5 Buku Cinta untuk Warnai Februarimu

Bulan Februari identik dengan kasih sayang, dengan cokelat, juga dengan bunga. Satu lagi yang sering terlewatkan, 14 Februari juga merupakan Hari Memberi Buku yang dirayakan pembaca sedunia. Jika kamu ingin Februari yang berbeda, yang tidak melulu cokelat atau bunga, mengapa tidak mencoba buku? Buku juga perlambang cinta loh. Buku-buku juga memiliki kekuatan cinta yang tak kalah dashyat dengan cokelat atau bunga. Di dalamnya, para pujangga dan pembaca saling bertukar kasih sayang lewat untaian kata. Percaya lah, Februarimu akan semakin memikat setelah kamu membaca buku yang tepat. Berikut ini Mimin rekomendasikan lima buku yang bakal bikin Februarimu semakin penuh cinta.

1. Kasmaran karya Usman Arrumy

Tidak ada yang bisa menggambarkan cinta sebaik puisi, dan buku kumpulan puisi ini membuktikannya.

Buku dan kamu tak ada bedanya; Buku menampung kata-kata. | Dan kamu menampung air mata. | Keduanya sama-sama berasal dari cinta. (Buku dan Kamu, hlm. 42)

Bisa aja ya penyair itu nyambung-nyambungin dan bagus ini. Lewat Kasmaran, kita dapat menyaksikan betapa cinta belum lah tamat. Cinta akan terus hidup dalam bentuk indahnya yang lain, yakni puisi. Puisi-puisi cinta di buku ini membuktikan bahwa cinta dan puisi tidak selalu berujung alay ketika kita bersetia kepada keduanya. Pengen ngegombal tapi nggak alay? Puisi-puisi dalam Kasmaran bisa jadi sumber inspirasimu. Nih contohnya: “Para nabi dianugerahi mukjizat, | para wali dianugerahi keramat, | dan aku dianugerahi  senyummu.” ( hlm. 32)

Malam Minggumu bakal berbeda setelah kamu baca Kasmaran. Yakin deh! Buat kaum jomblo, puisi-puisi di buku ini rasanya kayak gemes-gemes ngeselin: “Malam Minggu adalah upacara | bagi kaum jomblo menyambut kesepiannya | Bendera upacaranya terdiri dari dua warna: | kesabaran dan air mata.”  (hlm 44)

 

2. Jangan Baper oleh Utami Pratiwi

Kalau cinta jangan baper. Jangan baper hanya karena caper. Buku ini bisa jadi sohib terbaikmu melawan baper di bulan baperan ini. Apa itu baper, btw? Baper adalah bawa perasaan. Sebuah sindrom asmara yang gejalanya akan semakin dahsyat di bulan cinta ini. Konon, orang baper itu lihat orang bernapas saja sudah bikin baper karena bisa ngingetin sama mantan yang juga bernapas. Duileh segitunya wkwkwk. Dalam buku yang dicetak cantik penuh halaman warna ini, kamu akan belajar banyak tentang baper, penyebabnya, bahayanya, dan bagaimana mengatasinya. Termasuk kalimat full motivasi yang dijadikan semboyan (baca: pembenaran) para jomblowan-jomblowati di samping ini. Masih banyak lagi hal-hal bikin baper dibahas di buku ini. Tidak melulu tentang cinta tetapi juga pekerjaan dan kehidupan dibahas asyik dan kekinian banget di buku ini. Selepas membaca buku ini, dijamin kamu tidak hanya akan semakin mencinta  tetapi juga semakin dewasa dalam cinta.

 

3. Rubaiyat (Senandung Cinta) karya Maulana Rumi

Kamu belum bisa disebut seorang pecinta sejati kalau belum tahu siapa itu siapa Rumi. Maulana Jalaluddin Rumi (1207 – 1273) seolah diutus oleh Tuhan semesta alam, baik ke barat maupun ke Timur, untuk menyebarkan kebenaran dan keindahan–dua fondasi utama tegaknya Islam. Sajak-sajak gubahannya begitu kuat mencengkram jiwa-jiwa pembacanya. Dalam pandangan beliau, setiap mahkluk adalah realisasi dari stempel keindahan Ilahi yang layak diagungkan dalam bait-bait cinta. Jika kamu ingin merasakan cinta yang berbeda di Februari ini, buku ini untuk kamu. Jika kamu ingin menemukan wujud cinta yang paling hakiki dari semua kisah cinta, bacalah sajak-sajak Rumi di buku ini. Dan, inilah seorang pecinta sejati, bahkan dukacita pun ditantangnya.

“Di dalam hatiku ada api yang menyala karena keindahan kekasih. Wahai dukacita, jika kau punya nyali datanglah ke mari!” (Rumi)

 

4. Seni Mencintai karya Erich Fromm

Kamu belum bisa disebut seorang ahli cinta jika belum membaca buku legendaris dan terlaris tentang seni mencintai ini. Belum sempurna seseorang mencintai sampai dia juga mencintai sesamanya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Ini adalah kesimpulan utama yang sepertinya hendak diungkapkan penulis lewat buku ini. Mengapa mencintai juga butuh seni? Apakah ini berarti cinta butuh dipelajari?  Kekeliruan kita adalah betapa kita terlalu berfokus kepada ‘bagaimana supaya dicintai’ dan bukannya kepada ‘bagaimana mencintai.’ Padahal, menurut Formm, mereka yang mencintai pasti akan dicintai.Para pria sibuk mengejar kesuksesan dan kekayaan agar dicintai para wanita. Para wanita sibuk berdandan dan mempercantik diri agar dicintai para pria. Tak satupun ingat bahwa agar dicintai kita terlebih dulu harus mencintai. Buku ini akan mengubah banyak pandangan awal kita tentang cinta tanpa membuat kita kehilangan semangat untuk mencintai.

 

5. Berguru Kepada Rindu, kumpulan puisi oleh Acep Zamzam Noor

Jika guru terbaik para penulis adalah para penulis yang lainnya, maka guru terbaik para pecinta adalah para pecinta yang lainnya, juga para penyair.  Sejak lama, Acep Zamzam Noor telah dikenal lewat sajak-sajaknya yang memukau. Menggunakan kata-kata yang sederhana, bait-bait pendek, Acep mampu menghasilkan puisi yang mengalun lembut, termasuk puisi-puisi cinta. Puisi-puisi bernada sederhana di buku ini menjadi ciri khas sendiri, sekaligus memudahkan pembaca puisi tingkat awal seperti kita untuk bisa menikmatinya: “Cinta adalah buku tebal | Yang tak pernah akan selesai | Aku baca.” (Cinta, hlm. 36)

Tema cinta memang seperti tak habis digali. Tetapi puisi-puisi cinta di buku ini sama sekali tidak terasa basi. Coba baca ini di Februarimu, niscaya cintamu menjadi tak berjarak kepada semua: Cinta tidak membutuhkan jarak | Meski rindu selalu mengulur waktu. (Surat, hlm. 38)

Demikian tadi lima buku cinta yang bakal bikin Februari kamu semakin berwarna ala-ala Mimin. Baca satu atau mau baca semuanya, boleh-boleh saja. Asal, jangan perah lupakan prinsip dasar cinta ini: bahwa untuk dicintai kita juga harus mencintai. Jangan sampai kita terlalu sibuk ingin dicintai sampai kita jadi lupa mencintai.

 

 

 

 

 

 

 

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.