5 Kalimat Musuh Editor

5 Kalimat Musuh Editor berikut ini penting buat diketahui oleh para penulis.

Seperti yang sudah kita ketahui, dibalik eh di balik sebuah buku yang hebat, ada peran seorang editor yang dahsyat! (yang galau juga banyak sih). Jika naskah adalah masakan, maka editor adalah koki kedua yang bertugas mempercantik masakan. Dia juga pencicip masakan yg pertama.

Sebagaimana koki mengolah masakan, salah satu tugas editor adalah mengolah kalimat supaya enak dicerna oleh pembaca. Kenapa harus diolah lagi? Bukannya penulis sudah setor naskah jadi? Kalau umpama editor bisa curhat, sebenarnya banyak naskah yang masih sangat mentah. Adalah tugas editor untuk memasaknya agar layak cerna agar pembaca tidak ikut muntah dan darah tinggi saat membaca sebuah buku. Cukup kaum editor saja yang merasakannya mwa mwa mwahahaha.

Ada loh naskah yang isinya bagus banget, mencerahkan. Tapi sayang, ditulisnya berantakan, typo bertebaran kayak kenangan si mantan. Belum lagi kalimat-kalimat yang berjumpalitan tidak jelas kayak hati kamu saat sedang ditatap doi di koridor sekolah. Bahwa sebagaimana hati yang jumpalitan, kalimat yang jumpalitan nggak jelas itu nggak enak dirasainnya #eaaaakkk.
Mau tahu contoh kalimat yang jumpalitan nggak jelas? Nih …

“Dia adalah memiliki 2 pacar, sementara 3 gebetannya juga tidak memiliki pacar.” Ini yang gebetan yang mana, yang digebet yang mana. Pusing dah pala Sehun.

5 kalimat musuh editorDalam Buku Pintar Penyuntingan Naskah, Pamusuk Eneste, menyebut ada lima jenis jumpalitan yang harus diperbaiki editor. Kalimat-kalimat inilah musuh sejati para editor. Apa saja lima kalimat jumpalitan itu? Kamu juga perlu tahu kalimat-kalimat itu agar bisa kamu hindari saat menulis naskahmu. Ini penting loh, kenapa? Karena penulis yang mau belajar editing adalah penulis idaman para editor. Sapa tahu kamu bisa mengaet salah satu editor @divapress01 #ahem. Bagi kamu yang bercita-cita jadi editor, ini juga layak disimak.

(1) dari 5 Kalimat Musuh Editor: Kalimat yang melingkar, yang berputar-putar tidak jelas maksudnya apa. Kayak hubungan kita ini, yang entah mau dibawa kemana. #eh Ciri kalimat ini adalah (biasanya) panjang, banyak koma, dan sulit dilacak siapa yang mengerjakan apa dan apa yang dikerjain siapa. Siapa yang mencintai siapa dan siapa yang dicintai siapa #halah. Biasanya pembaca bingung kalimat itu maksudnya apa, siapa yang melakukan apa, dan sampai tengah-tengah sudah menyerah membacanya.

Cara mengatasi kalimat yang melingkar-lingkar ini adalah dengan memecahnya menjadi dua kalimat atau lebih. Bukan berarti boros loh ini. Pemecahan kalimat di sini dimaksudkan agar maksud kalimat bisa tersampaikan dengan lebih jelas. Pembaca juga enak mencernanya.

Contoh 1: Buku ini dilengkapi gambar berwarna, juga dimaksudkan untuk anak-anak usia TK, serta adanya daftar isi yang memudahkan orang tua.

Kalimat njlimet ini bisa dipecah jadi:
(a) Buku ini dilengkapi gambar berwarna dan dimaksudkan untuk anak-anak usia TK.
(b) Terdapat juga daftar isi untuk memudahkan orang tua.

Contoh 2: Adalah si Anwar, selain sebagai ketua kelas, merupakan anak pintar dan rajin membantu orang tua dan sering datang paling awal.

Mending kalimat ini dipecah menjadi:
(a) Si Anwar merupakan anak pintar dan rajin membantu orang tua.
(b) Sebagai ketua kelas, dia sering datang paling awal.

Mau tahu seberapa sering para editor menemukan kalimat melingkar-lingkar seperti ini? Sering banget … suer deh, ciyus. Jadi, kalau editor @divapress01 sering nyetatus galau, ya dimaklumin saja ya.

“Selain tentang pentingnya menulis, dalam kajian ini kita juga akan membahas tentang generasi muda yang menulis.”

Nah ini panjang tapi jelas dan enak dibacanya. Yang panjang-panjang itu belum tentu enak loh, kecuali kalau kita pandai menggunakannya eh meraciknya #apalah. Coba bandingkan dengan kalimat ini:

“Beni berlari, kaki kecilnya seperti dipacu melebihi kapasitasnya, juga seperti kehabisan napas karena harus bergerak cepat.”

Capek ya bacanya? Kalau memang susah fokusnya, mending kalimat itu diakhiri saja. Kemudian, buat kalimat yang baru. Ya, kayak hubungan kita ini. #numpangcurhat.

