7 Buku Sastra yang Terbit Ulang dan Penting Banget Kamu Baca Sebelum Kembali Menghilang

Halo DIVAmate. Bulan pertama tahun 2018 sudah hampir berlalu. Sudah baca berapa buku tahun ini? Dari sekian banyak buku yang kamu baca di tahun 2018, atau di tahun 2017 juga boleh deh, ada berapa buku sastra yang sudah kamu baca? Kenapa kudu baca buku sastra. Min. Kan susah? Eits, jangan salah. Tidak semua buku sastra itu susah kok. Siapa tahu, kamu saja yang belum mencoba membacanya. Dijamin deh, sekalinya suka baca buku sastra kamu pasti ketagihan dan mau baca lagi dan lagi dan lagi. Membaca buku sastra juga punya banyak manfaat loh, di antaranya menumbuhkan empati, bisa mengakses pengetahuan berusia ribuan tahun, membuat kita jadi lebih toleran, serta menjadikan pandangan semakin luas. Nah, mengingat pentingnya membaca buku-buku sastra, kita sempatkan yuk membaca satu atau dua buku sastra setiap tahunnya. Masak setahun satu buku nggak bisa? Malu ih sama Bill Gates *perbandingannya nggak imbang. Min!!!

Indonesia punya banyak sekali sastrawan hebat yang telah menghasilkan karya-karya luar biasa. Tokoh-tokoh seperti Danarto, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, Pramoedya Ananta Toer, Nh. Dini; ada masih banyak lagi sastrawan dengan karya-karya yang wajib dibaca. Beberapa tahun lalu, pembaca Indonesia sempat kesulitan saat hendak membaca karya-karya mereka. Bukunya sudah tidak bisa didapatkan di toko buku, ada pun hanya satu atau dua. Pembaca Indonesia sempat kesulitan saat hendak membaca karya-karya mereka. Bukunya sudah tidak bisa didapatkan di toko buku, ada pun hanya satu atau dua. Kadang, para pembaca harus rela antri supaya bisa meminjam dan membaca buku-buku sastra tersebut di perpustakaan karena bukunya memang sudah langka. Beberapa buku bahkan harganya naik belasan kali lipat di pasar daring, karena memang permintaan banyak sementara stok langka.

Untungnya, kita kini tidak perlu keluar uang terlalu banyak untuk bisa membaca karya-karya sastra Indonesia jadul. Banyak penerbit termasuk @divapress01 yang menerbitkan ulang buku-buku sastra karya sastrawan dalam negeri lewat seri #SastraPerjuangan. Nah, apa saja buku-buku sastra lama cetak ulang yang penting banget kamu baca dan sebaiknya kamu baca sebelum bukunya jadi langka lagi di pasaran. Mimin sudah mendaftar tujuh buku sastra yang terbit ulang dan wajib banget kamu baca mumpung bukunya ada. Apa saja judul-judulnya dan mengapa kamu wajib punya baca?

 

1. Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? karya Hamsad Rangkuti

Tolong jangan ngeres dulu dengan judulnya. Judul asyik unik ini sebenarnya adalah judul salah satu kumcer di buku yang aslinya berjudul ‘Pispot’. Mengapa buku ini penting banget kamu baca (dan kamu miliki)? Pertama, karena pengarangnya adalah Hamsad Rangkuti. Beliau ini seorang maestro sastra yang sangat produktif. Cerpennya ‘Panggilan Rasul’ pernah dijadikan contoh cerpen dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP. Kedua, cerpen-cerpen di buku ini menjadi fenomenal karena memberikan corak baru dalam kesusastraan Indonesia: orang kecil dan kesederhanaan mereka. Lewat cerpen-cerpennya, Hamsad seolah hendak mengabarkan kehidupan kaum papa lewat cerita yang hampir lucu tapi sebenarnya tragedi. Dalam buku ini juga, kamu bisa belajar banyak tentang proses kepengarangan seorang Hamsad Rangkuti, apa yang menjadikannya pengarang seperti sekarang, bacaan-bacaannya saat kecil-remaja dulu, serta bagaimana beliau mendapatkan inspirasi untuk menulis cerpen-cerpennya.

 

2. Adam Ma’rifat karya Danarto

Mengapa buku ini penting dan wajib banget dibaca? Pertama karena pengarangnya adalah Danarto. Halo, masak nggak tau siapa beliau? Baiklah, Danarto adalah salah satu sastrawan legendari yang pernah dilahirkan bangsa ini. Selain jago nulis cerpen dan novel, Danarto ini sekaligus juga seorang perupa (pematung) dan pelukis ahli loh. Dalam darah beliau, seni dan sastra bisa berpadu dengan begitu bagusnya. Beliau bahkan sering membuat ilustrasi untuk cerpen koran akhir pekan, keren!!!Kita kembali di Adam Ma’rifat, kenapa kamu kudu baca banget buku ini? Simpel, setiap mahasiswa Sastra Indonesia saya yakin sudah pernah membaca buku ini. Kalau ada yang belum, yah semoga segera bertobat saja. Kalau boleh diibaratkan, Adam Makrifat adalah satu buku wajib yang wajib *halal* dibaca mahasiswa sastra Indonesia. Kenapa banget begitu itu? Begini.

