7 Mitos dalam Dunia Kepenulisan dan Fakta Sebenarnya

7 Mitos dalam Dunia Kepenulisan dan Fakta Sebenarnya
Sumber gambar: quotefancy.com

Dalam kesehariannya, manusia tidak pernah bisa sepenuhnya lepas dari yang namanya mitos. Anggapan umum yang sebenarnya keliru, inilah mitos. Nah, dunia tulis-menulis ternyata juga tidak bisa lepas dari yang namanya mitos loh. Nggak percaya? Salah satu hal yang banyak membuat penulis pemula takut menulis adalah adanya sejumlah mitos di dunia penulisan. Anggapan-anggapan keliru yang telanjur menyebar luas dalam dunia menulis inilah yang lalu menghalangi para penulis pemula dari impiannya. Lalu, apa saja 7 mitos dalam dunia penulisan?

Mitos 1. Penulis yang berbakat sudah berbakat menulis sejak dilahirkan.
Dalam beberapa kasus, memang ada penulis-penulis hebat yang sudah ditakdirkan untuk menjadi penulis besar sejak mereka lahir. Orang-orang pilihan ini terlahir ke dunia dengan bakat menulis yang luar biasa. Mereka menciptakan karya-karya tulis besar dalam sejarah. Namun demikian, prosentase penulis yang berbakat sejak lahir ini sedikit sekali. Lebih banyak penulis yang dibesarkan ketimbang dilahirkan. Dalam kenyataannya, ada lebih banyak penulis yang dibesarkan, dididik, dan dikembangkan untuk jadi penulis besar; tidak semata dilahirkan. Mitos bahwa penulis berbakat itu dilahirkan dengan sendirinya terbantah, karena ada lebih banyak penulis yg jadi penulis bukan karena bakat.

“Dalam menulis, bakat memang penting, tetapi ketekunan adalah yang utama.” (Jessamyn West)

Dalam kenyataannya, beberapa orang mungkin memang diberkahi dengan bakat menulis sehingga mereka bisa menulis lebih baik dibanding yg lain. Ini tidak ada bedanya dgn fakta bahwa beberapa orang lebih pandai memasak, lebih pandai berkebun, lebih pandai matematika dibanding yang lain. Seperti juga memasak, berkebun, dan bertukang; keterampilan menulis itu bakat tapi sekaligus juga bisa dipelajari. Lebih tepatnya, menulis adalah sebuah keterampilan dan bukan semata bakat. Semua orang bisa mempelajarinya dan menjadi hebat dengannya. Penulis yang baik tidak dilahirkan, tetapi dibesarkan; yakni dengan dididik, dilatih, banyak membaca, dan tekun menulis. Jadi, jangan khawatir kalau kamu ingin jadi penulis hebat tetapi kurang pede karena merasa tidak berbakat menulis.
Menjadi penulis baik bisa dipelajari, dikembangkan, dan dicapai jika kamu terus berlatih, pantang menyerah, banyak membaca dan tekun menulis. Faktanya, para penulis hebat menjadi hebat lebih karena latihan dan ketekunan yang mereka miliki, bukan dari bakat semata. Kenyataannya, setiap penulis–mahir ataupun pemula–bisa menjadi penulis yang lebih baik dengan tekun belajar dan berlatih menulis. Bahkan, penulis berbakat sejak lahir pun tidak langsung bisa menulis. Mereka juga belajar membaca, menulis, dan tata bahasa; semua sama kok. Jadi, singkirkan jauh-jauh perasaan ‘aku tidak berbakat menulis’ itu. Kita semua bisa jadi penulis keren kalau kita mau belajar dan berlatih.
“Yakinlah pada suara kecil itu, yang selalu membisikkan: ‘Ini akan berhasil dan aku akan mencobanya.” (Diane Mariechild)

Mitos 2. Penulis selalu menunggu inspirasi untuk bisa menulis dengan baik.

