8 Tips Menangkap Ide untuk Tulisan

good idea 2

Adakah DIVAmate yang sering mengalami “mati ide” alias bingung mau nulis apa lagi saat sedang menyelesaikan naskahmu? Kita bahas bareng-bareng di pagi ini yuk tentang Tips #MenangkapIde untuk tulisan. Siapin catatannya Bro/Sis.

Ide, sesuatu yang sakral banget bagi seorang penulis. Bisa dibilang, ide adalah awal yang mengawali banget proses penulisan #MenangkapIde
Suatu ketika di sebuah stasiun di London, kembang api kecil meledak dalam benak seorang ibu tunggal satu anak. Ide ttg kereta sekolah sihir. Kembang api itu meletup-letup, ingin dituliskan, minta dituangkan dalam kertas. Ide itu kini berubah menjadi salah satu novel terbaik dunia. Semua berawal dari ide. Sebuah novel, buku motivasi, komik, hingga penemuan-penemuan besar dunia, semua dimulai dari ide. #MenangkapIde.

Dalam buku kerennya “Writing Donuts”, Joni L. Effendi mengupas banyak hal tentang teknik #MenangkapIde ini. Menurut Effendi, ide itu ada di mana-mana dan bisa ditangkap jika kita pandai menemukannya. Ide itu harus diburu, ditangkap, lalu dipenjara dalam halaman-halaman kertas dengan menuliskannya (Writing Donuts hlm. 91)

Begitu sering kita berteriak frustrasi karena tulisan mentok, tidak ada ide, tulisannya membosankan dan bla bla bla. Ada yang ngalamin? Padahal, ide-ide itu beterbangan di sekitar kita. Kita saja yg sering tidak sadar dan tidak mau mengenalinya. Lalu, bagaimana cara mencari dan #MenangkapIde dari sekitar kita untuk dijadikan sebagai ide tulisan yang keren?

Ketahuilah, hanya ide-ide unik, kebaruan, kekinian, bermanfaat, praktis, beda, dan pas -lah yang akan diterima penerbit. Jadi, ide itu seharusnya harus benar-benar dijaga, dipenjara, dan dipupuk baik-baik. Setelah ditangkap, kudu disimpan/didokumentasikan. Berikut ini beberapa tips #MenangkapIde yang mungkin bisa kita praktikkan untuk menjaring ide-ide yg baru dan kreatif:

(1) Terus dan tetap menulis.
Cara terbaik untuk #MenangkapIde adalah dengan tetap menulis dan terus menulis.

Saat nggak dapat ide, kadang yang perlu kita lakukan adalah menulis dan terus menulis, meskipun tidak nyambung. Dalam menulis, ada tahap yang disebut revisi (yakni membaca dan menyunting ulang tulisan kita). Inilah proses kreatif yang kedua. Teruslah menulis, meski tidak nyambung, hal ini bisa kamu perbaiki lagi di proses revisi. Ide kadang datang di tahap revisi ini. Cara ini konon juga dipakai oleh Putu Wijaya saat beliau tiba-tiba kehabisan ide saat berkarya, yakni terus menulis.

“Menulis dan mulailah menulis, meski nggak ada ide di kepalamu. Ide akan hadir saat kau mencoretkan pena pada kertasmu.” (Abdul hadi W.M.)

Mengapa teknik “terus menulis” kadang manjur untuk #MenangkapIde? Penjelasannya seperti ini. Saat nggak ada ide, dan kita terus menulis, tanpa sadar kita saat itu sedang memaksa ide untuk keluar, untuk ada. Sering kali, tidak ada ide adalah alasan yg kita buat sendiri untuk menutupi rasa jenuh atau bahkan malas. Ide itu sebenarnya sudah ada. Dengan terus menulis, kamu “memaksa” si ide yang lagi ngumpet di balik kemalasan itu untuk keluar, untuk mengada.

Sejatinya, ide itu berlarian di dalam kepala kita. Pengalaman kehidupan, keyakinan, prinsip, semua kisah yg pernah kita baca dan dengar. Sering kali, kitalah yang tidak peka (atau mungkin malas) untuk #MenangkapIde yang ada di kepala kita sendiri. Jadilah peka, salah satu caranya adalah dengan terus memaksakan diri untuk terus menulis di kala ide itu tidak kunjung datang.

(2) Selalu membaca catatan untuk mencatat ide yang muncul di kepala, saat itu juga
Cara kedua untuk #MenangkapIde adalah dengan selalu membawa catatan. Bisa notes kecil, atau pakai aplikasi note di gadget. Hare gini gitu! Ada sebuah ungkapan bijak yang berbunyi: “Pikiran sekuat apapun tidak akan mampu mengalahkan catatan tertulis.” Sekalipun kamu punya daya ingat yang kuat, memorimu juga ada batasnya. Percayalah. Jangan semata mengandalkan ingatan, catatlah idemu. Tidak butuh waktu lama untuk mencatat ide yg muncul di kepala, tidak sampai 5 menit. Tuliskan di kertas dan biarkan memorimu diisi yg lain. Senyum manis si dia misalnya eaakkkk

Dengan menuliskan ide di kertas/file gadget, kamu akan merasa lebih tenang, santai, dan terbebas dari kekhawatiran akan ‘lupa’ dgn idemu. Keuntungan lain dari rajin mencatat ide adalah kamu bisa membuka-buka kembali kumpulan file/catatan ide ini kelak saat lagi nggak punya ide. Konon, Bapak Ahmad Tohari sudah rajin untuk mencatat ide-ide tulisannya sejak tahun 1970-an. Catatan2 itulah yang sekarang beliau tuliskan ulang dan menjadi novel-novel beliau yang sangat merakyat dan fenomenal itu. Begitulah, sebuah ide bisa hidup sampai puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, ketika kita menuliskannya. #MenangkapIde

“Saya selalu membawa catatan hampir setiap saat. Jika saya mendapat ilham untuk sebuah puisi, saya menulisnya di sana.” (Ntozake Shange)

(3) Melakukan sesuatu yang berbeda
Baiklah, tips ketiga #MenangkapIde adalah dengan melakukan sesuatu yang berbeda, yang tidak biasa kamu lakukan. Berani?

Misal jika selama ini aktivitasmu hanya sekolah/kampus – angkot – rumah, coba diganti sekolah/kampus – perempatan jalan – angkot – rumah. Ngapain, Min, di perempatan? Mau mangkal? | Iya, Cynns. Lumayan buat ojekan akhir bulan (*0*)? | Buset, Mak!!! (*.*)

Coba lakukan sesuatu yang berbeda: blanja di toko baru, ke sekolah jalan kaki, manjat tower kampus. Eh, yg terakhir jangan dink. Coba sesekali pulang lewat jalan yg beda. Kalau biasanya pulang ke Serpong, sesekali cobalah pulang ke Bekasi. Eh nggak gitu juga kali ya? Pengalaman baru, orang-orang baru, tempat baru, kesan yang baru. Semuanya adalah sumber ide yang luar biasa. Yakin!
Melihat hal-hal yang baru akan memancing ide-ide baru untuk keluar. Langsung catat begitu ide itu nongol. Siap?

(4) Banyak membaca
Cara terbaik #MenangkapIde selain tekun menulis adalah dengan banyak membaca.

Stephen King pernah berkata: Mereka yg tidak mau meluangkan waktu untuk membaca tidak akan punya sarana dan kemampuan untuk menulis. Seberapa penting sih peran aktivitas membaca bagi seorang penulis? Penting sekali. Kalau diibaratkan, membaca itu kegiatan wajib penulis. Jika olahraga baik untuk tubuh, maka membaca itu sangat baik untuk pikiran. Karena setiap penulis dulunya pernah jadi pembaca, dan seharusnya pun dia akan dan tetap jadi pembaca, selalu.
Selain banyak baca, baca juga buku-buku yang selama ini mungkin jarang kamu baca. Jika biasanya baca novel, sesekali bacalah buku nonfiksi. Kalau selama ini baca novel2 remaja yang tipis, cobalah sesekali baca novel klasik yang setebal bantal. Berani nggak hayo? Jangan lupa, bacalah majalah dan surat kabar. Dua media ini kadang adalah sumber ide yang berkelimpahan. Dengan banyak membaca, kita berarti telah memasukkan sejuta benih ide ke dalam kepala kita. Suatu saat, ide itu akan menjelma karya besar.

(5) Jalan-jalan, travelling, hiking, berwisata.
Inilah cara terasyik untuk cari ide: JALAN-JALAN.
Travelling atau jalan-jalan sangat ampuh untuk membuka dan meluaskan pandangan, bertemu orang dan tempat baru, pengalaman baru. Ada begitu banyak cerita, pengalaman, orang, dan tempat baru yang bisa kita dapatkan dengan jalan-jalan. Termasuk ide menulis juga. Cucilah mata dgn melihat hal/tempat/orang baru, niscaya semakin banyak ide akan membanjir ke dalam kepala. Hindari jalan2 yg hanya menawarkan wisata belanja semata, pilihlah wisata alam, wisata pendidikan, wisata sejarah dan budaya. Itu keren!

Pengalaman baru (entah buruk atau menyenangkan) saat berjalan-jalan akan menjadi sumber ide yang sangat kuat. Segera tulis. Tapi, jangan sampai kamu asyik jalan-jalan dan melupakan tulisan ya. Tuliskan perjalananmu dalam karya, abadikan dalam tulisan. Zaman sekarang, jalan-jalan tidak lagi seribet dulu. Banyak komunitas traveller yang bisa kamu ikuti. Hayuk, jalan-jalan.

(6) Istirahat cukup, rutin berolahraga, dan makan makanan bergizi. Intinya, jaga kesehatan.
Adagium lama bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat rupanya juga berlaku dalam dunia tulis-menulis. Menjadi sehat adalah cara yang menyenangkan untuk #MenangkapIde. Ide bagus biasanya muncul ketika tubuh dalam keadaan rileks, segar, tenang, bahagia, dan sentosa. Jadi, ayo kita sehat!

Sudah tidak zamannya lagi penulis kurus kering, kere, batuk-batuk, jalannya sempoyongan. Penulis keren itu sehat, sehat lebih baik. Meskipun kata orang, ilham sering datang saat tengah malam, tapi jangan juga kamu begadang semalaman demi #MenangkapIde. Demi ide tulisan juga, nggak kemudian kamu jadi lupa makan dan lupa minum. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, Kak.

Kita ingin, ketika karya kita akhirnya jadi dan dibaca banyak orang, kita masih sempat menyaksikan momen emas itu dlm kondisi sehat sentosa. Penulis hebat abadi lewat karyanya. Tapi, penulis yg masih hidup dan sehat, dan masih bisa menyaksikan karyanya diabadikan orang, itu hebat! Menjadi penulis tidak berarti kita kemudian harus mengabaikan kesehatan tubuh. Tubuh yang sehat akan lebih mudah diajak menulis. Yakin deh!
Mohon dibedakan antara penulis yang memang tidak kuasa menolak sakit dengan penulis yang menyakiti dirinya sendiri. Beda loh. Penulis yang sakit, tapi dia mampu tetap menulis dan menghasilkan karya besar, kami haturkan salut hormat tak terhingga kepada mereka. Hellen Keller dan Jose Luis Borges adalah para penulis yang tetap menulis meskipun mereka menderita kebutaan. Karya mereka abadi.

Kita, yang diberkahi dengan kesehatan, masak iya malah menyia-nyiakan kenikmatan sehat? Ayolah, jadi penulis yang sehat bisa kok.

(7) Memiliki hobi atau kegemaran
Memiliki dan menjalani hobi adalah tips lain dalam #MenangkapIde

Hobi adalah media untuk menyalurkan energi berlebih, mencairkan kekakuan hidup, pelarian yang sehat dari kerasnya hidup, serta sumber ilham. Banyak penulis besar ternyata memiliki hobi yang unik-unik loh. Beberapa di antaranya bahkan tidak berkaitan dengan tulis-menulis.

