7 Modal yang Harus Dimiliki Seorang Calon Penulis

7 Modal yang Harus Dimiliki Seorang Calon Penulis

Seorang penulis yang baik, sebagaimana sebuah tulisan yang baik, tidak muncul begitu saja dari kekosongan. Ada proses yang dialami, persiapan yang dilakukan, dan pembelajaran yang berlangsung terus-menerus sehingga seseorang bisa disebut sebagai penulis yang mampu menghasilkan karya bermutu. Sekadar menulis saja, hampir sebagian besar orang mungkin bisa melakukannya (apalagi menulis status galau dan baper). Tetapi, menjadi seorang penulis yang baik; tidak banyak yang bisa melakukannya. Sesuatu terasa sulit karena dia istimewa. Begitu pula, menjadi penulis itu istimewa karena ada jalan panjang menuju ke sana. Dan, ngomong-ngomong, penulis juga adalah calon pasangan yang istimewa karena mereka tidak banyak jumlahnya eakkk.
Lalu, apa saja yang diperlukan untuk bisa jadi seorang penulis yang baik? Tentunya menjadi sesuatu yang istimewa haruslah melalui serangkaian proses, tidak asal jadi, termasuk untuk menjadi penulis. Hari gene, pacaran saja butuh modal, Bro! Paling tidak ada tujuh modal yang harus dimiliki seorang calon penulis jika ia memutuskan untuk ingin menjadi penulis yang baik kelak. Dari berbagai sumber, MinCob telah rangkumkan kepada DIVAmate 7 modal yang harus dimiliki seorang calon penulis. Apa saja itu?

1. Penguasaan Bahasa yang Baik

Seorang penulis yang baik harus mau belajar dan mempelajari aspek-aspek kebahasaan dari bahasa yang hendak dipakainya untuk menulis. Jika kamu hendak menulis dalam bahasa Indonesia maka kamu juga harus mulai belajar bahasa Indonesia. Begitu juga jika ingin menulis dalam bahasa Jawa, Inggris, Mandarin, Arab, dan yang lainnya. Kenapa? Karena bahasa adalah media utama untuk kita gunakan dalam menulis. Lewat bahasa inilah pembaca kemudian bisa mengambil manfaat dari apa-apa yang kamu tulis. Percuma saja kamu nulis buku bagus banget tentang tips membasmi baper bagi remaja Jabodetabek tapi kamu nulisnya pakai bahasa Mesir kuno wkwkwk.
Bahasa adalah seperangkat tatanan dalam komunikasi yang telah disepakati selama puluhan bahkan ratusan tahun. Bahasa berkembang sejalan dengan berkembangnya peradaban karena lewat bahasa inilah sehingga pertukaran informasi dan kegiatan komunikasi dapat berjalan. Penguasaan yang baik terhadap bahasa akan membuat penulis lebih mudah dalam mengekspresikan idenya kepada pembaca. Pembaca juga lebih senang tentunya dengan penulis yang tulisannya jelas, lugas, tidak ngalor-ngidul. Faktanya, aspek kebahasaan inilah salah satu yang pertama kali dipertimbangkan oleh editor saat hendak menerbitkan naskah. Sebagus apa pun naskah, jika tak terbaca maksudnya (karena penguasaan bahasa si penulis yang kacau), maka penulis juga akan pikir-pikir panjang untuk menerbitkannya.
Mimin tahu, banyak dari kita yang dulu sering tidur atau melamun pas pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Pelajaran Bahasa Indonesia membosankan, begitu mungkin anggapan banyak dari kita. Sebenarnya, bukan bahasa Indonesia-nya yang membosankan, sering kali yang membosankan itu adalah cara mengajarnya. Akibatnya, banyak siswa yang kemudian malas duluan saat pelajaran bahasa Indonesia. Kesalahan fatal ini baru terasa ketika hendak menulis, ternyata banyak kita yang belum mengenal baik bahasa tercinta kita. Mulai dari penggunaan bergeming dan acuh yang keliru, hingga masalah pemenggalan kata yang sering bikin heboh (ingat kasus meme ‘di langgar dan dilanggar’ serta iklan RUMAH DI JUAL).
Lalu, bagaimana cara belajar bahasa? Tentu saja yang terbaik adalah dengan membaca buku-buku tentang bahasa. Setidaknya, seorang penulis harus memiliki satu buku EYD. Beneran deh, buku ini harganya murah banget tapi manfaatnya besar sekali. Bukunya juga tidak terlalu tebal, namun isinya jangan ditanyakan. Bahkan para editor yang sudah ngelotok ilmu editingnya itu masih pada rajin kok nge-cek dan buka-buku EYD. Kamu yang penulis harusnya lebih sering membukanya agar tidak terjadi lagi tragedi “Ayo makan Abang!”

