5 Alasan Umum Mengapa Naskah Tidak Selesai Ditulis

5 Alasan Umum Mengapa Naskah Tidak Selesai Ditulis
5 Alasan Umum Mengapa Naskah Tidak Selesai Ditulis. Sumber gambar: nytimes.com

Ada saja alasan-alasan yang membuat naskah kita berhenti di tengah-tengah. Berikut tips mengatasinya.

Adakah di sini yang naskah novelnya belum kelar-kelar juga walau sudah 3 kali lebaran? Entah sudah berapa kali Kampus Fiksi reguler berjalan, naskahmu kok belum juga dikirimkan karena memang belum kelar. Sebenarnya, mengapa sih susah banget menyelesaikan menulis naskah novel atau naskah lainnya? Awalnya sih semangat tapi abis itu rada malas. Masih ingat kan dengan ancaman Karen Miller, bahwa penulis yg malas menyelesaikan menulis na

skahnya tidak akan pernah jadi penulis? Miller menyebut kemampuan untuk merampungkan menulis sebuah naskah novel adalah salah satu pengalaman paling hebat yg bisa dialami penulis. Kenapa? Karena tTidak semua calon penulis bisa menyelesaikan menulis naskah pertamanya. Inilah ujian pertama penulis: menyelesaikan menulis naskahnya. Dalam #SeninMenulis hari ini, kita ulas sama-sama yuk 5 alasan umum mengapa naskah tidak selesai ditulis.

 

(1) Menulis hanya Sekadar Menulis
Jika kamu ingin mendapatkan sesuatu, kamu harus punya target/tujuan. Hal yang sama berlaku dalam menulis. Misalnya saja, hari ini kamu ingin pergi ke suatu tempat, tapi kamu nggak tahu mau kemana. Akhirnya, kamu cuma muter-muter nggak jelas. Beda misalnya kamu sudah punya tujuan mau ke Solo, kamu jadi tahu kudu ngapain aja. Misal: pertama kudu beli tiket kereta dulu, lalu ke stasiun, lalu samapi di sana cari bus atau becak, juga ditentukan mau kemana-kemana. Hal yang sama berlaku dalam menulis naskahmu. Agar kamu bisa menyelesaikannya, kamu kudu tahu kamu mau nulis apa dan ujungnya kemana. Banyak penulis pemula yang menulis asal nulis saja, tidak ada tujuan mau nulis novel apa, nanti akhirnya gimana, ceritanya bakal kayak apa. Jadinya, tulisan-tulisan itu menjadi tidak terarah, sampai kemana-mana dan lama-lama nggak punya kaitan dengan tulisan awal. Akhirnya, naskah pun berhenti di tengah-tengah dan tak pernah terselesaikan.
Awalnya sih mau menulis sebuah novel cinta si anak basket di SMA, tapi ujung-ujungnya kok malah nulis kisah fanfic boiben Korea gara-gara lagi rame di Wattpad. Ada juga yang awalnya mau nulis kisah misteri, tapi di tengah-tengah kok malah kebanyakan adegan cinta-cintaan ala remaja. Bubar jalan deh dari cerita awalnya. Ada juga yang awalnya pengen nulis buku tentang budidaya ulat sutera, tapi sampai halaman 50 kok malah sibuk nulis ulasan sepak bola. Duh, kebangetan bener salfoknya. Tulisan jadi tidak fokus dan tidak terarah ini karena kita tidak punya tujuan saat menulis, jadinya nulisnya juga kemana-mana. Seperti saat kita nggak tahu mau main ke mana, akhirnya cuma jalan dan muter-muter nggak jelas. Begitulah kalau menulis asal menulis saja. Agar tulisanmu terarah dan bisa selesai, kamu harus punya tujuan jelas tentang: apa yang akan kamu tulis, gimana isinya, dan akhir kisahnya. Memiliki tujuan saat menulis akan membantu dan memandumu saat menulis, mencegah tulisanmu meluber ke mana-mana.
Memiliki tujuan saat menulis juga akan menghindarkanmu dari menulis hal-hal yang kurang atau tidak relevan dengan tulisan yg sedang ditulis. Punya tujuan seperti ini juga bakal mengarahkan imajinasimu untuk mengimajinasikan hal-hal yang mungkin bisa kamu tulis dalam tulisanmu. Jadi, imajinasimu akan mendukung isi dari tulisan yang sedang kamu garap. Beginilah ide dan tulisan bagus sering tercipta. Tiba-tiba saja ada moment ‘ITU DIA!’ dalam pikiran kita, sesuatu yang bakal kita gunakan dalam tulisan, mungkin twist atau ide kunci yang sesuai untuk naskah yang tengah kamu garap. Jadi misal kamu ingin menulis ttg. berburu naga, kamu lalu baca banyak hal tentang naga, dan imajinasimu pun akan membantu bikin cerita naga, dan lain sebagainya.

