30 Questions with Pia Devina; Saya Menulis Setelah Anak Saya Tidur

0
30 Questions with Pia Devina
30 Questions with Pia Devina. Sumber gambar: divapress-online.com

Pia Devina adalah salah satu penulis muda produktif. Sebagai pekerja kantoran, istri, dan ibu, Pia Devina masih tetap punya waktu untuk menyelesaikan novel-novelnya yang menjadi santapan bagi para generasi milennial, termasuk yang akan terbit, The Whole Nine Yards. Tim Redaksi Fiksi nyiapin 30 pertanyaan seputar novel terbarunya, mengatur waktu, mempertahankan semangat menulis, dan metode menulis. Dan berikut jawaban-jawabannya, siapa tahu bisa menginspirasi.

Dan, ini dia 30 Questions with Pia Devina!

 

Novel The Whole Nine Yards adalah karya keberapa?

Novel solo keempat belas yang diterbitkan penerbit mayor; novel solo keenam yang diterbitkan DIVA Press (dan lininya)

Coba diceritakan sedikit, apa isi dari novel tersebut?

Tentang perempuan bernama Runi yang jatuh hati pada Edra—tetangga, sahabat, sekaligus pacar adiknya. Runi dan adiknya, Nala, sudah lama tidak akur. Runi tidak pernah mengungkapkan perasaannya, dan Nala pun tidak peduli atau mencari tahu apa yang terjadi dengan hati kakaknya.

Kedua kakak-beradik itu kemudian pindah ke Hamburg, ikut kedua orang tua mereka untuk sementara. Sementara Nala melanjutkan sekolah, Runi memilih mengejar cita-citanya menjadi fashion designer.  Di sana, Runi malah bertemu Ben, bosnya, yang jutek dan tidak suka pada orang Indonesia.

Cekcok antara Runi dan Ben malah berujung terseretnya Runi dalam konflik keluarga Ben. Permasalahan makin rumit saat Edra datang ke Hamburg dan menguak kisah sepuluh tahun yang lalu.

Runi ‘terjebak’ di antara keduanya: Ben yang membutuhkan dirinya, atau Edra yang sejak lama dia dambakan.

Mengapa frase The Whole Nine Yards yang dipilih sebagai judul?

Saat naskahnya hampir selesai, saya bingung mencari judul. Kok ya kurang ‘klik’ mulu dengan alternative judul yang udah saya cari? Iseng, saya mencari English idioms yang mewakili kisah Runi dan tokoh lainnya di novel ini.

The Whole Nine Yards dapat diartikan:

“Everything you can possibly want, have, or do in a particular situation.”

Want, have, atau do ini saya rasa pas untuk menggambarkan ‘pencarian’ yang diselami Runi, Nala, Edra, juga Ben.

Apa yang membuat novel ini berbeda dari novel sebelumnya?

Saya memang senang menuliskan kisah konflik keluarga yang ‘dekat’ dengan kehidupan pembaca. Di sini, saya menitikberatkan pada hubungan kakak-beradik, juga ibu-dan anak, yang porsinya cukup besar berpengaruh pada perkembangan karakter masing-masing tokoh. Selain itu, novel ini juga bercerita tentang tokoh utama yang ingin mengejar cita-citanya, terlepas dari perbedaan latar belakang pendidikan yang telah diambil sang tokoh.

Karakter siapa dalam novel ini yang paling susah untuk “dihidupkan?

Nala! *menjawab cepat* hehehe.

Sebagian besar naskah ini dirombak karena saya membentuk ulang karakter adiknya Runi ini. Dari sikap, pola pikir, sampai feeling-nya, saya kaji ulang.

Karakter siapa dalam novel ini yang paling mudah untuk “dihidupkan”?

Ben.

Saat menulis naskah ini, saya kayak bisa dengan mudah ‘menonton’ Ben yang bergerak di dalam kepala saya. Entah itu saat dia bekerja, atau bahkan ketika dia sedang membentak dan menyudutkan Runi.

Berapa lama pengerjaan novel ini dan apa bagian yang dirasa paling susah diselesaikan?

Penulisannya cukup lama karena sebelum naskahnya selesai, sempat keselip nulis beberapa naskah lain (awal nulis sekitar 2014). Walaupun mengendap di laptop dan harddisk, saya nggak lupa dengan Runi, dkk. Kepikiran terus, hehehe.

Setelah melengkapi outline-nya sampai epilog, saya baru nulis lagi di akhir 2015. Kurang dari dua bulan (diselingi nulis ini-itu), draft pertamanya rampung. Setelah dibaca ulang dan self-edit, dikirim ke Diva Press, alhamdulillah acc, tapi mesti revisi dulu. Nah, revisi ini yang cukup memakan waktu sampai berbulan-bulan. Selain karena kesela aktivitas lain, saya juga mesti ‘membangun ulang’ plot dan penokohannya.