Emily Dickinson ternyata suka sekali membuat kue; Ernest Hemingway adalah seorang pemburu dan suka memancing. Jago banget malah. Vladimir Nabokov suka mengumpulkan spesimen serangga; Ayn Rand kolektor prangko: Haruki Murakami suka banget lari pagi dan musik jazz. Bahkan Mark Twain adalah sobat dekatnya Nikola Tesla. Obsesinya sejak dulu adalah melakukan percobaan ilmiah dan menemukan perangkat baru.

Lihatlah, para penulis besar tidak melupakan hobinya, dan mereka tetap berkarya. Kenapa? Karena kadang ide2 bagus muncul dari hobi. Saat seseorang tengah asyik dengan hobinya, pikiran berada dalam kondisi tenang dan rileks. Saat-saat inilah ide biasanya nongol. Bukan tidak mungkin, karya kita menjadi semakin berwarna dan kaya ketika kita mewarnainya dengan berbagai hal ttg kegemaran/kesukaan kita.

Menjalankan hobi juga berfungsi sebagai hiburan. Saat capek/jenuh menyerang, letakkan sejenak penamu lalu rawatlah bunga, atau bersepadalah. Tidak ada salahnya memiliki hobi sepanjang kita bisa mengelolanya. Yang salah itu kalau kita sampai lupa menulis karena keasyikan sama hobi. Karena, sekali lagi, penulis itu menulis sementara pemimpi bermimpi menulis. Gunakan hobi hanya sebagai selingan kehidupan agar tidak bosan.

Dan, tips terakhir #MenangkapIde adalah (8) MERENUNG
Bukan, merenung itu beda jauh dengan menggalau loh. Merenung itu biasanya ada hasilnya, sementara menggalau itu ada nyeseknya hihihi. Walau ada juga loh penulis yang bisa menghasilkan buku dengan cara menuliskan kegalauannya. Catat ya, MENULISKAN KEGALAUANNYA. Kalau kamu galau-galau aja, tapi tidak ada kemauan untuk mengubahnya jadi tulisan, ya sudah nyesek nyesek aja tuh *Miminnya ditabox

Ada pemuda yang menuliskan kegalauan hatinya karena selalu jomblo. Nah, ditulislah itu kegalauan, jadi buku, dan laris manis. Gini keren! Ada mbak-mbak mahasiswi, yang menuliskan “aktivitas gelundungan bohay di kosnya” dengan kocak. Bestsellerlah itu acara gelundungan. Ini juga keren!

Tentang merenung, ini MinCob kayaknya kudu merenung dulu biar bisa ngejelasin sampai klir. Tungguin lanjutan tulisan ini tahun depan, ok? | Kelamaan WOY *lempar lesung

Sebelum kegalauan si pemuda jomblo tadi jadi naskah, dia telah melewati dulu tahap perenungan hingga akhirnya memutuskan menulis kisahnya. “Hidup gue gini-gini amat. Ditolak mulu. Asyik kali kalo pengalaman nyesek ini gue abadikan di folder. Eh, kenapa nggak gue tulis aja sih!” Nah, sudah nangkep kan maksud MinCob tentang merenungkan kegalauan dan kemudian muncul ide untuk menuliskannya? Itulah “merenung” yang sejati #haseg

Nah, lain kali kalau kamu galau, cobalah mengarahkan kegalauan itu menjadi kegaluan yang positif. Galau sambil nyikat kamar mandi atau nagihin utang temen, misalnya.

Untuk tingkat yg lebih tinggi, menulis buku sastra misalnya, renungan yang dilakukan pun harus lebih amunisinya. Lalu, bagaimana agar bisa merenung tingkat tinggi? Banyak baca, banyak pengalaman, banyak mendengar, dan banyakin diam. Perhatikanlah dunia. Jadilah orang yang sibuk mendengar dan memperhatikan ketimbang sibuk mengoceh dan berkomentar. Jadilah perenung yang kece, dan bukan pemimpi yang memble.

Demikian 8 tips #MenangkapIde untuk hari ini. Semoga bermanfaat ya *peluq kenceng DIVAmate

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *