4 Tahap Penting Sebelum Mengirimkan Cerpenmu

0
4 Tahap Penting Sebelum Mengirimkan Cerpenmu
4 Tahap Penting. Sumber gambar: pixabay

Haloa, DIVAmate. Gimana kabarnya cerpen yang tujuh juta itu? Sudah selesai ditulis dan siap dikirim? Atau masih mau mulai ditulis? Buat yang sudah selesai nulis cerpen eksperimentalnya, jangan buru-buru dikirim. DL-nya masih lumayan lama kok, masih 17 Agustus 2017. Nah, Rabu ini Mimin bakal kasih kultweet tentang apa yang sebaiknya dilakukan setelah cerpen kamu selesai ditulis. Dan inilah #RabuEditing, “Karena setiap penulis adalah editor pertama dari karyanya sendiri.” (MinCob)

Setelah perjuangan panjang cari ide dan begadang lima malam, akhirnya cerpenmu selesai juga. Siap dikirim ke lomba cerpen eksperimental. Pokoknya kamu sudah yakin banget kalau karyamu itu yang terbaik dan dijamin pasti bakal memenangkan juara pertama, atau juara ketiga paling tidak. Benarkah begitu? Sebentar, sebelum kamu keburu mengirimkannya, mending baca dulu artikel ringan berikut ini.

Kebiasaan buruk penulis pemula itu di antaranya terlalu cepat bangga. Selesai menulis naskahnya, langsung merasa naskah itu sudah sempurna. Begini, berhasil menyelesaikan menulis naskah memang layak dirayakan. Faktanya, banyak loh yang naskahnya ngak kelar walau udah ratusan purnama berlalu #uhuk. Namun begitu, harus kita sadari bahwa selesai menulis naskah tidak berarti selesai juga perjuangan kita. Belum, ini ibarat baru memenangkan hatinya tetapi belum merawatnya agar tidak patah dan sepi lagi #halah. Selesainya naskah adalah separuh perjalanan. Masih ada beberapa tahap yang harus dilalui penulis dan naskahnya sebelum tulisan tersebut diterbitkan.

1. Endapkan dulu

Setelah selesai ditulis, tinggalkan sejenak naskah cerpenmu. Simpan di file, lalu matikan komputer. Atau, kalau mau lebih tenang, silakan diprint dulu cerpenmu itu lalu simpan ke laci, kunci. Biarkan di sana selama 3 sampai 5 hari. Jangan dibuka atau dibaca dulu. Mengapa kudu diendapin? Masa pengendapan naskah ini berguna untuk menciptakan jarak dengan naskah, dengan tujuan agar kita lebih obyektif dalam menilai naskah kita. Sering kali kita ini tidak adil. Kalau karya orang lain aja dicela-cela dan dicari-cari salahnya, tapi giliran tulisan sendiri pengennya selalu dipuja puji. Kenapa sih kok bisa gini? Begini, saat selesai menulis cerpen, diri ini masih berbunga-bunga karena bisa menulis sebuah cerita sampai selesai. Akhirnya, kita jd ngak obyektif. “Pokoknya cerpenku ini sudah yang paling keren. Calon juara dan yakin dapat duit tujuh juta,” begitu katamu penuh keyakinan. Eh, tunggu sebentar, Bro en Sis!

Sangat penting untuk mengendapkan naskah, yakni agar kamu nggak kepedean hanya karena naskahmu selesai ditulis. Mengendapkan naskah selama beberapa hari akan membuat kepalamu lebih dingin, lebih tenang. Kalau bisa sih, selama masa pengendapan ini, lakukan hal-hal lain selain menulis yang membuatmu gembira. Buka bareng atau belanja heboh misalnya. Lupakan sejenak naskah cerpenmu selama 3 atau 5 hari, simpan dulu untuk nanti dibuka dan dibaca lagi setelah 5 hari. Setelah 5 hari, coba kamu baca kembali naskah cerpenmu. Pasti terasa ada yang berbeda. Kita sadar bahwa masih banyak yang kurang. Kamu jadi bisa menilai secara jujur.

“Eh, ternyata masih banyak salah ketiknya.”“Waduh, ini ceritanya rada nggak nyambung.”“Ini cerita receh banget ya, malu aku!”

Setelah kamu sadar bahwa masih banyak yang kurang, inilah saatnya melaju ke tahap kedua, yakni:

2. Baca ulang

Setelah diendapkan selama beberapa hari, baca ulang cerpenmu. Nggak hanya sekali ya, tapi berulang-ulang, dan berulang-ulang. Saat membaca ulang ini, biasanya kita akan menemukan di antaranya: salah ketik, kalimat kepanjangan, dan serasa ada sesuatu yang nggak nyambung. Baca ulang cerpenmu, tidak hanya sekali. Kalau perlu, diprint dan dicorat-coret lagi mana yang salah ketik, yang masih perlu diperbaiki. Saat membaca ulang ini, posisikan dirimu sebagai pembaca cerpenmu, bukan penulis cerpenmu. Jadilah semacam tukang cari kesalahan di cerpenmu. Dengan memosisikan diri sebagai pembaca, kamu bisa lebih objektif menilai naskahmu. Yg dulunya “wow” mungkin berubah jadi”how” (kok gini?). Eh tapi, mengendapkan naskahnya jangan kelamaan ya. Ini naskah loh bukan hati kamu yang lama dianggurinnya itu #ehmaaf. Setelah dibaca dan ditemukan banyak hal yang kurang, maka selanjutnya kita bergerak ke tahap ketiga yakni:

