulisannya demi untuk menemukan tulisan yang pas dan sesuai keinginan. Menurut beliau, menulis dan kemudian menghapus sebagian di antaranya adalah proses menulis yang memang harus dialami banyak penulis.Ada lagi penulis yang namanya Karen Russell, beliau bahkan ‘tega’ membuang 90% tulisan karyanya dalam proses swasunting. Menurut beliau, dalam menulis, ukurannya bukan pada sebanyak apa tulisan yang sudah ditulis, tetapi pada kualitas dari apa yg kita tuliskan.

“Masalahnya, banyak dari kita yang telah begitu meremehkan kekuatan dari kesederhanaan.” (Robert Stuberg)

Kamu bilang, menulis yang keren itu menulis dengan kata-kata tinggi, yang rumit, yang susah dipahami. Tunggu dulu, menulis tidak selalu seperti itu, Bro! Kecuali kamu menulis untuk kamu baca sendiri, kamu harus menulis sedemikian rupa agar tulisanmu dapat ‘terbaca’ oleh pembaca selain dirimu. Bahkan Seno Gumira Ajidarma pun mengingatkan bahwa sastra adalah tulisan dari manusia untuk manusia, sebaiknya bisa dipahami pembaca awam. Kamu mungkin piawai menulis lewat kata-kata rumit dan serba tinggi, tak tergapai maknanya kecuali oleh dirimu sendiri, tapi apa daya #Netizenbelumsiap. Jika kamu ingin tulisanmu dibaca banyak pembaca, tulislah dengan sesederhana mungkin meski yang kau tulis adalah hal berat macam katalisator rindu. Selalu ingat petuah Robert Cormier berikut: “Sering kali, kata-kata yang paling sederhana adalah yang terindah dan paling efektif.”

“Saya mencoba untuk tidak menulis bagian-bagian yang cenderung hanya akan diloncati/tidak dibaca oleh pembaca.” (Elmore Leonard)

Sekarang begini, ngapain juga menulis bagian yang tidak bakal dibaca oleh pembaca? Bukankah itu hal yang sia-sia untuk dilakukan? Dan, bagian-bagian apa yang bakal tidak dibaca oleh pembaca? Yakni bagian yang panjang, rumit, dan membosankan untuk dibaca. Bagian yang panjang, rumit, dan membosankan untuk dibaca ini seharusnya bisa kita olah lagi menjadi lebih ringkas, sederhana, dan menarik. Gimana cara mengolahnya? Banyak latihan menulis dan banyak baca buku-buku yang ditulis dengan cara menarik seperti itu.

“Gunakan sesedikit mungkin kata sekiranya kata-kata itu sudah lebih dari memadai untuk menyampaikan suatu kesan/pesan dalam tulisan.” (E.B. White)

Sekali lagi, tidak perlu berboros-boros menulis banyak kata jika dengan satu/dua kata pun sudah bisa menyampaikan maksud yang kita inginkan. Penulis yang baik tidak mengobral kata (apalagi mengobral janji). Semua kata-kata yg ditulisnya adalah pilihan, hasil seleksi dan perenungan. Dengan demikian, dalam tulisan yang ringkas dia mampu menyampaikan maksud atau pesan yang hendak diungkapkannya dalam tulisan. Selain itu, tulisan yang ringkas dan padat berarti buku yang lebih tipis, harga bisa ditekan sehingga semakin banyak yang bisa membacanya. Pembaca pun tidak habis waktunya untuk membaca kalimat-kalimat panjang padahal isinya hanya diulang-ulang atau berputar-putar dahulu.

“Jadi, penulis yang berboros-boros dengan menulis kata-kata yang tidak perlu ditulis, sejatinya dia telah membebani pembacanya.” (Dr Seuss)

Perlu kita sadari, bahwa pembaca membaca tulisan kita karena dia ingin terhibur, tercerahkan, atau terpesona. Karena itu, jangan kemudian menyiksa mereka dengan tulisan yang rumit, yang tinggi, yang sok keren padahal intinya ya begitu-begitu saja. Janganlah membebani pembaca dengan membuat mereka harus berpikir berkali-kali sebelum bisa menangkap apa yang sebenarnya hendak kita sampaikan. Mudahkanlah yang sulit, maka semoga Tuhan akan selalu memudahkanmu dalam meraih impian sebagai penulis besar. Amin.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.