Asef Saeful Anwar: “Penulis Membaca Cerpen untuk Juga Belajar Menulis Cerpen.”

Asef Saeful Anwar: "Penulis Membaca Cerpen untuk Juga Belajar Menulis Cerpen."
Asef Saeful Anwar. Sumber gambar: Facebook 

Sesi pertama Festival Sastra Basabasi berlangsung di Balai Desa Mantub pukul 09.00, dengan narasumber Ken Hanggara dan Asef Saeful Anwar. Asef Saeful Anwar baru meluncurkan buku novelnya di Basabasi dengan judul Alkudus, Tulisannya juga menghiasi esai @basabasidotco “Eskperimentasi Bentuk atau Isi?“. Hari ini, mari kita simak bersama bagaimana mereka menulis cerpen, proses kreatif apa yang mereka lalui, serta karya kesukaannya.

“Beda antara penulis dan bukan penulis adalah apa tujuan mereka saat baca buku. Penulis membaca cerpen untuk juga belajar menulis cerpen. Saya menulis cerpen untuk mengeksplorasi gaya, yakni dengan menggunakan gaya menulis yang berbeda dari biasanya.” (Asef Saeful Anwar)

Inspirasi adalah hal yang sangat penting bagi penulis. Asef Saeful Anwar sendiri mengaku masih mengandalkan inspirasi saat menulis cerpen-cerpennya. Tetapi, seorang penulis juga seharusnya tidak melulu bergantung pada inspirasi. “Penulis itu tidak menunggu inspirasi, tapi menjemputnya.” Ketika ditanya apa ritual yg sering dilakukannya untuk memancing ide, Asef SA menjawab tangkas: “berjalan kaki tanpa bawa telepon genggam. Saya sering berjalan kaki ke luar kota, tanpa bawa hape. Hanya sekadar tas dan buku tulis. Inilah ritual saya untuk menjemput inspirasi.”

Saat sedang berjalan kaki, Asef SA mengaku bisa lebih mengamati berbagai kejadian unik secara lebih detail dan juga dari dekat. Dari kejadian unik yang saya dapati itulah, penulis lalu mengolahnya menjadi ide untuk menulis cerpennya. Penulis muda ini mengaku sering jengkel kalau mendapatkan ide saat sedang menjalankan ibadah sholat. “Saya jadi tidak konsen shalatnya.” Menulis bagi Asef SA adalah upayanya berbagi kebaikan. “Kebaikan itu tidak akan habis dibagikan, beda sama kekayaan.”

Kemudian, penulis mengisahkan tentang awal kesukaannya dalam menulis. “Saya suka menulis karena jasa orang tua. Dulu, saat penulis masih kecil, orang tuanya rutin membeli koran bekas untuk dijual lagi, sebagai pembungkus makanan. Di antara tumpukan koran itu ada koran Pos Kota dan tabloid Fantasi. “Kenal karya sastra pertama–itu pun jika bisa disebut karya sastra–adalah saat saya membaca Wiro Sableng. Saya suka nama-nama jurusnya.” Berikutnya, ketika masuk ke pesantren, Asef SA mulai berkenalan dengan karya-karya sastra yg lebih serius, seperti karya Ayu Utami dan Djenar Mahesa Ayu. “Saya dulu bebas membaca novel-novelnya Ayu Utami karena saya dikira sedang belajar. Mereka menganggap baca buku itu belajar, termasuk novel.”

Menyinggung proses yg ditempuhnya selama menulis, penulis muda ini ternyata juga pernah merasakan perihnya ditolak. Sama seperti penulis-penulis lainnya, karyanya juga pernah ditolak. “Proses kreatif saya dimulai dari membaca karya-karya para penulis besar. Waktu itu, saya membacanya di Shopping Center, Yogyakarta.” Dari membaca gratisan di lapak buku Shopping Center ini, penulis lalu mulai membaca karya para sastrawan Indonesia. Aktivitas membaca inilah yang kemudian mendorong Asef SA untuk juga menulis. Memang benar kata ungkapan, penulis itu lahir dari membaca. “Ada proses sebelum karya saya diterima. Ketika kirim pertama, naskah saya ditolak. Baru di kiriman ketiga karya saya diterima,” kisahnya.

Untuk menunjang kesukaanya menulis, Asef Saeful Anwar kemudian melanjutkan kuliah ke Sastra Indonesia UGM. Mimin lupa ga nanya angkatan berapa sih. Dari dunia akademis inilah, Asep mulai mengenal beragam teori sastra dan jenis-jenis cerita, juga cara menulis cerpen secara lebih terarah. Sayangnya, menurut Asep, masuk ke Sastra Indonesia bisa membuat seseorang tidak produktif karena lebih sering diminta mengkritik daripada menulis. Untungnya, populernya Internet menjadikan proses kreatif menulis menjadi semakin mudah dan luas, jelasnya. Siapa pun kini bisa menulis.

“Menulislah tanpa beban. Jika ada beban pikiran, hilangkan dulu sehingga kita bisa lebih fokus dalam menulis.”

Dalam sesi tanya jawab, Asef ditanya perihal sejauh apa peran penting karya sastra: “Menurut saya, sastra melengkapi agama,” jawabnya. Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa jika agama berperan mengantarkan manusia menuju Tuhannya, maka sastra mengantarkan pada kemanusiaan. Pada dasarnya, sastra juga sangat berperan dalam tumbuh kembangnya agama. Para ulama besar itu pada dasarnya juga suka bercerita, katanya. “Sastra adalah imajinasi yang berisi,” tukasnya, “ada sesuatu di dalamnya yg mampu menyentak sisi kemanusiaan dalam diri kita,” lanjutnya.

“Bagi saya, semua bacaan sastra itu adalah motivasi,” jawabnya ketika ditanya mengapa beliau suka membaca sastra. Saat ditanya tentang perkembangan sastra kekinian, dia menyebut telah terjadi pergeseran besar dari tradisi cetak ke online. “Saya senang karena ada penerbit indie seperti Basabasi yang mau menampung karya-karya yang tak mungkin terbit di penerbit besar,” lanjutnya. Sayangnya, tulisan sastra hanya muncul seminggu sekali di surat kabar. Akan hebat, menurutnya, ketika sastra bisa terbit setiap hari.

Ada dua kriteria naskah yang buruk menurut Asef Saeful Anwar:

(1) Tidak menghadirkan unsur kebaruan, mulai dari judul, isi, hingga teknik bercerita.

(2) Karya sastra yang buruk cenderung deskriptif, dan malah tidak naratif.

Bagaimana cara agar kita bisa menulis cerpen yang bagus? Asef menyarankan kita untuk membaca karya-karya sastra yang bagus. “Bacalah karya-karya yang bagus karena dari situ akan mempengaruhi gaya penulisan. Dari sini, kita bisa belajar dari penulis-penulis yang sudah jadi.” Tetapi, tanpa keragaman teknik dan gaya menulis maka hanya akan ada kebosanan. Inilah mengapa eksplorasi gaya dan teknik itu penting. “Semakin banyak bacaan maka semakin banyak gaya atau teknik penulisan yang bisa kita eksploitasi,” simpulnya sambil menutup materi.