(2) Menulis tanpa Outline
Outline adalah bakal badan dari sebuah tulisan. Tanpanya, sebuah tulisan akan susah terbentuk dan lama selesainya. Membuat outline tulisan itu sangat penting, baik dalam naskah fiksi maupun nonfiksi, untuk memandu penulis dalam menulis dan menyelesaikannya. Jangan salah, bahkan sebuah naskah novel pun butuh sebuah outline yang matang agar bisa cepat selesai dan jadi sebuah naskah yang utuh. Outline adalah kerangka dari tulisan kita. Jika diibaratkan naskah adalah tubuh manusia, maka outline adalah kerangka tulangnya. Kerangka ini menjelaskan secara singkat bagian apa berisi tentang apa saja, juga urutan penempatannya sehingga seluruh bagian urut dan padu. Misal:
Bab 1
a. Beni ketemu Amel di kantin
b. Keduanya saling jatuh cinta
c. Eko cemburu
d. Eko mencegat Beni sepulang sekolah
e. Berantem
Dengan urutan seperti ini, kamu jadi lebih mudah bikin ceritanya. Nulisnya jadi tidak melebar ke mana-mana nggak jelas jluntrungannya. Nah, sebelum menulis, coba kamu bikin outline dari Bab 1 sampai bab terakhir. Dengan begini, kamu sekaligus jadi memikirkan ending novelmu. Membuat outline tulisan itu bisa diibaratkan telah menyelesaikan seperempat dari naskah, karena kamu jadi tahu naskahmu bakal berisi apa.

Dengan outline, kita jadi tahu bab-babnya akan berisi apa saja, dan kita juga bisa cari data/riset ttg hal-hal yang disebut dalam outline. Dengan outline, kita jadi tahu habis A trus nulis B, trus udah itu nulis C, dan sesudahnya nulis D. Tulisan pun urut dan runtut. Dengan outline, otak kita tidak terbebani dengan harus mengingat-ingat mau nulis apa lagi, apa yang belum dicantumkan, setelah ini nulis apa. Outline membuatmu bisa berfokus untuk menulis pada satu bab hingga selesai, kemudian setelah itu berlanjut fokus menyelesaikan bab lain. Coba buatlah kerangka tulisan atau outline untuk naskahmu, ia akan menjadi pemandu yang sangat berguna dalam menyelesaikan tulisanmu.Jadi, jika naskahmu tidak kunjung selesai, cobalah buat outline. Apa saja di bab 1 sampai bab terakhir, lalu gunakan sebagai pemandu dalam menyelesaikan menulis novelmu.
Dengan outline juga, kita bisa menulis dengan ‘melompat-lompat bab’ tanpa kehilangan alur utama atau cerita besarnya. Kamu bisa menulis lompat-lompat bab kayak gini tanpa kamu jadi kebingungan bab-bab mana yang belum dan sudah ditulis. Misal, kamu mau menulis bab terakhir dulu. Lalu lompat ke bab tengah, lalu balik lagi nulis bab terakhir. Bab 1 baru belakangan ditulisnya. Jadinya, kamu nggak bakal kehilangan jejak saat sedang menyelesaikan menulis naskahmu, karena kamu selalu bisa menenggok ke outline awal. Dalam hal ini, outline merekam ‘kerangka besar tulisanmu.’ Kita juga jadi tahu, misal bab 1 kurang banyak, bab 3 belum dicari datanya, bab 7 kurang dipoles, bab 9 terlalu tipis halamannya, dll.
“Jika kau ingin menulis naskah yang bagus, terlebih dulu kau harus membuat outline atau kerangka tulisan yang bagus.” (Brad Zomick)