Setelah revisi ulang dan dikirim ke redaksi pada November 2016, alhamdulillah naskahnya di-acc tanpa revisi lagi. Dan sekarang… yeay, bentar lagi terbit! 🙂

Siapa yang paling pertama pengin diucapin terima begitu novel ini selesai ditulis?

Pak Edi AH Iyubenu 🙂

Awal nulis naskah ini karena dulu diskusi tentang naskah sama beliau (sekitar tahun 2014 dan mungkin beliaunya sudah lupa, hehehe). Jadi sejak naskah ini rampung, saya memang berharap Diva Press jadi rumahnya.

Jika Mbak seolah-olah sedang kampanye di depan massa, orasi seperti apa yang akan Mbak katakan di depan mereka agar membaca The Whole Nine Yards?

“Buat temen-temen yang selama ini nggak akur sama kakak atau adiknya; yang nggak akur sama orang tuanya; yang nggak berani ngungkapin perasaan; yang juga nggak berani buat ngejar cita-cita, ayo baca The Whole Nine Yards! Di sini kamu bisa menemukan kisah-kisah yang bisa menjadi teman terbaikmu!”

*narik napas setelah selesai orasi* hehehe.

Boleh diceritakan apa aktivitas sehari-hari saat ini? Apakah mengikuti jam kerja kantoran atau semacam freelance?

Saya ibu rumah tangga merangkap karyawan swasta di Industri Farmasi. Kalau hari kerja, subuh sampai pagi nemenin anak dan suami, juga siap-siap berangkat ke kantor; pagi sampai malam kerja sebagai Quality Assurance Manager; pulang kerja, full time lagi jadi ibu rumah tangga (yang masih suka nonton drama Korea dan baca-nulis novel). Kalau lagi libur, jadi ibu rumah tangga full time, hehehe.

Antara pekerjaan dan menulis, mana yang lebih difavoritkan?

Kalau lebih favorit, menulis. Berharap suatu saat bisa jadi full time writer. Tapi, saya juga sayang sama kerjaan saya. Berhubung dulu saya juga bercita-cita jadi apoteker di bidang industri.

Banyak orang beralasan tidak sempat menulis karena setiap hari harus bekerja dan sebagainya. Padahal nongkrong sama teman bisa sampai pagi. Bagaimana cara mengatur untuk menulis?

Memang, kayaknya 24 jam dalam sehari itu nggak cukup apalagi kalau lagi pengen maraton nonton drama Korea. Saya tipikal ibu-ibu yang pengen memprioritaskan nemenin anak kalau saya lagi di rumah. Jadi, biasanya saya nulis tengah malam setelah anak tidur, atau sebelum subuh. Pokoknya nyari celah waktu biar sempat nulis.

Jika siang harinya pekerjaan begitu hectic sementara pulang ke rumah masih harus menulis. Memilih tidur atau memaksa nulis?

Nulis. Tapi kalau ngantuk atau cape banget dan perlu istirahat, saya tidur dulu. Dini hari atau sebelum subuh, bangun lagi untuk nulis.

Apa ritual yang dilakukan sebelum menulis?

Pasang headset, dengerin musik yang enak 🙂

Berapa lama durasi menulis yang ditargetkan dalam sehari dan seberapa sering dalam seminggu?

Biasanya saya target halaman atau bab, bukan berdasarkan jam. Tiap hari menyempatkan nulis walau sedikit. Kalau sedang banyak kerjaan, ‘memaksakan diri’ setidaknya satu bab dalam seminggu.

Apa godaan terbesar yang sering membuat Mbak tidak jadi menulis padahal ide sudah bertebaran dalam kepala untuk segera dikeluarkan?

Nonton atau ada acara keluarga. Tapi biasanya saya kalau udah tahu mau nulis apa hari ini, nulisnya lancar. Makanya saya tipikal penulis yang lebih memilih pake outline.

Seberapa terbuka Mbak untuk menceritakan proyek tulisan yang sedang dikerjakan kepada orang lain? Ataukah Mbak tipe yang justru sangat merahasiakan hingga karya itu selesai?

Biasanya saya mengajak satu-dua orang untuk menjadi first reader. Karena saya suka kalau ada kritik atau masukan yang bisa jadi modal buat saya untuk memperbaiki tulisan saya. Kecuali kalau tulisan yang mepet deadline, baru saya keep sendiri dan pasrahkan hasilnya ke penerbit yang mengevaluasi.

Kapan tepatnya Mbak mendapatkan sebuah ide untuk ditulis? Atau di mana? Adakah tempat Mbak ketika berada di sana pasti akan mendapatkan ide tulisan?