 Jauh sebelum kita heboh dengan bikin tagar #CerpenEksperimental, Danarto sudah memulainya dengan cerpen berjudul ‘not balok musik’ di buku kumcer ini. Tidak hanya judulnya yang nyleneh, perhatikan juga isinya. Entah sudah berapa banyak dosen, mahasiswa, kritikus sastra, juga para penikmat sastra yang menyoroti cerpen unik karya Danarto ini. Apa maksudnya dengan menuliskan judul seperti itu? Mengapa isinya semacam ‘tidak jelas’ karena tidak mirip sebuah cerpen? Danarto mungkin akan menjawab, “karena cerpen adalah karya kreatif dan sah-sah saja jika dia menulis sedemikian dengan tanpa terbatasi aturan-aturan baku.” Tentang bagaimana jawabannya sebenarnya, hanya Tuhan dan pengarang yang mengetahuinya. Setidaknya, dengan cerpen yang ‘nyleneh’ itu, Danarto telah memunculkan corak baru dalam khasanah sastra Indonesia, juga memantik ratusan atau bahkan ribuan diskusi sastra yang akan semakin mengiatkan sastra di negeri ini.

 

3. Wisanggeni karya Seno Gumira Ajidarma

Kalau yang ini, tidak perlu Mimin jelaskan siapa beliau. Pokoknya keterlaluan banget kalau ada yang masih belum tahu siapa itu Seno Gumira Ajidarma. Yah, walau belum pernah baca karyanya, setidaknya pernah mendengar namanya. Novel ini sempat langka dan banyak dicari pada tahun 2000-an, masa-masa ketika gairah akan sastra kembali bangkit. Karya-karya SGA adalah salah satu yang banyak dicari pembaca sastra negeri ini. Wisanggeni karya SGA ini unik karena dia beda *halah.* Ia unik baik dari segi penceritaan, diksi yang digunakan, serta cara SGA memaparkan kisahnya. Ringkasnya, ini cerita wayang yang disampaikan secara futuristis dan fantastis. Kalau kamu kebetulan di toko dan nemu buku ini, ambil dan belilah. Tidak akan rugi memiliki buku legendaris yang sepertinya bakal mulai langka lagi ini. Grab it fast!

 

4. Khotbah di Atas Bukit karya Kuntowijoyo

Selain nama-nama yang Mimin sebutkan sebelumnya, Kuntowijoyo juga menjadi salah satu yang karya-karyanya kembali dirindukan oleh para pembaca kekinian. Dengan segala ingar-bingar tentang postmodernism, feminism, dan milenial; banyak kita yang kemudian jenuh dan merindukan kesederhanaan serta kebersajahajaan. Kita butuh pulang ke asal muasal kita untuk sejenak menyepi dan menikmati hidup ini apa adanya, termasuk lewat bacaan. Inilah yang ditawarkan Kuntowijoyo. Tidak peduli seberapa sukses perjalanan kariernya, banyak orang yang merindukan bisa kembali kepada keheningan asali, kepada muasalnya yang tercipta sebagai mahkluk yang tak ada apa-apanya. Khotbah di Atas Bukit dengan bagus menggambarkan kecenderungan ini. Jika Anda bosan dengan gemuruh karya-karya Murakami, Kafka, Borges, atau Pamuk dan menginginkan selingan bacaan yang tenang namun menentramkan; novel ini bisa menjadi pilihan yang tepat.

“Tinggalkan segala milikmu. Apa saja yang menjadi milikmu, sebenarnya memilikmu.” (hlm. 71)

Kuntowijoyo seolah hendak membongkar habis segala kerumitan hidup—juga kerumitan beragam karya sastra yang hilir mudik dalam pikiran kita—lewat karyanya ini. DIVAmate, sempatkan membaca Khotbah di Atas Bukit di antara bacaan Kafka-mu, Murakami-mu, buku rekening bankmu, sebagai oase yang mampu menambatkan pikiran kita agar tidak hilang arah terbawa arus bacaan yang macam-macam.

