Arafat Nur: Saya Suka Semua Penulis yang Tidak Sombong dan Tidak Suka Plagiat

Arafat Nur: Saya Suka Semua Penulis yang Tidak Sombong dan Tidak Suka Plagiat
Arafat Nur. Sumber gambar: Facebook

Menjelang hadirnya novel Seumpama Matahari, Tim Redaksi Fiksi DIVA kali ini berhasil mewawancarai sang penulis, Arafat Nur (Keajaiban Paling Hebat di Dunia), dan menanyakan sejumlah hal, mulai dari proses kreatif hingga pendapatnya secara umum mengenai dunia literasi. Jawaban-jawaban yang jujur dan membuat terenyuh kita.

Selamat menyimak.

 

Selamat pagi, Mas Arafat Nur. Apa kabar? Terima kasih banget sudah meluangkan waktu untuk wawancara dengan pihak redaksi. Oh ya lebih enak saya manggilnya Mas Arafat atau Mas Nur?

-Boleh yang mana saja.

 

Oke pertanyaan pertama adalah seputar novel yang rencananya awal bulan Mei terbit. Judulnya Seumpama Matahari. Secara singkat, apa yang ingin Mas Arafat ingin sampaikan di novel tersebut?

Tentang takdir hidup yang dialami manusia. Sekalipun dilanda perang, mereka memiliki sisi-sisi romantis, perasaan, harapan, dan cita-cita. Kisah dalam novel ini mendekati kisah aslinya, sangat alami, apa adanya, dan begitu lugu. Ketegangan tidak terlalu tegang, bahkan menjadi humor dan hiburan. Pada kondisi-kondisi tertentu, maut seakan seni, dan perang seperti pura-pura.

Saya ingin menyuguhkan suatu kenyataan, bahwa di suatu wilayah perang di Aceh pernah tercipta peristiwa dan suasana seperti dalam novel itu. Orang-orang sekarang sudah lupa dan sedikit yang mampu mengingatnya lagi. Apalagi remaja-remaja yang tumbuh sekarang, ketika peristiwa ini terjadi mereka belum masuk TK. Mereka hanya tahu, bahwa Aceh pernah dilanda konflik senjata. Maka, novel ini sangat penting sebagai rekaman sejarah Aceh yang tidak dimiliki novel-novel lain.

Tidak seperti novel-novel sejarah lainnya, novel ini bisa dinikmati oleh semua orang, tanpa harus tertekan. Bisa juga dinikmati sebagai novel romantis, bila tidak menyukai sisi sejarahnya. Sama sekali tidak akan terganggu. Apalagi disuguhkan dengan gaya tutur ringan, tidak terlalu sastra, dengan yang ungkap agak pasaran yang akrab dengan remaja, dewasa, maupun kaum terpelajar di Indonesia.

 

Saya membaca cerpen Mas Arafat yang dimuat di basabasi.co berjudul Cinta Seumpama Matahari. Adakah kaitannya dengan novel Seumpama Matahari? Saya pernah mendengar seorang penulis bisa mengembangkan sebuah cerpen menjadi sebuah novel, atau membuat cerpen dengan mengambil sebuah bagian novelnya.

Bab-bab dalam novel ini bisa berdiri dengan sendirinya. Ada juga bab yang agak lemah seperti bab yang muncul di basabasi.co itu, tapi akan menjadi kokoh menyatu dengan bab-bab lainnya dalam novel ini.

Semula, setelah menuliskannya, naskah novel ini terselip dan terlupakan. Sampai kemudian muncul dan tidak ada rencana saya ajukan ke penerbit, hanya mengirimkannya sebagai cerpen. Namun, begitu muncul cerpen itu di basabasi.co, saya langsung balik pikiran. Naskah ini penting sekali dijadikan buku. Apalagi kemasan ceritanya bersifat pengetahuan yang menghibur.

 

Sedikit keluar dari bahasan novel dan cerpen, apakah Mas memang memiliki kecintaan kepada matahari? Ataukah ada filosofi yang sejalan dengan matahari itu sendiri?