Drama Korea mungkin bisa digunakan sebagai contoh. Jika kita perhatikan, drama Korea itu episodenya pendek-pendek (rata-rata 20 episode) tapi anehnya kok selalu enak ditonton ulang. Ini karena serial Korea naskahnya ditulis dengan outline yang bagus. Ada awal dan ada ending yang jelas serta sudah dipikirkan jauh sebelum filmnya dibuat. Bab-bab (episode-episode) pun jelas. Penulis naskahnya hanya akan bikin 20 episode dan tidak ditambah lagi. Ada batas tegas dalam outline yang membuat tulisan fokus dan tidak luber ke mana-mana sehingga cerita pun jadi lebih kuat. Bandingkan dengan (maaf) sinetron kita yang tamatnya entah kapan, ceritanya sampai ke mana-mana dan diulang-ulang, makanya nggak memorable. Batasi jumlah bab dalam naskahmu, batasi juga kapan kamu akan selesai menulis bab-bab tersebut. Lalu, kerjakan. Penulis itu menulis, bukan kebanyakan marathon drama Korea hahahaha.

3. Menulis tanpa DL (Tenggat/Batas Waktu)
Satu lagi kenapa naskahmu nggak selesai-selesai, kamu nggak kasih batas waktu kapan kamu harus menyelesaikan menulisnya. Membuat DL untuk menyelesaikan menulis naskah ibaratnya merencanakan kepastian dari kapan naskah novelmu akan selesai kamu tulis. Sudah pada tahu kan kalau digantungin itu bikin nyesek? Menulis novel tanpa ada kepastian itu juga semacam PHP sama naskah loh. Nah novelmu juga merasakan nyesek yang sama kalau kamu terus-menerus nggak kasih kepastian kapan selesai ditulisnya.
Mengapa memberi DL pada diri sendiri itu penting? Karena DL mengingatkan kita bahwa waktu terus berlalu dan dia tidak akan mau menunggu kamu. Tanpa terasa bulan Oktober 2016 sudah berakhir dan kamu belum sempat kirim naskah novelmu ke DIVA press. Tidak peduli meski kamu meratap-ratap agar Oktober bisa diperpanjang lagi, waktu tidak mau berputar ulang. Inilah salah satu fungsi penting dari DL. Dengan DL, kita diingatkan bahwa waktu kita terbatas di dunia ini. Sungguh rugi mereka yang selalu menunggu waktu terbaik sebelum berbuat. Dengan DL pula, kita jadi bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu, termasuk dalam menulis, agar tidak menyia-nyiakan waktu yang ada.

Ada juga yang bilang bahwa DL adalah inspirasi yang paling ampuh. Banyak penulis besar yang jadi terpacu menulis karena ada tenggat waktu. Ingat juga saat kita garap tugas sekolah/kuliah yg biasanya selalu mepet dengan DL. Garap tugas entah kenapa kok rasanya jadi semangat kalau sudah dekat DL. Nah, adanya DL inilah yang bikin kita terpaksa menulis tugas. Kasusnya juga berlaku pada para penulis. Banyak penulis pemula yang malas memulai menulis karena banyak alasan, mulai dari nggak pede hingga belum riset. DL memaksa kita untuk mau-nggak-mau harus menulis kalau tidak ingin terlambat. Inilah kuncinya, DL memaksa kita menulis. Banyak yang ingin jadi penulis tetapi giliran disuruh menulis kok rasanya mending CoC-an. Dengan DL, paling tidak kamu jadi mulai menulis.
Jadi, buatlah batas waktu kapan kamu akan selesai menulis naskahmu. DL akan membuatmu bergerak, memaksamu memulai, dan mendorongmu beraksi. Mulai sekarang, berhenti berkata: Aku akan menyelesaikan menulis novel ini. Gantilah dengan, Aku akan menyelesaikan menulis novel ini tanggal 1 bulan depan (atau beri batas waktu yang tegas) untuk memacumu menyelesaikan tulisanmu.

4. Takut Sama Tulisannya Sendiri
Ada loh yang tulisan tak selesai gara-gara penulisnya takut, ragu, bahkan benci sama tulisannya sendiri. Ada juga yang malas menyelesaikan menulis apa yang telah ditulisnya karena dia tidak pede dengan apa yang telah ditulisnya. Bisa jadi, dia merasa tulisannya jelek dan sampah dan karena itu mending tidak usah diselesaikan dan cukup disimpan saja di file komputer.
Ketahuilah, bahwa tidak semua tulisan bagus langsung jadi bagus ketika pertama kali ditulis. Memang ada, tapi yang begitu sangat jarang. Kebanyakan tulisan bagus adalah tulisan yang biasa-biasa saja saat pertama kali ditulis. Tulisan itu jadi makin bagus setelah ditulis ulang. Banyak penulis yang menulis dengan cara ditulis aja dulu, nanti masih bisa diperbaiki dan disempurnakan kemudian. Tulisan pertama tidaklah harus sempurna. Itulah mengapa dia disebut tulisan pertama, karena bakal ada tulisan kedua, ketiga, dan selanjutnya.
Naskah pertama tidak dimaksudkan untuk harus sempurna. Naskah pertama dimaksudkan untuk “ditulis saja”. (Karen Miller)

