7 Latihan Terbaik untuk Para Calon Penulis Super Keren

7 Latihan Terbaik untuk Para Calon Penulis Super Keren
7 Latihan Terbaik untuk Para Calon Penulis Super Keren. Sumber gambar: firstredeemer.org

Yuhuuu, selamat hari Senin. Masak apa ya kita enaknya pekan ini? Ah, MinCob mau membahas 7 latihan terbaik bagi para calon penulis saja. Sebagaimana calon pembalap, atau calon penyanyi, seorang calon penulis juga membutuhkan latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuannya. Karena setiap kita tidak terlahir mahir begitu saja. Ada latihan, pengalaman, dan ujian yang menemani sepanjang jalan menuju impian. Begitu pula menjadi penulis, tidak semua mereka hadir langsung mahir begitu saja. Ada latihan, pengalaman, dan ujian di balik kesuksesan. Please deh, mau nembak doi aja butuh latihan, apalagi mau jadi penulis keren!
“Aku suka menulis. Aku menyukai putaran dan ayunan kata-kata yang dengan indahnya berkelindan dengan emosi manusia.” (J.A. Michener)
Dalam #SeninMenulis hari ini, akan kita bahas 7 latihan terbaik untuk para calon penulis keren. Apa saja 7 latihan tersebut?

(1) Menulis Rutin di Blog

Menulis di blog, atau pada diari (atau jurnal) adalah latihan terbaik pertama bagi para calon penulis. Menulis di blog atau diari menuntut kita untuk RUTIN MENULIS, dan inilah tujuan utama dari latihan pertama ini: agar kita rutin menulis. Seperti kita ketahui, menulis itu ibarat berenang. Semakin sering dan rutin kita melakukannya, semakin terampil kita. Sayangnya, tidak semua kita bisa rutin menulis. Selalu ada saja alasan untuk tidak bisa rutin menulis: mulai dari baper hingga sibuk baper. Dengan memiliki blog atau diary atau jurnal akan ‘memaksa’ kita agar rutin menulis. Kadang, kedisiplinan memang kudu dipaksakan sih.
Kalau di zaman dulu, diari menjadi ajang latihan untuk rutin menulis. Sekarang, sudah zamannya blog, tumbler, wattpad, atau wordpress. Dunia maya dengan baik hati telah menyediakan lahan bagi kita untuk menulis, yakni lewat blog & sejenisnya. Gratis pula, eh bayar data ding. Mengapa blog-blog gratisan ini tidak kita gunakan untuk latihan menulis rutin? Ayo, yang belum punya blog segera bikin. Bagi yang sudah punya blog, itu blog atau ladang ilalang? Lama bener ditinggalinnya? (*?m?).
Daripada tulisan-tulisan ramaimu menghilang entah di mana, bukankah lebih baik disimpan dan “diabadikan” di blog? Suatu saat, ketika kamu mungkin membutuhkan tulisan itu, kamu tinggal buka blogmu dan mendapati bahwa dulu kau pernah menulis ‘sebagus’ itu. Hayo ngaku, di sini pasti banyak yang suka senyum-senyum sendiri saat baca-baca tulisanmu sekian tahun yang lalu di blog? Mimin juga kok 🙂 Untung ada blog yang mau dan rela menampung semua tulisan kita. Entah itu tulisan bagus atau alay, lucu atau sedih; dia menampung semua. Poinnya di sini bukan pada bagus atau tidak bagus tulisannya, tapi rutin atau tidak menulisnya, itulah yang lebih penting. Dengan blog, kita dilatih untuk rutin menulis.
Saat menulis di blog, kita tidak peduli tulisan itu bagus atau jelek, pokoknya ngalir aja. Yang penting rutin menulisnya dulu. Dengan rutin menulis di blog, keterampilan menulismu akan semakin bertambah baik setiap harinya. Apalagi jika rutinitas ini dipadukan dengan … .