Matahari itu memiliki filosofi luas. Tanpa matahari pasti makhluk di dunia ini tidak bakalan bisa hidup, begitu yang disebutkan dalam dasar ilmu biologi. Dalam Islam sendiri, Nabi Muhammad diibaratkan matahari yang menyinari kegelapan dunia. Dan, tentu saja punya makna lain yang lebih luas.

 

Berapa lama proses penulisan novel Seumpama Matahari?

Terbilang lumayan lama juga. Proses penulisannya agak terjeda dengan penggarapan novel Lampuki  dan Tempat Paling Sunyi. Apalagi novel ini berdasarkan catatan mantan pejuang Aceh (GAM) yang saya kira penting diselamatkan. Semula data bakal novel ini hendak dimusnahkan oleh si pemilik kisah dengan alasan yang tidak saya tahu sampai sekarang.

 

Beberapa penulis biasanya memiliki tempat menyendiri maupun suasana tertentu saat proses kreatif penulisan karya berlangsung. Bagaimana dengan Mas, apakah juga demikian?

Tidak ada tempat khusus. Asal aman, saya bisa menulis di mana pun. Tapi saya lebih sering menulis di rumah dengan menonaktifkan segala perangkat yang mengganggu, semisal HP. Jika di luar rumah, sering tidak bisa fokus, apalagi bila ada seseorang yang mengajak berbincang.

 

Sedikit dari yang saya baca, setting cerita Seumpama Matahari adalah hutan. Riset seperti apa yang Mas Arafat lakukan untuk mendapatkan penggambaran hutan agar sesuai dengan keinginan dan juga diterima secara baik oleh pembaca?

Setting mengenai hutan itu memang nyata terjadi, juga beberapa peristiwa pertempuran, sebagaimana yang dicatat oleh Thayeb, si pemilik catatan ini, yang kemudian saya masukkan ke dalam novel sebagaimana adanya. Tentu dengan penyelarasan bahasa yang berbeda dengan aslinya.

 

Apa setting tempat yang menurut Mas Arafat paling sulit untuk diriset?

Biasanya dalam hal memunculkan setting, saya sering menuliskan seputar lingkungan saya. Lagi pula sejumlah kisah yang saya tuliskan dalam novel-novel saya, adalah peristiwa-peristiwa di seputar lingkungan saya, sekalipun sebuah tragedi politik yang biasanya lebih luas.

 

Saya membaca beberapa postingan profil mengenai Mas di mana sekian tahun silam keselamatan Mas Arafat sekeluarga sering terancam sehingga sering berpindah-pindah tempat bahkan kehilangan tempati tinggal juga. Sebuah kisah hidup yang bagi orang awam sulit untuk membayangkannya. Beberapa pengalaman itu akhirnya masuk ke dalam cerita yang Mas tulis. Bagaimana caranya agar pembaca tidak lebih dulu menjauhi karya-karya Mas Arafat yang boleh jadi terkesan menyeramkan dan justru menikmatinya dan tahu bagaimana kondisi konflik di daerah konflik yang sebenarnya?

Novel itu seumpama dunia, tidak melulu soal seram. Umumnya novel-novel yang saya tulis adalah novel utuh. Semua hal sering terseret dalam cerita tanpa sadar, tanpa terkotak-kotak, bersenyawa. Lagi pula saya tidak menulis novel seram. Sekalipun, banyak mengeksplorasi mengenai sosial politik, tapi saya lebih menyuguhkannya dengan gaya penceritaan yang humoris. Jadi, di dunia ini manusia tidak hanya menangis, ada saatnya juga untuk tertawa.

 

Selain konflik yang terjadi di Aceh, daerah mana lagi yang sebenarnya sangat menarik minat Mas untuk diangkat ke karya-karya selanjutnya?

Saya tidak pernah memaksakan sebuah gagasan itu muncul dalam diri saya, untuk kemudian saya tuliskan. Melainkan gagasan itulah yang sering memaksa saya untuk menuliskannya. Begitu banyak gagasan itu muncul belum sempat saya tuliskan, dan semuanya masih bersetting di Aceh. Cuma saja wilayahnya yang berbeda. Hampir setiap kampung memiliki kisahnya sendiri.

