7 Hal Ketika Menulis yang Harus Dihindari

Saatnya MinCob ngepoin para editor kece di @divapress01 buat tanya-tanya tentang 7 Hal Ketika Menulis yang Harus Dihindari.

Saat menulis sebuah buku atau novel yang hendak dibaca oleh banyak orang, kita tidak bisa asal tulis begitu saja. Sebagai penulis kece, kita harus mengikuti aturan dan tatanan yang berlaku dalam tulis menulis agar tulisan kita bisa “terbaca” orang lain. Beda dengan nulis diari, yang hanya dibaca diri sendiri sehingga lebih santai nulisnya, ada beberapa hal yg harus diperhatikan saat menulis. Dengan menghindari 7 hal berikut, diharapkan tulisan kita bisa terbaca oleh para pembaca. Situ nulis buku mau dibaca orang kan ya? Para editor kece @divapress01 telah berbaik hati membocorkan 7 Hal Ketika Menulis yang Harus Dihindari:

Tips (1) dari 7 Hal Ketika Menulis yang Harus Dihindari: menulis tanpa berpedoman pada EYD (Ejaan yang Disempurnakan), terutama aturan-aturan dasarnya.
Para ahli bahasa telah bersusah payah melakukan penelitian, simposium, debat, dan pengumpulan data demi menyusun EYD, hargailah jasa mereka. EYD disusun dan ditetapkan demi menjaga bahasa Indonesia agar tidak rusak atau dirusak, jadi EYD itu ada juga demi kita sebenarnya. Situ nggak mau kan ya bahasa kita tercinta diobrak-abrik hingga tak berbentuk dan hilang identitasnya? Itulah pentingnya EYD. Karena bahasa adalah salah satu identitas sebuah bangsa.

Mungkin, ada kalian yang masih awam apa itu EYD. Tenang, di toko buku banyak dijual buku EYD lengkap kok. Harganya sangat murah. Di @divapress01 juga ada dijual loh buku EYD, mau yang murah sampai yang edisi eklusif. Tinggal sesuaikan kondisi kantong (tetep ye promo!). Apa saja sih isi EYD itu? Banyak banget, mulai aturan penggunaan huruf kapital hingga penempatan tanda baca, ada semua.

Tanya: Tapi, Min, aku kan mau nulis novel teenlit yang gahol. Gak perlu EYD kan ya?
Jawab: Boleh-boleh aja, tapi editormu darah tinggi ntar. Situ mau dikutuk jomblo lima dasawarsa?

Bahkan dalam hal menulis novel remaja yang aturan berbahasanya lebih luwes pun, EYD tetap diperlukan. Bahwa tulisan asyik yang taat aturan itu jauh lebih enak dibaca daripada tulisan sok asyik yang ditulis semaunya sendiri.
Asyik: “Halo, nama gue Angga. Mau kenalan nggak?”
Sok Asyik: “halo. nama gue angga. Mo kenalan ga?”

“Tulisan asyik yang taat EYD ternyata lebih enak dibaca ketimbang tulisan asyik yang tumpah-tumpah tatanannya. Yakin deh.” (Editor)

Tanya: “Tapi, belajar EYD itu susah, Min. Ribet!”
Jawab: “Enggak kok, aturan-aturannya jelas dan simpel sebenarnya.”

Yang punya EYD, coba buka-buka sebentar, sebenarnya isinya simpel dan jelas kok. Sejam dibaca juga kelar. Apa? Belum punya EYD? Situ punya koleksi novel selemari dan tumpukan komik segudang tapi sama sekali nggak punya buku EYD? ZOOM IN ZOOM OUT! Di toko buku, banyak banget buku EYD dengan berbagai edisi. Yang goceng juga ada kok. Mimin aja punya dua, masak situ enggak? Para editor yang hampir ngelotok isi otaknya sama EYD aja pada punya, apalagi kamu yang katanya mau jadi penulis. Wajib punya. Banyak pengetahuan yang bisa kamu dapatkan dari EYD, mulai dari penulisan huruf kapital hingga pemisahan kata depan dan kata utama.

Dengan belajar EYD, niscaya tidak akan terjadi lagi tragedi memakan abang di kalimat
“Ayo makan Abang!” (harusnya: Ayo makan, Abang!)

Kamu juga bisa menghindari salah tulis di spanduk atau papan nama macam ini:
DI JUAL RUMAH DIKAWASAN ELITE HARGA NYA NEGO!

Comments

  1. janabijana nia Reply

    Min, judulmu yang ini kebalik. 7 Hal yang harus dihindari ketika menulis. hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.