(2) dari 5 Kalimat Musuh Editor. Kalimat membosankan, ditandai dengan penggulangan kata-kata yang sama atau serupa. Hubungan juga, kalo gitu-gitu terus juga membosankan. Coba deh baca ini:

“Selain pintar, Andi juga baik hati. Andi juga jago olahraga dan kata orang Andi juga punya wajah rupawan.”

Ish Andi mulu. MinCob kapan? Selain bikin iri, pengulangan kata Andi pada kalimat tadi juga bikin pembaca bosan. Coba dimodifikasi dong, pakai kata ganti begitu. Misalnya diginiin:

“Selain pintar, Andi juga baik hati dan jago olahraga. Kata orang, dia juga punya wajah rupawan. Andi itu nama lainnya MinCob.”

Nah, kalimatnya jadi lebih enak kan? *kedip-kedip*

Berikut ini juga contoh kalimat-kalimat membosankan:
“Dia menempati tempat barunya.”
“Jangan mempersoalkan soal-soal yang jarang dipersoalkan.”
“Dia ya dia. Titik!”

Lalu, gimana supaya tulisan kita nggak membosankan? Caranya gampang, perbanyaklah perbendaharaan kata (vocabulary) kamu. #tips

Tanya: Gimana cara memperbanyak perbendaharaan kata kita?
Jawab: Cara paling efektif adalah dengan banyak MEMBACA. Sering buka kamus juga.

Dengan kosakata yang kaya, kita bisa membuat tulisan yang lebih berwarna, variatif, dengan kata-kata yang sesuai. Tidak kata itu-itu melulu. Dengan begitu, tulisan kita menjadi tidak membosankan. Kalimat-kalimat yang kita buat pun terasa enak dan nyaman. Misal: selain kata melihat, kita juga punya melirik, memandang, menerawang, memelototi, menyorot, menatap, menonton, dan lain-lain. Karena itu, jangan malas membaca dan membuka kamus jika kamu ingin jadi penulis yang karyanya enak dibaca. Kudu setuju ini mah!

(3) dari 5 Kalimat Musuh Editor. Kalimat yang salah kaprah, yakni kalimat yang bisa membuat pembacanya salah mengartikan maksud kalimat yg sebenarnya.
Contohnya begini:

“PSSI memenangkan pertandingan 1 – 0”
Ini sih yang menang pertandingannya, bukan PSSI-nya. Kasusnya sama kayak kalimat:
“Hakim memenangkan Syahrini atas gugatannya kepada Beyonce.”

Contoh lain:”Polisi melakukan razia senjata tajam dan api.”
Jadi ini api ikut dirazia? *buru-buru ngungsi ke negara api.

Kita lanjut ke kalimat berikutnya, yakni (4) kalimat yang mubazir. Kalimat ini ditandai dengan penggunaan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu alias lebai alias berlebihan.

Contoh 1: “Ayah berangkat menuju ke Jogja.”
“menuju” sudah bermakna “pergi ke arah, mengarah (ke)” jadi tidak perlu lagi “ke” setelah menuju

Contoh 2: “Begitu bertemu, keduanya saling berpelukan.”
Kata “berpelukan” sudah bermakna “saling berpeluk,” tidak perlu lagi kata “saling”

Benar: “Walaupun kaya, Doni tidak sombong.”
Keliru: “Walaupun kaya, tetapi Doni tidak sombong.”

“Dari penjelasan tersebut di atas, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: ….”
Ada yang keliru? Yup, hilangkan ‘di atas’

Ini juga kalimat boros. Ada yang tahu borosnya di mana?
“Di warung Bu Ida dijual barang-barang kelontong seperti beras, gula, tepung terigu, minyak goreng, dan sebagainya.”

Lanjut ke poin (5) dari 5 Kalimat Musuh Editor, yakni kalimat yang rancu. Cirinya kalimat ini susunannya sedemikian rupa sehingga sulit dipahami.

“Di rumah kami akan mengadakan acara syukuran nanti malam.”
Ini yang syukuran ‘di rumah kami’ atau ‘kami’? *nelen besek

Ini juga rancu:”Melalui program ini diharapkan akan memberikan manfaat positif kepada generasi muda.”
Ini yang diharapkan siapa yang bermanfaat siapa?

Tanya: Sering nggak sih editor menemukan kalimat-kalimat model 1 – 5 itu?
Jawab: Sering. Banget. Banyak. *pukpuk editor

Kalian yang bercita-cita jadi editor, mending pikir-pikir lagi deh hihihihi *Miminnya dilemparin petasan sama redaksi. Dan, apa yang harus dilakukan editor saat menemukan kalimat-kalimat yang jumpalitan gitu? Ya mau tak mau kudu diperbaiki. Betapa berat perjuangan para editor. Mari haturkan doa, semangat, dan dukungan kepada para editor di mana pun mereka berada. Atas jasa merekalah kita bisa menikmati buku-buku bagus.

Nah, itu tadi 5 Kalimat Musuh Editor  di atas sebaiknya tidak terdapat di dalam naskahmu. Selamat berkarya!

Comments

  1. Kiki Lie Reply

    poin (4) tidak ada? Tq

    • adji Reply

      Ada.
      Jadi satu tuuh sama nomer 3 (lanjutan). 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.