 

5. Stasiun karya Putu Wijaya

Selain sastrawan, beliau juga tokoh teater. Pak Putu Wijaya ini telah menghasilkan 40 naskah dan novel, 1000 cerpen, 18 skenario teater, 3 skenario film, dan 250 episode serial TV. Tidak perlu Mimin jelaskan lagi kenapa buku ini penting banget dibaca. Buat kalian yang suka menonton drama jadul nasional, pasti sudah sering membaca nama beliau di bagian ‘penulis skenario’. Karya-karya beliau juga sudah diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Rusia, Jepang, Thailand, Jerman, dan Arab loh. Keren kan Pak Putu Wijaya ini.

“Saya menulis karena tampaknya saya tidak memiliki kemampuan lain. Bagi saya, menulis bukanlah hal yang mudah, meskipun menyenangkan. Dengan menulis, saya dpt menyampaikan pikiran, gagasan, dan imaji-imaji,” terangnya di buku ini.  Satu yang fantastis dari Stasiun, dalam pembukanya di buku ini pengarang mengkritik kredo bahwa ‘hanya orang bijaksana, alim, bermoral’ saja yang boleh menulis. Semua orang bisa dan boleh menjadi penulis, apakah tulisannya nanti bagus atau tidak, ada proses belajar di dalamnya.

Kata beliau: “Dunia mengarang juga menerima orang yang setengah-setengah, gugup gagu, kerdil, tak berdaya, dan tak punya pandangan pasti, yang selalu bimbang dan mencari apa yang juga tidak diketahuinya sendiri. Mengarang buat saya juga adalah tumbuh dan menggapai-gapai.” “Mengarang menjadi teman, kekasih, guru, musuh, bahkan segala-galanya. Mengarang pun menjadi seperti ibadah bagi saya. Mengarang adalah bekerja, memeras keringat otak. Tetapi sekaligus juga beristirahat.” Buku Putu Wijaya ini wajib banget dimiliki pokoknya.

“Kehidupan adalah perjalanan panjang melintasi stasiun-stasiun asing yang tak putus-putusnya.” (Stasiun, Putu Wijaya)

 

6. Tahi Lalat oleh Joko Pinurbo

Siapa yang tidak kenal Joko Pinurbo? Nggak kekinian banget deh. Padahal,puisi-puisinya sering wira-wiri di lini masa, bahkan ada akun penggemar beliau di @PuisiJokpin. Jokpin memang membawa corak baru dalam khasanah Sastra Indonesia lewat puisi-puisi prosanya. Puisi-puisi yang bercerita, mungkin inilah yang terbaik untuk menggambarkan karya-karyanya. Jokpin sendiri mengakui kalau dalam menulis puisi-puisinya, beliau juga belajar banyak tentang elemen-elemen prosa sepert plot, penokohan, tema, dan lain-lain.  Mungkin ini yang bikin puisi-puisinya terasa nyaman saat dibaca, karena pembaca serasa sedang didongengin lewat puisi.

Jika saat ini heboh terkait genre fiksi mini, Jokpin mungkin salah satu penyair yang menjadi pelopor maraknya prosa-prosa pendek mirip puisi di media daring ini. Jika fiksi mini mungkin terbatasi pada 140 karakter, maka cerita-cerita Jokpin ini terbatasi ketukan serta rima. Ini yang bikin puisi-puisi beliau terasa selalu khas. Awalnya dibuka dengan cerita, kemudian berlanjut pada permainan kata-kata dan nada, hingga kitanya terpesona. Jika Anda ingin mulai belajar mencintai puisi, mungkin bisa dimulai dengan menikmati buku-buku puisi karangan beliau.

Mumpung buku masih tersedia,

segeralah dipunya,

agar tidak sesal kemudian yhaaaa *puisimaksa

 

7. ‘Berhala’ dan ‘Setangkai Melati di Sayap Jibril’ karya Danarto

Sulit untuk memilih salah satu di antara dua judul buku kumpulan cerpen ini sebagai karya sastra cetak ulang yang penting banget buat dibaca. Karenanya, Mimin memasukkan kedua karya Danarto ini di nomor 7. Dua karya Danarto ini memiliki napas yang sama, tetapi keduanya berbeda secara isi. Membaca salah satu atau keduanya akan menjadi proses belajar sastra yang unik dan tak tak terlupakan. Cobalah.

Sekian tadi 7 buku sastra cetak ulang yang penting banget kamu baca mumpung ada bukunya. Tentunya, masih banyak buku-buku sastra karya pengarang Indonesia yang diterbitkan kawan-kawan penerbit lainnya, Semuanya layak dikoleksi dan layak dibaca.

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

2 Comments

  1. Nad says

    Kapan untuk proyek naskah fiksi bulan april 2018?

    1. admin says

      Untuk bulan April sementara Proyek naskah kami tutup dulu, Kak 🙂