Sering kita dengar dan baca, para penulis yang harus menyepi atau melakukan ini-itu demi mendapatkan inspirasi untuk tulisannya. Momen ‘dapat inspirasi’ ini memang benar adanya. Kadang, penulis akan merasakan waktu-waktu ketika ide dashyat membanjiri kepala. Momen2 ektase ketika menulis terasa begitu lancar, ide melimpah ruah, dan perasaan ‘tidak bisa berhenti menulis’ inilah yg dicari dan ditunggu oleh penulis. Sayangnya, momen ‘kejatuhan ilham’ ini seringnya hanya muncul sesekali, bahkan sangat jarang. Inilah sebabnya banyak penulis yg mengejarnya. Begitu momen inspirasi ini didapat, penulis kemudian menulis secepat-cepat dan sebanyak-banyaknya, kadang seharian nonstop nulisnya. Ya kalau Bang Ilham sedang baik, mau mampir agak lamaan. Lah kalau Bang Ilham buru-buru minta pulang gimana?
Kalau penulis hanya menunggu ilham, tulisannya akan lama sekali jadinya. Kadang malah yang nggak jadi-jadi karena bang Ilham nggak pulang2. Lebih gawat lagi jika penulis tidak kunjung mulai menulis gara-gara bang Ilham yang nggak datang-datang; nggak bakal mulai menulis dia. Seandainya setiap penulis hanya menunggu ilham sebelum mulai menulis, maka betapa akan tidak kreatifnya dunia yang kita tempati saat ini. Seorang penulis yang baik tidak semata mengandalkan ilham/inspirasi untuk menulis karya yang bagus. Dia tidak tergantung pada bang Ilham. Penulis yang baik rutin menulis, baik sedang dapat ilham ataupun tidak dapat ilham. Writer writes, not waits. Writer is not a waiter.
Sttt … rahasianya adalah bahwa kadang cara terbaik untuk memancing bang ilham pulang adalah dengan tekun menulis itu sendiri. Kreativitas akan semakin besar ketika kita terus melatihnya, bukan semata menunggu atau mencarinya. Kadang, dengan tekun dan terus menulis, ilham akan datang diam-diam tanpa kita sadari. Dari dulu bang Ilham memang suka gitu, ngejutin! Penulis hebat lebih suka mengejar ilham dengan terus menulis, bukan dengan berdiam diri menunggu bang ilham yang tak kunjung datang. Dalam banyak hal, ilham itu kayak jodoh: Ia lebih suka dikejar ketimbang ditunggu #eaaakkkk.
“Menulis dan mulailah menulis, meski nggak ada ide di kepalamu. Ide akan hadir saat kau mencoretkan pena pada kertasmu.” (Abdul hadi W.M.)

Mitos 3. Menulis itu berat dan susah
Banyak penulis pemula yang menyerah meraih impiannya di tengah jalan karena beratnya proses menulis. Benarkah demikian? Seperti hal-hal sulit lain di dunia (mencari jodoh termasuk di antaranya), menulis buku memang berat, tetapi bukan berarti mustahil. Sesuatu yang berat kadang hanya berat di pikiran kita. Saat sudah dilakukan, ternyata tidak seberat yang kita pikirkan sebelumnya. Kadang, berat itu bisa juga karena kita kurang persiapan. Misal, berat mengerjakan ujian matematika karena belum belajar malam sebelumnya. Berat juga bisa karena kamu makan snack kekinian nggak pake ukuran, jadi nambah bobotnya! Mari kita jujur kepada diri sendiri: Mengapa menulis terasa berat buatku?
– Sudah baca banyak buku?
– Seminggu ini sudah menulis berapa jam?
– Berapa kali latihan nulis?
– Sudah ikut berapa lomba menulis?
– Sering ikut pelatihan menulis, bedah buku, temu penulis dan acara2 sejenis?
– dll.
Kembali lagi ke poin pertama di atas, sejatinya menulis adalah sebuah keterampilan sebagaimana keterampilan memasak atau merajut kasih #eaak. Seperti keterampilan2 yang lain, menulis bisa dibuat lebih mudah lewat ketekunan dan latihan, ditambah teknik dan sarana yang tepat. Jadi, jika menulis masih terasa berat buatmu, mungkin kamu hanya belum tahu caranya, kurang tekun latihannya, atau kurang banyak bacaannya. Banyak-banyaklah membaca. Sering-seringlah menulis. Inilah latihan paling dasar agar menulis tidak lagi terasa berat. Tidak ada yang bisa mengalahkan ketekunan, bakat pun tidak. Jika kamu ingin jadi penulis hebat, ya kudu rajin baca dan tekun menulis. Sip!

Mitos 4. Menulis itu Sepi
Menulis itu harus sendiri, di tempat yang sepi, tiada yang menemani; haruskah demikian? Memang benar bahwa aktivitas menulis itu dilakukan sendirian, tapi tidak berarti penulis harus kesepian. Ya kan, Min @KampusFiksi? Banyak penulis besar yang memang membutuhkan waktu dan tempat ‘untuk sendiri’ agar bisa menghasilkan karya hebat. Kesendirian seorang penulis ibarat pedang bermata dua: di satu sisi membantunya berkonsentrasi, tapi di sisi lain rasa sepi itu melukainya. Dalam memoarnya, Haruki Murakami menyebut bahwa kesendirian telah melindungi sekaligus melukainya dari dalam. Sendiri dan sepi itu mungkin diperlukan saat menulis, tetapi di luar itu seorang penulis tidak kemudian harus jadi orang penyendiri.
“Menulis berbeda dengan menjadi penulis. Yang pertama bisa sendirian, yang kedua butuh teman.” (@KampusFiksi)
Penulis yang menyendiri sepertinya tidak cocok di abad internet ini. Terlalu indah dunia dan teman-teman di luar sana untuk diabaikan. Meski kita sedang duduk sendiri di depan komputer untuk menulis, Internet telah menghubungkan kita dengan dunia. Kita tidak pernah benar-benar sendiri. Internet telah memustahilkan seorang penulis untuk bisa benar-benar menjadi penyendiri. Jika dulu penulis harus melawan kesunyian dan kesendirian, sekarang yang harus ia lawan adalah internet: media sosial, sale online, perang komentar, baca artikel majalah online, dll. Carilah teman sesama penulis pemula, salinglah berbagi info dan cerita, juga ilmu; jalinlah pertemanan, siapa tahu nanti malah bisa ketemu jodoh juga. Penulis hebat tidak harus jadi penyendiri dan kaku dan tanpa teman; jadi penulis dengan banyak kawan adalah jauh lebih menghangatkan jiwa.