2. Kosakata yang Kaya
Apa itu kosa kata? Dalam bahasa Inggris, kosakata sering diartikan sebagai vocabulary yang bermakna gudang perbendaharaan kata dalam pikiran kita. Orang yang memiliki kosakata kaya akan tahu bahwa ada banyak kata lain yang hampir mirip dengan melihat (melirik, mengerling, menatap, mengintip, melotot, memantau, menonton) sehingga ucapan dan tulisannya tidak membosankan dengan kata yang itu lagi itu lagi. Bayangkan betapa membosankannya jika dalam satu bab kita menemukan banyak sekali kata yang diulang-ulang. Hidup tanpa variasi adalah membosankan, begitu juga tulisan.
Penulis yang kaya kosakata akan terlihat pada tulisannya. Membacanya tidak pernah membosankan, dan pembaca bisa belajar kata-kata baru sekaligus menambah kekayaan kosa katanya sendiri. Ini sebagai wujud peran penulis sebagai agen penjaga sekaligus pemerkaya bahasa. Bukan tidak mungkin, penulis juga akan turut menambahkan kosakata baru dalam bahasa Indonesia sehingga bahasa kita menjadi kaya.
Bagaimana cara memperkaya kosakata? Kamu mau cara yang sulit atau yang mudah? Oke, cara sulit adalah dengan sering-sering membuka kamus dan tesaurus, kemudian dihapalkan satu-satu. Cara kedua lebih mudah, tapi yang mudah ini pun masih banyak yang mengeluh, yakni dengan banyak membaca. Sebenarnya, cara terbaik (dan paling mudah) untuk menambah kosakata adalah dengan membaca. Tapi, yang mudah inipun banyak dari kita yang keberatan. Sekarang, kembali ke kita masing-masing. Apakah kita ingin menjadi penulis yang membosankan ataukah ingin menjadi penulis yang penuh warna dalam karya-karyamu? Keputusan terakhir ada di tanganmu.

3. Wawasan yang Luas
Ini sih kayaknya semua sudah tahu ya, seorang penulis yang baik adalah yang berwawasan luas. Tidak perlu jadi jenius untuk jadi penulis, tapi kamu wajib punya banyak wawasan sehingga tulisanmu tidak kosong. Tulisan yang bagus tidak lahir dari kekosongan, namun dari kekayaan pengetahuan si penulis. Sekadar menulis status mungkin bisa, tapi menulis status yang bergizi belum tentu semua orang bisa. Apa yang kita tulis adalah apa yang kita baca, kita lihat, kita dengar, kita rasakan. Semakin bagus apa yang masuk ke dalam pikiran, maka semakin bagus pula yang keluar darinya. Dalam hal ini, tulisan yang baik muncul dari otak yang mendapatkan asupan gizi yang baik.

Apa gizi terbaik untuk otak? Salah satunya adalah membaca. Bersama melakukan hal-hal baru, berolah raga, ngobrol, jalan-jalan, dan mengisi TTS; membaca adalah salah satu aktivitas yang sangat baik bagi otak. Membaca membuat otak tetap jalan sehingga kita terhindar dari kepikunan, mati ide, dan juga mati gaya. Selain itu, efek samping positif dari membaca adalah menambah wawasan kita. Apa yang kita baca inilah yang kemudian turut menjadi apa yang kita tulis. Penulis yang bacaannya banyak tentu akan berbeda dengan penulis yang bacaannya masih sedikit. Dalam hal tulis-menulis, semakin kaya bacaanmu maka akan semakin bagus tulisanmu. Mustahil bisa menulis dengan baik jika kita malas membaca.

4. Kepekaan Membaca Lingkungan
Sastrawan yang baik adalah saksi zaman dan masyarakatnya. Ketika kebenaran ditindas, dia harus jadi penyambung lidah rakyat lewat tulisan. Demikian kata Anton Kurnia dalam Mencari Setangkai Daun Surga yang menegaskan peran penting penulis bagi dunia. Penulis yang baik tidak sibuk berkutat di perpustakaan sepanjang tahun. Sesekali, dia harus turun ke jalan dan melihat fenomena dalam masyarakat. Melalui tulisannya, penulis kemudian menggambarkan apa yang terjadi di masyarakat, masalah-masalah yang ada, dan (kalau ada) solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian, dia tidak hanya sekadar menulis melainkan menulis untuk mengungkapkan kegelisahannya, hasil perenungannya untuk kemudian disampaikan kepada pembaca.

“Seorang penulis perlu meragukan, mempertanyakan. Aku menulis karena keingintahuan dan kebingungan … Aku telah belajar banyak hal yang tak mungkin dapat kupelajari seandainya aku bukan penulis .” (William Trevor)

Inilah penulis yang baik, dia tidak sekadar menulis namun juga turut memberikan sumbangsih kepada kebaikan dunia lewat media tulisannya. Tidak perlu muluk-muluk ikut membahas konflik sektarian di belahan dunia lain, kita bisa mencobanya dari yang mudah-mudah, seperti kebiasaan buang sampah sembarangan misalnya. Seorang penulis gelisah karena perilaku masyarakat kita yang buang sampah sembarangan. Kemudian, ia menulis sebuah novel tentang seekor ikan pari kecil yang kehilangan tempat tinggalnya karena lautan sudah tercemari sampah. Melalui novelnya ini, penulis mencoba menyadarkan pembaca tentang bahaya membuang sampah plastik ke lautan. Cara ini sering kali lebih efektif ketimbang kita sibuk berdemo antiplastik di perempatan atau memarahi kasir di swalayan yang tidak tahu apa-apa #eh.
Gimana agar lebih peka pada sekitar? Perhatikanlah. Sebagaimana kita memperhatikan si doi, perhatikanlah orang lain. Jangan selalu fokus kepada diri sendiri, sesekali fokuslah pada orang lain. Cobalah lebih banyak bertanya ‘bagaimana seandainya aku jadi dia’ dan kurangi berkata ‘seandainya mereka jadi diriku’. Penulis yang baik tidak egois. Mereka belajar untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, mencoba memahami menjadi orang lain untuk kemudian sama-sama menyadari bahwa jauh dalam diri kita masing-masing, setiap manusia adalah unik, punya ketakutannya sendiri, punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Pada akhirnya, kita jadi sadar bahwa dunia akan jadi tempat yang lebih baik ketika semua orang bisa belajar untuk saling memperhatikan.

5. Imajinasi yang Kaya
Einstein pernah berkata bahwa imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan karena imajinasi itu tidak terbatas. Bukan berarti ilmu pengetahuan itu tidak penting, dua-duanya sama-sama penting. Ilmu bermanfaat untuk memudahkan kehidupan manusia, sementara imajinasi ada untuk membuat hidup jadi lebih berwarna. Jika kedua-duanya bisa seiring sejalan, maka itulah salah satu puncak pencapaian manusia. Sekarang, balik lagi ke imajinasi. Untuk mudahnya, kita sebut saja imajinasi ini kemampuan untuk berkhayal. Penting sekali bagi penulis untuk bisa berkhayal, bahkan kemauan dan kemampuan untuk berkhayal ini menjadi modal wajib penulis. Penulis Maya Angelou pernah berkata bahwa jangan menjadi penulis kalau kamu malas atau malu-malu berimajinasi. Tanpa imajinasi ini, karya yang dihasilkan akan kering.
Banyak penulis yang memiliki daya imajinasi di atas rata-rata. Kemampuan dan kemauan berimajinasi inilah salah satu faktor yang mendorong mereka untuk berkarya. Beberapa penemuan besar di dunia konon juga terilhami dari imajinasi penulis, misalnya tentang kapal selam dan perjalanan ke bulan yang mungkin terinspirasi oleh novel-novel karya penulis Prancis Jules Verne. Beberapa imajinasi penulis bahkan mampu melampaui zamannya. Pernah baca novel 1984 karya George Orwell?
Lalu, bisakah daya imajinasi ini dilatih? Ada yang bilang imajinasi adalah bakat atau anugrah. Beberapa pengarang memang memiliki bakat berimajinasi yang mengagumkan sehingga mereka bisa menghasilkan karya-karya luar biasa. Namun, perlu ditekankan disini, bakat berimajinasi yang luar biasa pun akan sia-sia jika mereka tidak menuliskannya. Penulis-penulis itu hebat karena mereka mau dan mampu menuliskan imajinasi mereka yang luar biasa. Tanpa tindakan menulis, bakat berimajinasi yang hebat itu hanya akan terpendam selamanya di benak pemiliknya.
Bagaimana dengan kita yang bakatnya hanya sampai ke berimajinasi ke yang bukan-bukan? Bisakah imajinasi ini dipupuk, dikembangkan, dan dilatih? Jawabannya bisa. Kita mengenal kelas penulisan kreatif yang sekarang banyak diajarkan (baik secara akademik maupun nonformal). Hal ini mengindikasikan bahwa kreativitas dan imajinasi bisa dilatih. Tidak semua orang dilahirkan dengan bakat kreatif dan imajinatif, tetapi para ahli telah menemukan bahwa keduanya bisa dilatih dan dikembangkan. Sekali lagi, ketekunan sering kali akan mengalahkan bakat. Orang biasa namun tekun berlatih akan melesat lebih cepat ketimbang orang berbakat yang menyia-nyiakan bakatnya.

6. Fokus, Konsentrasi, dan Disiplin

Menulis sebuah naskah itu tidak mudah, percayalah. Menulis adalah aktivitas mental yang bisa jadi membosankan, lama, dan bikin frustrasi. Mimin ingatkan, hanya mereka yang fokus dan disiplin saja yang akan berhasil menyelesaikan naskah. Ada begitu banyak godaan yang siap menghadang para calon penulis di sepanjang jalan, mulai dari rasa malas, pikiran negatif, capek, tidak punya waktu, hingga godaan media sosial. Seorang penulis harus siap menyepi ketika yang lain sibuk hepi-hepi. Dia sibuk mengamati sementara yang lain sekadar menikmati. Karena itu, untuk jadi penulis—atau untuk selesai menuliskan sebuah naskah—dibutuhkan fokus dan juga disiplin diri yang kuat.
Fokus adalah memantapkan diri pada tujuan, yakni untuk menulis dan menyelesaikan apa yang sudh kita mulai tulis. Berapa banyak dari kita yang telah mem-PHP naskah sendiri. Memulai tapi enggan merampungkan. Belum selesai nulis yang satu, sudah berpindah ke naskah lain sehingga ujung-ujungnya kita punya banyak naskah tapi tak ada satupun yang jadi. Kemampuan untuk berfokus pada satu naskah dan menyelesaikannya sebelum kemudian berpindah untuk menulis lagi naskah lainnya, inilah yang tidak banyak kita miliki. Godaannya memang berat, terutama rasa bosan dan malas namun kita harus mengalahkan keduanya jika ingin jadi penulis. Nasihat dari Kate Miller berikut mungkin bermanfaat –> on.fb.me/1kV3SjA
Selanjutnya, berdisiplin. Berapa banyak dari kita yang bertekad untuk menjadi penulis dan akan menyisihkan waktu untuk menulis setiap hari namun gagal menepatinya. Jangankan menulis setiap hari, itu naskah di laptop sudah sejak setahun lalu masih aja segitu-gitu. Selalu saja ada alasan untuk tidak bisa menulis rutin setiap hari, mulai dari rasa malas hingga terlampau sibuk. Perlu kita ingat, penulis yang baik selalu menyempatkan waktu untuk menulis secara rutin. Masalahnya bukan pada mengapa saya tidak bisa menulis secara rutin, tetapi bagaimana agar saya bisa menulis secara rutin. Dalam 24 jam waktu kita dalam sehari-semalam, kita bisa temukan waktu itu jika kita jeli. Setelah itu, disiplin lah untuk menulis setiap hari karena:
“Hanya dengan menulis tiap hari, seseorang dapat menjadi penulis. Jika tidak, dia akan tetap seorang amatir.” (Gerald Brenan)
7. Menulis
Benar sekali, modal terakhir dan paling penting untuk menjadi seorang penulis adalah menulis itu sendiri. Tidak akan pernah ada tulisan selama kita hanya sibuk bermimpi menulis dan bukannya sibuk menulis. Penulis itu menulis dan bukan bermimpi menulis. Hanya mereka yang menulislah yang akan menjadi penulis. Bagaimana kau ingin disebut penulis jika kau tidak pernah menulis?
“Menulis itu menulis itu menulis itu menulis itu menulis itu menulis itu menulis itu menulis.” (Gertrude Stein)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.