(2) Suka Membaca

“If you don’t have time to read, you don’t have the time (or the tools) to write. Simple as that.” (Stephen King)

Latihan terbaik kedua untuk calon penulis adalah banyak-banyak membaca, membaca buku apa saja. Ketekunan menulis dan kegemaran membaca adalah dua latihan terbaik (dan paling murah) yang bisa dilakukan para calon penulis. Stephen King pernah berkata bahwa jika engkau tidak punya waktu untuk membaca, kau tidak akan punya waktu–atau keterampilan–untuk menulis. Sesederhana itu.
Untuk menjadi penulis keren, tidak cukup dengan hanya rutin menulis saja. Banyak membaca juga merupakan latihan terbaik untuk calon penulis. Membaca ibarat ‘makanan’ bagi penulis. Apa yang ia makan akan mempengaruhi apa yang akan dia hasilkan. Penulis yang banyak membaca buku, karyanya akan jauh lebih berisi ketimbang penulis yang malas baca buku. Pada dasarnya, menulis itu satu paket dengan membaca. Siapa yang mau jadi penulis, maka dia tidak boleh malas membaca.
Seorang pembaca belum tentu seorang penulis, tapi seorang penulis seharusnya adalah seorang pembaca juga. Mengapa calon penulis kudu rajin membaca? Tentu saja untuk menambah wawasan, baik wawasan secara umum maupun seputar teknik menulis. Membaca juga melatih kita untuk mengenali mana tulisan yang baik dan mana tulisan yang jelek, mana yang ditulis dengan bagus dan sebaliknya. Ada banyak hal tentang menulis itu sendiri yang bisa kita dapatkan dari membaca. Salah satunya inspirasi serta dorongan untuk menulis.
Penulis yang baik akan menginspirasi penulis lainnya untuk juga menulis dengan baik. Proses ini berjalan lewat membaca. Kalau kita baca-baca biografi penulis besar dunia, rata-rata mereka pasti memiliki penulis atau buku favorit. Banyak yang kemudian terpacu untuk menulis setelah membaca sebuah buku bagus yang menyadarkan mereka untuk juga menulis. Paling utama, membaca karya orang lain sering kali ‘menyadarkan’ penulis bahwa ada penulis lain yg jauh lebih bagus daripada dirinya.
Aku juga suka baca loh, Min | Wuih keren. Sukanya baca buku apa nih? | Buku teka-teki silang, Min | Errr … okay! Boleh lah daripada baca buku tabungan
Bagi penulis fiksi, sesekali baca juga buku-buku nonfiksi untuk melatih daya logika dan daya nalar. Ini penting untuk mengarap novel. Sementara penulis nonfiksi, sempatkan juga untuk membaca buku-buku fiksi agar tulisan kita tidak kaku dan terasa mengalir. Banyak penulis-penulis nonfiksi kaliber dunia juga membaca novel atau puisi, hasilnya tulisan-tulisan berat mereka tetap enak dibaca. Sedemikian hebatnya peran membaca bagi penulis sampai-sampai ada yang menyuruh calon penulis untuk “membaca 50 buku dulu sebelum menulis.” Untungnya, kita tidak harus menunggu membaca 50 buku dulu sebelum menulis. Tapi, sambil menulis ya jangan lupa membaca ya. Setelah rutin menulis dan banyak membaca, keterampilan menulismu akan semakin pesat dengan … .

(3) Mengikuti Pelatihan atau Workshop Menulis

Yah misalnya ikutan @KampusFiksi reguler ataupun roadshow, atau latihan-latihan menulis yang banyak digelar di berbagai kota. Seperti slogan @KampusFiksi, bahwa “menulis berbeda dengan menjadi penulis. Yang pertama bisa sendirian, yang kedua butuh teman.” Mengikuti pelatihan menulis adalah cara terbaik ketiga karena kita bisa mendapatkan teman-teman dalam menulis. Silakan tanya sama para alumni @KampusFiksi tentang dahsyatnya mencari teman sesama calon penulis ini. Menulis memang pekerjaan yang sunyi, namun tidak sesunyi di masa lalu. Saat ini, di luar sana, banyak komunitas menulis yang ramai. Dengan bergabung bersama sesama calon penulis, motivasi untuk menulis akan lebih besar. Kita bisa saling mendukung dan menginspirasi. Dan, siapa tahu, kita juga bisa saling jatuh cinta karena dipersatukan oleh aksara #eaakkkk #skip #skip

Selain mendapat teman seperjuangan, mengikuti latihan menulis adalah sumber ilmu tentang dunia tulis-menulis yang sangat bagus. Kita bisa belajar teknik menulis yang baik, tahu tips-tips agar naskah diterima penerbit, paham dengan tema-tema yang laris, dan lain-lain. Mengikuti pelatihan penulis sekaligus juga membuat kita kenal dengan orang-orang penerbit dan media. Relasi itu penting, bahkan di masa kini. Bukannya KKN atau apa, tapi kecenderungan orang adalah lebih nyaman bekerja bersama orang yang telah mereka kenal. Pelatihan menulis ini bisa jadi ajang sok kenal sok deket dengan penerbit, beberapa bahkan menerima naskah masuk di lokasi pelatihan. Setelah rutin menulis, rajin membaca, dan ikut latihan menulis, lalu apa, Min?

(4) Banyak-Banyak Mengamati, Mendengar, Memperhatikan

Manusia dibekali lima indra bukan sekadar untuk pelengkap raga, namun juga untuk mengolah rasa, mencipta karya, dan memperbaiki dunia. Bagi seorang penulis, tanggung jawabnya adalah memperbaiki dunia lewat tulisan-tulisannya. Penulis menangkap masalah-masalah yang ada di sekitarnya, lalu menuliskannya sambil (mencoba) menghadirkan solusinya. Tulisan yang baik dibangun berdasarkan suatu pandangan, permasalahan, ketimpangan, atau ketidakberesan di sekitarnya. Lalu, bagaimana cara melatih kepekaan terhadap sekitar ini? Yakni dengan banyak melihat, mengamati, dan mendengar. Sebagai calon penulis keren, banyaklah mendengarkan. Kurangilah banyak bicara yang tidak perlu. Lebih baik, tuangkan dalam bentuk aksara.
Mulut diciptakan hanya satu; tapi tangan, mata, & telinga ada dua. Ini tanda bahwa kita harus lebih banyak mendengar, melihat, dan bertindak ketimbang bicara. Mulai sekarang, kurangilah bicara. Lebih banyaklah mendengar, melihat, dan melakukan. Semesta adalah sumber tulisan yang tak terbatas. Banyak-banyak mendengar, melihat, dan melakukan akan melatih kepekaan kita dalam meraih tema-tema yang layak dan perlu untuk dituliskan. Selain itu, seorang calon penulis juga harus … .

(5) Bersikap dan Bertindak Kreatif

Seorang penulis tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya kreativitas. Kreativitas adalah satu di antara hal-hal besar yang menggerakkan pengarang dan penulis untuk berkarya menulis buku. Kreativitas juga yang membuat sebuah tulisan unik dan sehingga karenanya menjadi berbeda dengan karya-karya tulisan lainnya. Dan, cara terbaik untuk menghasilkan tulisan yg kreatif adalah dengan bersikap dan bertindak kreatif. Inilah latihan kelima untuk calon penulis.
Bagaimana bersikap dan bertindak kreatif itu? Banyak sekali, di antaranya terbuk dengan hal-hal baru, berani melakukan hal yang baru, Melakukan sesuatu yang berbeda dari rutinitas, berkenalan dengan banyak orang, ikut acara-acara seru, baca buku yang berbeda, melakukan sesuatu dengan cara baru (contohnya: biasanya galau, sekarang baper), piknik dan jalan-jalan, olahraga (beneran loh ini). Pokoknya, jadilah kreatif dengan bersikap dan bertindak kreatif. Inilah latihan terbaik kelima untuk para calon penulis. Lebih jauh tentang kreativitas, bisa baca-baca buku tentang kreativitas yang banyak dijual di pasaran, sekaligus untuk menerapkan latihan 2. Jangan lupa untuk … .