Nggak ada waktu atau tempat spesifik. Saya suka merangkai cerita di kepala, ditulis dalam bentuk outline, lalu bikin target pengerjaan tulisan, kemudian menulis 🙂

Suasana seperti apa yang Mbak sukai ketika menulis? Dan suasana seperti apa yang Mbak hindari ketika menulis?

Saya suka nulis asalkan ada musik. Mau di mana saja, kapan saja, nggak masalah.

Sejak kapan Mbak suka menulis?

Sejak SMP. Dulu suka baca novel yang dipinjam di taman bacaan atau perpustakaan. Saya juga suka kalau di sekolah belajar pelajaran Bahasa Indonesia tentang unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik novel. SMA, saya baru memberanikan diri menulis novel.

Masih ingat apa karya fiksi yang Mbak pernah tulis pertama kali?

Cerita tentang anak perempuan yang tumbuh di sebuah panti asuhan. Dulu saya nulis di kertas. Sayangnya kertasnya hilang sebelum saya selesai menulis. Sempat mencari lagi tulisan itu di lemari lama di rumah orang tua, nggak ketemu 🙁

Apa yang mendorong Mbak untuk menulis?

Kecintaan saya pada dunia tulis-menulis.

Sebelum mengetik di komputer, media apa yang Mbak gunakan untuk menuliskan cerita sampai sekarang?

Di kertas atau buku. Dulu nulis pakai komputer dan di-save di disket (yang masih warna-warni itu loh X)).

Kalau sekarang, biasanya bikin outline di buku catatan, atau langsung ngetik di Microsoft Word/Microsoft Excel, lanjut nulis naskahnya di Word.

Jika tiba-tiba ketika proses kreatif menulis menemukan semacam titik jenuh, apa yang biasa dilakukan?

Baca novel, nonton, jalan-jalan, having quality time dengan keluarga, nulis lagi 🙂

Pernahkah sengaja meninggalkan sebuah naskah yang sedang dikerjakan karena merasa naskah itu memang tidak pantas diselesaikan?

Nggak. Saya tipe penulis yang sayang banget, ‘ngemong’, naskah saya. Kalaupun naskahnya belum selesai, saya endapkan (walau mungkin butuh bertahun-tahun kemudian buat dilanjutkan), lalu saya lanjut nulis. Saya juga lebih memilih fight untuk menemukan rumah buat naskah-naskah saya.

Kalaupun kisahnya ada kekurangan, biasanya saya revisi, revisi, dan revisi lagi sampai saya berani mengirimkan naskahnya ke penerbit.

Ada banyak metode menulis yang kita kenal, termasuk dari kelas-kelas menulis. Adakah metode menulis dari penulis tertentu yang Mbak ikuti dan ternyata memang sangat efektif?

“The Hero’s Journey” yang digagas oleh Joseph Campbell. Metode ini pertama kali saya dengar waktu ikut kelas pelatihan menulis Jakarta School yang dimentori Mas A.S. Laksana (Mas Sulak). Dari sana saya nyoba ikutin, membangun alur dan plot dengan guideline tersebut. Lumayan membantu 🙂

Metode menulis seperti apa yang Mbak pernah dengar atau tahu dan tidak akan pernah mencobanya karena mustahil atau sulit dilakukan?

Menulis tanpa outline. Duluuu saya nggak begitu suka pake outline. Tapi kemudian saya baru ngerasa fungsi outline itu membantu banget. Dari situ saya mulai istiqomah nulis pake outline, hehehe.

Siapa penulis favorit Mbak? Dan apa judul buku favorit Mbak?

If I Stay-nya Gayle Forman (sampai netesin air mata pas baca),  Twilight Saga-nya Stephanie Meyer, chicklit-chicklit-nya Sophie Kinsella, We Were Liars-nya E. Lockhart, Critical Eleven-Ika Natassa, Sabtu Bersama Bapak-nya Adhitya Mulya, novel-novelnya Mira W., Karla M. Nashar, AliaZalea… duh, banyak kalau mesti disebut semua X)

Adakah buku Mbak selalu ingin baca dan baca lagi saking berkesannya?

Ada yang paling nempel di hatiku. Maksudnya, semua novel yang udah terbit adalah ‘kesayangan-kesayangan’ saya, tapi kalau ditanya, mana yang ada di urutan paling atas, Love Lock jawabannya. Saya inget nulis itu selama dua-tiga bulan, dan selama itu juga emosiku kebawa dengan kisah yang kutulis. Baper gitu kali, ya? Hahaha.

Selain novel untuk young adult, adakah keinginan menulis novel untuk anak-anak juga?

Pengen banget. Apalagi cerita yang bermuatan dongeng gitu. Cuma belum kesampaian sampai sekarang. Semoga aja next time bisa nulis cerita buat anak-anak juga.

Comments are closed.