3. Swasunting alias selfediting

Walau editing kerjaannya editor, seorang penulis yang baik selalu menyempatkan mengedit sendiri naskahnya. Bagaimanapun, penulis adalah pembaca pertama sekaligus editor pertama bagi setiap naskahnya. Jadi, jangan malas mengedit ulang. Benahi semua salah ketik, perbaiki kalimat yang tak padu, ganti kata-kata yang kurang cocok, benahi bagian-bagian yang tak logis. Cek ini: typo, kesalahan ejaan, penyusunan kalimat, kata baku dan tidak baku, ketidakkonsistenan nama/tanggal/lokasi, dan bolong logika. Misalnya saja tentang bentuk kata-kata yang baku: antre bukan antri, avokad bukan alpukat, miliar bukan milyar, kaus bukan kaos, dll. Bolong logika itu misalnya beli es krim di musim dingin, anak sulung yang punya kakak, atau jomblo yang selalu bahagia.

Cek juga penggunaan tanda baca yg masih belepotan, misal titik, koma, tanda tanya dll. Tentang tanda baca ini bisa dibaca di buku EYD/EBI. Bagian ini perlu ditambahi, yang itu butuh dibenahi, dan yang sana itu harus diperbaiki. Swasunting itu penting, catat selalu hal itu ya. Nah agar proses swasunting ini berjalan maksimal, kamu sebagai penulis juga kudu tahu cara menyunting naskah yang baik. Gimana caranya?

4. Baca Baca

Adalah sebuah kewajiban seorang penulis untuk selalu membaca. Tidak ada penulis sukses yang malas membaca. Dalam hal ini, untuk bisa tahu bagaimana cerpen yang baik maka kita harus membaca cerpen-cerpen yang baik. Maka bacalah banyak cerpen. Untuk bisa tahu aturan penulisan huruf kapital, kata-kata yang baku, dan ejaan yang benar, maka kita juga harus baca-baca tentang itu. Semua aturan penulisan ini bisa kita baca di buku EYD atau EBI yang banyak dijual di toko buku. Harganya macam-macam, mulai 5.000 – 50.000, isi sama. Termasuk juga membaca di sini adalah membaca cerpen-cerpen karya penulis Indonesia dan dunia yang sudah diakui. Kalau nggak ada duit buat beli buku kumcer mereka, bisa pinjam di perpustakaan. Bisa juga kalian cari di internet, ada banyak tapi versi bahasa asli hehehe. Terutama karena lomba kali ini adalah cerpen eksperimental yang panjangnya 20 – 30 halaman, coba baca cerpen-cerpen karya penulis dunia yang “aneh” dan unik itu.

Satu hal yang dinilai juri dalam lomba cerpen eksperimental kali ini adalah keunikan atau kebaruan, baik dari segi isi ataupun bentuk. Jadi, istilahnya itu, para juri sedang mencari cerpen yang beda, yang fresh, yang segar dari cerpen-cerpen yang selama ini ada. Jadi, untuk tahu gimana cerpen yang beda, kamu juga kudu mau baca sebanyak-banyaknya cerpen yang telah ada. Jadi kita tahu bedanya di mana. Dengan banyak membaca juga, kamu juga bisa membandingkan bagaimana cerpenmu kalau dibandingkan dengan cerpen karya Kak Ken Hanggara misalnya. Membaca sebanyak-banyaknya cerpen ini sekaligus sebagai ajang belajar menulis cerpen, karena guru sejati penulis adalah tulisan penulis lain.

Kok proses nulis lama banget? Iya, menulis yang baik itu memang lama dan melelahkan. Tapi proses macam itulah yang membuat tulisanmu berisi. Khaled Housseni penulis The Kite Runner yang mashyur itu hobi banget membaca dan mengedit ulang tulisannya sebelum dikirimkan ke penerbit. Beliau tidak malas menyunting tulisannya sendiri untuk memperbaiki yg kurang. Naskah pertama baginya adalah draf kasar yang perlu dipermak, “Proses menulis itu sebagian besar adalah menulis ulang. Di sini saya menemukan berbagai makna, kaitan, dan kemungkinan yang tersembunyi,” Tuh, DIVAmate. Penulis dunia sekaliber beliau saja nggak malas untuk mengedit ulang tulisannya sebelum dikirim. Kita apa kabar?

Karena untuk menghasilkan tulisan yang benar-benar baik adalah sebuah proses, yang seringkali panjang dan penuh tuntutan. Kayak cari jodoh. Tepat sekali yang disabdakan Mimin @KampusFiksi “Setiap yang dibuat dengan instan tidak akan mengandung banyak kesan. Begitu pula tulisan.”

Nah, setelah melewati 4 tahap penting tadi, kamu bisa mulai mengirimkan cerpenmu untuk lomba cerpen eksperimental. Karena menulis adalah sebuah proses yang terus-menerus dilakukan. Kini, kamu sudah lebih realistis saat mengirimkan karya cerpenmu. Tidak lagi merasa tulisanmu adalah nomor satu karena di luar sana ada begitu banyak penulis yang jauh lebih hebat dari kita tetapi mereka ternyata jauh lebih rendah hati daripada kita. Hal yang paling penting adalah bahwa kita sudah mengirimkan karya yang ditulis dengan sebaik-baiknya, dan diedit kembali semaksimal mungkin. Sekian yang sedikit di #RabuEditing hari ini, semoga bermanfaat (?’??’?)9

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.