(6) Selalu Membawa Catatan untuk Merekam Ide, Kapan pun Ide itu Muncul

Banyak penulis besar yang membawa buku jurnal loh karena bagi mereka menulis adalah sesuatu yang sangat vital. Apa pun yang terlintas di pikiran kalian, catatlah. Seabsurb apa pun ide dan gagasan itu, catat selalu. Jangan malas. Anggap ini latihan. Meskipun sepertinya sederhana, tidak semua calon penulis terpacu untuk segera mencatat ide-ide yang terlintas dalam kepalanya. Padahal, praktek mencatat ide ini sangat ampuh untuk membasmi rasa malas kita untuk menulis. Praktik ini membuktikan, betapa kita siap menulis kapan pun dan di mana pun ide atau gagasan atau dorongan itu datang.
Belajarlah dari para penjelajah zaman dahulu, mereka setiap mencatat apa yang mereka alami hari itu dalam jurnal mereka. Jika menulis ide di buku catatan / note di gadget aja kita malas, gimana mau nulis naskah buku setebal 200 halaman? Hayoooo …! Sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit. Apa yang sebelumnya hanya corat-coret iseng siapa tahu kelak jadi bakal naskah keren. Yah walaupun awalnya belum keren, tapi kan bisa diperbaiki lagi. La kalau naskahnya tidak pernah ditulis, apanya yang mau diperbaiki? Latihan ke-6 ini bertujuan untuk membasmi rasa malas dalam menulis, bahwa menulis bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tak perlu menunggu datangnya waktu yang sempurna untuk menulis. Penundaan ini biasanya lebih karena kitanya yang malas. Jangan pernah menunggu waktu yang tepat untuk menulis. Kau mungkin akan menunggu selamanya. Oke, terakhir adalah … .

(7) Cintailah Dunia Tulis-Menulis

“Saya menulis karena saya tak pernah bisa bahagia. Saya menulis untuk bahagia.” (Orhan Pamuk)

Inilah latihan terbaik ketujuh bagi para calon penulis, yakni mencintainya. Mencintai apa yang kita kerjakan adalah puncak latihan. Ketika kita mampu mencintai menulis, masalah-masalah yang ada bakal cuma numpang lewat. Tidak semua calon penulis (bahkan penulis) mencintai kegiatan menulis, percayalah. Menulis itu berat, membosankan, susah, bikin capek. Menulis itu tidak mudah, karena itulah jumlah penulis jauh lebih sedikit dibandingkan err jumlah pemain sinetron kejar tayang. Tapi, para penulis sejati membuktikan betapa mereka mencintai kegiatan menulis, dan cintanya pun berbalas oleh tulisan yang bagus. Bagi mereka yang sudah jatuh cinta dengan menulis, kepala sepertinya akan ‘meledak’ kalau sehari saja tidak menulis.
“Aku suka menulis waktu merasa kesal; rasanya seperti bersin yang melegakan.” (D.H. Lawrence)
Ketika seorang calon penulis sudah mencintai apa yang dilakukannya, yakni menulis, maka sampailah dia pada puncak latihannya. Para penulis itu, menulis dimanapun dan kapanpun karena mereka mencintainya. Tidak lagi ada rasa malas, terlalu sibuk, untuk tidak menulis.
“Di mana pun kutemukan tempat untuk duduk dan menulis, di situlah rumahku.” (Mary Tall Mountain)
Sekian #SeninMenulis untuk hari ini. 7 Latihan terbaik untuk calon penulis tadi semoga bisa bermanfaat untuk DIVAmate sekalian (?’??’?)9

One thought on “7 Latihan Terbaik untuk Para Calon Penulis Super Keren

Leave a Reply to Subadi ifarel Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *