Agus Noor: Jangan Pernah Bilang Kehabisan Ide #KampusFiksi20

Agus Noor: Jangan Pernah Bilang Kehabisan Ide #KampusFiksi20
Agus Noor: Jangan Pernah Bilang Kehabisan Ide. Sumber gambar: Avifah Ve

Kendala bagi penulis dalam menulis cerita biasanya terkait ide. Semangat menulis sudah menggebu, sudah duduk anteng di depan komputer, tetapi halamannya masih saja kosong berjam-jam kemudian. Alasannya sih nggak ada ide. Lalu, bagaimana agar ide itu muncul?

“Jangan pernah bilang kehabisan ide. Coba saya berikan satu kata, semisal tikus. Apa yang ada dalam benak kamu ketika mendengar kata itu?” begitulah Agus Noor (Hakim Sarmin Presiden Kita) memulai materi pada acara Kampus Fiksi hari Minggu, 26 Maret 2017 lalu di Gedung Kampus Fiksi, Sampangan, Baturetno, Yogyakarta.

Beberapa peserta mempunyai pendapat berbeda tentang kata “tikus” yang diajukan oleh Agus Noor. Ada yang bilang menjijikkan, hewan, politik, dan lain-lain. Beda lagi dengan kata selanjutnya, yakni “apel”. Peserta pun menafsirkan apel dengan beragam. Di antaranya buah yang menggoda, snow white, enak, serta yang lainnya.

“Jadi, tidak ada alasan bahwa ide itu tidak ada. Saya biasa menulis beberapa ide. Hanya berupa catatan kecil. Lalu ketika sedang ingin menulis, tinggal membuka salah satunya dan mengembangkannya menjadi cerita. Temukan kemungkinan-kemungkinan dari setiap kata,” lanjut Agus Noor.

Setelah ide, secara bertahap peserta mendapat materi tentang urutan membuat cerita. Di antaranya cara membuat awal cerita yang bagus. Pada sesi ini, peserta juga membuat contoh yang dibacakan satu per satu. Banyak contoh yang didapat. Misalnya memulai cerita dengan kalimat langsung, deskripsi tempat, ungkapan perasaan, dan hal-hal yang membuat penasaran pembaca sehingga tertarik untuk mengetahui cerita hingga akhir.

Lebih lanjut, Agus Noor memaparkan tentang keseimbangan narasi dan percakapan di dalam cerita.

“Jika sebuah cerita terlalu didominasi dengan narasi panjang, yang baca pun akan lelah. Oleh karena itu, kalimat langsung atau percakapan diperlukan,” ujarnya.

Untuk mengakhiri sebuah cerita, bisa dengan sad ending atau happy ending. Tak jarang, banyak cerita yang diakhiri dengan menggantung sehingga membuat gemas pembaca.

Suasana Kampus Fiksi Angkatan 20 berbeda dengan angkatan-angkatan sebelumnya. Ini merupakan angkatan terakhir dengan peserta terbanyak, yakni 54 orang yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Meskipun begitu, ruangan dengan suasana lesehan tidak membuat peserta bosan karena penyampaian Agus Noor yang sangat mengasyikkan.

Tidak hanya teori, tetapi peserta langsung praktik dan membacakan tulisannya sehingga dapat dinilai oleh peserta lain. Agus Noor juga sangat atraktif dalam menyampaikan contoh-contoh membuat cerita. Dari hal-hal yang sudah disampaikan, peserta menjadi tahu bahwa mustahil ide cerita tidak ada. Sebab, segala kata dapat dikembangkan menjadi cerita dengan kemungkinan-kemungkinan yang diciptakan sendiri.

Selain materi dari Agus Noor, peserta juga mendapat materi tentang teknik menulis dari Direktur Penerbit DIVA Press, Edi Mulyono, pengetahuan tentang keredaksian, editing, marketing, dan sharing bersama salah satu alumni Kampus Fiksi, yakni Farrahnanda.

Selepas dari pelatihan ini, pihak penerbit memberikan fasilitas untuk melakukan bimbingan online dengan para mentor. Ide yang lolos akan didampingi hingga menjadi buku yang siap terbit. Namun, peserta juga tidak dituntut untuk menerbitkan tulisannya di Penerbit DIVA Press.

Oleh: Utami Pratiwi

You might also like More from author

Comments are closed.