Banyak penulis besar yang memilih menulis dulu (walau masih kasar dan jelek) hingga selesai dan kemudian baru diperbaiki dan disempurnakan. Penulis laris The Kite Runner, Khalled Housseni, lebih suka menulis secara spontan dan membiarkan pikirannya bebas mengalir tanpa batasan. Akibatnya, sering kali hasil tulisannya tidak sebagus seperti yang diharapkannya. Banyak salah kalimat, bolong logika, dan alur yang aneh. Tetapi, beliau rajin dan tekun menulis ulang naskah, beliau tidak malas menyunting tulisannya sendiri untuk memperbaiki apa-apa yang kurang. Naskah pertama baginya adalah draf kasar yang perlu dipermak, dipoles, ditambah, dipotong, dan diperbaiki. “Good writing is not always perfect from its beginning. It comes from revision.” Tulisan bagus tidak selalu sudah sempurna di awal.
Lebih baik menulis sesuatu yang jelek sampai selesai, ketimbang nggak pernah selesai menulis apa pun karena takut tulisannya jelek. Karena tulisan yang jelek masih bisa diperbaiki, direvisi, diedit ulang, dan disempurnakan. Tapi, tulisan yg tak pernah ditulis, tidak bisa. Jangan pernah takut menyelesaikan tulisanmu. Kelak, kamu akan berterima kasih karena pernah menulisnya ketimbang tidak pernah menulisnya.

5. Menulis Sambilan
Maksudnya menulis sambil mengedit, sambil buka sosmed, sambil nonton drama Korea, sambil main game, sambil males. Satu lagi sebab mengapa banyak calon penulis gagal menyelesaikan naskahnya, yakni karena kita jadi “penulis sambilan.” Maksudnya, kita menulis tapi sambil mengedit, sambil marathon nonton film seri, sambil buka sosial media, sambil main hape. Karena menulisnya sambil-sambil, maka naskahnya pun juga ikut sambil lalu. Akhirnya bisa ditebak, tulisannya lama banget selesainya. Mohon, menulislah dan hanya menulislah ketika kamu sedang menulis. Mohon jangan disambi buka sosial media atau nonton Uttaran. Bagi waktu dengan baik, menulis saat menulis dan baru setelah itu bisa main sosmed atau game. Jangan dicampur atau barengan, bahaya! Seorang penulis yang baik selalu meluangkan waktu untuk menulis, dan bukan sekadar menulis saat ada waktu luang. Jika kamu sudah berkomitmen untuk jadi penulis dan menyelesaikan menulis naskah, kamu harus menempatkan aktivitas menulis sebagai prioritas.
Akan lebih baik lagi jika aktivitas menulis ini tidak hanya jadi prioritas, tetapi juga sebuah rutinitas. Tidak perlu lama, dalam waktu pendek pun asal dilakukan secara rutin maka tulisanmu akan cepat selesai.Haruki Murakami biasa bangun jam 4 pagi untuk menulis naskah novelnya selama 5 – 6 jam, setelah itu dia tetap melakukan aktivitas lain. Hemingway memiliki kebiasaan untuk bangun pagi-pagi untuk menulis. Waktu menulisnya mungkin tidak panjang, tetapi dia rutin melakukannya. Setiap kita sama memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Jika para penulis dunia bisa menyisihkan waktu untuk menulis, kita harusnya juga bisa.Intinya bukan pada “kapan saya bisa menulis?” tetapi “bagaimana agar saya bisa punya waktu untuk menulis?”
Selalu ada jalan bagi mereka yang memiliki keinginan dan semangat kuat untuk menjadi penulis. Waktu itu selalu ada jika kita meluangkannya.Pada dasarnya, selesai atau tidak seselesainya naskahmu hanya ditentukan oleh satu hal: tindakan menulis. Karena seorang calon penulis yang baik akan menulis dan menyelesaikan naskahnya, sementara seorang pemimpi terus bermimpi tapi tidak menulis.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

1 Comment

  1. Wenni says

    Terima kasih untuk tipsnya membantu sekali ?