 

Menurut Mas Arafat sebagai pribadi, adakah semacam kekhawatiran jika menceritakan konflik-konflik di Indonesia akan membuat pandangan dari negara lain terhadap Indonesia menjadi buruk ataukah lebih baik terbuka apa adanya sebab itulah kenyataan?

Pandangan baik atau buruknya negara lain terhadap kita, tidak disebabkan oleh cerita. Kalaupun ada, tentu lebih besar pengaruh pemberitaan media massa yang tentu saja lebih merajalela bila dibandingkan dengan sastra. Namun, perlu disadari, baik-buruknya negara kita sangat tergantung diri kita sendiri, bukan orang lain. Misalnya baik buruknya suatu partai politik, bukan sebab orang di luar partai politik itu, melainkan perilaku mereka sendiri. Yang merusak nama sebuah partai, ya, orang partai itu sendiri, tidak mungkin orang luar. Yang membuat buruk orang Indonesia, yang orang Indonesia sendiri. Tidak mungkin orang Swedia.

 

Saya beralih ke dunia kepenulisan ya. Sudah bukan rahasia lagi jika minat baca di negara kita masih tergolong rendah. UNESCO menyebutkan hanya 0,001% atau menempati terendah kedua dari 61 negara yang disurvei. Tentu saja membaca status atau linimasa teman tidak masuk dalam aktivitas membaca yang dimaksud badan PBB tersebut. Tidak banyak membaca maka tidak akan banyak menulis. Setujukah Mas dengan hal tersebut ataukah sebenarnya membaca tidak melulu pada buku saja? Apakah terciptanya sebuah karya yang layak diukur dengan seberapa banyak bacaan teks si penulis?

Maunya saya tidak setuju dengan pendapat itu. Tapi realitas tidak bisa dipungkiri. Jangan memandang terlalu jauh, lihat saja orang-orang dekat sendiri, berapa banyak orang yang membaca buku, seberapa banyak buku yang dibaca. Karena negara kita memang bekas jajahan kolonial, maka sejak dulu tidak ada budaya membaca, terutama hanya sedikit sekali di kalangan kaum terpelajar.

Tentu yang dimaksudkan dengan budaya, yaitu kebiasaan. Jika, orang tua kita tidak suka buku, akan sulit sekali anak-anaknya suka buku. Di rumah orang yang tidak suka buku, tentu tidak ada buku. Anak-anak tidak tahu bahwa buku itu penting, karena tidak pernah melihat ayah atau ibunya membaca buku. Keadaan ini semakin mengukuhkan kita sebagai bangsa kuli (sebagaimana yang disebutkan Pram), atau bangsa budak (yang disebutkan Lampuki). Sebagaimana lazimnya, budak tidak mengenal buku. Yang akrab dengannya adalah kerja kasar. Kalau tidak ada inisiatif dari orang tua, pemerintah, pengajar, masyarakat, dan semua orang, akan sulit menumbuhkan rasa cinta buku pada orang-orang.

Justru yang menyakitkan hati saya, pemerintah terkesan menekan penulis dengan pajak royalti yang tidak sedikit, yang dipotong sampai 15-30%. Aneh sekali, pemerintah menganggap pekerjaan penulis tidak penting, disamakan seperti dunia hiburan. Jadi dunia pendidikan di Indonesia juga dianggap hiburan. Kesannya bangsa ini juga bangsa hiburan.

 

Di media sosial, saya sering melihat sejumlah orang memamerkan buku-buku yang sedang dibacanya. Tapi ketika ditanya, apakah esensi dari buku tersebut yang disampaikan oleh penulis, tidak bisa menjawab. Bahkan membuat ringkasannya pun kebingungan. Bagi Mas pribadi, apakah selalu mengingat semua esensi dari sebuah buku dengan mencatat atau menandai bagian penting, atau ada buku yang memang dibaca tanpa perlu diingat-ingat lagi?

Gejala semacam itu terjadi bukan sebab masalah ingatan, tapi penyerapan. Daya serap pembaca Indonesia umumnya sangat lemah. Kalau tidak salah, di bawah 40%, bahkan ada yang hanya mampu menyerap 10%. Bayangkan saja, jika isi buku yang dibacanya terserap 10%, mana mungkin mampu membuat ringkasan. Daya serap paling tinggi adalah Jepang dan Eropa yang mencapai 90%. Jika daya serap seperti ini, mungkin sehabis baca, mereka mampu menuliskan ulang semua isi buku. Daya serap yang tinggi akan memudahkan seseorang untuk menjadi penulis.

Umumnya, saya mengingat semua yang penting dalam buku yang saya baca. Kalau tidak, saya merasa rugi telah membaca buku tersebut.

 

Jika harus menyebut nama penulis tanah air, siapa yang tulisannya sangat berpengaruh pada proses pematangan karya-karya Mas Arafat? Bagaimana dengan penulis-penulis di luar negeri?

Semua penulis yang tidak sombong dan tidak suka plagiat saya suka. Banyak juga karya penulis tanah air yang saya suka, tapi tidak ada satu pun yang mampu mempengaruhi saya. Namun, saya lebih akrab dengan karya-karya penulis asing. Saya terkesan dengan novel-novel Marquez, cerpen-cerpen Borges. Tapi saya menulis dengan gaya saya sendiri, dengan cara saya sendiri, tanpa terlalu memikirkan pengaruh-pengaruh lain.

 

Jika ada yang menyebut karya Mas dengan cara negatif, apa reaksi yang biasanya Mas tampakkan?

Saya tidak menanggapi, membiarkan saja. Cuma saya cek ulang apa benar yang disampaikannya, mungkin saya yang keliru. Namun, kebanyakan penilaian negatif itu, pembaca sendiri yang keliru akibat kurangnya wawasan. Misalnya, ada yang menganggap tidak masuk akal anak SMA tidak tahu bumi ini bulat dan masih menganggapnya datar, sebagaimana yang saya kisahkan dalam novel Tempat Paling Sunyi. Akhir-akhir ini justru mereka yang berpendidikan tinggi bersikeras menyatakan bahwa bumi ini datar. Yang saya tuliskan benar-benar nyata dan terjadi sampai sekarang. Bahkan teman-teman saya sendiri masih begitu yakin bumi ini datar terhampar. Banyak lagi kasus lainnya yang melecehkan dan merugikan saya. Namun, seiring proses belajar, kelak mereka akan malu sendiri. Dikiranya, saya menulis novel itu asal-asalan, tanpa ada landasan.

 

Pernahkah Mas Arafat Nur membuat sebuah karya untuk membalas atau menanggapi karya orang lain dengan maksud menghindari debat kusir yang berkepanjangan?

Tidak pernah, dan sejauh ini tidak ingin. Saya juga tidak ingin menanggapi debat kusir. Sayang dengan waktu yang banyak terbuang, sementara begitu banyak tugas penting lain yang harus saya kerjakan. Orang-orang yang menanggapi debat kusir umumnya punya waktu yang melimpah. Debat kusir beda dengan diskusi. Bila diskusi penting akan saya layani.

 

Kita sudah memiliki beberapa penghargaan sastra yang memunculkan karya-karya sastra hebat, nama-nama baru pula. Tapi adakah sesuatu yang menurut Mas Arafat Nur masih belum terangkul dalam setiap pergelaran sastra di Indonesia?

Saya kurang tahu. Saya yang tinggal di Aceh, jauh dari pusat kegiatan sastra, tidak banyak terlibat dalam berbagai perhelatan. Kadang panitia memang kerap lupa pada orang yang jauh. Dan, memang itu sangat manusiawi.

 

Pertanyaan penutup, dalam 3 kata, apakah novel Seumpama Matahari itu?

-Sebuah novel penting.

 

Demikian wawancara Redaksi dengan Arafat Nur. Novel Seumpama Matahari akan terbit di bulan Mei 2017 dan Preorder masih dibuka hingga 20 April 2017.

 

OPEN PO SEUMPAMA MATAHARI
Preorder Seumpama matahari karya Arafat Nur