Mitos 5. Para penulis hebat dan profesional tidak mengalami kesulitan saat menulis.
“Writing doesn’t get any easier with time, it just gets faster.” (Veronica Sicoe)
Seringkali, sebagai penulis pemula, kita iri kepada para penulis profesional yang tampaknya begitu mudah dalam menulis. Benarkah para penulis besar itu sama sekali tidak mengalami kesulitan saat menulis? Salah, sama seperti kita, mereka juga merasakan beratnya. Bagi para penulis yang sudah profesional, menulis tidak semakin mudah seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya pengalaman. Namun, jam terbang yang tinggi serta ketekunan mereka dalam menulis telah menjadikan proses menulis itu lebih cepat.
Menulis tidak semakin mudah, tetapi mereka bisa melakukannya dengan lebih cepat karena latihan, ketekunan, pengalaman, dan bacaan. Para penulis itu terlihat ‘mudah’ menulis karena mereka sudah paham cara menghindari kesalahan dalam menulis, sudah pandai memilih kata, dll. Sama seperti penulis pemula, mereka juga kadang menghadapi kesulitan saat menulis. Namun, pengalaman dan ketekunan menyelamatkan mereka. Tulisan bagus muncul dari pengamatan jeli, riset mendalam, & teknik penulisan yg baik; dan itu tidak selalu mudah bahkan bagi penulis berpengalaman sekalipun.
“Ada dua alasan mengapa kita belum bisa sekeren para penulis profesional itu. Pertama, kurang latihan, kedua kurang tekad.” (Veronica Sicoe)

Mitos 6. Ide yang bagus haruslah ide yang unik, yang baru, yang megah, yang luar biasa, yang belum pernah dicetuskan sebelumnya.
Jika mitos nomor 6 itu benar, maka mungkin hanya akan ada sedikit buku atau penemuan penting di dunia ini. Pada kenyataannya, hanya ada sedikit sekali ide yang benar-benar baru dan orisinal di dunia ini. Lebih banyak ide besar yang merupakan pengembangan dari ide sebelumnya, atau penggabungan dari beberapa ide yang sudah ada sebelumnya. Begitu juga dalam dunia menulis, kita tidak perlu menunggu dapat ide yang 100% orisinal dan luar biasa dulu sebelum mulai menulis. Jika kita hanya sibuk menunggu dapat ide yang benar-benar baru sebelum mulsi menulis, kita mungkin tidak akan pernah menulis.
“Tidak ada yang benar-benar baru di dunia ini.” (Sherlock Holmes)
Ide yang bagus tidak melulu harus ide yang baru, tidak selalu harus yang luar biasa dan mengesankan. Ide sederhana tapi bermanfaat juga bisa. Coba perhatikan lagi sekitarmu, temukan ide-ide sederhana itu. Jangan hanya menunggu datangnya ide-ide besar sebelum mulai menulis. Terkadang, masalahnya bukan pada bagus atau tidaknya ide tulisan itu, tetapi pada bagus atau tidaknya kita mengolah ide-ide itu. Ingat, bukan pada apa yang kita sajikan, seringkali penerbit dan pembaca juga tertarik pada bagaimana cara kita menyajikannya.

Mitos 7. Banyak membaca akan membuatmu jadi penulis yang lebih baik.
Seorang penulis yang baik terbuat oleh dua sisi: banyak membaca dan tekun menulis. Kekurangan salah satu bagian akan membuatnya tidak ada. Banyak membaca mungkin akan membuatmu jadi pembaca yang lebih baik, tetapi belum tentu membuatmu jadi penulis yang lebih baik. Penulis yang hebat biasanya adalah seorang pembaca yang tekun, tetapi tidak selalu pembaca yang hebat itu adalah penulis yang baik. Untuk bisa menjadi penulis, kau harus menulis. Sesederhana itu sebenarnya. Jika hanya membaca, kau adalah pembaca, bukan penulis. Untuk menjadi penulis, kau harus menulis. Penulis itu menulis. Tapi untuk menjadi penulis yg baik, kau harus banyak membaca & tekun menulis. Ingat selalu, seorang penulis itu menulis sementara seorang pemimpi bermimpi menulis.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.